08

4134 Words
Dipta tak bisa berkonsentrasi dengan penuh saat mengemudikan mobilnya. Fokus Dipta terpecah dan cukup tersita oleh sosok seorang perempuan yang kini tengah duduk di sampingnya.  Perempuan itu begitu terlihat cantik di mata Dipta. Midi dress brokat warna hijau muda ditambah dengan make up yang tidak terlalu menor dan tampak natural serta style rambut kepang, menambah nilai plus untuk penampilan Sasmita dari sudut pandang Dipta. Dia tidak dapat menyembunyikan keterpesonaannya pada perempuan itu. Senyum Dipta pun terukir tatkala Sasmita menengok ke arahnya. “Kenapa?” sebuah pertanyaan klasik dikeluarkan perempuan itu. “Menurut kamu?” Sasmita mengeriyitkan dahi dan mengangkat kedua bahunya. “Aku tidak tahu kamu lagi mikiran apa,” jawab Sasmita dengan tatapan polosnya. “Coba tebak, Sasi.” Terdengar helaan napas Sasmita. “Aku lagi males mikir atau nebak-nebak,” balas perempuan itu jujur. Mood-nya sedang tidak bagus malam ini. Dipta terkekeh pelan, kemudian menyunggingkan senyum terbaiknya di hadapan Sasmita dan saat tatapan mereka bersinggungan, desiran aneh pun dirasakan oleh Dipta. “Kamu cantik malam ini, Sasi,” puji Dipta tulus dan sukses menyebabkan dua bola mata Sasmita melebar. Perempuan itu juga mematri senyum manisnya. “Cuma malam ini aku keliatan cantik?” Dipta kembali terkekeh akibat pertanyaan yang menurutnya konyol tersebut. “Enggak sih. Tapi lebih terlihat cantik dan anggun malam ini. Aku suka penampilan kamu,” Dipta meluruskan maksud pujian yang dia lontarkan tadi. Sasmita mengeluarkan tawanya. “Haha sejak kapan pintar gombal?” tanya perempuan itu keheranan. Pasalnya Dipta jarang memberikan pujian padanya. “Sejak sering ditolak sama kamu, Sasi.” Sasmita berusaha meredam tawa terlebih dahulu lalu membalas perkataan sang sahabat, “Aku kira ditolak sama tolak angin,” candanya. Tangan kiri Dipta terangkat guna mengusap rambut Sasmita lalu menatap perempuan itu dalam. “Tapi serius. Kamu cantik, Sasmi. Apa kamu sengaja dandan kayak begini karna pengen bikin aku terpesona?” guyon Dipta. Tawa Sasmita yang tadi sudah berenti kini mulai terdengar lagi. “Pede banget ya kamu, Dipta? Aku cuma ingin tampil rapi di pernikahan kakak sepupu kamu,” jawab perempuan itu apa adanya. Malam ini Dipta mengajak dirinya untuk menghadiri pernikahan kakak sepupu sang sahabat. Awalnya dia ingin menolak tapi karena Dipta terus memaksa. Alhasil dia pun mengiyakan ajakan tersebut. Sebenarnya Sasmita tidak terlalu percaya diri. Rasa takut karena hanya akan mempermalukan sang sahabat di pesta itu selalu mengganggu benaknya. Muncul juga kekhawatiran jika dia harus bertemu dengan seseorang di sana. “Haha gak bermaksud pede. Aku cuma pengen kamu nunjukkin penampilan kamu ini padaku. Jangan di depan banyak orang, apalagi pria lain.” “Di pesta kakak kamu pasti akan didatangi banyak tamu kan? Pasti mereka melihat penampilanku juga bukan cuma kamu.” Sasmita tampak tidak mengerti akan arti perkataan Dipta yang masih ambigu untuknya. Dipta terkekeh pelan. “Iya. Emang ada banyak tamu nanti yang hadir. Apalagi pria-pria dengan tatapan nakal yang suka ngelirik-lirik cewek cantik, pasti bakal merajela di sana, Sasi.” Dia menunjukkan sikap protektif-nya secara gamblang. “Tapi tenang aku gak akan ngebiarin mereka seenaknya melirik-lirik perempuan yang aku cintai,” lanjut Dipta.  Sasmita hanya menyunggingkan senyuman tanpa membalas lewat kata-kata. Entah kenapa perempuan itu merasakan sesak yang tiba-tiba saja merasuki dadanya tanpa permisi.  Ada rasa bersalah sekaligus kekhawatiran yang menyeruak seiring dengan seringnya dia mendengar pernyataan ‘cinta’ dan tatapan hangat sang sahabat. Sentuhan jari tangan Dipta di pipinya, mengagetkan Sasmita. “Kenapa bengong? Terpesona dengan penampilanku?” canda Dipta. Dia tahu ada sesuatu hal yang tengah mengusik pikiran Sasmita. Jikapun bertanya pasti perempuan itu tidak akan memberikan jawaban yang sesuai. Sasmita lantas memperhatikan Dipta dari atas sampai bawah. Kemeja casual lengan pendek berwarna biru tua yang dipadu-padankan dengan celana panjang hitam serta jam tangan yang melingkar di tangan kiri Dipta, memberikan kesan cool untuk penampilan pria itu malam ini. “Keren!” Sasmita mengacungkan dua jempol tangannya. Dipta pun tergelak menyaksikan ekspresi yang menurutnya lucu kini menghiasi wajah Sasmita. “Kalau misalnya aku keren. Kenapa ditolak mulu, Sasi?” pertanyaan menohok diluncurkan Dipta. “Karena alasan lain. Bukan masalah keren atau tidaknya penampilan kamu,” jawab Sasmita seraya melepas kontak mata mereka. Pembicaraan ini mulai membuat dia tak nyaman. Dipta pun memandang lurus ke depan dan meraup kembali fokusnya yang tadi sempat terpecah. “Alasan lain lagi? Kalau cuma dua alasan yang pernah kamu bilang di rumah Riana waktu itu. Aku enggak akan mempermasalahkannya, Sasi.” “Semua gak sesederhana yang kamu pikirkan, Dipta.” Sasmita memang pernah mengutarakan dua alasan penting kenapa perempuan itu selalu menolak perasaannya. Tapi bagi Dipta alasan-alasan tersebut tidak terlalu cukup mampu memberi pengaruh baginya untuk mundur atau menyerah begitu saja. “Pertama karena keadaan fisikku, kamu udah lihat sendiri kan gimana keadaanku? Aku gak bisa jadi pendamping yang sempurna buat kamu atau pria lainnya, palingan aku bakal nyusahin kalian." Alasan pertama yang dijabarkan Sasmita padanya. Dia ingin menekankan sekali lagi bahwa fisik yang sempurna bukanlah syarat mutlak yang dia tekankan ketika menaruh perasaan kepada seseorang.  Hal utama yang hingga sekarang membuat dirinya mempertahankan perasaan ini pada Sasmita adalah kenyamanan. Dia belum pernah merasakan kenyamana yang teramat dengan perempuan manapun selain bersama Sasmita. "Kedua karena sifat kakak-kakakku. Dipta, aku sudah pernah cerita ke kamu bagaimana karaktek Kak Arsa dan Kak Ardistri kan? Apa kamu mau dimiskinkan oleh mereka? Aku gak akan sanggup melihat orang-orang yang aku sayang menderita.” Dia sudah mengetahui sifat dan karakter Arsa. Hal tersebut tidak menjadi penghalang baginya. Dia yakin bisa mengambil sikap hati-hati saat menghadapi Arsa nantinya. Apakah Sasmita tahu bahwa hal yang paling membuatnya menderita adalah ketika harus pergi menjauh dari perempuan itu? Dipta menggenggam erat tangan kanan Sasmita lalu melayangkan tatapan hangatnya manakala mata mereka berdua saling menatap. “Kita cuma perlu mencoba. Masalah hasil akhir kita serahkan pada Tuhan. Jangan menganggap semua masalah tidak ada solusinya. Kita butuh proses dan waktu untuk menemukan jawaban terbaik.” Dipta menyunggingkan senyum tulusnya. Sasmita tampak bingung. Yang hanya dapat dia lakukan adalah melengkungan sudut bibirnya ke atas. “Aku juga percaya jika Tuhan telah merancang kisah yang sedemikian rupa dan menuliskan akhir cerita yang paling tepat untuk umat-Nya. Kita harus bisa menerima serta mampu menarik pembelajaran dari semua itu,” balas Sasmita. Tersirat makna penting di dalamnya. Dipta mengangguk lalu semakin mengencangkan genggaman tangannya serta menatap penuh kasih ke arah Sasmita. ………. Sasmita dan Dipta berjalan beriringan  masuk ke halaman depan sebuah villa yang menjadi tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan resepsi pernikahan kakak sepupu Dipta. Banyak tamu yang tampak menghadiri pesta dengan konsep outdoor tersebut.  Rasa tidak percaya diri langsung menghinggapi Sasmita. Terlebih ketika perhatian orang-orang yang mereka lewati selalu tertuju padanya, ah terutama terarah pada tongkat yang dia gunakan di tangan sebelah kiri. Tatapan kasihan dan iba seakan-akan mendominasi serta dilayangkan orang-orang itu untuk dirinya. Sedangkan Dipta terlihat tidak peduli atau ambil pusing dengan sorot mata serta perhatian para tamu yang silih berganti terarah pada mereka. Dia malah semakin merapatkan tubuh dan merangkul mesra pinggang Sasmita, seolah-olah ingin menjadi tameng dan pelindung bagi perempuan itu. “Mau duduk di sana?” bisik Dipta karena alunan suara musik yang cukup mampu memekakkan gendang telinga. Dia menunjuk salah satu meja tamu  yang masih kosong dan terletak lima meter di depan mereka.  Sasmita menganggukkan kepala pelan. Dipta kemudian menuntun perempuan itu mendekati meja yang dia maksud. Begitu juga dengan Sasmita yang mulai menggerakkan kaki dan tongkatnya secara bersamaan. Tak butuh waktu lama mereka sampai di meja yang dituju. Dipta melepas rangkulan tangannya di pinggang Sasmita lalu menarikkan kursi untuk perempuan itu.  “Silakan duduk, Tuan Putri,” persilah Dipta dengan gaya bak ajudan yang dibuat-buat. Dia sengaja melakukan hal tersebut guna menghibur Sasmita. Perempuan itu pun tak bisa menahan tawanya melihat aksi sang sahabat, masih dengan posisi berdiri. “Alay ya kamu, Dipta,” tanggapnya kemudian. Sasmita belum duduk di kursi tersebut. Suara kekehan Dipta terdengar. “Gak apa-apalah alay di depan kamu, Sasi. Cepetan duduk Tuan Putri.”  Dipta menarik tangan kanan Sasmita hingga menyebabkan  perempuan itu akhirnya terduduk. Dipta lalu mengambil tempat di sebelah kanan Sasmita. “Makasih, Dipta,” ucap perempuan itu tulus. Aliran darah Dipta berdesir tatkala mereka berdua saling bersitatap. “Sama-sama.” Dipta mengusap lembut pucuk kepala Sasmita. “Eh, Sasi. Nanti konsep pernikahan kita begini aja kali ya? Mau enggak?” Dipta memberi kode secara terang-terangan. “Ngayal aja terus kamu,” tanggap Sasmita terdengar malas meladeni pertanyaan konyol sang sahabat. Dipta mengembangkan senyumannya. Sedangkan tangan pria itu masih anteng bertengger di kepala Sasmita. “Kalau menghayal yang positif kan gak apa-apa, Sasi,” Dipta membela diri. “Aish…” Sasmita hanya mendengus pelan. Karena tidak mau merusak suasana. Dipta pun bangkit dari kursi yang dia duduki lalu memandang Sasmita yang juga mendongakkan kepala ke arahnya. “Aku ambil minum dulu. Kamu mau minum apa?” tanya pria itu. “Apa aja. Asal jangan minuman yang dingin. Aku lagi pilek.” Dipta menggangguk kecil. “Sip. Kamu tunggu di sini sebentar. Aku ambil minuman dulu. Awas jangan biarin pria lain duduk di sini,” peringat Dipta terkesan bercanda namun ada ada sedikit keseriusan di dalamnya. Sasmita pun kembali tertawa melihat tingkah sang sahabat. ……… Baru saja beberapa detik Dipta menghilang dari penglihatannya, Sasmita sudah dikagetkan dengan tepukan di pundak kirinya. Sontak perempuan itu menoleh ke arah si pemilik tangan. Raut keterkejutan tak bisa disembunyikannya. “Sasmita.” Suara lembut namun terkesan dingin milik seorang wanita dewasa menyapa gendang telinga Sasmita. Perempuan itu masih memasang ekspresi wajah datarnya, tak ada senyuman yang dia tunjukkan untuk menyambut kehadiran wanita dewasa tersebut yang bahkan kini sudah duduk di sampingnya. “Tante Rika.”  Sasmita kemudian menyebut nama dari wanita itu. Dia menyalimi tangan Ibu Rika sebagai bentuk sopan santun dan hormatnya kepada orang yang lebih tua.  “Apa kabar, Mita? Sudah lama rasanya kita tidak berjumpa,” tanya Bu Rika. Nada suara beliau masih terdengar dingin meskipun seutas senyuman terpatri di wajah Bu Rika. Beliau merupakan ibu tiri dari sang sahabat, Dipta. Berbeda halnya dengan Sasmita. Dia tidak mempertontonkan ekspresi apapun. Akan tetapi rasa was-was dan tak nyaman menyergap dadanya. Untuk menjaga kesopanan. Sasmita kemudian mengalihkan pandangannya yang semula terarah ke depan kini membalas tatapan sang lawan bicara. “Kabar saya baik, Tante,” jawab Sasmita sembari menarik dua sudut bibirnya membentuk lengkungan tipis ke atas. Bu Rika tampak menganggukan kepalanya perlahan-lahan sedangkan dua manik cokelat beliau sibuk memperhatikan penampilan Sasmita dari atas hingga bawah.  Hal tersebut tentu membuat Sasmita risih dan terganggu. Apalagi ditambah dengan pancaran mata Bu Rika yang menunjukkan ketidaksukaan secara nyata untuknya. “Kamu datang bersama, Dipta?” tanya wanita berusia 49 tahun itu seolah-olah ingin mengintograsi. Sasmita kemudian mengangguk pelan. “Iya, Tante,” jawabnya singkat. Rasa tidak nyaman akan perbincangan mereka malam ini semakin mendominasi. Terlihat Bu Rika menggeser kursi yang beliau duduki mendekat ke arah Sasmita. Sorot mata Bu Rika pun menajam dan menyebabkan Sasmita seperti tidak bisa berkutik. “Sebenarnya hubungan apa yang terjalin antara kamu dan anak saya?” tanya beliau kian megintimidasi lewat pertanyaan dan tatapannya. Sasmita berupaya mengontrol diri agar tidak ikut terpancing. Namun di sisi lain dia juga tak ingin terlihat gentar ataupun lemah. Alhasil Sasmita tetap membalas tatapan tajam Bu Rika.  “Kami hanya berteman, tidak lebih.” Sebuah senyum yang sarat akan kelegaan terpampang di wajah Bu Rika. “Baguslah. Terima kasih sudah mendengarkan peringatkan saya waktu itu,” balas beliau seakan-akan ingin mengingatkan kembali perbincangan yang pernah mereka lakukan beberapa waktu lalu. Sasmita hanya diam tak memberi balasan apapun. Namun gelenyar aneh yang menyesakkan berhasil menghinggapi d**a perempuan itu.  “Saya hanya berharap kamu dapat tahu dan sadar sampai di mana batasanmu dengan Dipta. Kalian berbeda. Tolong ingatlah, Mita,” ucap Bu Rika dengan nada yang terdengar mulai melembut akan tetapi sukses menambah rasa sesak di d**a Sasmita. Seperti tertusuk benda tajam tak kasatmata. Lengkungan tipis yang tadi tampak di bibir Sasmita kini lenyap seketika. “Tentu, Tante. Saya selalu mengingatnya,” sahut perempuan itu pelan, mengiyakan permintaan Bu Rika. “Maaf jika saya harus berbicara seperti ini padamu, Mita. Saya hanya ingin melihat Dipta bahagia dan mendapatkan pendamping yang sepadan dengannya. Walau dia bukanlah anak kandung saya tapi saya sangat menyayanginya.” Bu Rika menarik napas panjang lalu mengembuskan dengan cepat. “Satu lagi yang mesti saya sampaikan. Anak laki-laki satu-satunya di keluarga kami hanyalah Dipta. Tanggung jawab yang dia miliki begitu besar. Jangan menambah beban Dipta dengan kondisimu, Mita. Kalian berbeda,” lanjut beliau tanpa ada pengereman atas kata-kata yang beliau tujukan pada Sasmita. “Saya mengerti, Tante. Saya juga tak ingin Dipta menderita karena kondisi saya ini,” balas perempuan itu menegaskan. Rasa sesak semakin liar menjalar ke seluruh dadanya. Bu Rika tampak memandang Sasmita dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. Tangan beliau bahkan kini tengah mencengkram cukup erat lengan kanan Sasmita. “Maaf atas perkataan saya yang menyinggung perasaanmu, Mita. Saya tidak akan memintamu menjauhi Dipta. Saya hanya berharap kamu tahu sampai di mana batasanmu, Mita,” ingat Bu Rika sekali lagi.  Beliau tidak peduli harus terlihat kejam dan tak berperasaan. Asalkan putranya dapat memperoleh kebahagiaan yang sesuai dengan sudut pandangnya sebagai seorang ibu. Bu Rika tidak ingin mengambil risiko karena beliau telah miliki prediksi jika keluarga besarnya tidak bisa mentolerir kondisi dan kekurangan Sasmita. Lengkungan tipis kembali terangkat naik di sudut bibir perempuan itu. “Saya selalu mengingat batasan tersebut, Tante. Kalau pun Dipta tetap bersikeras saya akan mencegahnya,” jawab Sasmita sambil berusaha sekuat tenaga supaya air matanya tidak jatuh akibat rasa sesak yang benar-benar sukses menghantamnya. ……….. Dipta mengalihkan pandangannya sosok sang pujaan hati yang asyik memandang suasana jalanan pada malam hari dari kaca jendela mobil Senyum hangat merekah di wajah Dipta. Dia senantiasa menikmati momen kebersamaannya dengan Sasmita.  Ada kebahagiaan pula yang mencuat keluar begitu saja dan mengakibatkan Dipta ingin selalu memasang senyum terbaiknya di hadapan Sasmita. Terkadang janji konyol digumamkan Dipta meski hanya di dalam hati yakni seandainya nanti dia berhasil membangun sebuah komitmen bersama Sasmita.  Dipta pun berjanji akan selalu membuat perempuan itu tersenyum, tertawa dan berusaha menciptakan kebahagiaan semaksimal mungkin. Dipta tak ingin melihat perempuan yang dia cintai itu menderita dan menitihkan air mata.  Tapi dia tetaplah manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan meskipun demikian Dipta akan berupaya untuk mengurangi sikap ego atau negatif lainnya, memahami jalan pikiran serta prinsip masing-masing agar tidak saling berbenturan hingga menimbulkan konflik.  Sasmita terlihat kaget dan langsung menoleh ke arah sang sahabat yang sudah menggenggam erat tangan kirinya. Sasmita merasa hatinya seakan-akan mencelos saat mendapati pancaran hangat dan lembut dalam sorot mata sang sahabat ditujukan untuknya.  “Ngapain melamun?” tanya Dipta kemudian. Sasmita menggeleng dengan cepat. Dia tidak mau pikirannya dibaca oleh sang sahabat. “Aku gak melamun kok,” kilah perempuan itu seraya menyunggingkan senyum yang terkesan dipaksakan. “Kalau kamu enggak melamun. Kenapa kamu gak sadar kita udah sampai di rumah?” Dipta menyentil dahi Sasmita dan menyebabkan perempuan itu meringis. Sasmita mendengus serta memperlihatkan tatapan sebalnya. “Emangnya kita udah sampai?” tanya perempuan itu tak percaya. Dipta pun menggerakkan kepala dan juga tangannya ke arah kiri guna menunjuk rumah Sasmita. Perempuan itu lantas mengikuti kemana tangan serta kepala bergerak. Sasmita menertawakan kebodohannya. Dengan cepat dia kembali menoleh ke arah sang sahabat. “Aku ngantuk jadi gak sadar kita udah sampai,” bohongnya. Dipta menyentil dahi Sasmita untuk kedua kalinya karena merasa gemas. “Ngantuk atau lagi mikirin sesuatu? Sekarang kamu mulai jago boong ya, Sasi? Tapi aku gak berhasil kamu tipu,” kentaranya. Sasmita tertawa kecil. Entah mengapa dia kerap gagal berbohong untuk hal sepele sekalipun di depan sang sahabat. Namun untuk permasalahan kali ini, dia tidak akan buka suara.  Sasmita melirik jam di mobil Dipta yang telah menunjukkan pukul 22.37 wita. “Makasih untuk tumpangannya. Jangan mampir! Udah malam. Besok kan kamu harus kerja pagi-pagi. Jadi malam ini aku akan melarangmu singgah,” ucap perempuan itu mencari bahasan lain agar sang sahabat tak bertanya lebih lanjut mengenai hal yang sedang mengganggu pikirannya. Dipta terkekeh pelan mendengar larangan mutlak Sasmita. “Selain mulai jago boong. Kayaknya kamu juga mahir membelokkan topik pembicaraan ya, Sasi?” Sasmita hanya melengkungan dua sudut bibirnya tanpa memberikan jawaban berupa kata-kata. Namun kekagetan tiba-tiba saja melanda Sasmita saat Dipta menarik tubuhnya ke dalam dekapan pria itu. “Lepasin, Dipta! Jangan main peluk di jalan gini,” ingat Sasmita. Pasalnya mereka tengah berpelukan tepat di depan rumah. Meski jalanan tampak sepi dan sedikit gelap karena lampu yang meremang. Dipta kembali terkekeh namun belum juga melepas pelukannya. “Bukan di jalan. Tapi di dalam mobil. Lagian udah malam, Sasi. Siapa coba yang lihat? Paling udah pada tidur,” elak Dipta santai. Dia kian mengencangkan dekapannya  “Tapi nanti bis—” “Tadi Mama ngomong apa sama kamu, Sasi?” tanya Dipta memotong ucapan perempuan itu. Tubuh Sasmita menegang dengan sendirinya. Dia syok mendengar pertanyaan sang sahabat. “Ka…Kamu denger pembicaraanku dan Tante Rika?” Dia malah balik bertanya. Sasmita dapat merasakan Dipta melakukan gerakan menggeleng di bahunya, mereka masih berada dalam posisi saling berpelukan. Lebih tepatnya Dipta yang mendekap Sasmita sedangkan perempuan itu hanya diam tak membalas pelukan sang sahabat. Karena hening yang tercipta di antara mereka. Akhirnya Dipta pun melepas pelukannya.“Tidak. Aku tadi cuma liat kamu ngobrol sama Mama. Emangnya kenapa? Mama bilang apa ke kamu, Sasi?” Sorot mata Dipta penuh selidik. Senyuman hangat terus terpatri di wajah Sasmita. Berbanding terbalik dengan apa yang tengah mengganggu dadanya. Terlebih ketika menatap manik Dipta. Ada rasa bersalah yang dia rasakan. “Tante Rika hanya menanyakan kabarku kok. Beliau juga lumayan banyak cerita-cerita karna kita udah lama gak ketemu. Kamu tau gak, Dipta? Tante Rika selalu bilang kalau beliau pengen liat kamu bahagia,” jelas Sasmita. Terselip bumbu kebohongan di dalam untaian kata-katanya. Senyuman manis Dipta kian mengembang. Walau Mama Rika hanya merupakan ibu tirinya akan tetapi Dipta dapat tahu dan merasakan kasih sayang yang diberikan wanita itu memang tulus padanya. “Kebahagiaanku?” Sasmita menganggukkan kepala. “Iya. Tante Rika selalu memikirkan kebahagiaan kamu, Dipta. Jangan nyampe kamu mengecewakan beliau. Menyakiti hati seorang Ibu bukanlah tindakan yang terpuji. Kamu harus mendengarkan bahkan melaksanakan nasihat beliau sekeras apapun hal tersebut bertentangan dengan keinginanmu.”  Sasmita memberikan masukan pada sang sahabat. Bukan sekadar hanya itu yang ingin diutarakan tapi lebih kepada menyadarkan Dipta akan sesuatu hal dan tentunya berkaitan dengan hubungan mereka. “Aku sudah menganggap Mama Rika sebagai ibuku sendiri. Aku pasti akan mendengarkan nasihat beliau. Hitung-hitung untuk kebaikanku juga kan? Tapi kamu tahu gak hal yang membuatku merasakan bahagia selain bisa melihat kebahagiaan orangtuaku?”   Sasmita menggeleng, tak paham akan maksud pertanyaan sang sahabat. “Apa?”  Dipta memulai aksinya. Dia menggenggam kedua tangan Sasmita sambil menatap lekat-lekat perempuan itu. “Kebahagiaan lain yang selalu aku dambakan adalah bisa hidup bersama dengan wanita yang aku cintai, baik suka maupun duka. Aku ingin membuatnya tersenyum, tertawa dan tidak merasakan kesedihan yang terlalu mendalam lagi. Aku tahu semua tidaklah mudah tapi aku akan terus berusaha.” “Terus berusaha tidaklah cukup. Ada saatnya kita memang harus menyerah. Karena kenyataan yang mesti kita hadapi tak akan semudah harapan yang selalu kita taruh di tempat paling tinggi. Terkadang mereka saling bertolak belakang dan tidak bisa menyatu,” ucap Sasmita dengan tatapan yang mulai tidak bersahabat.  “Setiap tindakan yang kita ambil pasti akan memperoleh manfaat dan risiko tersendiri kan? Jadi ada dua pilihan yakni mundur atau tetap melangkah maju. Tinggal memilih dan siap menanggung apapun yang terjadi,” balas Dipta mencoba untuk bersikap tenang, tidak tersulut emosi. Kali ini Sasmita diam mematung. Meresapi setiap kata yang tadi dilontarkan oleh Dipta. Rasa sesak pun semakin merajalela dan masuk ke rongga-rongga terkecil di dalam dadanya. “Aku mencintaimu, Sasmita,” ungkap Dipta entah sudah sekian kalinya. Sorot mata yang menunjukkan keseriusan tidak pernah memudar sejak tiga tahun lalu. “Ak—” Ucapan Sasmita terpotong karena Dipta kembali menariknya ke dalam dekapan pria itu. “Jangan mengulang jawaban yang sama. Aku tidak ingin mendengarnya. Aku juga tidak akan menyerah, Sasi. Cukup hanya sekali aku melepasmu untuknya,” tegas Dipta tak terbantahkan. ………. Radika langsung menghempaskan tubuhnya ke atas kasur sesaat setelah menginjakkan kaki di kamarnya. Jam dinding sendiri telah menunjukkan pukul 00.42 wita. Radika belum bisa memejamkan mataya. Rasa kantuk pun hilang entah lari kemana. Pening di kepala tak lupa menjadi salah satu pemicu atas kegelisahan yang melanda Radika. Saat menutup rapat kedua kelopak matanya, bayangkan peristiwa sekitar dua jam lalu terekam kembali. Ya dia menyaksikan secara live bagaimana Dipta Aryasatya dan calon istrinya berpelukan mesra di dalam mobil. Tadi dia berencana menemui Sasmita guna membicarakan rencana pertemuan antara keluarganya dengan perempuan itu. Radika sekaligus juga ingin memastikan kebenaran dari laporan informannya yang memberitahukan bahwa Sasmita tak lagi tinggal serumah bersama Arsa dan Ardisti.  Tapi apa yang dia dapatkan? Pemandangan mesra perempuan itu dengan Dipta Aryasatya? Saingan terberatnya saat di SMA dulu.  Radika tahu persis jika Dipta juga menaruh perasaan pada perempuan yang sama dengan dirinya. Namun yang tidak dia ketahui adalah kedekatan pria itu dan Sasmita terjalin hingga sekarang.  Mungkinkah mereka memiliki hubungan khusus? Berpacaran? Baru beberapa hari yang lalu rasanya dia melihat perempuan itu tersenyum hangat saat bersama seorang pria di kafe. Dan malam ini dia malah disuguhkan pemandangan ‘mesra’ yang berhasil menimbulkan gejolak tersendiri di dadanya.  Radika mendudukkan diri  di atas kasur. Keraguan yang teramat besar akan pernikahan mereka menghantamnya. Di satu sisi dia sudah mengukuhkan diri untuk terlibat dalam pernikahan tersebut. Namun hati kecil Radika membisikkan keraguan yang kian menyurutkan keyakinannya. “s**l!” umpat Radika di tengah emosi yang menggerogoti dadanya.  “Kenapa jadi seperti ini, Sasmita?” gumamnya sembari menyebutkan nama perempuan yang mungkin sebentar lagi akan berubah status menjadi istrinya. Tapi tak ada kebahagiaan yang dirasakan Radika bahkan rasa takutlah yang merasukinya.  Ya, benar. Dia terlalu takut menyakiti Sasmita untuk kedua kalinya lewat pernikahan tersebut. Radika tidak bisa menghancurkan senyuman dan kebahagiaan perempuan itu hanya demi membalaskan rasa dendamnya. Terlebih ketika dia merasa jika posisinya di hati Sasmita sudah tergantikan oleh dua pria sekaligus. Nyali Radika menciut. Dia ingin menyudahi semuanya. Tapi jika dia melakukannya sekarang, sepertinya akan sia-sia belaka. Drrtt...Drrtt… Getaran yang berasal dari handphone-nya seketika mengembalikan kesadaran Radika. Dia langsung merogoh benda tersebut dari dalam kantong celananya. Wira : Selesain laporan lo segera. Radika membaca sederetan kata yang terpampang di layar touchscreen handphone-nya dengan wajah kusut bercampur lelah.  Namun detik berikutnya dia melebarkan bola mata ketika menyadari bahwa ada dua panggilan tak terjawab yang berasal dari Sasmita pada pukul sebelas malam. Tanpa aba-aba dan tidak pernah direncanakan, Radika menekan menggeser sebuah tombol di layar handphone-nya yang menjadi tanda tersambungnya panggilan antara ia dan Sasmita. “Kenapa menelepon, Sasmi?” tanyanya to the point saat di seberang sana dia sudah terhubung dengan Sasmita. “Aku hanya ingin memastikan pesan yang kamu kirim tadi siang. Aku harus bertemu orangtuamu lusa?” tanya perempuan itu.  Radika memang mengirimi sebuah pesan pada Sasmita siang tadi yang berisi ajakan untuk bertemu dengan orangtuanya lusa pagi. “Iya. Kenapa? Apa kamu merasa keberatan, Sasmi?” dia balik bertanya. Nada suara Radika terkesan sangat dingin, imbas dari emosinya yang sedang berada sedikit di atas batas normal. “Tidak.” Demi apapun, meski hanya lewat sambungan telepon Radika bisa tahu bahwa Sasmita sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. Sungguh Radika ingin menanyakan apa sejatinya hal yang tengah membebani perempuan itu. Tapi rasa ego mencegahnya. ‘Ada apa denganmu, Sasmi? Apa kamu habis menangis?’ “Besok pagi aku akan bertemu kakakmu,” beri tahu Radika. Tadi dia juga sempat menghubungi Arsa dan pria itu menyetujui ajakannya untuk bertemu. “Ber…bertemu Kak Arsa?” Suara Sasmita di ujung sana terdengar kaget. “Iya,” jawab Radika singkat. “Baiklah,” sahut perempuan itu tak kalah singkat. Radika menghela napas panjang guna menghalau rasa aneh yang bergelanyut di dadanya. “Satu lagi, Sasmi,” ucapnya pelan. Namun kesan dingin terus melekat dalam nada bicara Radika. “Apa, Radi?” “Beraktinglah seolah-olah kita benar-benar menjadi sepasang kekasih depan orangtuaku.” Kata-kata yang lebih terdengar sebagai syarat dan perintah meluncur dari mulut Radika. Nada dingin yang begitu kental pun dia tunjukkan. “Aku mengerti. Aku akan berusaha melakukannya dengan sebaik mungkin.” Suara serak Sasmita kali ini benar-benar menganggu pikiran Radika.   “Kamu harus bisa melakukan dengan baik agar orangtuaku tidak menaruh curiga, Sasmita. Setidaknya kamu harus mampu meyakinkan ibuku seperti dulu. Aku tidak ingin keluargaku mengetahui kebohongan kita ini.” sekumpulan kata-kata tanpa persiapan sebelumnya kembali dilontarkan Radika dengan nada yang terkesan dingin. “Tentu. Aku akan berusaha supaya semua berjalan dengan lancar.” Suara Sasmita yang sedikit bergetar tertangkap oleh telinga Radika. “Maaf sudah malam. Aku harus menutup sambungan telepon ini.”  Tuutt….tuutt…. Terdengar sambungan telepon berakhir begitu saja. Radika yang tak kuasa menahan emosi pun, melempar handphone secara sembarang. “s**l!” umpat pria itu sembari mengepalkan tangan kanannya kuat-kuat. Sorot mata yang diselimuti amarah dan luka bercampur menjadi satu. ……….    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD