"Papa gak bisa gitu, donk, Pa. Itu namanya Papa otoriter!" protes Angela, masih membahas perkara pengawal pribadi yang dipilih langsung oleh sang ayah untuknya.
"Masih pembahasan yang sama, Angie? Coba kamu pikirkan bagaimana jadi papa yang selalu cemas memikirkan bagaimana kamu di kampus, punya teman atau gak, terus—"
"Papa, aku kan sudah bilang, ada Jason yang bisa jagain aku. Papa aja yang gak percayaan sama Jason, jadinya gini, pake pengawal-pengawal segala ngalah-ngalahin presiden!"
Makan malam yang seharusnya menjadi momen kebersamaan antara ayah dan anak itu berubah menjadi layaknya rapat pemegang saham. Tegang dan sesekali panas.
Gin pun yang sejak tadi berdiri tak jauh dari ruang makan, terpaksa hanya menghela napas berat setiap kali mendengar protesan Angela terhadap sang ayah. Jelas kalau gadis itu keras kepala dan sedikit susah diatur.
Padahal Michael sudah menjelaskan pada Gin juga pada putrinya, alasan mengapa ia menggunakan jasa Gin untuk menjaga putrinya, karena perundungan dan teror yang dialami oleh Angela beberapa waktu belakangan. Dan itu terus terjadi meski gadis itu sudah beberapa kali pindah universitas.
Kali ini, Angela tak setuju ketika ayahnya berniat menguliahkannya di luar negeri. Terlebih ada sang tante yang tinggal di sana dan pasti bisa menjaganya.
"Sudah, ya sayang. Papa gak mau lagi membicarakan ini. Papa sayang kamu dan selalu menuruti apa yang kamu minta, tapi kali ini saja, kamu turuti apa yang papa minta." Michael membersihkan mulutnya sebelum kemudian bangkit dan beranjak dari ruang makan, meninggalkan Angela sendirian.
Gadis itu menoleh ke arah Gin yang masih berdiri membelakangi ruang makan, menatap punggung lelaki itu dengan tatapan tak suka.
Jika hanya dilihat dari fisik, Gin lebih cocok untuk dijadikan pacar ketimbang pengawal pribadi. Mengapa ayahnya tidak menyuruh Gin untuk jadi menantunya sekalian daripada pengawal pribadi yang itu belum tentu benar-benar aman?
Bagaimana kalau Gin ini justru seorang psikopat yang menyamar? Atau mungkin residivis, atau penjahat kelas kakap, seorang yang manipulatif dan ....
"Non ... jangan ngelamun. Ayo dihabiskan makanannya," ucap Bi Imah membuyarkan pikiran Angela yang mulai melanglang buana. "Kenapa, Non? masakan bibi gak enak, ya?"
"Enggak, Bi. Papa, tuh, ngeselin banget!"
"Oh ... masalah Mas Gin, ya? Bibi kalau jadi bapak juga mungkin akan melakukan hal yang sama, Non," timpal sang asisten rumah tangga yang sudah mengabdi dengan keluarga Arbianto untuk waktu yang lama.
Mendengar pendapat Bi Imah, Angela jadi semakin galau.
Ia merasa bersalah karena membantah keputusan sang ayah, tetapi di sisi lain juga tak terima dengan apa yang telah dititahkan oleh pria paruh baya itu, karena itu semua diputuskan tanpa meminta persetujuannya terlebih dahulu.
Ia kemudian bangkit dari kursinya dan menyusul sang ayah ke ruang kerjanya.
"Terus dia mau tidur di mana?" tanya Angela, tanpa ba bi bu. Ia bahkan masuk ke ruangan itu tanpa mengetuk pintu.
"Ketuk pintu dulu, donk sayang." Michael yang memang tak pernah bersikap keras pada Angela, kali ini mulai lebih sering menegur kelakuan gadis itu, pada akhirnya. "Duduk dulu, biar gak emosi lagi. Memangnya kamu gak capek marah-marah terus dari tadi, hm?"
Angela patuh pada perkataan sang ayah dan merebahkan tubuhnya di atas sofa yang ada di sudut ruangan tempat dirinya dan Michael berada.
"Nanti Gin akan menempati kamar sebelah kamar kamu. Dia sendiri yang minta di kamar itu, papa pikir malah bagus, kan? Jadi dia bisa terus berjaga meski ada di dalam kamar," tutur Michael, menjawab pertanyaan putri tunggalnya.
"Masalah kamar aja Papa gak tanya aku dulu. Kamar itu, kan mau aku jadikan ruang lukis."
"Masih ada ruang art kamu, kan? Ruangannya luas, bahkan kamu masih bisa masukkan banyak barang, berapa banyak pun kayu dan peralatan patung, lukis dan lainnya ...."
"Aku maunya tempat yang aku bisa sewaktu-waktu ngelukis. Kalau di ruang art aku gak berani ke sana kalau malam, Papa, kan tahu itu." Kali ini Angela tidak bicara dengan intonasi tinggi, melainkan memelankan suara, tetapi dengan wajah memberengut.
Michael kemudian bangkit dari kursinya dan mendekat pada Angela, mengelus pucuk kepala sang putri dengan penuh kasih.
"Angie, ini gak akan lama. Kalau nanti sudah ditemukan siapa yang sering merundung kamu, siapa yang sering usilin kamu, berarti tugas Gin selesai dan kamu akan bebas dari keharusan diikuti oleh pengawal pribadi ke mana aja. Kecuali ...."
Angela menoleh dan memandangi wajah sang ayah.
"Kecuali apa, Pa?"
"Ya, kecuali kamu malah jatuh cinta sama dia. Ya gak bakalan mau pisah, jadinya," kelakar sang ayah, yang bukan membuat Angela tertawa malah justru memutar bola matanya.
"Bisa-bisaan Papa ini. Masak anaknya dijodohin sama pengawal pribadi. Emang kalau kejadian beneran Papa bakal bolehin aku nikah sama dia?" pancing Angela demi membalas kelakar iseng sang ayah.
Michael terbahak mendengar pertanyaan putrinya, kemudian memandangi wajah sang putri demi memastikan kalau ucapannya kali ini akan direspon dengan jawaban jujur oleh gadis itu.
"Memangnya kamu mau? Ya, kalau kamu mau, Papa bisa apa?"
"Ih, Papa ... niat cariin aku pengawal atau jodoh, sih? Ya udah kalau gitu. Janji, cuma sampai ketemu siapa yang isengin aku, oke!?"
Michael mengangguk menjawab pertanyaan Angela yang memastikan bahwa dirinya akan tidak bebas bergerak hanya selama beberapa waktu saja.
"Oke, kalau gitu. Aku sekalian pamit mau pergi," ucap Angela yang bangkit dari sofa berbahan corduray di ruangan itu.
"Mau ke mana? Ini sudah malam, lho, Nak."
"Mau ke toko peralatan seni yang di ujung jalan sana. Alat butsirku hilang lagi. Gak tahu, deh, sampe kapan kayak gini terus."
"Oh ... boleh aja. Asal Gin ikut buat menemani kamu pergi. kalau kamu gak mau—"
"Iya, iya ... dia boleh ikut. Asal gak deket-deket sama aku. Entar dipikir pacarku."
"Memangnya kenapa kalau dipikir pacar kamu? Kan dia ganteng," goda Michael, lagi.
"Gak mau! Badannya kegedean, mukanya tua, entar aku dipikir sugar baby. Udah ah, Pa. Aku berangkat dulu. Dah, Papa ...."
Angela keluar dari ruang kerja sang ayah, kemudian mengambil tas selempangnya dan mencari keberadaan sang pengawal.
"Ginooo! Ayo anterin aku ke toko—GINO! ngapain, sih kamu berdiri di situ!?" serang Angela sembari memegangi dadanya. Bukan salah Gin, karena ia sejak tadi sudah berdiri di belakang Angela, tetapi ketika gadis itu berbalik, ia terkejut menemukan Gin sudah ada di hadapannya seperti hantu.
"Maaf, Non. Saya dari tadi berdiri di sini menunggu perintah Non Angela."
"Ya udah, ya udah! Sekarang ayo anter aku ke toko seni di ujung jalan, ada yang mau aku beli!" titah gadis itu, masih dengan nada ketus, karena belum bisa menerima perubahan drastis dalam hidupnya.
Memiliki pengawal pribadi bukan hal keren baginya. Karena itu artinya ia tidak bisa bebas dan sering bepergian bersama Jason, sahabatnya.
"Baik, Non. Kita naik mobil atau motor saja, Non?" tanya Gin, memastikan.
"Naik delman!" jawab Angela sembari ngeloyor keluar meninggalkan Gin yang mengerutkan kening sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal.