Love and Hate

1883 Words
"Yeaaaayyy! Ayo lebih cepat! Keburu siang!" "Jangan gerak-gerak! Kakiku pegal!" Dua telingaku dia jewer dan diayun-ayunkan. Badan Febi masih di punggungku sejak dari rumah sampai tiba di lahan piknik. Padahal kesepakatannya jogging bersama. Menjaga kesehatan. Tapi gara-gara rokok semalam, dia memperbudakku di hari pertama perjanjian itu. "Makanya berhenti merokok. Kalau ketahuan merokok lagi, kamu harus gendong aku. Gak boleh bantah!" Hari minggu ini kami berada di taman publik. Ruang terbuka hijau. Tidak jauh dari rumahku. Tempat itu cukup ramai oleh orang berolah raga, anak-anak pemain skateboard, juga ayah ibu bersama anaknya. Damai sekali. Tapi tidak untuk punggungku. "Dibilangin jangan gerak-gerak! Badanmu berat! Diet kenapa?" "Aku gak berat! Body-ku ideal!" Dia makin bertingkah. Tidak salah kalau Febi bilang body-nya lumayan. Sangat ideal. Seksi kalau aku boleh bilang. Tingginya mungkin 160 senti, sedang beratnya di kisaran 55. Sedikit lebih berat dari dua karung beras. Proporsi itupun terbagi sempurna antara pinggul dan bagian dada. Sepasang dada yang sangat terbentuk. Sepasang dada yang memantul-mantul di punggungku. Aku agak risih. Walau bagaimanapun aku laki-laki normal, dan tubuh Febi di usia matang. Tapi aku segan kalau-kalau harus menegur. Febi masih marah gara-gara semalam. Dia tipikal orang yang tak suka dibantah. Aku tak punya pilihan selain ikut bersikap galak. "Turun!" "Gak mau!" Dia baru mau turun setelah aku turunkan tangan. "Dasar cowok lemah!" Aku mulai kesal dengan sikapnya yang mulai mirip bangsa penjajah. Tapi rasa kesal itu tak seberapa jika dibandingkan penampilannya. Celana senam selutut dan singlet pendek sedada. Perut atletisnya terlihat jelas. Entah kenapa, aku jadi tersulut saat laki-laki memperhatikannya. "Kalian lihat apa?" Laki-laki itu menoleh panik. Setelah Febi turun dari gendongan, semua mata tertuju padanya. Aku makin gelisah karena dia jadi tontonan. Padahal banyak gadis lain berpenampilan sama. Bahkan lebih parah. Sebagian malah pakai hotpant. Aku tak terima saat semua laki-laki kompak berputar ke arah Febi. "Mau kupukul?" bentakku lagi pada pemuda di sebelah kami. Febi justru terbahak-bahak. Dia seperti menikmati reaksiku. Aku juga tak tahu kenapa aku jadi protektif. Tidak rela kalau tubuhnya dilihat orang. Apa ini sifat alami seorang ayah ke anak gadis? Bukan hanya aku, Febipun bersikap sama. Gadis itu juga menunjukan posesif-nya saat menyadari beberapa gadis curi pandang ke arahku. Gadis-gadis seumurannya. Aku baru sadar bahwa aku juga populer. "Apa lihat-lihat? Mau kucolok?" Febi acungkan tinju ke arah mereka. Dia menolehku dan berkata, "jangan mimpi bisa kabur. Hutangmu masih banyak sama aku." Aku menelan ludah. Makin ngeri akan sikap Febi yang tak mengizinkanku punya pasangan. Posesif sekali. Aku takut jadi jomlo tua. Namun, sekali lagi, penampilan Febi lebih menggangguku daripada posesif-nya. Mataku seperti dicolok oleh singlet ketat yang dia pakai. Dia terlalu muda untuk boleh memakainya. "Apa sekolah memperbolehkanmu pakai itu?" tanyaku saat kami jogging berdampingan. Melirik singletnya yang agak terpantul. "Singlet ini? Gak boleh lah. Bisa disita guru, hahaha!" Mataku terpicing. Febi masih kecil. Dia belum boleh pamer badan. "Pelajaran olah raga biasanya pakai apa?" "Pakai kaos." "Kalau begitu, jogging besok jangan pakai itu." "Masa harus pakai kaos sih? Gak modis lah." "Pakai hoodie!" Febi cemberut. Dia malah busungkan dadanya. Menunjukan sikap memberontak. "Dibilangin orang tua itu dengerin." "Gak mau! Kamu juga bandel kalau dibilangin!" Mataku teralih ke bawah. Bukan hanya singlet, celananya pun mengganggu mataku. "Besok jangan pakai itu lagi. Pakai celana longgar." Febi semakin sebal. "Apaan sih? Ini sudah sopan. Aku biasa pakai ini kok di sekolah." "Minta nomor gurumu. Aku mau komplain." Langkah Febi terhenti. Dia diam dengan bahu agak terangkat. Pasang wajah cemberut ke arahku. "Ngapain sih ngatur-ngatur aku harus pakai apa?" "Kamu masih kecil, Febi. Pakai pakaian yang manis-manis. Nanti aku belikan." "Gak mau! Suka-suka aku mau pakai apa! Jangan atur-atur!" "Kalau gitu jangan atur-atur aku merokok! Kamu gak lihat dilihatin orang-orang? Pakai baju sopan!" Seumur hidup, aku belum pernah mudah tersulut. Aku pria lembut pecinta damai. Jenis-jenis pria yang masih bisa berkepala dingin. Tapi pagi ini, perangaiku berubah total. Aku tak terima saat laki-laki berwajah mesum ke arah Febi. Aku tak terima karena merasa bahwa kehormatannya adalah kehormatanku. "Apaan sih? Malu-maluin!" tegurnya, menahan tanganku yang hendak mengejar pemain skateboard. "Kamu gak lihat matanya?" "Kan cuma lihat?" "Cuma lihat, katamu? Semua karena bajumu kurang bahan!" Aku sampai ngos-ngosan. Febi justru tertawa sampai-sampai aku menjewernya. "Orang tua ngomong itu didengerin!" Mood-ku sangat buruk. Berbading terbalik dari wajah Febi yang entah kenapa makin ceria. Apalagi saat aku mengancam orang. Dia jadi sering tertawa seolah sedang melihat badut. "Ayo pulang!" "Dih, baru beberapa menit, juga. Jaga kesehatan, dong. Terutama jantung. Umurmu mau 35." "Justru aku ngajak pulang demi kesehatan jantungku. Ayo pulang!" "Hahahaha!" *** Pagi ini sekali lagi kuantar Febi ke sekolahnya. Seperti biasa, seluruh mata menatap kami begitu motor sampai di gerbang. Febi tak langsung masuk setelah turun. Kami masih ngobrol. Atau menunggu Silvy tiba di sini. Seperti biasa pula si galak itu berlagak manis di depan orang. "Dad, please balikin singlet aku." "Sudah kubuang. Jangan pakai itu lagi. Kamu masih kecil!" Nuansa di antara kami mulai dua arah. Bukan hanya Febi, aku pun mulai cerewet padanya. Tidak seperti kemarin di saat aku hanya bisa pasrah. Semakin lama kami bersama, aku makin sadar bahwa gadis itu harus kujaga sebaik mungkin. Terutama penampilannya. Walau bagaimanapun dia gadis usia puber. Aku takut kalau sampai dia meniru orang tuanya. "Kalau dipikir-pikir, apa rokmu gak terlalu ketat?" "Please jangan mulai." Kira-kira ada 15 menit sebelum jam masuk. Sejak Febi hilang kemarin, aku tak berani meninggalkannya selama gerbang masih terbuka. Aku jadi paranoid. Aku takut kalau gadis tak mau pulang karena bermalam dengan pacarnya. Seperti kelakuanku dan Wulan dulu. Amit-amit. Jangan sampai itu terjadi. Aku harus kontrol penampilannya. "Dadamu terlalu menonjol. Kancingmu seperti mau lompat." "Bukan salahku!" Rasa gelisah kembali menyerang. Aku resah saat siswa laki-laki sesekali melihat Febi. "Itu seragam lamamu, kan? Sepertinya kusam dan kekecilan. Nanti mampir ke tukang jahit." Gadis itu berdiri kesal dengan tangan lurus ke bawah. Jemarinya agak terkepal saat bahunya sedikit naik. Alisnya tertekuk. Bibirnya agak maju dan napasnya naik turun. "Seragamku sudah sopan! Rokku di bawah lutut! Bajuku dimasukin! Dan ukurannya sudah pas! Gak kurang bahan!" "Tapi kamu masih kecil! Body-mu terlalu curvy!" "Bukan salahku aku tumbuh kek gini!" "Kamu benar-benar mirip ibumu." Sepintas, mata Febi terbalak. Dia makin marah dan seenaknya main pukul. "Berhenti samakan aku dengan ibu! Dan kalaupun aku seperti dia, apa dulu Daddy menegurnya?!" "Uhhmm." "Dan di foto itu roknya lebih pendek dari aku! Bajunya lebih ketat! Apa Daddy menegurnya?! Daddy maksa dia ke tukang jahit, hah?!" "Tapi kamu masih kecil!" "Apa Daddy dulu bilang ke ibu kalau dia masih kecil, hah?!" Aku akui, berdebat dengannya seperti menggali kuburku sendiri. Ujung-ujungnya aku yang salah. Kami jadi pusat perhatian saat Febi mulai mewek. Aku langsung melunak saat bibir Febi bergelombang dan matanya mulai membasah. Apa aku terlalu keras padanya? "Okay, okay, maafkan aku." "Aku gak mau maafin kalau maafnya gratis," balasnya makin cemberut. Mulai berlagak jadi pebisnis. Aku tak punya pilihan selain membuka penawaran. "Mau apa?" "Temani aku belanja di supermarket." "Kapan?" "Esok lusa. Sehabis pulang sekolah langsung kesana. Gak boleh nolak!" Gantian aku yang mau mewek. Jadwal yang Febi minta adalah jadwal yang sama antara kencanku dengan Astri. Kami sudah atur jauh-jauh hari. Pacarku bisa marah kalau sampai aku batalkan. "Aku kerja, Feb. Jam segitu ada order pelanggan. Dia bayar bulanan." "Pelanggannya cewek, ya? Atau jangan-jangan dia cewekmu?" Aku berusaha bersikap datar. Lebih baik diam daripada hubunganku ketahuan. "Pokoknya jangan esok lusa. Cari jadwal lain." "Hiks!" Mata Febi makin berkaca-kaca. Dan kaca tajam itu dia gunakan untuk mengancamku. Di balik sikap manisnya, terselip sebuah kesan bahwa dia tak mau ditolak. Aku gelagapan saat Febi mendongak dan menangis seperti bocah. "Okay okay, lusa kita belanja." *** Dua hari kemudian. Ini pertama kalinya kami keluar di sore hari selain hari libur. Waktunya tak sempat. Seharusnya aku kencan dengan Astri seusainya makan siang. Hasratku di ubun-ubun. Aku tak menyentuh Astri sejak Febi pulang ke rumah. Terang saja, aku jadi belanja bersama mood yang sangat buruk. "Kita beli sirup buah. Kamu butuh vitamin C." "Hah?!" "Hah hoh hah hoh! Diajak ngobrol itu yang fokus," tukas Febi menendang kakiku. Berhubung orang di sini tak kami kenal, dia kembali aku dan kamu. Gadis itu masih memakai seragam sekolah. Aku pun memakai kemeja lama yang warnanya agak memudar. Begitupun celana cargo coklat muda. Astri kadang menanyakannya. Dia mulai mempertanyakan alasanku tak memakai lagi baju-baju yang dia belikan. Tahu alasannya? Karena Febi makin cerewet. Dia selalu bertanya aku punya uang darimana. Semua pakaian itu branded. Setara penghasilanku sebulan. Dia juga bertanya karena siapa perawatan wajah yang kulakukan. Uangnya pun darimana. Aku tak sanggup jujur padanya. Aku bosan jadi bahan pertengkaran. "Tuh lihat, seneng kan dilirik cewek-cewek?" "Bukan salahku!" Aku buang muka. Aku masih kesal gara-gara dia kencanku batal. Aku mulai curiga bahwa Febi memang sengaja menjauhkanku dari Astri. Walau belum mengenalnya, Febi memberi kesan bahwa dia sudah tahu aku pacaran. Sikap posesif-nya kumat. Makin lama sikap itu makin erat merantaiku. "Kamu sudah nelantarin aku." Kaki Febi menaiki ujung troli. Dia menatap mataku dengan dahi makin tertekuk. "Kamu gak boleh sama cewek lain. Dan aku gak suka kamu dilihatin cewek-cewek." "Kamu pikir aku suka?" "Gak suka, tapi niat!" "Kamu pikir aku seganjen itu?" Wajah Febi semakin dekat. Aku sampai bisa melihat gerakan halus di lubang hidungnya. Dia sedang marah. Matanya makin menajam saat nadanya mulai menuding. "Kamu sudah punya cewek, kan? Kamu mau buang aku, kan? Okay, lebih baik aku pergi!" Lagi-lagi, kalimat itu dia gunakan untuk mengancam. Memaksaku bersikap lunak. Aku tak punya pilihan selain berbohong. "Aku gak punya pacar, Febi. Dan aku gak lirik-lirik perempuan." "Terus, ngapain perawatan, coba?" "Gak boleh perawatan, ya? Okay, mulai besok aku gak cukur janggut, gak rawat muka, puas?!" "Kamu harus rawat muka! Aku gak mau kamu jelek!" "Arrgggghh!" Keributan itu memancing mata para pengunjung. Termasuk pegawai gerai yang agak ragu menegur kami. "Mas, Mbak, tolong jangan teriak-teriak di sini." Bukannya melunak, Febi makin beringas. Sikapnya makin yak jelas. Aku pusing menghadapi gadis puber. Aku makin pusing saat orang-orang salah paham melihat kami. "Ceweknya cemburuan." "Dan cowoknya gak peka, hahahaha!" Febi menendang kakiku saat salah paham itu mau aku luruskan. Memaksaku mengikutinya ke kompartmen berbeda, belanja kebutuhan lain yang dia lempar begitu saja di dalam troli. Kuraih botol itu yang nampak aneh di mataku. "Daun sirih?" "Jangan keras-keras!" "Kamu yang ngomongnya keras!" "Gara-gara kamu bego!" "Aku gak bego! Aku cuma penasaran!" "Mbak, Mas, tolong jangan ribut." Pegawai gerai menegur lagi. Febi berjalan kesal di depanku. Seperti saat mengambil botol tadi, dia juga makin galak saat tiba di rak khusus kebutuhan wanita. "Jangan komentar!" Mataku melebar. Kesalku sirna berganti hasrat ingin menggoda. "Oooo datang bulan? Pantesan!" "Jangan keras-keras please, hiks!" Aku menyeringai sinis. Aku masih dendam gara-gara tak boleh pacaran. Masih kesal pula karena jogging kemarin dia jadikan bahan tertawaan. Apa dia kira, dia saja yang bisa seenaknya? Secepat mungkin kuambil pembalut itu dan membaca isinya seperti seorang proklamator. "Kamu ngeselin! Balikin, gak?" "Huahahahahaha! Ada yang datang bulan!" "Jangan dikibar-kibarin!" Seumur hidup, baru kali ini aku bisa terbahak-bahak. Apalagi saat Febi mengejarku. Menyenangkan sekali. Menggoda Febi ternyata lebih menyenangkan dari kencan bersama Astri. Rasanya seperti kembali ke masa SMA. Masa-masa saat aku tidak dituntut jadi dewasa. Sikap Febi makin menggemaskan saat kami tiba di kasir dan membayar belanjaan. Dia merangkul lenganku saat tanganku menggesek kartu. "Gitu dong, jadi cewek itu yang manis. Jangan marah lagi, okay?" Aku senang Febi menurut. Dia senyum-senyum saat aku meliriknya. Entah kenapa, dia alihkan muka perlahan, menyembunyikan ekspresi yang sangat sulit kuterjemahkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD