3. Taman Pankaja dan Jeritan yang Terpendam

2756 Words
Tidak ada seorang pun yang benar-benar siap pada jatuh yang datang tanpa peringatan. Tubuh Jémina meluncur dari ketinggian yang tidak sempat ia pahami. Angin menghantam wajahnya, memaksa napas keluar dari paru-parunya, membuat dunia berputar liar. Tidak ada pijakan, tidak ada pegangan. Hanya ruang kosong yang menelan segalanya. “A-ah! Siapa pun, tolong aku!” Teriakannya pecah, terseret angin, lalu terputus saat tubuhnya menghantam sesuatu. Bukan tanah keras. Bukan batu. Empuk. Jémina terdiam. Otaknya terlambat memproses kenyataan. Rasa sakit yang seharusnya datang tidak muncul. Yang ada justru kehangatan, terlalu hangat untuk sekadar permukaan tanah. Ia membuka mata. Seorang laki-laki menopang tubuhnya. Jubah panjang berwarna gelap menjuntai dari bahunya. Bahannya tipis, sedikit transparan, bergerak mengikuti hembusan udara yang tidak terlihat. Rambutnya panjang, hitam dengan semburat merah samar, tergerai sebagian dan terikat setengah di belakang. Wajahnya terlalu sempurna untuk sekadar disebut tampan. Garis rahangnya tegas, matanya tajam dan tenang, seperti tidak terganggu oleh apa pun. Pandangan Jémina berhenti di keningnya. Tanda lahir berwarna hitam pekat, membentuk lengkung menyerupai api yang membeku. Jémina terpaku. Ia jatuh tepat ke dalam pelukan lelaki itu. Terlalu dekat. Terlalu dramatis. Napas mereka bertabrakan. Aroma asing menguar pelan, campuran asap, tanah basah, dan sesuatu yang pahit. “Apakah… aku di surga?” gumam Jémina lirih, hampir lupa cara berkedip. Laki-laki itu menatapnya tanpa ekspresi. Lalu satu alisnya terangkat. “Surga?” ulangnya. Suaranya berat, rendah, seperti gema dari ruang yang dalam. Pelukan itu terasa salah. Terlalu nyaman untuk sesuatu yang tidak masuk akal. Jémina bahkan sempat berpikir, jika Tuhan memberinya kesempatan jatuh lagi seperti ini, ia tidak akan protes. “Naraka.” Satu kata. Dingin. “Hm?” Jémina mengerjap. “Na… apa? Bahasa Thailand, ya?” Jawaban asal. Otaknya jelas tidak bekerja dengan benar. Wajah di depannya terlalu memabukkan untuk diproses sebagai ancaman. “Ini Alam Naraka,” ulang lelaki itu, nadanya datar, seolah menyebutkan sesuatu yang seharusnya sudah jelas. Ia mengangkat tangan dan menyibakkan rambut Jémina yang menutupi wajahnya. Sentuhannya ringan. Jari-jarinya lalu mencubit pipi Jémina pelan, cukup kuat untuk membuatnya meringis. “Aw! Sakit!” Refleks. Suara itu keluar begitu saja. Sakit. Rasa sakit berarti nyata. Kesadaran menghantam Jémina lebih keras daripada jatuh dari langit. “Sebentar…” Jémina menegang. “Ini bukan mimpi?” Ia segera bangkit dari pelukan itu, mundur dengan napas memburu. Pandangannya menyapu sekeliling, dan dunia menjawab dengan pemandangan yang membuat lututnya hampir menyerah. Langit tidak memiliki matahari. Kabut gelap berlapis-lapis bergerak pelan. Cahaya merah samar mengambang di udara tanpa sumber jelas. Tanah di bawah kakinya retak dan berkilau redup, seperti menyimpan bara jauh di dalamnya. Udara dingin menusuk, berat, menekan d**a. Jémina tidak tahu, atau mungkin tidak siap menyadari, bahwa sosok di belakangnya adalah penghuni sah alam ini. Tubuh tinggi, pakaian terbuka di beberapa bagian, rambut panjang terikat setengah, dan tanda api di kening itu bukan hiasan. Seandainya ia membaca buku itu dengan lebih sungguh-sungguh, mungkin kepingan ini akan terasa familiar. “Nana!” Teriakan itu datang dari kejauhan, memecah ruang. Tubuh Jémina membeku. Itu suara Nisa. Ia menoleh dan melihat pemandangan yang membuat dadanya mengempis. Nisa berlari ke arahnya, wajahnya pucat, napasnya kacau. Di belakangnya, gerombolan makhluk aneh mengejar. Tubuh mereka pincang, kulit kelabu, mata kosong. Bukan sepenuhnya zombie, bukan pula manusia. “Tolong aku!” teriak Nisa, suaranya pecah. Jémina menoleh sekilas ke arah lelaki di belakangnya. Paras tampan itu masih tenang, terlalu tenang, seolah kekacauan ini bukan urusannya. Dua pilihan. Dan waktu tidak memberi ruang untuk ragu. “Kalau ada waktu kita ketemu lagi!” teriak Jémina cepat. “Bye-bye, Kakak Tampan!” Ia berbalik dan berlari. Kakinya bergerak lebih cepat dari pikirannya. Jémina meraih sebatang kayu di dekatnya. Tangannya gemetar, tetapi genggamannya kuat. Tepat saat salah satu makhluk hampir menerkam Nisa, kayu itu melayang. Hantaman. Makhluk itu terjerembap, meski tidak sepenuhnya tumbang. “Kabur!” teriak Nisa sambil terengah. “Gue udah capek berantem sama mereka. Kayak mayat hidup, enggak mati-mati!” Jémina tidak sempat bertanya. Mereka berlari. Lorong-lorong terbuka di hadapan mereka, dipenuhi taman-taman aneh tanpa warna hijau. Pohon-pohon tinggi dengan daun hitam berkilau. Bunga merah gelap memancarkan cahaya redup. Tidak ada matahari, tidak ada bayangan. Udara dingin terasa seperti menyimpan usia ribuan tahun tanpa kehangatan. Mereka terus berlari, menghindar, memukul, jatuh, lalu bangkit lagi. Napas Jémina terasa seperti disayat. Tangannya perih dan lecet, tetapi adrenalin menutupinya sementara. Akhirnya mereka menemukan batu besar untuk berlindung. Mereka berhenti. Napas Jémina nyaris habis. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Bahunya naik turun cepat. “Na…” suara Nisa terdengar lebih pelan, lebih hati-hati. Jémina membuka matanya perlahan. Langit di atas mereka dipenuhi sesuatu yang bergerak. Bukan awan. Bukan burung. Roh. Hitam dan merah, berlapis-lapis, beterbangan tanpa pola. Ada yang menjerit tanpa suara. Ada yang melayang diam, seperti abu yang belum jatuh ke tanah. Kaki Jémina kehilangan tenaga. Ia jatuh terduduk. Nisa berdiri terpaku, menelan ludah. Matanya mengikuti gerak roh-roh itu dengan wajah kosong. “Kita di mana sih, sebenarnya?” tanyanya lirih. Jémina terdiam lama. Dadanya terasa sesak, bukan hanya karena lelah, tetapi karena pengakuan itu akhirnya menemukan bentuk. “Naraka,” ucapnya pelan. Ia menarik napas yang bergetar. “Alam Naraka.” Kata-kata itu menggantung di udara dingin, dan untuk pertama kalinya, tempat ini seolah mendengarnya. “Apa sih yang lo omongin?” suara Nisa bergetar, bukan karena takut saja, tapi juga karena kepalanya terasa seperti diremas dari dalam. Ia menekan pelipisnya kuat-kuat. “Alam Naraka apaan, sih?” Jémina berdiri. Tubuhnya masih terasa ringan aneh, seperti belum sepenuhnya menyatu dengan tanah di bawah kakinya. “Gue juga enggak tahu, Nis,” jawabnya jujur. “Tiba-tiba gue jatuh dari langit. Ada seseorang yang nangkep gue.” Nisa menoleh cepat. “Seseorang?” “Iya. Tapi itu bukan poin pentingnya,” lanjut Jémina buru-buru. Ia mulai mondar-mandir, matanya menyapu sekeliling taman gelap itu. “Yang penting, orang itu yang bilang kalau sekarang kita ada di Alam Naraka.” Kata itu terdengar lebih berat saat diucapkan keras-keras. Seolah tempat ini ikut mendengarkan. Mereka terdiam. Hanya suara angin dingin yang lewat di antara pepohonan hitam dan cahaya merah samar yang berdenyut pelan dari kejauhan. Dua gadis itu berusaha menenangkan napas, memaksa otak mereka bekerja di tengah ketakutan yang masih menempel di kulit. Pasti ada kuncinya, pikir mereka. Tidak mungkin mereka hanya dilempar ke tempat ini tanpa alasan. “Aku bangun di atas tumpukan mayat,” ucap Nisa akhirnya, suaranya lebih rendah. “Awalnya gue pikir cuma mimpi buruk. Terus mayat-mayat itu gerak. Mengejar gue.” Ia menelan ludah. “Dari cerita lo sebelumnya gimana, Na?” Jémina terdiam. Ada jeda yang aneh. Terlalu panjang. Ia menatap tanah, lalu mengalihkan pandangan ke arah lain. Bagaimana mungkin ia menceritakan bahwa dirinya jatuh dari langit dan mendarat tepat di pelukan seorang pria dengan wajah seperti lukisan hidup? Situasi ini sudah cukup kacau tanpa menambah hal yang terdengar seperti khayalan murahan. “Uhuk,” Jémina berdeham, suaranya sedikit pecah. “Gue… ya begitulah.” Nisa langsung menyipitkan mata. Ia mengenal ekspresi itu. Terlalu kenal. “Serius dulu, Jémina,” desisnya. Nada suaranya ditekan, takut menarik perhatian makhluk-makhluk yang berkeliaran entah di mana. “Jangan bohong.” Jémina mengusap wajahnya kasar. “Udah, lupain aja. Itu bukan yang penting sekarang.” Ia menarik napas panjang. “Yang jelas, kita bangun udah ada di sini. Padahal sebelumnya kita lagi di mobil, kan?” Kalimat itu menggantung. Mereka saling menatap. “Apa…” suara Nisa hampir tak terdengar, “kita udah mati?” Kata itu keluar bersamaan dari mulut mereka. Hening. “Iya, iya, masuk akal,” lanjut Nisa cepat, pikirannya melompat ke mana-mana. “Alam Naraka, roh beterbangan, makhluk kayak zombie. Kalau ini bukan neraka, terus apa?” Kaki Jémina terasa lemas. “Gak mungkin,” katanya, meski suaranya tidak sekeras biasanya. “Serius dikit, Nisa.” “Terus jelasin dong!” balas Nisa. “Kalau ini bukan neraka, apa? Jangan-jangan kita mati gara-gara Gita kecelakaan. Masuk akal, kan?” Kepala Jémina terasa mau pecah. “Terus Gita sama Araya di mana?” tanyanya cepat. “Kenapa cuma kita berdua?” Nisa terdiam sesaat, lalu mendengus kecil. “Ya siapa tahu mereka selamat.” Ia menoleh ke arah lain. “Atau mungkin mereka masuk surga. Lo yakin cewek sebaik mereka masuk neraka bareng kita?” Ucapan itu menancap lebih dalam dari yang seharusnya. Jémina terdiam. Membantah terasa sia-sia. Tidak membantah malah terasa seperti mengiyakan. “Fine,” katanya akhirnya. “Kalau kita udah mati, kenapa gue masih bisa lecet? Kenapa masih sakit?” Nisa menatap pipinya sendiri, ada goresan merah tipis di sana. Ia menyentuhnya pelan, meringis. “Ya bisa aja,” jawabnya setelah berpikir. “Ini neraka. Hukuman. Setan aja katanya kepanasan walaupun api ketemu api.” Jémina menatapnya datar. “Pinter.” Nisa mengangkat dua jempol dengan wajah tanpa ekspresi. “Pinter.” Hening kembali menyelimuti mereka. Jémina akhirnya berbalik dan mulai berjalan. Langkahnya mantap, meski dadanya masih penuh ragu. Ia mengamati jalan setapak yang membelah taman hitam itu, bercahaya redup seperti ditaburi abu bara. Nisa buru-buru menyusul. “Lo mau ke mana?” “Nyari orang,” jawab Jémina singkat. Ia berhenti sebentar, lalu mengoreksi dirinya sendiri. “Atau… mungkin bukan orang.” Nisa berhenti. “Hah? Makhluk apa lagi, sih? Jangan aneh-aneh deh, Jen.” Jémina tidak menoleh. Ia terus berjalan. “Balik,” bisik Nisa, panik. “Balik sini.” Tidak ada jawaban. Langkah Jémina tetap berirama, seolah sesuatu menariknya ke depan. Nisa mengepalkan tangan, lalu menendang sebuah batu kecil hingga mental entah ke mana. Ia memukuli udara frustasi. “Agh,” keluhnya kesal. Ia menatap punggung Jémina yang semakin jauh. “Gue ikut,” katanya akhirnya, setengah menyerah. Jémina kembali ke tempat ia terjatuh. Langkahnya melambat ketika ia sampai di pusat taman. Tidak ada siapa pun di sana. Tidak ada pria dengan rambut panjang dan tanda api di kening. Tidak ada pelukan yang tadi terasa terlalu nyata untuk sekadar mimpi. Yang tersisa hanyalah taman sunyi. Hamparan bunga teratai membentang luas, kelopaknya hitam pekat seperti abu yang membeku. Air kolam di bawahnya berwarna merah gelap, bukan merah segar, melainkan merah tua yang terlihat kental dan diam. Permukaannya nyaris tidak beriak, seolah kolam itu menahan napas. Udara di taman Pankaja terasa berat. Dingin, tetapi bukan dingin yang menyegarkan. Dingin yang menekan d**a, membuat setiap tarikan napas terasa lebih pendek dari seharusnya. Jémina mengepalkan tangan. Di kejauhan, dari balik bayangan pepohonan hitam, sepasang mata mengamati mereka. Sosok itu berdiri tegak, mengenakan pakaian longgar berwarna hitam dengan hiasan merah tua yang berkilau redup. Auranya tidak meledak-ledak, justru tenang dan menindas. Seolah keberadaannya saja sudah cukup untuk memberi tahu seluruh makhluk di Alam Naraka bahwa dialah penguasa tempat ini. Di sampingnya, seorang bawahan berlutut satu kaki. Kulit makhluk itu menyerupai batu kasar. Tubuhnya besar dan padat, dengan retakan kecil di dahi yang tampak seperti bekas benturan purba. Matanya berwarna kelabu mati, tanpa kilau kehidupan. “Maharaja,” ucapnya, suaranya berat dan berderak seperti batu bergesekan. “Apakah hamba harus langsung memusnahkan kedua penyusup itu?” Pria yang dipanggil Maharaja tidak langsung menjawab. Pandangannya tetap tertuju pada dua gadis kecil di kejauhan. “Berhenti,” katanya singkat. Ia memutar cincin di jarinya perlahan. “Kita lihat saja dulu.” Nada suaranya datar, namun menyimpan sesuatu yang sulit dibaca. Sementara itu, di sisi lain taman, Jémina dan Nisa semakin terlihat kacau. Mereka sudah berputar-putar tanpa arah. Tidak ada jalan keluar. Tidak ada petunjuk. Setiap sudut taman terlihat sama, seolah tempat itu sengaja dibuat untuk menyesatkan siapa pun yang masuk. “Serius dulu, Jen,” ucap Nisa akhirnya. Kesabarannya habis. “Gue udah percaya sama lo. Tapi sekarang kita mau ngapain? Kita nyari apa, sih?” Jémina tidak langsung menjawab. Ia menatap teratai-teratai hitam itu, dadanya naik turun. “Gue juga enggak tahu,” katanya pelan. “Tapi kalau kita diem doang, kita bakal mati di sini.” Nisa mendecak kesal. Ia menendang sebuah batu kecil ke arah kolam teratai. Detik berikutnya, taman itu menjerit. Suara itu bukan suara manusia, bukan pula suara binatang. Jeritan itu terdengar seperti ribuan jiwa yang disayat bersamaan. Menggelegar, mengguncang udara, membuat bulu kuduk mereka berdiri dan tulang belakang terasa dingin. “Apa itu?” bisik Jémina, napasnya tercekat. Mereka mengikuti arah suara, hingga pandangan mereka tertuju pada bunga teratai terbesar di tengah kolam. Kelopaknya bergerak perlahan, membuka dan menutup seperti paru-paru yang bernapas. Rasa penasaran mengalahkan rasa takut. Mereka melangkah mendekat. “Awas!” teriak Nisa tiba-tiba. Ia mendorong Jémina menjauh tepat saat akar teratai itu melonjak ke udara. Akar-akar hitam berduri muncul dari air, melesat seperti cambuk, mencoba meraih tubuh mereka. Mereka jatuh ke tanah, berguling, nyaris terjerat. “Itu apaan!” teriak Jémina panik. “Jangan panik!” balas Nisa sambil menghindar. Akar berduri itu menghantam tanah di tempat mereka berdiri barusan. Sial. Makhluk-makhluk itu bukan sekadar tanaman. Mereka hidup. Dan lapar. “Kalau kayak gini terus,” kata Nisa sambil terengah, “kita beneran mati dua kali.” “Nisa, mulut sial lo diem dulu!” bentak Jémina. Pandangan Nisa menyapu tanah di sekitar mereka. Di antara bebatuan hitam dan akar kering, ia melihat sesuatu. Sebuah pecahan kristal merah gelap, tajam di satu sisi, seperti sisa tulang atau mineral alam Naraka yang mengeras oleh darah dan api. Tanpa ragu, ia meraih benda itu. Kristal itu dingin di telapak tangannya, namun memancarkan panas samar. Dengan teriakan pendek, Nisa menghantamkan kristal itu ke batang teratai yang meronta. Serangan pertama membuat tanaman itu mengerang. Serangan kedua membuatnya mundur. Serangan ketiga membuatnya terdiam. Akar-akar itu perlahan surut ke dalam kolam. “Akhirnya,” gumam Jémina. Ia terduduk, menyandarkan punggung ke batu besar. Tubuhnya gemetar hebat. Tangannya menutupi wajah, napasnya tidak teratur. “Serius,” katanya lirih. “Lo hebat banget, Nis. Kalau enggak ada lo, kayaknya gue udah mati.” Tidak ada jawaban. Keheningan terasa salah. Jémina menurunkan tangannya. Nisa berdiri di tepi kolam, lalu melangkah masuk ke air merah itu perlahan. “Nisa?” suara Jémina naik panik. “Ngapain lo masuk ke situ? Keluar!” Nisa tidak menoleh. Matanya kosong. Tatapannya lurus ke depan. Tubuhnya bergerak seperti ditarik oleh sesuatu yang tidak terlihat. Tanpa diketahui Jémina, Taman Pankaja adalah arena penghukuman. Keindahan teratai hitamnya membuai jiwa, menjerat pikiran, lalu mengurung korbannya dalam ilusi terdalam yang paling menyakitkan. Di kejauhan, Maharaja mengamati tanpa berkedip. “Asman,” panggilnya. “Siap, Maharaja,” jawab siluman batu sambil menaruh tangan ke d**a. “Menurutmu,” ucap Maharaja pelan, “apakah gadis itu akan menolong yang lain?” Asman mengerutkan kening. “Menurut hamba, tidak.” Ia melanjutkan, “Tempat ini terlalu berbahaya. Tidak ada makhluk yang mau mengorbankan dirinya demi yang lain.” Kalimatnya terhenti. Karena Jémina sudah melompat ke dalam kolam berdarah itu. “NISA!” teriaknya. Air merah menyambar kulitnya seperti ribuan jarum panas. Akar-akar berduri langsung bergerak, melilit kakinya, menggores, menembus daging. Ia menahan sakit dan menarik Nisa sekuat tenaga. “Sadar! Kalau enggak, kita beneran mati, sialan!” Setiap langkah terasa seperti menginjak duri tajam. Darah Jémina mengalir, bercampur dengan air kolam, membuat teratai-teratai itu bergerak semakin liar. Ia meraih kristal tajam yang tadi digunakan Nisa, mengayunkannya dengan sisa tenaga, menebas akar yang mencoba meraih leher mereka. “Inget Zee, Nis!” teriak Jémina dengan suara hampir pecah. “Masih ada adik lo yang butuh lo!” Perlahan ia menyadari kenapa air kolam ini merah. Ini bukan air. Ini darah mereka yang gagal keluar. Di dalam ilusi, Nisa melihat adiknya menangis, tersiksa. Rasa bersalah menenggelamkannya. “Zee,” gumamnya. “Kakak datang. Tunggu kakak.” “Sial!” teriak Jémina. Tubuhnya penuh luka. Napasnya putus-putus. Pandangannya mulai berkunang. Sebuah akar berduri tiba-tiba melesat dan melilit lehernya. Rasanya bukan sekadar sakit. Rasanya seperti tenggorokan diremas dari dalam, napas diperas, tulang dicekik perlahan, dan dunia menyempit menjadi denyut nyeri yang menelan segalanya. Kesadaran Jémina mulai runtuh. Ia melihat wajah orang tuanya. Kenangan yang bercampur rindu dan luka. Air mata jatuh, bercampur darah. “Aku ingin pulang,” bisiknya. Di kejauhan, Maharaja menutup matanya. Dadanya terasa berat. “Sudahlah,” ucapnya pelan. “Kita kembali.” Ia berbalik. Lalu teriakan itu mengguncang taman. “TERATAI SIALAN!” Aura hitam dan merah berputar di sekitar tubuh Jémina. Roh-roh seperti tersedot ke dalam pusaran yang terbentuk di sekelilingnya. Udara bergetar. Tanah retak. Energi gelap berputar liar, seperti badai yang lahir dari amarah dan tekad. Teratai-teratai itu hancur. Batangnya tercabik. Akar-akarnya tercerai-berai. Yang tersisa bersembunyi ke dalam tanah, melarikan diri. Asman terperangah. “Makhluk apa itu?” Maharaja mengangkat tangan, menghentikannya. Matanya menatap Jémina tajam. “Dia manusia,” gumam Asman, tak percaya. “Tapi bisa menyerap ilmu hitam?” Di tepi kolam, Jémina tersungkur sambil memeluk Nisa. Tangisnya pecah. “Nisa…” suaranya penuh pilu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD