Perhatian Lebih

1755 Words
Tanpa terasa, sebulan lebih kami hidup di satu atap. Sudah mirip keluarga kecil. Febi makin manja padaku, makin posesif. Aku jadi tak sabaran karena terpaksa berpacaran seperti maling. Serba diam-diam. Aku bahkan terpaksa mandi berkali-kali setelah kencan bersama Astri. Serius, penciumannya mengerikan. "Gerahhh!" "Iya, aku kipasin. Sabar dikit kenapa?" Aku duduk selonjor di ruang tamu. Ala lesehan. Febi tidur telentang dengan kepala berbantalkan pahaku. Akrab sekali. Sekalipun hanya ada meja di ruang itu. Meja pendek tempat kami makan. Meja kecil dimana ada abu ibuku. Aku yakin, beliau bahagia melihat kami. "Panass! Gerah! Kipasin!" Tanganku bergerak cepat. Kuayunkan lagi sobekan karton saat Febi bersikap rewel. Cuacanya hari ini panas. Terlalu panas sampai aku tak keberatan gadis itu memakai hotpant. Dia juga pakai singlet longgar milikku. Aku pun tak merasa canggung bertelanjang dada dan memakai celana kolor. Panas sekali. Meski tak sepanas hatiku karena rindu kepada Astri. Demi cinta kami berdua, aku harus merayu Febi. "Eh, kata Silvy, si Erick itu cowok paling populer, loh. Sepertinya dia naksir kamu." "Gak minat. Masih bocah!" jawabnya singkat. Dia masih sibuk melihat ponsel barunya yang kuserahkan minggu kemarin. Merek sama. Lebih mahal dari sebelumnya. Ponsel itu Astri belikan dengan harapan agar Febi mau pacaran. "Kamu main Tic Toc?" "Ngobral badan sendiri? Najis!" jawabnya sekali lagi. "Terus buka apaan?" "Discovery Channel." Perasaanku semakin masam. Aku makin melihat ada Astri kedua di sosok puteriku. Dia tak tertarik dunia remaja. Tidak pula cinta-cintaan. Febi lebih tertarik pada sesuatu yang jarang sekali orang nikmati. "Harga jamur truffle ternyata mahal, ya? Perkilonya bisa sampai 15 juta." Bola mataku berputar ke atas. Aku tak tahu apa gadis ini telat puber atau entahlah. Dia gila belajar. Tayangan yang dia tonton terlampau berat untuk anak seusianya. Terutama acara memasak. Entah itu Asian Food Network, review restoran di Discovery Channel, atau acara populer macam MasterChef. "Apa aku bisa masak truffle, ya? Kalau gagal bisa bangkrut, nih." Aku tak mungkin bilang bahwa aku pernah makan truffe di Eropa dulu. Itupun truffle putih yang harga perkilonya di kisaran 80 juta. Dan itu harga bahannya saja. Bukan hasil masakan yang sudah diracik chef berbintang. "Feb, kemarin ada cowok ngajak kenalan. Namanya Sandy. Dia punya cita-cita jadi ilmuwan. Sepertinya anak cerdas." Kusodorkan lagi nama kandidat yang saat ini naksir si galak. "Aku juga kenal dia." "Wah, bagus dong? Kalian akrab?" Febi masih bicara dengan mata menatap ponsel. "Dia bilang cita-citanya jadi ilmuwan? Ck! Calon ilmuwan kok kerjanya pamer motor?" "Kalau Pratama?" "Anak Pencak Silat itu? Ck! Aku gak suka cowok sok badboy. Tapi dipanggil BK nangis, hahahaha!" "Kalau Herlambang? Dia baik loh." "Si sok alim itu?" Febi beranjak duduk. Dia menatapku kesal dengan alis tertekut tajam. "Aku paling gak suka cowok munafik yang hobinya ceramah liturgi, tapi kerjanya nonton bokep. Sudahlah. Lagian ngapain jodoh-jodohin?" "Kamu ABG, Feb. Masa-masa SMA itu tak akan kembali. Masa gak mau punya kenangan indah?" Febi menatapku tajam. Dia menjawab, "kenangan indah seperti dua orang tuaku? Hamil di luar nikah? Kamu mau aku seperti itu?" Aku menyerah. Misiku gagal total. Febi bukan gadis biasa yang tertarik cinta-cintaan. Dia bahkan tak suka virus Korea seperti gadis seumurannya. Apalagi CEO bucin, cowok psikopet, mafia atau entahlah. Dia terlalu dewasa untuk itu. Aku stress. Satu sisi aku senang dia pandai menjaga diri, tapi di sisi lain, aku tak mau dia posesif. Aku juga ingin berbahagia bersama Astri. Aku ingin menikah. "Aku naksir cowok, kok. Tenang saja." "Serius?!" Kalimat yang kuinginkan akhirnya dia ucapkan. Hatiku berbunga-bunga setelah Febi menyatakannya. Seperti apakah cowok itu? Aku tak peduli. Aku izinkan Febi pacaran selama dia tahu batasan. "Puji Tuhan! Namanya siapa?" Febi tersenyum manis. Dia tersipu malu saat menyebut lelaki itu. "Namanya kipas angin." "Hah?!" "Hah heh hah heh! Kipasin!" *** Selama tinggal bersama Febi, lidahku tak mengecap makanan apapun di luaran. Tak sekalipun makanan mewah di resto langgananku bersama Astri saat masih hidup sendiri. Aku rela menahan lapar. Memilih puasa jika sampai terlambat pulang. Masakan Febi terlalu lezat sampai aku sejauh itu. Namun hari ini, masakannya terasa beda sampai aku tak menghabiskannya. "Makan lagi, gih. Sini buka mulutnya," kata Febi dengan suara selembut mungkin. "Gak enak." "Makan saja. Namanya juga lagi sakit." Untuk dudukpun terasa sulit. Mulutku masih terasa pahit. Kepalaku makin nyeri, keringat dingin terus mengalir. Febi rajin mengganti kompresku tanpa komplain sedikitpun. "Istirahat. Jangan maksa. Disuruh ke rumah sakit gak mau," ucapnya semakin lunak. Bukan hanya kondisi badanku, sikap Febi hari ini terasa asing. Aku masih tak percaya gadis itu sosok yang sama. Bukan hanya mengompres, Febi juga menyuapiku, mengatur jadwal obat, membenahi selimut, basuh badan dengan air hangat, sampai susah payah menuntunku ke kamar mandi. Ekspresinya sangat natural. Dia memberiku rona seakan wajar melakukannya. "Mau susu." Aku sampai terbawa manja. "Iya aku bikinin. Sabar ya? Tidur dulu. Besok pasti sembuh." "Jangan panas panas." "Iya sabar." "Jangan lama-lama." "Iya, tenang saja. Tiduran gih," balasnya, sembari menata bantal yang baru saja dia ganti. Sabar sekali. Gadis itu terlampau sabar. Berbanding terbalik dengan sifatnya kemarin-kemarin. Selama dua hari aku sakit, wajahnya semakin lembut. Dia jadi mirip ibuku sewaktu aku masih kecil. Bahkan ibuku pun tak sesabar itu. Kemarin dokter berkata bahwa sakitku tak berbahaya. Demam psikogenik, katanya. Kelelahan mental karena stress. Aku sering mengalaminya. Tapi dokter juga bilang bahwa demamku hari ini lebih mirip proses penyebuhan. Mungkin sembuh dari luka lama. Mungkin pula ketenangan batin setelah aku bertemu Febi. Gadis itu memang galak padaku. Tapi semua perangainya hanya demi kebaikanku. Dia mengubah pola hidupku, jalan pikirku, pandanganku pada dunia, dan segala perhatian yang menjadi bumbu masaknya. Apalagi waktu aku sakit. Tidak heran jika bapak-bapak jadi iri sejak Febi ada di sini. "Dingin, selimutin." Ah, aku jadi manja lagi. *** Nyala lampu menyapa mataku yang masih terkedip. Tidak biasanya kamar masih terang semalam suntuk. Aku atau Febi selalu mematikannya. Demi menghemat listrik, juga karena sama-sama tak bisa tidur kalau lampu masih menyala. Aku tidak menggigil lagi. Demannya mungkin sudah turun. Badanku pun terasa ringan seolah kemarin hanya bohongan. Selimutku juga masih kering. Entah karena tak menyerap keringat dingin atau seseorang baru saja menggantinya. Aku yakin jawaban kedua. Pelakunya sedang memelukku dengan mata agak berkantung. Ya ampun, selama tiga hari dia jarang tidur hanya demi merawatku. Febi bahkan tak sempat memakai piyama motif kelinci kesukaannya. Dia masih pakai daster panjang seperti ibu-ibu di lingkunganku. Tangan dan kakinya masih di badanku. Di luar selimut. Dia pasti susah tertidur karena orang sakit sering mengigau. Aku tak mau bergerak. Aku masih rebahan sampai Febi mulai terbangun karena mendengar suara perut. "Sabar ya, aku masak dulu," katanya sembari mengucek mata. Febi bahkan tak bertanya apa aku lapar, apa sudah mendingan, atau apapun yang wajar dia ucapkan. Gadis itu suka bertindak. Dia langsung menyentuh dahiku, memeriksa kekeringan selimut, juga merapikan tempat tidurku agar aku lebih nyaman. Tak ada kata-kata apapun dari bibirnya selain senyum. Atau ucapan agar aku mau bersabar. Hufff ... Memalukan sekali. Padahal aku ayahnya. Tapi dia lebih pandai dariku saat posisi kami sedang terbalik. Dia makin mirip seorang ibu. Aku makin malu padanya. Tapi rasa malu itu tak pernah mampu menutupi sikap manjaku. "Bikinin susu." "Iya, sabar." Maklum lah, sejak ayah meninggal dan ibu koma, baru kali ini ada yang merawatku di waktu sakit. Tahu rasanya sakit saat tak punya siapa-siapa? Percayalah. Masa-masa itu mimpi buruk. Aku tak mau mengalaminya lagi. "Besok kamu harus sekolah," ucapku sembari jongkok di tempat cuci piring. Di depan tumpukan piring yang tak sempat Febi bersihkan. "Aku sudah mendingan. Jangan bolos lagi, ya?" "Beneran?" "Iya, aku sudah sembuh. Untuk hari ini aku full di rumah. Kamu istirahat, ya? Semua kerjaan rumah biar aku yang kerjakan. Kecuali masak. Aku gak mau makan apapun selain masakanmu." Senyum Febi tak pernah berhenti saat tangannya meracik bumbu. Pasti senyum lega. Aku yakin dia lelah merawatku walau tak pernah ucapkan keluh. Anak gadisku sempurna. Aku iri pada siapapun yang dia pilih jadi suaminya. Febi cantik, pengertian, punya kharakter, cerdas, selalu pandai melihat sikon. "Kenapa lihat-lihat?" "Gak apa-apa." *** Setelah aku sembuh, Febi tak judes lagi. Dia sering senyum-senyum sampai aku risih sendiri. Suaranya pun jadi pelan saat bicara. Tidak teriak-teriak seperti speaker rusak. Tangannya juga lebih erat merangkul perutku saat dibonceng, dan badannya lebih menempel. Persis sikap Astri. Bedanya, Febi masih mau pakai helm. Ada apa dengannya? Entahlah. Aku malas menjawab. Karena begitu kami turun dari motor, seseorang seenaknya memelukku. "Om Ardian cintaku ..." Mataku menatap Febi. Jariku menunjuk Silvy dan berkata, "lakukan sesuatu ke temanmu yang genit ini." "Dia bokap gue, minggir gak?" "Tapi aku calon ibumu, Feb." "Minggir gak? Aku gak sudi jadi anakmu!" "Tapi kita kan sudah ciuman? Iya kan, Sayang?" Febi langsung melotot menatapku. "Dia cuma cium pipi, kok." "Gila lu, Ndut! Dia bokap gue!" Keduanya kejar-kejaran. Ada tawa akrab yang selalu mereka tunjukan. Tawa sepasang sahabat. Tawa yang tak pernah aku miliki saat aku seumurannya. Serius, aku tak punya teman selain Wulan. Masa SMAku soliter. Maklum lah, anak orang kaya. Pertemananku difilter. Aku pun malas berteman dengan orang yang mendekatiku karena uang. "Eh Mas Ardi? Nganter Febi lagi?" "Eh Bu Rahmat, iya Bu. Gak enak Febi bolos terus. Kemarin gara-gara saya sakit dia bolos." Seorang perempuan 40-an dengan ramahnya memberi sapa. Sesekali tangannya melambai pada puteriku dan gadis montok di sebelahnya. Dialah ibu Silvy. Akupun jadi akrab karena kedekatan anak-anak kami. "Silvy juga perhatian, loh Mas. Sama saya, juga sama Febi. Maklum lah, Silvy merasa sama-sama tak punya ayah. Dulu waktu Mas Ardian belum ada, ya ampuun, kasihan Febi." Bibirku tanpa sadar tersenyum. Kini aku tahu kenapa mereka bisa bersahabat. "Saya bersyukur, Bu. Puteri saya punya sahabat baik." Mata Bu Rahmat mengamatiku. Dia mulai terbuka setelah kami semakin akrab. "Mas ini sebenarnya umur berapa, sih?" "Minggu depan 35, Bu. Kenapa?" "Nikah muda, ya Mas?" Aku yakin, dari usia kami pun Bu Rahmat sudah menebaknya. "Iya, Bu. Saya tidak mau puteri saya meniru ayah ibunya. Kasihan cucu saya nanti, hahahaha!" Bu Rahmat ikut tertawa. Tertawa miris. "Iya, Mas. Namanya juga remaja. Belum tahu tanggung jawab. Saya juga gak mau Silvy menikah muda. Belum waktunya." "Iya, Bu! Betul!" Jawabanku tegas dengan suara agak keras. Perempuan itu harus hati-hati karena anaknya terlewat genit. Bu Rahmat kembali tertawa. "Iya sih Mas. Tapi kalau calon mantu saya seganteng Mas Ardi sih, kenapa tidak?" Tawaku jadi anyir. Aku menghindari matanya saat Bu Rahmat makin mendekat. "Dengar-dengar Mas Ardi Duda, ya? Kalau gak mau sama Silvy, kenapa gak sama saya?" Kini aku tahu sifat genit si kucir kuda asalnya dari siapa. Aku canggung. Walau berkali-kali terjadi, aku belum terbiasa saat perempuan jadi agresif di sekitarku. Mungkin ini alasan Febi melarangku dekat-dekat perempuan atau entahlah. Aku buang pikiran itu saat Astri menelponku. "Mas, aku kangen. Hari ini aku luang. Ke hotel, yuk!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD