1. Di Antara Hujan dan Keraguan
Rutinitas itu datang tanpa perlu diundang.
Bangun pagi dengan kepala berat. Membuka mata sambil menatap langit-langit kamar kos yang sudah terlalu akrab. Menyeduh kopi yang rasanya makin hari makin pahit. Lalu pergi ke kampus, mengurung diri di laboratorium, menatap objek yang sama berulang kali, dan menunggu dosen pembimbing yang entah selalu sibuk atau memang sengaja sulit ditemui.
Entah sudah berapa bulan siklus itu terulang.
Di dalam laboratorium biologi yang dingin dan terang berlebihan, Jémina Nayeng duduk membungkuk di depan mikroskop. Lampu neon putih menggantung tepat di atas kepalanya, memantul di meja logam, membuat matanya cepat lelah. Bau disinfektan bercampur dengan aroma besi dan kertas tua memenuhi ruangan.
Jarum jam sudah bergerak jauh dari angka sembilan.
Jemina menggeser fokus mikroskop dengan gerakan lambat. Lalu cepat. Lalu lambat lagi.
Gambar di balik lensa tetap sama.
Sel-sel itu kembali muncul. Bulat. Memanjang. Tumpang tindih. Polanya nyaris identik, seolah mengejeknya.
“Agh... kepala gue mau pecah.”
Suara Jémina serak. Nada frustrasinya menggema pelan di ruangan yang hampir kosong. Sudah hampir tiga jam ia duduk di sana tanpa benar-benar merasa maju satu langkah pun.
Tangannya bergerak ke samping, membalik halaman buku referensi yang terbuka. Buku itu tebalnya tidak masuk akal, punggungnya keras, halamannya padat tulisan. Buku setebal itu, pikir Jémina sekilas, kalau dilempar dengan tenaga penuh, bisa membuat kepala orang benjol.
Atau setidaknya membuat seseorang pingsan sejenak dari kenyataan.
Ia menghembuskan napas kasar, lalu menyandarkan punggung ke kursi. Lehernya pegal. Bahunya kaku. Matanya perih.
Getaran kecil dari ponsel di atas meja membuatnya tersentak.
Telepon masuk.
Tanpa melihat layar, Jemina langsung mengangkatnya.
“Halo—”
“JENNN!”
Suara itu meledak dari speaker, membuat Jemina refleks menjauhkan ponsel dari telinganya.
“Holla!”
“Masih sibuk?”
Tiga suara bertumpuk tanpa jeda.
Jemina mengusap wajahnya dengan satu tangan. Kepalanya langsung terasa lebih berat. Suara mereka tidak pernah pelan. Tidak pernah rapi. Selalu datang bersamaan seperti badai kecil.
“Hm...” gumamnya. “Ayolah, nona-nona cantikku yang tersayang. Satu-satunya please”
Kalimatnya terputus saat akhirnya ia melirik layar ponsel.
Tiga wajah muncul.
Mereka duduk di sebuah kafe.
Araya Mutya paling dekat dengan kamera. Rambutnya terurai rapi, pakaiannya mencolok, senyumnya lebar. Energinya seperti selalu penuh, seolah tidak mengenal kata lelah.
Di sebelahnya, Nisa Kirani bersandar santai di kursi. Jaket hitamnya terbuka, bahunya tegap, sorot matanya tajam meski sedang meneguk kopi. Auranya keras, dominan, dan sulit diabaikan.
Sedikit ke belakang, Gita Narani duduk lebih tenang. Rambutnya dikuncir rendah dan diikat rapi. Ia memegang kamera kecil di satu tangan, kipas lipat di tangan lain.
“Hei hei,” suara Araya paling nyaring. “Ayolah, kau sudah seperti siapa itu, sang penemu lampu!”
“Isaac Newton,” sahut Nisa dengan suara lebih berat, tanpa berpikir lama.
Gita mengerutkan dahi, lalu mengetuk jidatnya sendiri dengan kipas lipat. “Thomas Alva Edison,” katanya, tertawa kecil.
“Ahh, sama saja,” balas Nisa cepat, lalu mengalihkan pandangannya ke jendela. Ada sedikit rona malu di wajahnya, tapi ia berusaha keras menyembunyikannya dengan ekspresi datar.
Jemina tertawa kecil, lebih karena lelah daripada lucu.
Ia mematikan mikroskop, membereskan meja sekadarnya, lalu meraih tasnya.
“Beda dong, Nis. Kalau Isaac Newton itu nemuin gravitasi.”
“Tuh kan!” seru Araya sambil menggigit apel. “Yang apel itu, kan!”
Belum sempat potongan apel itu masuk ke mulutnya, Nisa sudah merebutnya begitu saja. Gerakannya cepat dan cekatan.
“Hm,” katanya sambil menggigit apel itu. “Enak-enak. Kau benar.”
Jémina menggeleng pelan.
Mereka sudah seperti ini sejak lama.
Sejak SMP.
Tidak ada yang menyangka pertemanan yang dimulai dari bangku kelas dengan tugas kelompok dan ejekan receh bisa bertahan sejauh ini. Sampai kuliah. Sampai masuk universitas yang sama. Sampai sama-sama terjebak di fase hidup yang tidak pernah benar-benar mereka pahami.
Nisa Kirani adalah yang paling berani di antara mereka. Sikapnya santai, slengean, dan seolah tidak takut pada apa pun. Meski kini ia mendalami ilmu peternakan, dulu ia atlet angkat berat. Petarung yang disiplin. Medali emas tersimpan rapi di rumahnya, meski jarang dibicarakan.
Keberanian itu tidak datang tanpa alasan. Ayahnya pemabuk. Suasana rumahnya keras. Ibunya terlalu mencintai pria yang sering melukai mereka. Nisa belajar melindungi diri dan adik laki-lakinya sejak dini.
Lalu Araya Mutya.
Tubuhnya paling kecil, tapi suaranya paling besar. Gayanya seperti influencer, pakaiannya selalu mencolok, dan energinya nyaris tidak pernah habis. Jemina selalu bercanda bahwa berbisik dengan Araya adalah kesalahan fatal bagi gendang telinga.
Gita Narani berbeda lagi.
Anggun, tenang, dan cerdas. Rambutnya sering digelung sederhana. Pakaian minim usaha, tapi entah kenapa selalu terlihat rapi dan mahal. Rok dan sweater polos saja sudah membuatnya tampak seperti istri muda seorang CEO.
Orang tuanya ingin ia menjadi dokter atau setidaknya tenaga medis. Tapi satu-satunya bentuk perlawanan Gita adalah memilih pendidikan kimia dan masuk universitas negeri biasa. Tidak buruk. Tidak istimewa.
“Udah sampai mana?” teriak Araya dari layar.
Jemina mengunci laboratorium, berpamitan pada asisten, lalu berjalan cepat ke parkiran.
“Iya, iya. Lagi di jalan.”
Mobil merahnya melaju pelan di antara mahasiswa yang berlalu-lalang. Kampus terasa luas, terlalu luas. Mahasiswa baru berdatangan setiap tahun, sementara ia masih terjebak di tempat yang sama.
Kafe di ujung jalan dekat kampus sudah terlihat saat hujan mulai turun tipis.
Begitu Jemina masuk, suara musik dan aroma kopi menyambutnya.
“NISA!”
Teriakan Araya membuat beberapa pengunjung menoleh.
Mereka sudah kejar-kejaran seperti Tom and Jerry.
Nisa berlari ke arah Jémina tepat saat sebuah apel melayang. Nisa menghindar dengan refleks sempurna.
Jémina tidak.
Apel merah itu menghantam keningnya dengan bunyi tumpul.
“Apakah ini yang disebut hukum Newton?” komentar Nisa santai dari samping.
Rasa nyeri menjalar. Jemina mengerang pelan.
Gita langsung berdiri, terdiam beberapa detik, lalu bergegas ke kasir. Ia kembali dengan lap dan es batu.
“Ini. Kompres.”
“Makasi,” ucap Jemina, ekspresinya sulit didefinisikan antara kesal dan pasrah.
Araya menutup mulutnya dengan kedua tangan. Wajahnya penuh rasa bersalah.
“Kau nggak apa-apa, Jenn? Aku nggak sengaja.”
Tangannya yang jahil justru menyentuh kening Jemina.
“Aww! Sakit, Araya.”
Nisa mendengus. “Sudah kubilang, jangan berurusan dengan Jémina. Lihat berita.”
Televisi di sudut kafe menampilkan wajah yang terlalu familiar.
Bramasta Nayeng.
Judul berita membahas dugaan manipulasi proyek dan penggelapan dana. Perusahaan mitra dinyatakan bersalah. Pihak lawan ayah Jémina resmi ditahan karena terbukti memalsukan laporan keuangan dan menyuap pejabat untuk menjatuhkan perusahaan Nayeng.
Jemina terdiam sambil menekan es batu ke keningnya.
“Entahlah,” katanya datar. “Kadang aku nggak tahu ayahku itu polisi atau pebisnis.”
“Peduli urusan orang lain,” gumamnya lirih, “tapi jarang pulang lihat anaknya.”
Nisa menatapnya tajam. “Kau tahu betapa beruntungnya hidupmu? Banyak orang mau ada di posisimu.”
“Aku nggak bilang keluargaku buruk,” jawab Jemina pelan. “Cuma…”
“Cuma coba aja Mama dan Papa nggak cerai.”
Kalimat itu jatuh berat.
Araya dan Gita terdiam.
Hujan di luar tiba-tiba turun deras, padahal ramalan cuaca tidak menyebutkan apa pun. Suara air mengalir dari genteng membuat kafe yang sepi terasa semakin sunyi.
“Ayolah,” kata Araya, mencoba mencairkan suasana. “Lama-lama kubakar kafe ini biar rame.”
Tidak ada yang menanggapi.
Jemina berdiri. “Aku mau—”
“Kita ke toko buku,” potong Gita cepat sambil menarik tangannya.
Araya ikut menarik Nisa.
Jemina menarik napas panjang. Ia menunduk sedikit, mengulurkan tangan dengan gerakan berlebihan, tubuhnya condong ke depan seperti pelayan hotel klasik yang mempersilakan tamu. Telapak tangannya terbuka, lengannya diayun ringan ke samping.
“Ayok, nona-nona,” katanya. “Saya antar.”
Nisa tertawa kecil. Ketegangan mereda.
Mobil merah itu melaju di tengah hujan deras.
“Pelan-pelan, Jen,” kata Gita dari kursi belakang. Suaranya lembut, tapi jelas ada rasa tidak enak yang ikut terbawa. Hujan di luar makin deras, mengetuk atap mobil tanpa henti, bikin dadanya terasa sesak.
“Hm? Iya,” jawab Jemina singkat, matanya masih nempel ke jalan.
Araya malah menoleh dengan mata berbinar. “Ah, Ta. Santai aja. Justru seru kan hujan-hujan begini.” katanya sambil nyengir.
Nisa ikut nimbrung, merangkul bahu Gita. “Jangan tegang. Kita lagi jalan, bukan dikejar deadline.”
Lampu-lampu jalan memantul di aspal basah. Kota malam itu terasa aneh. Tidak seramai biasanya, tidak sehidup biasanya. Jalanan licin, suara ban bersisian dengan air hujan, dan setir terasa lebih berat di tangan Jémina.
Lalu kilat menyambar.
Terang sekali, bikin mata perih.
Jemina refleks mengedip, dan tepat di detik itu juga ia melihatnya.
Ada bayangan di depan mobil.
“Sialan,” desisnya.
Rem diinjak keras.
Mobil berhenti mendadak. Tubuh mereka semua tersentak ke depan.
“Eh, eh, eh. Apaan sih,” teriak Nisa, langsung refleks nyenggol sandaran kursi depan.
Jemina tidak menjawab. Napasnya berat, dadanya naik turun. Tangannya lepas dari setir, jari-jarinya dingin.
Ia buka sabuk pengaman dan keluar begitu saja.
“Jen?” Araya ikut panik. “Lah, dia kenapa.”
Hujan langsung mengguyur Jémina. Ia berdiri di depan mobil, lalu muter ke samping. Matanya menelusuri jalanan kosong. Tidak ada siapa-siapa. Tapi perasaan di dadanya belum turun juga.
“Gue keluar bentar,” kata Nisa cepat. “Kalian di dalam aja.”
Jémina mondar-mandir, kayak orang kehilangan arah. Bibirnya gemetar, kukunya tergigit tanpa sadar.
“Jen.”
“Jen, lo denger nggak.”
Tidak ada respons.
Nisa akhirnya nyamperin dan langsung pegang pundaknya. “Jen, liat gue. Liat gue dulu,” katanya agak keras. “Lo kenapa, sih.”
Jémina menatapnya, mata merah, napas masih ngos-ngosan. “Tadi ada orang,” katanya cepat. “Gue lihat jelas. Dia berdiri di depan mobil.”
“Apa?” Nisa refleks nengok ke jalan. “Orang dari mana. Gak ada siapa-siapa, Jen.”
“Ada,” balas Jémina, suaranya naik. “Serius. Bukan halu.”
Nisa mulai kesal. Hujan bikin rambutnya lepek dan bajunya basah semua. “Cukup, masuk mobil. Dingin.”
Ia nyeret Jémina balik ke dalam, duduk di kursi belakang, lalu pindah ke kursi pengemudi.
Gita langsung ngeluarin selimut. “Pakai ini dulu,” katanya sambil nyelimutin Jémina dan ngusap punggungnya pelan.
Nisa mukul setir. “Kenapa sih harus berhenti mendadak begitu.”
“Ih, Nis, santai dikit dong,” celetuk Araya. “Jantungan tau.”
“Gue santai kalau temen lo gak bikin nyaris celaka,” balas Nisa ketus, matanya nyenggol Jémina lewat spion.
Gita menarik napas panjang. “Sebentar, sebentar. Kita ngobrol pelan-pelan. Apa yang lo lihat, Jen.”
“Ada orang,” jawab Jémina lirih. “Tiba-tiba muncul. Gue kaget.”
Nisa mendengus. “Atau lo lagi stres. Jujur aja, Jen. Lo minum, ya.”
“Ha?” Jemina langsung nyaut. “Gue dari kampus, Nis. Masa ke kampus sambil mabok.”
“Lo itu kalau stres suka minum. Gue tau isi kamar lo.”
“Gue gak minum hari ini,” suara Jemina mulai pecah.
“Udah, Nis,” potong Gita. Tangannya masih di punggung Jémina. “Jangan ditekan.”
Hujan di luar makin brutal. Suaranya makin keras di atap mobil.
“Gita,” Jemina menoleh, air matanya jatuh. “Gue beneran nggak mabok.”
Nisa kembali mukul setir, kali ini lebih keras. Araya langsung mepet ke pintu, sabuk pengaman ditarik makin kencang.
“Eh, eh, jangan ngamuk dong,” katanya. “Gue takut.”
“Kita lagi gak beres,” kata Gita akhirnya. Nada suaranya tenang tapi tegas. “Kalau lanjut begini, malah bahaya. Kita cari tempat berhenti dulu.”
Nisa terdiam. Rahangnya mengeras. Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia menghela napas.
“Iya,” katanya pendek.
Mesin mobil dinyalakan lagi. Mobil bergerak pelan di tengah hujan, meninggalkan jalan kosong yang barusan mereka lewati, dengan perasaan tidak enak yang masih menggantung di udara.