David Fritz

2383 Words
"Aaa! Kadal gurun! Muka gue kenapa bisa saingan sama badut jalanan gini?!" Yasa berteriak keras, dia kaget. Melihat wajahnya penuh dengan coretan spidol warna-warni saat dia bercermin di kamar mandi. Hidungnya merah, dua matanya tampak hitam seperti kuntilanak, ditambah kumis kucing yang melebar ke semua pipinya. "Ini pasti ulahnya si kerupuk bantet! Ck. Gue dikadalin lagi," umpat Yasa sekaligus keluar dari kamar mandi setelah membersihkan diri. Seperti biasa, setelah menghabiskan malamnya dengan minuman keras, kepala dan perutnya diterjang sakit dan memaksanya bolak-balik kamar mandi. Seharusnya dia tahu hal itu, sebab dia hafal betul kondisi perutnya. Tapi, semalam dia benar-benar belum ingat apa yang terjadi. Bahkan kenapa sampai dia bisa tidur di ruang tamu dengan luka di tangan yang dibebat perban. Dia bergegas mencari Devano, tapi langkahnya terhenti melihat Devano sedang disuapi oleh pengasuhnya. Senyum anak itu penuh siasat licik dan dirasa mengerikan bagi Yasa. "Eh, Papa udah bangun. Dari tadi Vano bangunin, Vano mau ngajak Papa sarapan," kata Devano. "Sarapan, sarapan. Enak ya, setelah nyoretin muka papa gak minta maaf!" Devano terkejut, menutup mulutnya dengan tangan lalu tertawa kecil. "Maaf, Paaa. Abisnya Papa tidurnya kaya mayat si, jadi Vano gambarin deh." "Hmh. Pinter banget, kenapa harus muka papa? Emang mama kamu gak mampu beliin buku gambar? Itu lagi, katanya udah gede. Tapi makan disuapin," kata Yasa sekaligus duduk di kursi. Dia memijat lengannya yang pegal dan sakit. Tampak sekali tangannya bengkak dan besar sekarang. Hanya saja, luka ini sedikit tersembunyi di balik pakaian lengan panjang yang sering dia gunakan. "Ehehe. Vano lagi males makan sendiri. Ayo, Papa juga makan. Vano temenin. Ntar kita main lagi." "Nggak ada main sama Papa hari ini, Vano. Mama mau kerja, kamu jangan bikin ulah, ya," kata Nayla yang mendadak muncul dari arah lain. Dia tampak sudah bersiap hendak pergi. Sesekali matanya melirik ke arah Yasa. Pria yang semalaman menangis hingga lelah dan tertidur dibpundaknya itu membuatnya sedikit menyadari, bahwa sesuatu yang terlihat tak selalu tampak seperti dari kulit luar. Yasa begitu pandai menyembunyikan semuanya. Saking pandainya, Nayla tidak berani bertaruh, luka seperti apa yang ditanggung pria itu. "Kamu juga. Jangan bisanya ngerepotin saya terus. Luka kamu cukup parah, jangan sampai kamu banyak gerak dan membuat saya ngejait lukanya dua kali!" Nayla berbicara tegas terhadap Yasa. Mengabaikan ekspresi terkejut pria itu di hadapannya. "Hah? D-di-dijait?" Yasa memperhatikan tangannya. Perlahan ingatan semalam muncul di kepalanya bersamaan. Bagaimana saat di jalan hendak pulang, dia terserempet motor dan tangannya terkena pecahan beling. Sampai di rumah, dia bertemu Nayla dan ... Yasa hampir ingat semuanya. Bagaimana saat Nayla mengobati lukanya, sampai ketika dia menangis di pundak wanita itu serta memberikan ketenangan. Tidak. Tidak hanya itu yang mengganggu pikiran Yasa, melainkan ingatan keras saat Nayla menjahit lukanya. Otaknya mendadak ngehank. Dia benar-benar merinding ngilu membayangkan jarum menusuk tangannya berkali-kali. "Tangan Papa luka?" tanya Devano yang lantas menghamipiri Yasa dan melihat luka di tangan pria itu. "Kasian. Ntar Vano kasih obat ya, biar gak infeksi. Kebetulan Vano abis minjem jarum suntiknya Mama." "Hah?" Yasa belum sepenuhnya mencerna perkataan anak itu. Devano berlari kecil ke arah lemari mainannya. Dia mengambil benda kecil berwarna putih yang membuat Yasa kalang-kabut betingsut dari kursi. "Eh, Kerupuk bantet! Jangan main-main sama gituan, bahaya! Cepet singkirin, gak?!" kata Yasa sedikit berteriak menahan langkah Devano yang ingin mendekat. Anak itu malah menyeringai licik ke arahnya. "Vano! Vano ngambil jarum suntiknya mama? Kembaliin, Van. Itu bukan buat mainan!" tegur Nayla. "Vano cuma pinjem sebentar, Ma. Buat ngobatin luka Papa." "Eh-heeehhhhh! Singkirin itu, gak! Cepetan, sebelum papa marah! Kerupuk bantet! Kupingnya pajangan!" Devano mengejar Yasa yang mencoba kabur dengan berlari menaiki sofa, meja atau apapun demi menghindari jarum suntik. "Vano!" "Cuma sebentar, Pa! Gak akan sakit!" "Vano, jangan! Kembaliin itu ke mama!" Terjadi kegaduhan cukup luar biasa di sana. Mereka saling mengejar satu sama lain. Yasa yang teramat takut jarum suntik, keusilan Devano dan kekhawatiran Nayla karena anaknya bermain dengan benda berbahaya. Sampai Yasa tersudut di satu tempat. Devano mencabut penutup jarumnya dan membuat mata Yasa membulat sempurna. "Vano, jangan! Vano!" "AAAA!" Bug! Kedua mata bulat besar Nayla dan Devano dibuat terbelalak menyaksikan tubuh jangkung Yasa limbung ke lantai. Dia tidak bergerak lagi setelah Devano menempelkan benda yang dipegangnya ke tubuh Yasa. Nayla segera berlari menghampiri mereka berdua. "Yas?" Menyadari pria di dekatnya tak sadarkan diri, Nayla hampir kehilangan kendali atas emosinya terhadap Devano. Namun, semua itu runtuh karena dua mata bulat anaknya mulai berair ingin menangis. "Udah mama bilang jangan main-main sama alat kerja mama, 'kan? Sekarang liat akibat ulah kamu," kata Nayla pelan pada akhirnya. "Vano bohong. Ini bukan jarum suntik Mama, kok. Ini mainan yang baru Vano beli minggu kemarin. Vano belinya yang hampir mirip punya Mama biar kita samaan. Maafin Vano, Ma ... hiks." Tangis Devano pecah. Dia memberikan sebuah mainan yang tadi membuat Yasa kelimpungan karena takut. "Tolong bantu saya, Bi." Nayla berusaha mengangkat Yasa ke sofa di dekat mereka dengan bantuan orang lain. Melihat anaknya menangis, dia lantas menghampiri Devano untuk menenangkannya. "Jangan nangis. Papa cuma pingsan, nanti kalau udah bangun. Kamu jangan lupa minta maaf ke Papa, ya. Jangan ulangi perbuatan kamu," kata Nayla seraya mengusap dan mencium puncak kepla Devano. Devano mengangguk pelan. *** Yasa mulai bergerak. Dia membuka selimut yang menutupi sebagian tubuhnya dan merasakan sedikit ngilu di bagian tangan. Kepalanya pening, perutnya lapar minta diisi. Yasa seolah diserbu ujian beruntun hari ini. "Eh-hehhhh! Jangan deket-deket! Jauhan dikit!" Yasa terperanjat ketika melihat Devano duduk di hadapannya dengan mata sembap. Tapi tetap saja dia takut anak itu masih memegang jarum suntik. "Vano udah gak pegang apa-apa," kata Devano bersuara serak. "Jangan boong. Coba mana tunjukin tangannya." Devano menunjukkan kedua tangan kecilnya yang kosong tak memegang apapun. "Mainannya udah Vano buang, kok." Yasa sedikit lega, dia kembali ke posisinya semula dan mengambil napas menenangkan diri. Dalam situasi itu, Yasa melihat Devano masih berdiam diri di tempatnya dengan mata kembali memerah. Keceriaan anak itu hilang dan hanya menunduk. "Kenapa mukanya gitu? Lecek amat kaya kanebo kering." Devano menggeleng pelan. "Abis nangis lagi, 'kan? Udah dibilangin jangan nangis. Itu bisa nurunin harga diri kita kaum cowok," kata Yasa. Kali ini, dia merasa malu mengatakan itu. Dia teringat saat tadi malam menangis di pundak Nayla, entah berapa lama. Bahkan Yasa lupa mengatakan apa saja kepada wanita itu. Apa rahasianya menyukai Arasella terbongkar, dia lupa. Dan kenapa Nayla bersedia meminjamkan pundaknya? Yang jelas, perasaannya sekarang jauh lebih baik. Sedetik keemudian Devano mendadak loncat ke pangkuan Yasa. Membuat pria itu kaget dengan ulahnya ini. Anak itu tidak menangis, tapi berhasil mengobrak-ngabrik perasaan Yasa. "Vano pikir Papa meninggal tadi." Mata Yasa sontak membulat. "Buset, dah. Emang kamu mau papa mati?!" Devano menggeleng cepat. "Dulu, Opa juga pingsan awalnya. Tapi Opa gak pernah bangun lagi. Jadi Vano takut Papa kaya Opa. Maafin Vano, Pa. Vano gak tau kalau Papa takut sama jarum suntik mainannya Vano." "Dih. Siapa bilang papa takut?" Yasa mati gaya. Kepalang basah kelemahannya ketahuan seisi rumah. "Kalau enggak takut, kenapa Papa lari?" "Itu bukan takut. Tapi papa alergi. Badan papa suka gatel-gatel kalau main begituan." Devano tertawa renyah mendengar hal itu. "Papa lucu, ih." "Kenapa emang?" "Papa, kan, mau nikah sama Mama yang kerjanya jadi dokter. Masa takut jarum suntik." "Uhukkkk!" Yasa kaget, bagaimana bisa Devano berkata begitu dengan lancar. "Sialan. Gara-gara si makhluk jadi-jadian Vano jadi mikir kepanjangan gini," maki Yasa dalam hati. Tak lama kemudian, terdengar bel rumah pertanda ada seseorang bertamu di depan. "Biar Vano ke depan. Siapa tau itu Oma yang dateng." Yasa hanya mengangguk. Jika itu benar, dia tidak peduli apa reaksi Bu Ajeng terhadapnya nanti. Kalau memang dia diusir dari rumah ini, malah lebih bagus. Setidaknya dia punya alasan kuat keluar dari rumah jika alasan yang dia miliki tidak mempan untuk Devano. Yasa menyusul Devano ke ruang tamu. Penasaran juga siapa yang datang karena anak itu belum juga kembali. Saat menginjakkan kaki di sana, Yasa menangkap sesosok tubuh tegap berdiri di hadapan Devano dengan senyuman manis ke arah anak itu. "Papa. Kenalin, ini Om David. Om ini temennya Mama. Om ... ini Papa Yasa, Papanya Vano." Tatapan Yasa berubah tajam, rahangnya mengeras mendengar nama pria itu disebut oleh Devano. Apalagi statusnya bagi Nayla. Dia baru menyadari pria ini adalah yang selalu diperdebatkan di rumah ini. Pria berperawakan jangkung dengan setelan jas abu itu mengernyit. "Dia Papa kamu?" tanya David. "Huumh. Baru dua hari lalu Papa dateng." David tersenyum. Sedikit garis kecewa di sana, tapi tak terlalu ditunjukkan olehnya. Hanya Yasa yang mampu membaca reaksi itu. "Oh. Jadi, kamu masih mau nerima ajakan om, atau mau diem di rumah sama Papa kamu?" tanya David lagi. "Emhh ...." Devano tampak berpikir keras. "Kalau Papa Yasa ikut. Vano juga ikut, deh." "Mau pada ke mana emang?" tanya Yasa basa-basi. "Om David ngajak Vano makan siang bareng Mama. Papa ikut, ya." Yasa mengulum bibir. Perasaan tak suka menggebu hebat melihat pria yang berdiri di dekat Devano. Namun, jelas sekarang bukan menjadi haknya untuk marah. Dengan siapapun Devano dan Nayla pergi, bukan menjadi urusannya. "Papa gak bisa." "Kenapa?" "Kamu gak liat tangan papa udah segede kaki gajah gini? Panas-panas pergi ke luar. Enakan juga tidur di rumah. Kalau mau pergi, terserah. Papa gak ikut." Yasa berlalu meninggalkan mereka berdua. Sekilas senyum kepuasan yang dipancarkan David berhasil memantik api kekesalan di dalam hatinya. Namun, Yasa berusaha menyingkirkan semua itu untuk sementara. *** "Vano. Jangan dibuat mainan. Mama udah pesenin apa yang Vano suka, dihabisin, dong. Nanti dingin, nggak enak dimakan," perintah Nayla ketika melihat Devano hanya berkutat mengaduk seporsi makanan di mejanya. Nayla yang selesai dengan jam kerjanya, sedikit meluangkan waktu demi makan siang bersama Devano. Bukan demi ajakan David terhadapnya, dia menerima undangan ini karena risi ibunya terus saja meneror di telepon. Saat ini, mereka bertiga berada di restoran yang menyediakan makanan khas Jepang. Tempat di mana David sering mengajak makan siang bersama. Karena Devano menyukai jenis makanan di tempat ini. "Vano belom laper. Nanti beli makanan buat Papa juga, ya. Vano mau makan di rumah sama Papa." "Itu masih lama, Van. Nanti perut kamu kosong sampe rumah. Mama gak mau kamu telat makan, kamu belum sembuh betul. Di habisin dulu, ya. Nanti mama beli makanan lain buat di rumah." Devano tersenyum tipis. Walau tampak terpaksa, dia menyuap sedikit demi sedikit makanan ke dalam mulutnya. "Papa kamu udah besar, Vano. Jadi gak perlu ditemenin makannya. Gimana kalau abis ini kita jalan-jalan dulu? Kamu mau ke mana? Sekalian kita anter Mama," kata David. Nayla berusaha menelan makanan yang sedikit sulit tertelan. Melihat ekspresi santai David setelah tahu keberadaan Yasa di rumahnya. Dia heran, pria seprotektif David bisa sesantai itu. Dilihatnya Devano menggeleng pelan seraya menelan daging di mulutnya susah payah. "Nggak mau, ah." "Kenapa? Tumben Vano nolak tawarannya om? Padahal om mau ngajak ke Mall. Ada mainan keluaran terbaru yang pasti Vano suka." "Papa lagi sakit. Tangan kanannya bengkak gede banget. Jadi Vano khawatir Papa gak bisa makan. Kalau Om mau nganter Mama ke tempat lain, nggak apa-apa, kok. Tapi Mama jangan lama-lama, ya, perginya. Kasian Papa," jawab Devano. "Oh. Gitu." David melanjutkan suapan dengan sedikit senyum. "Om jadi penasaran, orang kaya apa Papa kamu sampe nolak tawarannya om." "Kan tadi Om udah liat. Om udah tua, sih. Jadinya lupa mukanya Papa kaya gimana," jawab Devano polos. Nayla menahan tawa. Jika saja Devano sadar bukan itu maksud David, mungkin jawabannya akan berbeda. Bagus juga dia mengajak Devano ke sini. Nayla bisa menghemat obrolan tidak penting dengan David. Sampai Nayla memutuskan diam. Sesaat kemudian, tiba-tiba ada yang duduk satu meja dengan mereka dengan wajah tak berdosa dan tanpa permisi. Seorang pria berkemeja putih lengan panjang dengan celana jeans seperti bekas gigitan anjing itu menyeringai kecil ke arah Nayla. "Bisa gak, kalau ngeliat gue gak pake melotot? Ntar keluar bola mata lo jadi horor," kata Yasa pada Nayla yang berekspresi kaget luar biasa. "Papa?!" "Kenapa kamu bisa ada di sini?!" tanya Nayla cepat. "Yaela, biasa aja kali nanyanya. Kayak liat genderuwo nangkring di kuburan pertanyaan lo. Jelas gue ada di sini karena gue kelaperanlah. Lo pada pergi berdua enak-enak sementara gue dibaju aja susah, apalagi makan. Pikir, dong." Nayla membuang napas kasar. "Terus kamu maunya apa lagi? Jadi maksud kamu, saya harus nyuapin kamu makan, gitu?!" Yasa menyeringai lebar. "Cakep! Nah, itu lo tau mesti ngapain. Lo kan, CALON istri gue. jadi udah sewajarnya dong, belajar ngelayanin gue." "Uhukkk!" Nayla tersedak saat dia minum untuk menenangkan diri. Alih-alih tenang, dia seolah tersambar petir tengah hari bolong sekarang. "A-apa?" Nayla melihat Yasa balas menatapnya penuh siasat. Entah apa maksud pria itu berkata demikian. Nayla sulit menebak, padahal Yasa sendiri yang mengatakan jika dirinya tidak ingin terjebak permainan ini. Tapi kenapa malah sebaliknya. Yasa memilih menenggelamkan diri tanpa tahu akibatnya akan seperti apa. Bahkan dia belum tahu sifat David seperti apa. Tuk! Terlihat David mengetukkan garpu cukup keras, dia mengelap mulutnya dengan sedikit tekanan kesal. "Apa dia benar-benar ayah Devano? Selama ini kamu gak pernah menceritakannya padaku, Nay. Bahkan sampai hari ini, kamu mendadak ngenalin dia sebagai calon suami. Apa kau pikir aku percaya gitu aja?" "Aku gak perlu kepercayaan orang lain, Dav. Yang aku pikirin kebahagiaan Devano," jawab Nayla ketika pertanyaan David langsung pada intinya. David tersenyum miring. "Itu membuktikan orang ini belum jelas statusnya bagimu, Nay." Nayla hampir kehabisan kata. Sejak tadi David tidak bertanya tentang keberadaan Yasa di rumahnya. Tapi, sekalinya berkata. David bisa saja tahu kalau Yasa memang bukan ayah kandung Devano. Jika Devano sampai tahu semua itu. Nayla tidak bisa mengukur kekecewaan anak itu nantinya. "Eh. Lo kalau tau sesuatu jangan kelebihan, jatohnya so tau, kan? Coba tanya sama Vano siapa bapaknya? Atau lo perlu tanyain orang seisi rumah, terserah. Kalau perlu, tanya sampe puluhan kali lagi sama Nayla siapa calon suaminya, biar lo tau status siapa yang gak jelas," kata Yasa tak kalah sengit membalas. Nayla terpaku. Yasa seolah sangat serius mengatakannya. Dia pintar sekali memprovokasi David, mengambil dukungan Devano, juga memanfaatkan situasi kalau Nayla pasti menjawab 'ya' untuk pertanyaan siapa calon suaminya dalam keadaan sandiwara mereka ini. Apa tujuan Yasa sampai begitu ngotot mengakui semuanya? Itu menjadi tanda tanya besar sekarang. David mulai bergerak tak nyaman. Setelah merasa kalah tak ada yang memihaknya, dia beringsut dari kursi. Menatap Yasa tanpa celah. Mengingat siapa orang yang berani menghinanya begini. Dia berlalu. Membuat Nayla menghela napas dalam karena ketegangan barusan. "Seneng banget kayaknya, Pa," ucap Devano. Ketika melihat Yasa cengengesan tak jelas setelah David pergi. "Dih. Mau ikutan jadi so tau juga kaya Om yang katanya pinter barusan? Mending jangan, deh. Malu-maluin." "Terus kenapa Papa senyum-senyum sendiri?" "Papa kan, mau dapet makanan gratis. Disuapin dokter cantik pula," jawab Yasa. "Ayo cepet, gue belom makan dari pagi. Yah ... kecuali kalau lo mau direpotin setiap hari karena gue gak sembuh-sembuh." Dia menatap ke arah Nayla yang tampak kesal di sebelahnya. "Ck!" Nayla berdecak kesal. Diambilnya sepotong daging dan mengarahkan itu ke mulut Yasa. Pria dewasa berusia tiga puluh tahun itu tersenyum sangat lebar menerimanya. "Apa kamu serius sama omongan kamu barusan ke David, Yas?" tanya Nayla di sela-sela aktivitasnya. Setelah dipikir lagi. Dia sangat perlu menanyakan ini terhadap Yasa, karena ini menyangkut masa depannya dan kebahagiaan Devano. Dia melihat Yasa yang balas menatapnya tanpa Nayla bisa membaca ekspresi wajah pria tersebut. Apakah Yasa berbohong atau tidak. "Lo maunya diseriusin apa enggak?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD