06

3213 Words
Sasmita terpukau dengan video buatan Bagas yang baru saja dia tonton. Menakjubkan, satu kata yang sekiranya mampu menggambarkan bagaimana pendapat Sasmita mengenai pesona alam dan tempat indah yang ditawarkan gunung Semeru dalam video tersebut. Sasmita begitu menikmati sajian bentang alam ciptaan Tuhan yang begitu mengagumkan, memanjakan mata dan juga menenangkan jiwanya. Meski hanya dapat dia saksikan lewat tayangan video tapi ada kepuasan batin tersendiri yang dirasakannya. “Keren banget, Gas,” ucap Sasmita sambil mengacungkan kedua ibu jarinya ke arah Bagas sebagai tanda pujian. “Video kamu, keren. Aku suka. Kenapa enggak kamu upload ke Youtube?” tanya perempuan itu. Bagas tak dapat menyembunyikan senyum lebarnya. Sementara di dalam hati, Bagas berteriak senang karena projek yang dia siapkan tampak sukses menciptakan binaran di manik Sasmita yang tadinya redup. Sungguh hal tersebut membuat Bagas merasa bahagia. “Biar jadi koleksi pribadi aja. Jangan diumbar ke Youtube nanti banyak yang suka. Apalagi sama pembuat videonya,” ucap Bagas bercanda. Semoga saja guyonannya tidak garing. Sasmita terkekeh pelan. “Hahaha ya udah kalau gitu kamu simpan sendiri,” tanggap perempuan itu santai. “Tapi kenapa di video, Dwi nggak muncul?” tanya Sasmita kemudian. Bagas tampak berpikir sejenak untuk mengeluarkan kata-kata yang tepat guna menjawab pertanyaan Sasmita agar tidak ketahuan jika dia memang sengaja menyiapkan video tersebut. “Si Dwi katanya gak pengen eksis. Jadi dia bertugas di belakang layar. Lebih tepatnya megang handycam.” Kekehan Sasmita kembali terdengar dan tertangkap oleh gendang telinga Bagas. “Hahaha kalian ya suka banget saling ejek. Gitu-gitu dia juga sahabat kamu, Gas,” perempuan itu lantas berkomentar. “Kami udah biasa saling bullying kok, Sasmi. Biar persahabatan kami lebih berwarna. Lagipula Dwi jarang tersinggung sama ejekkanku dan Dion. Dia udah kebal.” Sasmita mengangguk mengerti. Benar juga, sebuah ikatan persahabatan akan kian terasa berwarna jika sudah mengenal sisi baik maupun buruk dari sahabat-sahabat kita. Jadi kita lebih mudah saling beradaptasi serta menyesuaikan sikap masing-masing. “Enak ya punya hobi yang sama dengan sahabat, kayak kamu dan Dwi misalnya.” Bagas tetap memamerkan senyuman lebarnya. “Iya, Sasmi. Dion juga hobi mendaki. Tapi karena Andra masih kecil. Dia nggak bisa leluasa pergi bareng kita. Kasihan katanya Riana ngurus Andra sendiri,” terang Bagas. Sasmita mengangguk-anggukkan kepala sambil menatap ke layar laptop. Pikirannya menerawang. “Aku jadi kangen Riana dan Indria. Kami sudah jarang punya waktu untuk berkumpul,” ucap perempuan itu. Rasa rindu akan kehadiran para sahabatnya tiba-tiba saja menyelimuti Sasmita. Memori-memori mengesankan yang pernah mereka lalui bersama seketika berputar indah di benak perempuan itu. “Makin bertambahnya usia dan tanggung jawab maka waktu kita untuk bisa menghabiskan momen bersama sahabat akan semakin menipis. Bukan berarti kita melupakan mereka, hanya saja kita lebih cenderung fokus untuk menata masa depan. Dan hal tersebut sah-sah saja terjadi. Percayalah, jika mereka telah menganggapmu benar-benar sebagai seorang sahabat. Mereka akan mengingatmu. Sejauh apapun jarak yang membentang di antara kalian,” ucap Bagas memberi pengertian dari sudut pandangnya. Sasmita kembali mengangguk, menyetujui perkataan Bagas. Dia juga sudah menganggap pria itu sebagai salah satu sahabatnya, meski mereka baru saling mengenal kurang lebih setahunan. Namun Bagas berhasil membuatnya nyaman. Modal tersebut cukup bagi Sasmita untuk menaruh kepercayaannya pada sosok Bagas. “Iya. Kamu benar, Gas. Pasti seru bisa mendaki bareng. Aku jadi pengin. Tapi kayaknya nggak mungkin,” ungkap Sasmita. Mengingat keadaan fisik yang tidak mendukung. Mustahil baginya untuk dapat melakukan kegiatan sekelas mountain climbing. Bagas menepuk pelan bahu kiri Sasmita hingga mengakibatkan perempuan itu lantas menoleh ke arahnya. “Enggak ada yang impossible di dunia ini. Asal mau mencoba pasti bakal ada jalan, walau hanya berupa celah yang kecil sekalipun. Setidaknya hal tersebut dapat memercikkan kobaran api semangat dalam diri kita untuk berani membangkitkan sebuah harapan yang baru,” jelas Bagas dengan gaya bicaranya yang sangat optimis. Sasmita tersenyum penuh arti. “Kadang kita tidak butuh mengeluarkan uang yang banyak demi memperoleh sebuah hiburan semata. Hal kecil seperti menghargai alam adalah hiburan yang sesungguhnya dan menjadi salah satu bentuk rasa syukur kita atas karya Tuhan. Kita hanya perlu meluangkan sedikit waktu dan energi guna mencari spot terbaik untuk menikmatinya,” sambungnya dengan suara lantang dan percaya diri. Bagas mengungkapkan penilaian terhadap bentang alam yang begitu mempesona baginya sebagai anugerah terindah yang Tuhan berikan. Sasmita pun menyimak serius setiap kata yang dilontarkan Bagas. Kemudian senyum merekah di wajahnya. Beban yang dia rasakan sejak beberapa hari lalu, sirna. Entah pergi kemana. Bagas menatap ke manik Sasmita. Tatapan yang penuh kelembutan dan juga kehangatan. Degup jantungnya berpacu kencang bersamaan dengan momen di mana Sasmita membalas tatapannya dan tersenyum. “Makasih banyak, Bagas,” kata perempuan itu tulus. Kalimat yang terbilang sederhana namun memiliki makna yang dalam untuk Bagas. Tanpa sengaja dia pun terhipnotis dan larut akan suasana yang menyelimuti mereka. Tangan Bagas terulur ke depan mengacak-acak rambut Sasmita. “Nggak masalah. Anggap aja video ini sebagai hadiah perjalananku dari Gunung Semeru buat kamu, Sasmi.” Perempuan itu mengangguk senang. Lalu mengeluarkan flashdisk dari dalam tasnya. “Aku copy ya, Gas,” ucapnya meminta izin. “Tentu,” Bagas mempersilakan. Sasmita kemudian asyik sendiri dengan kegiatannya men-copy paste video dan juga melihat-lihat foto yang dijepret Bagas selama kegiatan pendakian. “Sasmita?” panggilnya beberapa detik kemudian. Otomatis, perempuan itu menoleh ke arahnya. Alhasil tatapan mereka berdua saling bersinggungan. “Iya?” Keraguan muncul. Lidah Bagas terasa kelu. Padahal malam ini dia berkeinginan untuk mengungkapkan perasaannya pada Sasmita. Namun nyalinya seakan menciut. Keberanian yang dia pupuk, hangus tak tersisa Bagas menarik napas sejenak untuk menetralkan pacuan detak jantungnya yang tidak karuan. “Kalau kamu mau. Kita bisa mendaki bareng suatu hari nanti. Gimana?” tawar Bagas dengan nada serius, lebih tepatnya mengganti topik pembicaraan. Sasmita menggeleng tanda menolak ajakan Bagas. Dia tak ingin menyusahkan orang lain. Mendaki bukanlah kegiatan yang main-main. Perlu kesiapaan mental dan fisik yang memumpuni karena terdapat banyak tantangan yang mesti dilalui untuk bisa mencapai puncak tertinggi. Jadi Sasmita akan mengubur salah satu keinginannya tersebut. “Nggak usah. Aku tidak mau menyusahkanmu, Gas. Kamu tahu sendiri bagaimana kondisiku ini." Bagas memegang kedua pundak Sasmita dan masih menatap perempuan itu dengan intens. “Pelan-pelan aja, Sasmi. Untuk tiba di puncak, kita enggak dituntut buat tergesa-gesa kok. Menikmati alur pendakian merupakan momen bersejarah yang sesungguhnya.” Bagas seakan mampu membaca pikiran dan kekhawatiran yang dirasakan Sasmita. “Nggak perlu, cemas. Aku udah sering mendaki, Sasmi. Kamu bakal aman dipandu sama pendaki yang berpengalaman sepertiku.” Bagas mengedipkan salah satu matanya. Sasmita hanya dapat tertawa sebagai bentuk balasan. Dia tidak mengiyakan ataupun menolak ajakan tersebut. Bagas mengembuskan napas barang sejenak sebelum dia melanjutkan ucapannya, “Lagian kalau kita gak pernah mau trying. Kita cuma bakal stuck di tempat. Tanpa tahu ada tantangan di luar sana yang cukup bisa sebenarnya untuk ditaklukan. Kamu akan kalah jika hanya terus berdiam diri.” “Kita akan kalah jika terus berdiam diri. Tunjukkan pada mereka bahwa kita tidak lemah. Kita punya kekuatan sebagai alasan untuk terus maju.” Kata-kata yang diluncurkan Radika saat dulu memarahinya, terlintas secara mendadak dalam ‘rol film’ ingatannya. Tubuh Sasmita menegang seketika. Lagi-lagi ucapan dan tatapan yang dilayangkan Bagas, sungguh-sungguh mengingatkannya pada sosok Radika. Dia menutup wajah dan menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Bagas yang menyadari gelagat aneh Sasmita langsung menyentuh lengan kiri perempuan itu. “Kamu kenapa, Sasmi? Masih kedinginan?” tanyanya to the point. Sasmita dengan segera mencoba untuk mengendalikan diri agar tidak menimbulkan kecurigaan. Dia lantas mendongakkan kepala dan tersenyum ke arah Bagas. “Enggak. Aku hanya sedikit merasa pusing. Mungkin efek kecapekan,” kilah Sasmita mencari aman. “Aku antar kamu pulang sekarang ya, Sasmi.” Perempuan itu menggeleng lemah. “Aku bisa pulang sendiri. Gak perlu diantar,” tolaknya. “Aku enggak menerima penolakkan, Sasmi. Lagian udah malem. Gak ada taksi yang bisa nganter kamu, selain mobilku. Gratis pula kagak perlu bayar.” Bagas bersikeras. Sasmita terkekeh pelan. “Baiklah. Makasih banyak, Gas. Maaf selalu nyusahin.” “Nothing.” Bagas dan Sasmita saling melemparkan senyuman satu sama lain. Tanpa mereka berdua pernah sadari sepasang mata milik seseorang memperhatikan mereka sedari tadi. ………… Orang itu tidak pernah melepas fokusnya pada dua sosok berbeda gender yang tampak tengah asyik menikmati waktu bersama. Dari balik jendela dia dapat mengamati betul bagaimana pola dua sosok itu saat berinteraksi. Perhatiannya lebih tertuju pada sosok Sasmita. Mulai dari tatapan, gerak tubuh hingga senyum yang mengembang di wajah Sasmita. Satu per satu pertanyaan bermunculan dalam kepala orang itu dan membutuhkan jawaban sesegera mungkin agar rasa penasaran tidak semakin membludak. Namun melihat tatapan serta sikap yang ditunjukkan oleh pria yang duduk anteng di samping Sasmita sejak tadi. Dia bisa menarik kesimpulan bahwa pria--yang tidak dia ketahui namanya--menaruh perasaan khusus pada Sasmita. Senyum kecut terpampang di wajah orang itu. Dia menuangkan beer ke dalam gelas berukuran kecil lalu menenggak isinya hingga habis. Orang itu menyenderkan punggungnya pada sandaran kursi dan menutup kedua kelopak mata. Perasaannya sedang berkecambuk. Saat memejamkan mata, momen kebersamaan Sasmita dan si pria--yang tidak dia ketahuinya--terputar kembali. Memorinya masih merekam jelas ketika Sasmita datang ke kafe yang juga dia kunjungi. Kemudian tampak seorang pria menyambut hangat kehadiran Sasmita. Dua mata elangnya bahkan tak ingin berpaling ketika dua sosok itu berjalan saling beriringan saat masuk ke dalam area kafe. Dan ketika pria itu mengulurkan tangan guna membantu Sasmita menaiki anak tangga. Hatinya sedikit memanas, terlebih saat Sasmita menerima uluran tangan pria itu tanpa sungkan. Bahkan tangannya mengepal kuat tatkala dari sudut penglihatannya, pria itu tampak menggenggam tangan Sasmita dengan begitu erat. Ekspresi datar nan dingin pun dia ukir ketika menyaksikan sendiri bagaimana tawa dan senyuman tulus yang terpotret jelas di wajah Sasmita. Namun sayang, bukan lagi dia seorang yang bisa menikmati semua itu melainkan ada pria lain yang juga dapat menikmati bahkan menciptakan tawa serta senyuman di wajah perempuan itu. Berbagai keraguan muncul silih berganti. Menambah kegoyahan atas keputusan yang telah dia ambil sebelumnya. ‘Akankah pernikahan ini berjalan lancar sebagaimana mestinya, Sasmi? Apa aku akan membuatmu menangis lagi untuk kedua kalinya? Atau malah sebaliknya?’ gumam Radika di dalam hati. ……….. Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 20 menit. Akhirnya mereka berdua tiba di rumah Sasmita. Bagas memarkirkan mobilnya tepat di depan kediaman perempuan itu. “Mau mampir?” tanya Sasmita sembari membuka pintu mobil dan mengambil tongkatnya. Bagas melirik arlojinya yang menunjukkan pukul sembilan malam. Belum terlalu larut untuk sekadar bertamu ke rumah seseorang, pikirnya. Dia mengangguk dan tersenyum ke arah Sasmita. “Boleh,” jawabnya mengiyakan tawaran perempuan itu. Bagas turun dari mobil lalu berjalan menyusul Sasmita yang sudah terlebih dahulu melangkah dengan tongkatnya mendekati pintu gerbang. Bagas memilih mengikuti Sasmita dari belakang dan memperhatikan cara perempuan itu berjalan. Terkadang timbul perasaan was-was dalam diri Bagas. Dia takut saja Sasmita jatuh saat berjalan menggunakan tongkat penyangga tersebut. Tapi Bagas tak ingin menunjukkan kecemasannya di hadapan Sasmita karena dia paham jika perempuan itu bukanlah tipe yang suka diperhatikan secara berlebihan. Di sisi lain, Sasmita sedikit terkejut mendapati pintu gerbang yang tak terkunci. Pikiran negatif mulai menyelimutinya. Segera saja didorongnya pintu tersebut. Tidak sengaja manik perempuan itu menangkap sosok seorang pria tengah duduk menyandar di kursi sambil memejamkan mata. “Dipta…,” gumam Sasmita pelan.  Bagas turut mengarahkan pandangannya pada sosok Dipta, pria yang pernah bertemu sekali dengan dirinya di rumah Dion. Setahu Bagas, Dipta merupakan sahabat karib Riana, istri Dion sekaligus sepupu Sasmita.  Sang sahabat yakni Dion juga pernah memberitahunya tempo hari yang lalu bahwa pria itu memiliki perasaan khusus pada Sasmita. Namun hubungan di antara mereka masih sebatas sahabat.  Jadi Bagas memutuskan untuk tetap mencoba memperjuangkan perasaannya, selama Sasmita belum terikat hubungan yang resmi apapun dengan pria lain. Di sisi lain, Dipta yang menyadari kehadiran Sasmita yang sudah dia tunggu-tunggu  sejak 30 menit lalu, dengan langkah gesit langsung saja dia menghampiri perempuan itu. Sorot mata Dipta diselimuti kekhawatiran yang begitu kental terpancar.  Namun ketika melihat ada sosok seorang pria berdiri di belakang Sasmita. Tatapan mata Dipta berubah menjadi tajam. Begitu juga dengan Bagas yang tak mau kalah. Dia ikut melayangkan tatapan yang sarat akan ketidaksukaan. Ego sebagai pria tengah mendominasi mereka berdua. “Dipta…,” gumam Sasmita kembali saat pria itu sudah berdiri tepat di depannya. Rasa bersalah tiba-tiba saja merasuki saat matanya dan juga manik cokelat milik Dipta bertubrukan. Pancaran mata pria itu seolah-olah menunjukkan kecemasan yang dengan mudahnya dapat dibaca oleh Sasmita. “Dari mana, Sasi? Pulang malam hm?”  “Aku habis dari kafenya Bagas,” jawab perempuan itu apa adanya.  Sasmita lantas menggerakkan tongkat serta kakinya berbarengan ke samping guna memberi akses untuk Dipta dan Bagas bertatapan muka.  Tapi mengingat tinggi dua pria itu melebihi dirinya, jadi tanpa sepengetahuan Sasmita. Baik Bagas maupun Dipta sempat melayangkan tatapan layaknya musuh beberapa menit yang lalu. “Hei, Bro. Lo sahabatnya, Dion?” tanya Dipta basa-basi. Dia mencoba bersikap biasa saja namun tampaknya tak terlalu membuahkan hasil. Terbukti dengan tatapannya yang masih menajam. Hal serupa juga dirasakan Bagas. Sebagai sesama pria. Dia paham jika Dipta tidak menyukai kehadirannya di sini. “Iya, gue sahabat Dion. Kita pernah ketemu sekali di rumah Riana,” jawab Bagas dengan nada bicara yang masih bersahabat. Atmosfer di antara mereka bertiga mendadak dingin nan tegang, terutama antara Bagas dan Dipta. Akan tetapi, lagi-lagi Sasmita tidak menyadari hal tersebut. Karena tak ingin terlalu lama menghabiskan waktu dalam suasana seperti ini. Bagas memutuskan untuk segera pergi. Dia menepuk bahu Sasmita hingga menyebabkan perempuan itu menoleh ke arahnya.  Bagas tersenyum. “Kayaknya aku mesti balik ke kafe, Sasmi. Ada teman yang nunggu di sana. Aku pamit ya?” Sasmita hanya bisa menganggukkan kepala tanpa menaruh rasa curiga. Dia tidak peka dengan keadaan yang menyelimuti dua pria yang kini ada di hadapannya. “Hati-hati, Gas. Makasih udah nganterin pulang. Maaf ngerepotin.” Sasmita menyunggingkan senyumnya yang seketika mampu menghangatkan hati Bagas. Dia lantas maju selangkah, menipiskan jaraknya dengan Sasmita. “Santai aja, Sasmi.”  Bagas mengulurkan tangan ke depan guna mengacak rambut perempuan itu barang beberapa detik saja. “See you next time. Thank you for today, Sasmi.” Setelah mengucapkan kalimat-kalimat tersebut, Bagas lalu memutar tubuh memunggungi Sasmita. Sebelum benar-benar pergi. Bagas menyempatkan diri menepuk bahu Dipta pelan. “Gue cabut dulu, Bro,” pamitnya.  Dipta hanya menyunggingkan senyum tipis sebagai bentuk balasan. Bibirnya seakan tertutup rapat tanpa mau mengeluarkan satu patah kata pun. Hati Dipta juga turut memanas menyaksikan bagaimana Bagas melakukan skinship terhadap Sasmita di depannya. ………… Dipta dan Sasmita tengah duduk berdua di ruang tamu. Mereka sama-sama tengah sibuk dengan pikiran masing-masing. Hanya keheningan dan kebisuan yang mengisi ruangan tersebut. Namun dua manik coklat pria selalu mengarah pada sosok perempuan yang kini duduk anteng di sampingnya tanpa berniat membalas tatapannya. Sasmita yang sangat hafal jika Dipta yang biasanya banyak omong lalu tiba-tiba berubah menjadi dingin dan diam seribu bahasa. Dapat dipastikan bahwa sahabatnya itu sedang dalam keadaan mood yang tidak baik atau kelelahan. Karena tak suka dengan suasana yang begitu terasa awkward, Sasmita akhirnya memberanikan diri menoleh ke arah sang sahabat yang rupanya tengah memasang tatapan yang entahlah kali ini sulit untuk dia terjemahkan. “Kamu sudah makan, Dipta?” tanya Sasmita mencoba memecah keheningan.  Pria itu hanya menggelengkan kepala. Dan masih menutup rapat mulutnya. Sasmita mengembuskan napas perlahan. Setiap kali mata mereka beradu, d**a Sasmita terasa dicubit oleh tatapan yang dilayangkan Dipta. Dia semakin menakuti sorot dua manik pria itu.  “Jadi kamu belum makan jam segini? Mau nasi goreng? Aku buatkan ya?”  Sasmita mulai menunjukkan kecemasan sebagai seorang sahabat. Dipta kerap melupakan jam dan pola makan yang benar karena sibuk dengan pekerjaannya di lokasi proyek.  Dipta langsung menarik tangan Sasmita saat perempuan itu hendak meraih tongkat dan bangkit dari sofa. Sasmita lalu menatapnya penuh keheranan. “Aku gak lapar, Sasi.” Dipta akhirnya buka suara meski nadanya saat berbicara masih terdengar sangat datar.  Senyuman di wajah Sasmita mengembang. Dia memandang sahabatnya yang sedang membuang muka ke arah samping lekat-lekat. Tapi dengan cepat Dipta mengalihkan pandangannya kembali pada sosok Sasmita dan membalas tatapan hangat perempuan itu.  “Kenapa gak bales Line?” tanya Dipta. Semarah atau sekesal apapun dia, semua akan luluh begitu saja saat dirinya di hadapkan dengan Sasmita.  “Handphone-ku mati, Dipta. Baterainya habis. Maaf,” balas Sasmita merasa bersalah. Dipta menghela napas panjang kemudian mengembuskan secara perlahan. “Emang mati atau sengaja cari alasan lain?” Dipta mengintrograsi. Dia tak bisa percaya dengan mudah. Sasmita merogoh ponselnya dari dalam tas dan memberikannya pada Dipta. “Ini. Coba kamu periksa aja.” Dipta mengambil benda berbentuk persegi panjang tersebut dari tangan Sasmita, lalu melakukan pengecekkan sebentar.  Benar, handphone milik perempuan itu nyatanya memang mati. Dipta mengalihkan pandangan lantas menatap mata Sasmita intens dan lekat.  Tak berselang lama dia sudah berhasil membawa perempuan itu ke dalam dekapan hangatnya. Dipta mengeratkan lingkaran tangannya di pinggang Sasmita dan membenamkan kepala di bahu perempuan itu. “Jangan suka bikin orang cemas. Aku kira kamu kenapa-kenapa, Sasi.” “Maaf,” hanya kata tersebut yang mampu dilontarkan Sasmita.  Dipta memejamkan mata barang sejenak, berusaha melepas kekhawatiran dan setumpuk permasalahan yang menggerogoti pikirannya. Tadi setelah bertemu dengan Aldi di kafe. Dia langsung meluncur ke rumah Sasmita karena pesan yang dikirimkannya tak kunjung dibalas oleh perempuan itu dan saat dia menelepon, nomor Sasmita tidak aktif. Karena rasa khawatir yang semakin menghantui, Dipta akhirnya memutuskan untuk memastikan sendiri bagaimana keadaan perempuan itu. Namun ketika sampai di kediaman Sasmita, dia mendapati rumah tersebut sepi bak tak berpenghuni. Pikiran-pikiran negatif terus bergelayut indah di kepala Dipta. Dan yang hanya bisa dia lakukan adalah menunggu kedatangan Sasmita dan berharap bahwa perempuan itu baik-baik saja. “Maaf, Dipta. Maaf sudah membuatmu cemas. Maafkan aku,” ujar Sasmita sangat merasa bersalah. Perempuan itu membiarkan dekapan hangat Dipta menguasainya. Tapi dia tak berani membalas pelukan sang sahabat yang kembali dia lukai secara tidak sadar. “Maafkan ak-” ucapan Sasmita terpotong akibat aksi sang sahabat, di mana Dipta semakin mengencangkan pelukannya.  Hening menyapa mereka berdua kembali. Sasmita pun memilih bergeming dan membalas dekapan sahabatnya. Namun rasa bersalah tetap menyelimuti hati perempuan itu. “Lupakan. Jangan meminta maaf lagi,” pintanya sambil masih menutup dua kelopak mata serta menghirup aroma wangi yang disebarkan rambut Sasmita.  Dipta bisa bernapas lega karena hal buruk tidak menimpa perempuan yang dia cintai itu. Meski Dipta tak dapat menampik jika hatinya sakit dan terbakar api cemburu ketika melihat kedekatan perempuan dengan seorang pria selain dirinya. Sasmita memandang Dipta yang kini sudah melepas pelukan di antara mereka. Sang sahabat memegang kedua bahunya dan memamerkan sebuah senyum tulus.  Mereka berdua saling menatap dalam diam. Dipta menyalurkan perasaannya melalui sorot mata, sedangkan Sasmita mencoba menepis praduganya akan arti pancaran yang ditunjukkan sang sahabat. “Jangan pulang malam lagi. Kalau sampai terulang. Aku akan mencarimu di mana pun kamu berada, Sasi.” Dipta menyentil dahi perempuan itu cukup keras. Sasmita pun mengaduh kesakitan dan mengakibatkan sang sahabat terkekeh pelan. Beberapa detik kemudian, Dipta menangkupkan kedua tangannya di pipi Sasmita. Dan….. Cup! Dia menghadiahkan sebuah kecupan singkat di kening Sasmita. Seketika tubuh perempuan itu membeku dan menegang menerima perlakuan mesra sang sahabat. Dipta kembali menarik Sasmita yang belum sadar dari keterkejutan ke dalam pelukannya, lalu mendekap perempuan itu dengan posesif.  “Aku mencintaimu, Sasmita Yudistia,” bisiknya dengan penuh keseriusan. Sasmita bergeming tak membalas atau memberi respon apapun. ‘Jangan seperti ini, Dipta. Aku takut merasakan sakit untuk kedua kalinya.Bukan hanya diriku saja tapi kamu juga. Maafkan aku, Dipta.’ lirih perempuan itu dalam hati. ……….  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD