07

3284 Words
Wira sedikit terkesiap mendapati Radika yang duduk di kursi, depan meja kantornya. Wira mengernyitkan dahi dan menatap lurus ke arah sang sahabat. Dia merasa heran, kenapa pagi-pagi begini Radika sudah menyambangi ruangan kerjanya karena Radika biasanya hanya akan datang bertandang dikala ada urusan yang mendesak dan penting, terutama berkaitan dengan proyek yang sedang dikerjakan atau menyerahkan laporan. “Ada masalah?” tanya Wira to the point. Rasa curiganya menyeruak ke permukaan. Radika tak langsung menjawab pertanyaan tersebut. Ekspresi wajar datar dan tatapan tajam khas miliknya terukir indah.  “Berapa total hutang Arsa di perusahaan ini?” Sebuah pertanyaan meluncur dari mulut pria itu. Wira menaikkan sebelah alisnya karena belum memahami betul maksud pertanyaan yang dilontarkan sang sahabat. “Untuk apa lo tanya utang si Arsa?” Dia ingin menanyakan alasan dibalik pertanyaan yang menurutnya tiba-tiba tersebut.  Radika memandang Wira dengan tatapan elangnya. “Gue bakal lunasin semua hutang dia di sini. Berapa total pinjaman Arsa?” tanyanya ulang. Dia tidak suka terlalu lama berbasa-basi atau berbelit-belit mengutakan tujuannya. Giliran Wira yang diam sejenak dan menyeruput kopi hangat kesukaannya dengan nikmat. Radika memilih bungkam tak mengeluarkan satu patah kata pun, hanya menunggu jawaban dari sahabatnya. “Hutang dia di sini sepadan dengan harga setengah saham lo, Rad,” beri tahu Wira kemudian. Utang yang dimiliki Arsa memang terbilang cukup besar meski hanya tinggal separuhnya. Ekspresi di wajah Radika tetap saja datar saat sudah mendengar jawaban yang berikan sang sahabat, tidak menampakkan perubahan sedangkan di sisi lain Wira tampak tengah memandang Radika dengan tatapan penuh selidik, namun lawan bicaranya itu terlihat acuh tak acuh. “Oke, gue akan bayar sisa hutang dia dengan saham yang gue punya.” Wira kembali mengangkat alis kanan dan mengerutkan dahi. Dia tidak percaya begitu saja jika Radika bisa dengan mudah menyerahkan saham miliknya untuk membayar hutang Arsa yang memang tergolong cukup besar meski hanya separuh. Kali ini Wira melayangkan tatapan yang sarat akan keingintahuan mendalam. “Alasan lo, Rad?” tanyanya to the point karena dihantui rasa penasaran. Terdengar embusan napas panjang Radika. “Tentang pernikahan antara gue dan Sasmita. Biar gue yang beresin sendiri. Gue gak mau ada pihak lain yang ikut campur,” jawab pria itu dengan nada datar sambil memandang lurus ke arah Wira yang duduk di tepat di hadapannya, seolah-olah mengirimkan isyarat melalui sorot matanya. Wira berdecak pelan. Dia tentu dapat memahami benar maksud tatapan tersebut. “Santai aja, gue gak bakal melibatkan diri. Gue kagak tertarik ikut campur. Gue serahin semua sama lo, Rad. Toh yang ngejalanin pernikahan ini juga lo, bukan gue,” komentar Wira enteng. “Jadi alasan itu yang bikin lo dengan begonya mau lunasin hutang Arsa? Dan mempertaruhkan saham lo, Rad?” Radika masih setia menampakkan ekspresi wajah datarnya. “Gue bakal tetap melunasi sisa hutang dia dengan saham yang gue punya di sini,” pria itu menegaskan kembali keputusan yang sudah diambilnya secara matang-matang tersebut. Wira menganggukkan kepala tanda menyetujui. Dia tidak ingin ambil pusing ataupun memberi waktu pada Radika untuk memikirkan ulang rencana yang menurutnya akan memberi dampak cukup berpengaruh bagi karier dan posisi sang sahabat di perusahaan. “Kalau itu emang udah jadi keputusan lo, Rad. Gue gak bisa ngomong apa-apa lagi. Semoga lo enggak akan nyesel dengan keputusan yang udah lo buat sendiri.” Radika tak menjawab dan membuang tatapan ke arah lain. Meski sedang bertatap muka seperti sekarang ini, Wira tetap merasa sulit untuk sekadar membaca atau menerka-nerka bagaimana sesungguhnya perasaan sang sahabat karena Radika begitu lihai menyembunyikan semua. “Jangan pernah melenceng dari rencana awal, Rad,” ingat Wira sebelum sahabatnya itu meninggalkan ruangan. Radika yang hendak bangkit dari kursi yang dia duduki pun mengurungkan niatannya tersebut lalu memandang ke arah Wira dengan sorot mata yang tajam. “Gue tahu,” jawabnya singkat. “Ck lo yakin, Rad? Rencana seseorang bisa saja berubah karena ada hal lain yang lebih berarti untuknya,” Wira seakan-akan meragukan pernyataan sang sahabat.  “Rencana gue buat memberi pelajaran dan menghancurkan Arsa belum berubah,” balas Radika dengan nada datar namun terkesan menekankan. Wira lantas menaikkan salah satu sudut bibirnya. ……….. Seorang perempuan tampak keluar dari dalam taksi lalu berdiri dengan sebuah tongkat yang membantu menyangga dirinya, ya dia tak lain adalah Sasmita. Perempuan itu sedang menapakkan kakinya di depan restoran yang cukup berkelas, dia memiliki janji dengan Radika di tempat ini. Kemarin malam Radika menelepon dan mengajak bertemu guna membahas lebih lanjut ‘pernikahan bisnis’ di antara mereka. Sasmita pun menyanggupi, dia hanya ingin cepat-cepat menyelesaikan permasalahan tersebut. Menyelesaikan? Bukankah pernikahan ini bahkan belum dimulai? Bukankah mereka akan dihadapkan dengan permasalahan baru yang jauh lebih rumit nantinya?  Perempuan itu menatap ke depan lalu mulai mengerakkan kaki serta tongkat penyangganya secara bersamaan, berjalan masuk ke dalam restoran yang tampak tidak terlalu ramai dikunjungi oleh para penikmat kuliner pada saat jam makan siang seperti sekarang ini. Sasmita memberhentikan langkah kakinya di sebuah meja yang terletak cukup memojok dan dekat dengan jendela. Dia lantas duduk serta menyenderkan tongkat penyangga yang tadi dia gunakan di dinding.  Setelah itu, Sasmita meluruskan kedua kakinya yang terasa pegal dan sedikit kaku padahal dia hanya berjalan beberapa meter saja. Terkadang otot-otot tangan kirinya pun ikut terasa menegang dan kesemutan, mungkin efek dari memegang tongkat yang terlalu kuat. Baru beberapa detik menikmati pemandangan taman dengan  aneka tanaman hias yang indah di luar jendela. Perhatian Sasmita tiba-tiba saja tersita pada sosok seorang pria yang mengenakan kemeja polos putih dilengkapi dasi hitam non motif serta celana panjang yang juga memiliki warna senada dengan dasi tersebut.  Kesan gagah dan maskulin tidak bisa terlepas dari pria yang kini tengah berjalan menuju ke arahnya dengan langkah tegap sambil menenteng tas kerja. Tatapan pria itu pun terus terarah ke dalam dua manic hitam milik Sasmita. Mereka berdua saling balas memandang satu sama lain. Namun tak tampak senyuman di wajah mereka masing-masing untuk sekadar digunakan sebagai ‘jamuan’ pembuka atas pertemuan mereka yang kedua siang ini. Ketika telah sampai di depan meja tujuannya. Radika langsung duduk di kursi kosong yang berseberangan dengan Sasmita. Sorot mata Radika semakin menajam.  Sama halnya dengan Sasmita rasakan tadi. Radika pun tidak bisa mengalihkan fokusnya dari sosok seorang perempuan yang sedang duduk di hadapannya tanpa memasang ekspresi apapun.  Radika bahkan sudah menunggu kedatangan Sasmita hampir satu jam lebih.Ya secara diam-diam dia mengamati perempuan itu dari dalam mobil, terhitung sejak Sasmita tiba di restoran. Dan menurut Radika, penampilan Sasmita siang ini cukup mampu mengambil perhatiannya. Dia menyukai jenis kemeja kotak-kotak warna biru muda yang dipakai Sasmita.  Style kuncir kuda dan polesan make up tipis di wajah perempuan itu juga sukses membuatnya terpaku barang sejenak. Namun saat melihat ke dalam manik cokelat Sasmita, rasa sesak mendadak menghampiri Radika. Dan hal serupa juga menghantui Sasmita. Untuk menyiasati dan menutupinya. Perempuan itu lebih memilih membuang muka hingga kontak mata di antara mereka terputus seperti pertemuan sebelumnya. Tangan kanan Radika mengepal tatkala bayangan senyum Sasmita saat di kafe bersama pria yang sampai sekarang belum dia ketahui namanya itu, muncul seketika.  Atmosfer di sekitar mereka terasa asing dan sangat canggung. Tak ada yang ingin memulai pembicaraan, seolah-olah bibir mereka berdua dilapisi lem perekat sehingga tertutup rapat dan tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun untuk sekadar menyapa satu sama lain. “Selamat siang. Tuan dan Nyonya ingin memesan apa?” suara milik seorang pelayan laki-laki berhasil mengagetkan mereka berdua. Pelayan itu kemudian menyerahkan buku menu pada Radika dan juga Sasmita. Hening tercipta. Mereka terlihat fokus memilih menu makanan yang akan dipesan, sebenarnya hal tersebut hanya mereka gunakan sebagai bentuk pengalihan semata akibat dari rasa canggung yang belum juga mereda. Sasmita menutup buku menu lalu menoleh pada pelayan yang tengah berdiri di samping kanannya. “Saya pesan Hot Chocolate,” ucap Sasmita sembari menyerahkan buku yang dia pegang kepada pelayan itu. “Ada lagi, Nyonya?” Sasmita menggeleng pelan dan menampakkan lengkungan tipis di bibirnya. Pelayan itu pun mengerti kemudian berhenti bertanya. “Saya juga.” Suara berat Radika terdengar. “Maaf?” tanya pelayan itu sedikit kebingungan. Radika mendongakkan kepala ke arah kiri di mana pelayan itu sedang berdiri. “Saya juga memesan Hot Chocolate,” ulangnya dengan suara berat namun terkesan tetap ramah meski ekspresi datar menghias wajah Radika. Pelayan itu menganggukkan kepala dan mencatat pesanan dengan gesit. “Ada lagi, Tuan?” tanyanya. “Tidak,” jawab Radika singkat. “Baiklah. Pesanan Tuan dan Nyonya akan kami buatkan. Jika tidak ada yang ingin dipesan lagi. Saya undur diri. Terima sudah memesan,” ucap pelayan itu ramah. Radika dan Sasmita menganggukkan kepala mereka masing-masing.  Pelayan itu lantas melenggang pergi, menyisakan dua orang yang masih saling diam. Kebisuan benar-benar mendominasi dan menyergap mereka berdua hingga beberapa menit berikutnya. Radika yang sudah tidak tahan dengan suasana hening seperti ini, langsung mengeluarkan sebuah dokumen dari dalam tas kemudian meletakkannya di atas meja.Perhatian Sasmita pun sukses tertuju pada dokumen yang berjudul ‘Perjanjian’ tersebut.  Tanpa banyak kata lagi atau sekadar meminta penjelasan Sasmita mengulurkan tangan kanannya dan mengambil dokumen tersebut untuk dia tandatangangi. Radika terus mengamati gerak-gerik Sasmita melalui bahasa tubuh yang perempuan itu tunjukkan. Radika tahu cara ampuh dalam mengetahui perasaan Sasmita yang sebenarnya yakni melalui sorot mata. Namun perempuan itu selalu berupaya menghindari kontak mata yang dia lakukan. “Baca terlebih dahulu sebelum menandatanganinya.” Radika buka suara. Meski nada bicaranya terkesan dingin dan datar. Sasmita tetap membubuhkan tandatangan tanpa membaca satu kata pun yang tertera di dalam dokumen lalu menutup benda tersebut dan menyerahkannya pada Radika. Tatapan mereka bersinggungan. Kali ini Sasmita tampak tidak ingin menghindar lagi. Sorot matanya tak kalah tajam. “Untuk apa membacanya? Tugasku bukankah hanya menandatangani dan mengikuti pernikahan bisnis ini?” tanyanya dengan nada yang terkesan menantang. Rahang wajah Radika mengeras. Tangan kanannya kembali mengepal. Demi apapun dia tidak pernah menyangka jika Sasmita akan melontarkan kata-kata yang cukup pedas dan malah berbanding terbalik dengan sorot mata terluka yang dipancarkan perempuan itu. “Jadi kamu sudah siap mengikuti permainan pernikahan bisnis ini, Sasmita?” tanyanya sinis. Tatapan Radika kian menajam dan seakan-akan dapat memenjarakan pergerakan Sasmita hanya dengan tatapannya tersebut. Perempuan itu belum memutus kontak mata antara dirinya dan Radika. “Aku sudah siap sejak awal,” jawabnya pelan namun mampu mengganggu kestabilan emosi Radika. “Meski pernikahan ini dilatarbelakangi bisnis belaka. Tapi aku akan tetap memperkenalkanmu pada orangtuaku sebagai calon menantu mereka,” beri tahu Radika dengan nada bicaranya yang dingin bak es dan penuh penekanan. Tak ada ekspresi apapun yang tampak di wajah Sasmita. Dia lantas menganggukkan kepalanya pelan. Denyutan aneh berhasil masuk ke dalam dadanya dan mengakibatkan rasa sesak yang perlahan-lahan mulai menyerang.  Sasmita juga dapat merasakan pancaran mata Radika dikabuti oleh amarah. Namun saat menelisik dan menggali lebih dalam ke manik Radika, entah mengapa rasa sesak terus saja menghantam dirinya.  Timbul sebuah pertanyaan besar dalam benak Sasmita. Apakah Radika tengah menyembunyikan sesuatu darinya? Lagi-lagi logika Sasmita menolak untuk terlibat lebih dalam. Karena semua hanya akan menyebabkan luka yang bertambah lebar dan tentunya menyakitkan. “Tentu. Kapan aku bisa bertemu mereka?” tanya perempuan itu tak ingin terlalu lama terlibat perbincangan yang kian membuat Sasmita harus mengontrol perasaan dan logikanya agar tetap sejalan. “Sesegera mungkin. Mengingat di dalam dokumen, pernikahan ini paling lambat dilaksanakan sebulan lagi dan berlaku selama satu tahun,” ingat pria itu. Radika juga ingin memberitahukan isi perjanjian secara tidak langsung. Satu tahun?  Jadi dirinya dan Radika hanya akan terikat dalam pernikahan bisnis ini hanya selama setahun? Mungkin bagi kebanyakan orang di luar sana, pernikahan merupakan sesuatu yang sakral serta perlu kesiapan yang matang untuk memulai bahkan menjalaninya. Tapi dia dan Radika malah menganggap ikatan suci tersebut sebagai permainan? Yang seolah-olah tak berarti apaapun? Lucu bukan?  Atau munafik? “Aku siap mengikuti alur yang kamu buat dalam pernikahan ini, Radika,” tanggap Sasmita terkesan tak terlalu peduli dengan rencana pernikahan mereka. Membantah atau melawan pun rasanya percuma, maka dari itu dia memilih memasrahkan diri. Sensasi aneh menjalar ke sekujur tubuh Radika saat namanya diucapkan oleh Sasmita, setelah sekian tahun lamanya. Ada perasaan rindu yang mulai menggerogoti bahkan menyebar ke dalam d**a Radika.  Untung saja rasa ego berhasil mengalahkan perasaan tersebut dan membuat pikiran rasional Radika kembali aktif. Meskipun harus menimbulkan sesak dan remasan yang mengakibatkan dirinya sedikit sulit untuk sekadar mengikat oksigen dan bernapas. “Aku juga akan menemui kakakmu.” Sasmita terkesiap lalu membulatkan kedua bola matanya. Namun Radika tak menyadarinya. “Untuk apa?” tanya perempuan itu dengan nada hati-hati  Rasa khawatir menggingapi Sasmita. Dia takut peristiwa tujuh tahun yang lalu terulang kembali. Dan mungkin akan jauh lebih parah. Ternyata rasa peduli masih Sasmita tersimpan untuk Radika. “Membicarakan pernikahan.” Radika mengembuskan napas berat seperkian detik sebelum melanjutkan kata-katanya. “Aku akan menemui kakakmu secara resmi sebagai pria yang akan menikahi adiknya.” Sasmita sontak memutuskan kontak mata di antara mereka karena tidak tahan lagi dengan sorot mata tajam bak elang yang dipertontonkan Radika. Dia memilih memandang keluar jendela sebagai bentuk  pengalihan. Hening kembali tercipta tanpa direncanakan. Mereka berdua tengah berusaha meredam dan menstabilkan perasaan masing-masing yang masih berkecambuk cukup hebat. “Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik dalam menjalankan pernikahan bisnis ini selama setahun kedepan. Dan dapat memberi keuntungan untuk kedua belah pihak yang terlibat.” Kalimat-kalimat tersebut meluncur dengan lancar dari mulut Sasmita tanpa ada hambatan sedikitpun. Tatapan mereka berdua lantas bertemu kembali. Saling menatap serta memendam perasaan mereka yang sesungguhnya. Mungkin bagi Radika dan Sasmita, berbohong merupakan jalan terbaik saat ini.  Radika mengulas senyum tipis. “Selain mencari keuntungan. Kita juga harus dapat meminimalisir dan menekan kerugian. Semoga saja kita bisa bekerja sama dengan baik tanpa membuat kesalahan yang fatal,” balasnya sinis.  Jika sudah membahas pernikahan bisnis ini maka emosi Radika sangat mudah terpancing karena sederet keraguan dan kekecewaan yang begitu besar menghantuinya. “Tentu. Kalau pun terjadi kesalahan fatal. Pihak yang bersangkutanlah yang harus bertanggung jawab serta siap menerima konsekuensinya,” perjelas Sasmita dengan nada datar namun sorot mata perempuan itu meredup drastis tak setajam tadi.  Dan membuat Radika harus dapat menahan diri sekuat mungkin agar tidak merengkuh tubuh Sasmita ke dalam pelukannya. “Benar. Konsekuensi dalam bentuk apapun,” balas pria itu sedikit sengit. Sasmita memalingkan wajah ke arah lain dan membiarkan keheningan tercipta di antara mereka berdua. Hal yang sama juga dilakukan Radika sambil menatap Sasmita dalam diam. ………… Ibu Sri sedang sibuk menggoreng ikan saat sepasang tangan milik putra sulungnya melingkar di perut beliau. Radika menempelkan dagunya di bahu sang ibu dan memejamkan mata guna menumpahkan segala beban yang tengah dipikulnya. “Tumben pulang cepat, Nak?” tanya Ibu Sri dengan nada suara yang lembut.  Beliau sedikit merasa heran karena putra sulungnya telah berada di rumah pada sore hari karena biasanya Radika akan tiba paling cepat pukul tujuh malam. Radika semakin mengencangkan pelukannya. Hanya sang ibu yang dapat memberi ketenangan disaat pikirannya tengah kacau seperti sekarang. “Pekerjaan di kantor sudah selesai, Bu. Jadi aku bisa pulang lebih cepat,” jawabnya berbohong. Bu Sri tentu tidak mudah percaya begitu saja. Naluri sebagai seorang ibu saat merasakan putranya sedang dirundung permasalahan pun tak luput dirasakan oleh beliau secara alamiah. Radika masih anteng membenamkan kepalanya di bahu sang ibu.  Dan yang Bu Sri lakukan adalah mengelus lembut rambut putra sulungnya yang kerap suka bersikap manja. “Ada masalah, Nak?”  Radika belum memberi respon sebagai jawaban atas pertanyaan ibunya. Dia tampak begitu menikmati sentuhan tangan sang ibu di pucuk kepalanya. “Hanya masalah pekerjaan di kantor yang menguras otak, Bu,” sahut Radika. Dia berbohong untuk kedua kalinya. Bu Sri mengukir senyum hangatnya. “Hanya itu? Ibu tidak akan memaksamu untuk bercerita, Nak. Lebih baik sekarang kamu mandi. Lalu sembahyang. Kita tunggu Bapak pulang dari toko dulu, baru makan malam,” saran beliau.  Namun putranya tak memberikan jawaban. Radika masih saja memeluk sang ibu dengan erat. Bu Sri mencoba untuk tidak ambil pusing dan melanjutkan kegiatan beliau menggoreng ikan, menu lauk mereka untuk makan malam. “Ibu ingat Sasmita?” tanya Radika pada sang ibu.  Kali ini dua maniknya sudah terbuka lebar dan menatap lurus ke depan. Pikiran Radika melayang-layang entah kemana. Bayangan wajah dan sorot mata redup milik perempuan itu terus melintas di pikirannya. “Sasmita?” Bu Sri mengulang nama seseorang yang dulu sempat dikenal baik oleh beliau. “Pacar kamu saat di bangku SMA, Nak?” tanya beliau memastikan. Radika melepas dekapannya kemudian membalikkan badan sang ibu agar menghadap ke arahnya. Dia merasakan kedamaia dan ketenangan yang begitu sempurna dalam mata sang ibu. Pria itu menghela napas beberapa detik sebelum memberitahu rencananya. Radika lantas memamerkan senyum hangat pada sang ibu. “Iya, Bu. Sasmita mantan pacarku dulu. Aku berencana menikah dengannya satu bulan lagi,” ucap Radika tanpa ada keraguan. Bu Sri sontak melebarkan mata. Beliau benar-benar terkejut mendengar kata-kata yang dilontarkan putra sulungnya itu. “Apa? Menikah? Kenapa mendadak sekali, Nak? Apakah Sasmita hamil?” tanya beliau dengan nada panik. Giliran Radika yang membulatkan kedua bola matanya. “Ha...hamil? Maksud Ibu apa?”  “Sasmita tidak sedang mengandung cucu Ibu, kan?” Beliau mengonfirmasi sekali lagi.  Radika menggelengkan kepala kuat-kuat sebagai tanda balasan. “Sasmita tidak hamil kok, Bu. Kami belum pernah melakukan apa-apa.” Bu Sri tampak membuang napas panjang. Beliau merasa sangat lega karena dugaan negatif yang tadi sempat menghampiri tidak benar adanya. “Syukurlah. Lalu apa alasan kamu ingin menikah dengan Sasmita, Nak? Bukankah kamu tidak punya kekasih sekarang, Nak?”  Radika kembali menatap mata teduh Bu Sri dan juga menggenggam erat kedua tangan wanita yang telah memasuki usia kepala lima itu.  “Alasan? Aku ingin menjaga dan melindungi Sasmita, Bu. Tapi secara resmi bukan sekadar pacaran. Ya aku dan dia sudah kembali berpacaran sejak tiga bulan yang lalu. Maaf aku belum sempat cerita, Bu. Maka dari itu aku berniat mengajaknya menikah. Aku ingin melindungi Sasmita seutuhnya, Bu.” Kata-kata penuh keseriusan meluncur dengan sendiri dari mulut Radika tanpa ada rencana terlebih dahulu. Bu Sri tersenyum dan mengulurkan tangan ke depan guna mengelus lembut pipi putranya. “Kamu yakin dengan keputusanmu, Nak? Membina hubungan rumah tangga tidaklah mudah, Sayang. Pikirkan sekali lagi,” saran beliau. Radika menggeleng pelan. “Tidak, Bu. Aku sudah yakin dengan keputusan yang aku buat. Aku akan menikahi Sasmita sebulan lagi. Aku tidak ingin dia dilindungi pria lain,” jawabnya spontan. Kini, bayangan wajah pria yang bersama Sasmita di kafe waktu itu mengusiknya. Dan mengakibatkan emosi Radika tak stabil. Benar, rasa cemburu memang ada dalam dirinya. Bu Sri pun tertawa mendengar perkataan sang putra. “Oh karena itu kamu ingin segera menikah dengan Sasmita secepat mungkin? Agar dia tidak direbut laki-laki lain? Rupanya anak Ibu sedang bersaing mendapatkan hati Sasmita ya?” “Jiwa bapakmu yang pantang menyerah untuk mendapatkan hati perempuan yang dicintainya ternyata menurun padamu, Nak. Jika kamu sudah yakin betul dengan keputusan yang kamu ambil, Ibu akan mendukung. Tapi bicarakan juga mengenai rencana pernikahanmu dengan bapak,” lanjut beliau. Senyum cerah menghiasi wajah Radika yang biasanya hanya menampakkan ekspresi datar. “Jadi, Ibu setuju? Ibu menerima Sasmita sebagai menantu?” tanyanya dengan nada yang terkesan antusias. Bu Sri mengangguk mengiyakan. “Iya, Ibu setuju. Dia perempuan yang baik dan sopan. Ibu menyukainya. Ajak dia main ke sini. Sudah lama rasanya Ibu tidak bertemu dengan Sasmita. ” Beliau memberi penilaian terhadap calon menantunya itu. Dulu ketika masih berpacaran. Radika sempat mengajak Sasmita dua kali bertandang ke rumah. Jadi Bu Sri cukup akrab dan mengenal bagaimana karakter Sasmita. Beliau tidak mempermasalahan kekurangan fisik yang dimiliki perempuan itu. Sudut bibir Radika semakin terangkat naik dan membentuk senyuman. “Makasih, Bu.” “Jika kamu sungguh-sungguh mencintai Sasmita. Kamu harus menjaganya. Ibu tidak akan senang melihat putra Ibu menyakiti hati seorang wanita,” pesan Bu Sri. Tubuh Radika sedikit menegang. Perkataan sang ibu mampu menimbulkan cubitan di dadanya. “Ak…aku akan berusaha menjaga serta melindungi Sasmita, Bu. Dan tidak membuat dia menangis,” balas Radika seolah-olah sedang berjanji pada dirinya sendiri. ………..  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD