05

3631 Words
Sasmita merapatkan jaketnya karena udara dingin yang menerpa. Bagas tadi menuntunnya pada sebuah meja yang letaknya berdekatan dengan jendela kafe, menyebabkan udara malam yang dingin berembus cukup kencang dan menyusup ke dalam kulitnya. Perempuan itu memandang tiga kursi yang ada di hadapannya. Ya dia sedang duduk sendirian sembari menunggu Bagas yang pamit sebentar untuk naik ke lantas dua kafe guna mengambil barang yang ada tertinggal konon di sana. Sasmita lantas memasukkan tangannya ke dalam tas, tak sampai tiga detik benda berbentuk persegi panjang sudah berhasil dia genggam dan keluarkan dari dalam tas. Namun seribu sayang, handphone-nya lowbatt dan mendadak mati. Sasmita lupa men-charger ponselnya padahal sebelum berangkat ke sini dia sempat pulang terlebih dahulu untuk mandi. Alhasil Sasmita tidak bisa membalas beberapa pesan yang masuk ke Line-nya. Hampir 15 menit menunggu, Bagas tak juga menampakkan diri dan turun dari lantai dua. Sasmita mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, tak banyak pengunjung yang terlihat menghabiskan waktunya di kafe malam ini. Mungkin bisa hitung dengan menggunakan jari tangan. Sasmita menyukai suasana yang disajikan kafe ini setiap kali dia datang. Mengasyikkan dan menenangkan, dua penilaian teratas dari Sasmita untuk kafe yang dibangun Bagas dan dua kakak sepupunya sejak setahun lalu. Berbicara mengenai Bagas, selama mengenal pria yang seumuran dengan dirinya itu kurang lebih sekitar setahunan. Menurutnya Bagas merupakan sosok teman yang asyik untuk berdiskusi, cukup easy going dan terbuka. Sasmita merasa nyaman berada di dekat Bagas. Pria itu akan bersemangat jika sudah membicarakan mengenal hobinya yang gemar mountain climbing serta diving. Bagas memang tipe orang yang mencintai dan mengagumi keindahan alam. Pria itu pernah bercerita bahwa dia telah mendaki beberapa gunung sejak SMA.  Namun dua tahun belakangan, dia tidak memiliki cukup waktu untuk menyalurkan kegemarannya karena tuntutan pekerjaan. Dan sepuluh hari yang lalu, dengan wajah sumringah serta bersemangat Bagas memberi tahu dirinya jika dia akan mendaki Gunung Semeru bersama Dwi. “Sendirian, Sasmi?” tanya suara sedikit bass milik seseorang yang sukses mengagetkan Sasmita.  Tampaklah dua sosok pria yang notabene merupakan sahabat sejati Bagas, siapa lagi kalau bukan Dion dan Dwi. “Si Bagas mana?” “Di lantai dua. Katanya ngambil barang yang ketinggalan,” Sasmita menjawab pertanyaan Dion. Dua tamu yang tak diundang oleh Bagas itu lantas duduk di kursi kosong, tepat di depan Sasmita. Dion dan Dwi sengaja meluangkan waktu mereka untuk mengganggu rencana yang telah disiapkan Bagas. “Riana enggak ikut?” tanya Sasmita. Dion menggelengkan kepala. “Kagak. Riana jaga Andra. Kapan main ke rumah? Andra udah kangen sama Tante-nya.” Sasmita tersenyum kecil. “Nanti kalau ada waktu luang aku mampir ke sana,” jawabnya. Dion mengangguk sebagai tanda balasan. “Oh ya Sasmita, kenapa kamu ada di kafe Bagas malam-malam begini?” tanya Dwi pura-pura tidak tahu. “Bagas tadi memintaku datang ke sini.” Dwi manggut-manggut. “Dia menjemputmu, Sasmi?” tanyanya dengan tingkat ‘kekepoan’ yang tinggi. “Tidak. Aku datang sendiri. Bagas tadi sempat nawarin buat jemput tapi aku tolak. Nggak enak ngerepotin,” sahut perempuan itu jujur, masih menyunggingkan senyum tipis di kedua sudut bibirnya. Dwi kembali manggut-manggut tanda mengerti. Dion tak ikut bertanya karena dia tengah asyik membalas pesan sang istri, Riana. “Pokoknya kamu siapin mental aja, Sasmi,” ucap Dwi dan memberi kesan ambigu pada perempuan itu. “Siapin mental gimana?” tanya Sasmita gagal paham. “Maksu-” perkataan Dwi terpotong karena Bagas sudah berdiri di belakang Sasmita sambil mendelikkan mata ke arahnya. “Lo berdua ngapain ada di sini?!” Bagas menekankan setiap kata yang dia lontarkan.  Terbesit rasa curiga dalam diri pria itu, apalagi saat melihat cengiran kuda di masing-masing wajah sahabatnya. Sinyal waspada sudah mulai Bagas pasang karena dia tahu betul bagaimana parahnya sifat jahil Dion dan Dwi. Bagas meletakkan laptop yang dia bawa dari lantai dua di atas meja lalu memposisikan diri duduk di samping kiri Sasmita. Dia melirik sebentar ke arah perempuan itu, seperti sebelum-sebelumnya. Aliran darah Bagas akan berdesir setiap tatapan mereka bersinggungan. “Gas, gue haus nih!” celetuk Dwi sedikit keras hingga menyebabkan perhatian sang sahabat dan Sasmita tertuju padanya. Bagas melayangkan delikan kembali. Entah aksi jahil apa yang tengah disiapkan dua sahabatnya itu. Tapi yang jelas firasat Bagas mengatakan jika acara yang dia rancang tak akan berjalan lancar. “Kalau haus lo tinggal pesan minuman,” tanggap Bagas terkesan acuh tak acuh dan berusaha bersikap sesantai mungkin disaat cengiran kian melebar di kedua wajah sahabatnya. “Kan lo yang punya kafe. Jadi layanin dengan baik pengunjung yang datang ke sini. Ntar kafe lo sepi lagi karena pemiliknya kagak sopan,” ceplos Dwi sangat direncanakan. “Jangan beda-bedain tamulah. Yang satu lo istimewain, terus yang lainnya lo ambil sikap masa bodoh.” Dion memberi kode dengan melirik ke arah Sasmita. Dan untungnya yang menyadari aksi tersebut hanya Bagas seorang.  Sementara itu Dwi mencoba menahan tawanya melihat raut wajah sang sahabat yang mulai menampakkan kekesalan. Begitu juga dengan Dion. “Lagian kita minum di sini bayar kok enggak ngutang,” kata Dwi dengan gaya mendramatisir. Dia memang memiliki sedikit bakat akting dan akan keluar secara natural saat ingin menjahili sahabat-sahabatnya. “Ngutang sih kagak tapi nyari minuman gratis nah iya,” sindir Bagas karena merasa kesal. Sasmita menepuk bahunya pelan. “Jangan gitu sama sahabat sendiri.” “Benar tuh kata Sasmita, lo nggak boleh pelit sama sahabat sendiri. Di mana lagi lo bakal nemu sahabat yang baik kayak gue dan Dion?”  “Lo berdua baik pas otaknya pada bener aja, selebihnya main bullying,” balas Bagas tak mau kalah. “Kita bullying lo karena kita tuh sayang sama lo, Gas.” Gaya bicara Dwi semakin mendramatisir, seolah-olah tuduhan yang dilemparkan oleh Bagas pada mereka tidak benar. “Kadang setiap sahabat punya cara tersendiri dan berbeda-beda untuk menunjukkan rasa peduli mereka. Tergantung dari sudut mana kita menilainya,” tanggap Sasmita seraya menatap lembut ke arah Bagas. Dan seketika membuat rasa gugup kembali menyerang. Bagas salah tingkah lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali. “Kutuan lo, Gas?” kentara Dion.  Dwi pun terbahak-bahak. Sedangkan Sasmita hanya memasang ekspresi bingung karena Dwi yang tiba-tiba saja sudah tertawa. “Wkwkwk Bagas kayaknya kutuan gara-gara ponakan gue. Waktu ini keponakan gue 'kan sempat tidur di kamar Bagas,” terang Dwi disela gelak tawanya.  Dion tak bisa menahan diri untuk tidak mengeluarkan tawa. Sasmita pun akhirnya ikut tertawa kecil mendengar kata-kata yang diucapkan Dwi. Kini giliran Bagas yang tampak bingung dan lola. “Kutuan dari mana? Ngada-ngada aja lo, Wi! Kemarin pas gue potong rambut kagak ada dibilang kutuan,” ucapnya melakukan pembelaan. Reputasi yang dia sebagai pria cool di depan Sasmita, hancur dengan sekejap oleh lelucon murahan yang dimainkan dua sahabatnya itu. “Widih ada yang potong rambut,” kentara Dion untuk kedua kalinya. “Ya dong, biar keliatan fresh,” balas Bagas percaya diri sambil menaikkan sedikit kedua bahunya. Dia tidak akan membiarkan duo cicurut itu semakin menjatuhkan reputasinya di hadapan Sasmita. Dion terkekeh geli. “Dapat wangsit apa lo pas mendaki Gunung Semeru sampai mau ngubah gaya rambut segala? Biasanya mandi aja males,” koar Dion membuka aib sahabatnya sendiri. “Wangsit apaan? Sahabat kita tuh baek-baek aja, Di. Cuman hatinya yang lagi berbunga-bunga, fall in love. Makanya pengin ngubah penampilan biar keliatan fresh. Ya 'kan, Gas?” Dwi mengutip beberapa patah kata yang tadi dilontarkan sang sahabat. Bagas menghela napas frustrasi akan tingkah dua sahabatnya yang  memperlihatkan sikap menyebalkan yang mulai menjadi-jadi. “Nah, misalnya kalau udah tahu kagak usah diulang dan diperjelas lagi,” celetuk pria itu geram dan melemparkan delikan maut. Sasmita masih mencoba meredam tawa. Sebenarnya dia tak memahami betul topik apa yang sedang dibicarakan oleh Bagas, Dwi dan Dion. Namun jika melihat gaya mereka berinteraksi serta bercanda, sudah mampu membangkitkan tawanya. “Sorry, Gas. Gue spontan. Semangat aja liat sahabat lagi fall in love,” celoteh Dwi tak mengubris peringatan sang sahabat. “Oh ya gue lupa lo kan jomblo lumutan, Wi. Bahagia liat orang lain fall in love,” Dion mem-bullying sahabatnya itu. Kali ini tawa Bagas yang terdengar. Demi apapun dia bahagia karena objek yang jadi sasaran pem-bullying-an. “Dih kenapa jadi gue yang kena? Walau jomblo lumutan, gue gak lupa bahagia dan bersyukur,” protesnya pura-pura tak terima. Raja akting sedang beraksi. Sasmita memandang ke arah Dwi sambil berusaha menahan tawa. “Setuju sama kata-katamu Dwi,” dukungnya. “Hahaha oh kamu juga jomblo ya Sasmita? Belum ada yang punya berarti? Boleh dong gue daftar,” canda Dwi. Sasmita yang tak mengerti hanya bisa membulatkan kedua bola matanya. “Daftar apa Dwi? Di toko bungaku lagi enggak nyari karyawan baru atau kurir pengantar bunga,” sahut perempuan itu dengan wajah polos alias lemot. Dwi menepuk jidatnya setelah mendengar balasan Sasmita. “Gue kira cuma istri lo aja yang polos-polos b**o tapi sepupunya kagak jauh beda ya Dion. Gue ngomong apa eh jawabannya malah apaan,” ucap Dwi dengan gaya ceplas-ceplosnya yang khas. Dion terkekeh. “Istri gue dan Sasmi kan saudaraan jadi pasti ada sifat mereka yang sama.” Sasmita yang mulai konek langsung membekap mulutnya agar suara tawa yang mulai mengeras tidak terdengar. Sedangkan Bagas terus memusatkan perhatiannya pada Sasmita. Menurut Bagas, perempuan itu kian terlihat cantik dan mempesona ketika sedang tertawa seperti sekarang contohnya. “Aku kira kamu ingin melamar pekerjaan jadi tukang kurir mengantar bunga di tokoku,Dwi,” Sasmita meluruskan maksud perkataannya tadi. “Elah pria berwajah ganteng kayak gue masa mau jadi kurir pengantar bunga? Yang ada nanti para pelanggan naksir gue.” Guyonan Dwi sangat sukses membuat tawa Sasmita tak mau berhenti, usahanya untuk meredam tawa pun sia-sia. “Baguslah akhirnya nanti ada yang suka sama lo. Jadi status jomblo lumutan lo akan segera berganti,” celetuk Bagas melemparkan sinidiran. Dwi tak kehilangan ide jahil. Rasa puas belum dicapainya. Dia ingin mengerjai sang sahabat lagi dan lagi. “Makanya gue pengin daftar jadi calon pacar Sasmita. Kali aja gue diterima,” celoteh Dwi memanas-manasi. “Kalau gitu gue ikutan daftar supaya lo ada saingannya,” balas Bagas dengan ekspresi serius. Dion memegang perutnya karena terus saja tertawa melihat tingkah dua sahabatnya yang bak tengah memainkan sandiwara, terutawa Dwi.  “Bakal ada kampanye dadakan nih,” celetuknya bersemangat. Dion bahkan lupa dengan statusnya yang sudah menjadi seorang ayah karena jiwa ‘alay’ saat bersama dua sahabat tak kunjung berkurang. Dwi ngakak seketika tatkala Bagas melayangkan tatapan horor dan membunuh. Hampir delapan tahun mereka bersahabat, baru sekarang Dwi menyaksikan kecemburuan yang begitu kentara Bagas tunjukkan di depannya. “Santai Bro, just kidding!” Dwi membentuk tanda V dengan dua jari tangan kanannya. “Stop bercandanya. Aku sedang tidak membuka lowongan apapun, termasuk pacar.” Sasmita angkat bicara. Bagas lalu bangkit dari kursi yang dia duduki. “Gue ambil minuman buat kalian dulu,” katanya pelan. Suasana hati Bagas mendadak kacau. Kedua sahabatnya tentu menyadari hal tersebut. “Awas lo kasih racun ke dalam minumannya ya, Gas,” Dwi mencoba membuat lelucon kembali untuk mencairkan suasana yang entah mengapa terasa hening. “Paling gue kasih sianida,” balas Bagas yang langsung mengundang tawa dua sahabatnya dan juga Sasmita.  “Giliran gue lo kasih sianida. Kalau ke ‘someone’ spesial aja lo keluarin yang manis-manis,” ceplos Dwi. Sasmita tak bisa menghentikan tertawanya mendengar celotehan Dwi karena sukses menghibur dan juga mengocok perutnya. “Serius, Sasmita. Hati-hati aja sama omongan si Bagas yang manis-manis tapi bikin penyakit diabetes,” lanjut Dwi dengan tampang tak berdosa. “Bener tuh, Sasmi. Bagas punya kata-kata yang lebih berbahaya daripada begal. Kamu harus ningkatin kewaspadaan biar kagak jadi korban,” tambah Dion mengompor-mengompori. Bagas mengembuskan napas kasar. “Mulut lo berdua yak, nggak bisa direm dikit aja,” gerutunya sedikit kesal. Ingin sekali dia menyumpal mulut Dion dan Dwi dengan kaos kaki. …………………… Dwi langsung menggeser kursi yang dia duduki mendekati Sasmita saat Bagas telah hilang dari peredaran. Ralat, sahabatnya itu sedang pergi ke dapur kafe guna mengambil minuman untuk mereka bertiga. Sasmita hanya bisa memasang ekspresi wajah bingung akan tingkah Dwi. Apalagi ketika pria itu memamerkan cengiran padanya. sedangkan Dion memilih diam dan menyaksikan aksi yang dilakukan sang sahabat. Dwi memutar badannya menghadap ke arah Sasmita. Dia ingin menanyakan sesuatu pada perempuan yang tengah diincar oleh sahabatnya itu. “Boleh nanya kagak, Sasmita?” Sasmita yang tak menaruh rasa curiga, kemudian menganggukkan kepala tanda memperbolehkan. “Mau nanya apa?”  “Hubungan kamu sama Bagas udah sampai mana?” Sungguh Dwi sangat penasaran bagaimana perasaan Sasmita yang sesungguhnya terhadap Bagas. karena jujur saja, baru kali ini Dwi menangkap keseriusan sang sahabat dalam menjalin hubungan dengan lawan jenis. Sebelumnya Bagas hanya suka sebatas dekat dengan beberapa perempuan, tanpa memiliki ikatan hubungan apapun. Sasmita terlihat semakin bingung akan pertanyaan yang diajukkan oleh Dwi. Dia dan Bagas? Hubungan? Sampai mana? Sasmita pusing sendiri memikirkan maksud perkataan-perkataan tersebut. Kinerja otaknya sedang terganggu akhir-akhir ini, terlebih muncul permasalahan yang benar-benar mampu mengusik ketenangan hati dan pikirannya. Sementara itu Dwi masih anteng menunggu jawaban keluar dari mulut Sasmita sambil menopang dagunya dengan tangan kanan yang dia letakkan di atas meja. ke-kepo-an semakin parah menyerangnya. “Hubunganku dan Bagas?” perjelas Sasmita. Dwi menganggukkan kepala sebagai respon. Meski tidak terlalu sering berinteraksi secara langsung, paling hanya sesekali itu pun di rumah Dion saat ada acara berkumpul atau makan bersama. Pertemuan mereka bisa dihitung menggunakan jari tangan. Walaupun demikian, Dwi sudah menganggap Sasmita sebagai sahabatnya juga.  Dia sangat mendukung Bagas menjalin hubungan serius dengan Sasmita. Selain melihat dari segi kecocokkan. Menurut Dwi ketulusan yang ditunjukkan sang sahabat kepada perempuan itu memang nyata tanpa dibuat-buat.  Hal tersebut sudah cukup mampu membuat Dwi yakin jika perasaan Bagas tidak main-main. Dia tahu persis bagaimana sikap dan karakter sahabatnya itu ketika benar-benar mencintai seseorang.  Jadi, Dwi berharap kali ini Bagas dapat meluluhkan hati perempuan pujaannya. Dwi menebak jika Sasmita bukanlah tipe perempuan yang mudah ditaklukan. Tapi dia percaya Bagas akan memiliki cara tersendiri untuk mengambil hati bahkan cinta Sasmita.  “Hubunganku dan Bagas ya sama seperti hubunganku dengan kalian.” Dwi menaikkan kedua alisnya. Dia tampak tak percaya, mengingat Bagas dan Sasmita sudah menjalin kedekatan lebih dari enam bulan lamanya. Rasa penasaran Dwi kian bertambah saja.  “Masa? Seriusan kalian kagak puny-”  Dwi belum sempat menyelesaikan perkataannya karena Bagas sudah berjalan mendekat sambil membawa nampan berisi 3 botol minuman soda dan segelas lemon tea untuk Sasmita. “Maksud kamu apa, Dwi? Aku enggak paham,” ucap perempuan itu jujur.  Sedari tadi dia tidak bisa menangkap maksud ucapan maupun pertanyaan yang ditujukan untuknya tersebut.  “Penilaian kamu terhadap Bagas sebagai teman sekaligus pria bagaimana? Dwi pengin nanya kayak gitu ke kamu, Sasmi. ” Dion mengambil alih untuk menjawab kebingungan yang melanda Sasmita.  Perempuan itu lantas mengangguk paham. “Menurutku Bagas sahabat yang baik sekaligus pria yang bisa diandalkan dan bertanggung jawab,” balasnya memberi penilaian. Bersamaan dengan kata-kata yang diucapkan Sasmita, Bagas pun langsung menoleh ke arah perempuan itu. Sebuah senyuman dan tatapan hangat menyapanya, mengakibatkan detak jantung Bagas tak menentu. “Berarti Bagas juga calon suami yang oke?” tanya Dion sengaja memancing. Dan Sasmita menganggap hal tersebut sebagai pendapat umum, melainkan tidak ditujukan khusus untuknya. Perempuan itu kemudian menganggukkan kepala mengiyakan. Demi apapun sudut bibir Bagas refleks terangkat naik. Degup jantungnya berpacu cepat dan darahnya berdesir. Bukankah reaksi yang ditunjukkan tubuh serta hormon ketika jatuh cinta memang suka berlebihan?  Bagas pun tak dapat membantah bagaimana kinerja organ-organ tubuhnya yang bereaksi secara spontan. Namun untung saja dia masih mampu menyembunyikan dan mengendalikan kegugupannya di depan Sasmita. “Noh, Gas. Mumpung ada lampu hijau cepatan jalan ntar keburu berganti jadi lampu merah lagi.” Dwi menyenggol lengan sang sahabat dengan sengaja. Bagas kemudian melayangkan delikan mautnya. “Kalau buru-buru nanti nabrak. Gue mesti siapin oli yang pas supaya jalannya mulus meski harus hati-hati.” Kekehan Dion pun terdengar. “Ya ntar kalau lo masih aja ambil sikap hati-hati. Siap-siap disalip sama pengendara lain. Tingkatin kecepatan dan waktu lo, agar lo kagak tibanya lambat terus kalah di finish atau tempat tujuan.” Terdapat kode yang tersirat dalam perkataan Dion. Detik berikutnya, Dwi tak dapat menyembunyikan tawanya karena merasa puas telah berhasil mem-bullying sang sahabat. Di sisi Sasmita hanya berdiam diri, dia tidak bisa menangkap perbincangan yang terjadi di antara tiga sahabat itu. “Noh, Gas. Lo harus dengerin si Dion yang udah berpengalaman. Kerjaannya nyalip mulu kagak takut nabrak. Kalau lo mau nyusul dia, lo harus berani naklukin jalanan.” Bagas tak menjawab. Dia duduk di samping Sasmita dan mempersilakan perempuan itu untuk meminum minuman yang telah ia sajikan di atas meja. “Masih mending gue yang kerjaannya nyalip dari pada lo jomblo lumutan, naik motor aja kagak bener. Pantesan cewek-cewek ogah boncengan sama lo,” balas Dion mengejek. “s****n lo! Jangan bongkar aib gue di sini ntar ada cewek yang denger. Pesona gue bisa turun drastis.” Dion terkekeh sejenak, lantas mengambil botol minuman bersoda dan menenggak isinya hingga tersisa setengah. Begitu juga dengan Dwi. Hening tercipta beberapa saat.  Sasmita mengarahkan pandangannya ke luar jendela, menikmati taburan bintang yang menghiasi langit malam. Sedangkan Bagas hanyut dalam senyuman yang terpatri di wajah perempuan itu. …………… Bagas akhirnya bisa bernapas lega setelah duo cicurut memutuskan untuk pulang dan berhenti mengganggu ketenangannya. Kini yang tersisa hanya dia dan Sasmita, duduk berdua dengan kebisuan yang turut serta hadir di tengah mereka. Bagas melirik arloji yang melingkar di tangan kirinya dan menunjukkan pukul delapan malam. Tak berselang lama, perhatian Bagas kembali tertuju dan tersita oleh sosok Sasmita yang duduk di sampingnya. Perempuan itu tengah asyik menikmati suasana langit malam tanpa pernah menyadari jika Bagas terus memandang ke arahnya. “Dingin?” Sebuah pertanyaan mampu membuat Sasmita seketika mengalihkan fokusnya pada sosok Bagas. Pria itu tampak melepas jaket kulit warna hitam yang dia kenakan lalu menyerahkan benda tersebut kepada Sasmita. “Biar gak dingin,” ucapnya singkat disertai senyuman tipis hingga menambah kesan cool secara tak langsung. “Makasih.” Sasmita menerima jaket yang diberikan Bagas dan segera memakainya karena memang udara malam ini terasa menusuk kulitnya. Padahal dia sudah mengenakan baju hangat tapi tetap saja, Sasmita merasa kedinginan. Kedua telapak tangannya pun kaku. “Masih dingin? Mau pindah ke meja yang lain?” tawar Bagas.  Dengan cepat Sasmita menggelengkan kepalanya.  “Yakin?” tanya Bagas memastikan sekali lagi. Rasa khawatir menyergapnya. Apalagi kini wajah perempuan itu mulai terlihat memucat. Tatapan mereka berdua pun bertemu. Sasmita mengangguk untuk kedua kalinya serta mematri senyuman khasnya yang sangat mampu menggetarkan hati Bagas saat ini juga.  “Iya. Oh ya kamu ngapain minta aku ke sini tadi? Ada yang mau kamu bicarain?” tanya Sasmita mengalihkan topik pembicaraan karena dia belum mengetahui secara pasti alasan dibalik Bagas meminta ia datang ke kafe. Pria itu tak menyahut. Ia memutar tubuh agar sepenuhnya menghadap ke arah Sasmita, menatap dengan intens. “Jangan ganti bahasan. Aku tidak suka,” ucap Bagas dengan raut wajah diiringi tatapan serius. Deg… “Jangan ganti bahasan. Aku tidak suka. Dan kamu nggak pintar berbohong di depanku, Sasmi.” Bagai deja vu, Sasmita seperti pernah mendengar kalimat yang baru saja dilontarkan oleh Bagas. Bahkan tatapan serta ekspresi yang diperlihatkan Bagas hampir mirip dengan seseorang di masa lalunya. Sasmita memejamkan kedua matanya lalu menggeleng pelan, berusaha untuk menghapus bayangan wajah orang itu yang muncul seketika dalam pikirannya.  Tidak! Mereka berdua orang yang berbeda. Jadi tak seharusnya dia membanding-bandingkan Bagas dan Radika. Tapi Sasmita juga tidak bisa menepis serta memungkiri ketika berinteraksi dan  berdekatan dengan Bagas, bayang-bayang Radika menghantuinya. Baik gestur, tatapan dan bahkan sekarang ucapan Bagas benar-benar mampu mengingatkannya akan sosok Radika yang sudah hampir dia lupakan. Mungkin hanya wajah mereka saja yang tak serupa. “Mikirin apa? Gak boleh bengong nanti digangguin setan,” ucap Bagas dengan senyuman yang kian melebar.  “Mikirin apa? Jangan bengong ntar diganggu setan kamu, Sasmi.” Demi apapun Sasmita merasa kesulitan untuk sekadar menarik napas. Deja vu kembali dia alami, dalam kurun waktu beberapa menit. Bagas yang tampak tak mengerti hanya bisa mengibas-ngibaskan tangan di depan wajah Sasmita. “Are you okay?” tanya pria itu dengan nada sedikit cemas. Sasmita pun bangun dari lamunannya. “Iya. Aku baik-baik saja. Cuma kelelahan. Tadi di toko lumayan banyak yang memesan bunga,” dia memilih berbohong karena tidak ingin menimbulkan curiga. Bagas kemudian mengangguk. Dia masih memandang ke arah Sasmita dengan tatapan intens. “Kamu lelah? Mau aku antar pulang sekarang?” Terbesit rasa tak enak dalam dirinya. Sasmita tertawa kecil dan tentu hal tersebut membuat Bagas bingung. Dia pun menggaruk kepalanya yang tidak gatal, kebiasaan yang dilakukannya ketika sedang bingung maupun gugup. “Kenapa ketawa?” tanya Bagas mencoba mengambil sikap biasa dan kembali memasang ekspresi serius di wajahnya. Saat berada di hadapan Sasmita, entah mengapa jiwa ‘alay’ dan kocaknya tak mau keluar secara natural. Padahal dia berkeinginan untuk bisa menghibur Sasmita karena melalui sorotan mata perempuan itu, Bagas tahu jika Sasmita menyimpan banyak luka. Namun tak ada akses yang dapat dia gunakan untuk menelisik lebih jauh luka seperti apa yang dirasakan Sasmita, sebab perempuan itu memberi batasan padanya. Terdapat tembok yan menjulang tinggi di antara mereka. “Haha gimana aku enggak ketawa. Kamu malah menyuruhku pulang sekarang sedangkan tadi di telepon kamu ‘ngebet’ minta aku datang ke sini. Kamu lagi gak sakit kan, Gas?” Bagas menggelengkan kepala dengan mantap. Dia ingin membalas ucapan Sasmita tapi otaknya tak bisa merangkai kata-kata yang bagus. Perempuan itu lantas berhenti tertawa. “Aku gak akan pulang sebelum kamu mengatakan alasan kenapa mengundangku malam ini ke sini. Oh iya aku pengen tahu gimana perjalanan kamu saat mendaki Gunung Semeru. Seru gak?” rasa penasarannya pencuat ke permukaan. Kali ini Bagas yang tertawa kecil melihat tingkah Sasmita. “Kamu pengin tahu, Sasmi?”  Sasmita tampak semakin antusias seiring dengan lengkungan di sudut bibirnnya yang terangkat naik. Sedangkan Bagas mulai menyalakan laptop yang tadi dia ambil. Rasa tak percaya diri muncul begitu saja karena sebentar lagi projeknya akan disaksikan oleh Sasmita. ……….  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD