"Ma-maaf, Bu. Aku juga gak tau gimana caranya si Maya bisa gadaikan mobil ke rentenir dan kapan kejadiannya. Tau-tau waktu Arya pulang, mobil itu sudah gak ada lagi," tuturku dengan suara pilu, menjelaskan kronologis peristiwa yang baru saja terjadi. Ibu tampak kembang kempis menahan nafas mendengarnya. Jelas sekali beliau berusaha menekan emosi sebisa mungkin. "Yang salah itu kan kamu, Ya! Perempuan entah keturunan siapa gitu kok dinikahi. Kamu pikir semua perempuan itu sama baiknya kayak si Ana? Naif kamu! Apa selama ini gak mikir, gaji PNS itu berapa, kok Ana bisa masak enak terus buat kamu setiap hari? Bisa ngasih BBM mobil kamu setiap hari? Bisa biayai Mira kuliah dan bisa ngasih ibu setiap bulan? Bahkan sewaktu-waktu ibu minta tambahan uang dia gak pernah keberatan. Selama ini ibu

