Pakaian serba hitam belum sempat aku lepaskan. Setelan hitam untuk berkabung. Begitupun guci ibuku yang masih ada di atas meja. Di atas nota tagihan hutang. Jumlahnya terlewat banyak sampai aku malas menghitung.
Gadis ini puteriku?
Tuhan, sejauh mana Kau bercanda?
Masalahku sudah menumpuk. Batinku masih remuk. Dan saat ini, ada gadis sedang mengaku bahwa dia darah dagingku.
"Aku ayahmu?" Aku masih menyangkal. Masih tak percaya realita itu.
"Memangnya siapa lagi? Nama ayahku Ardian Stevanus Dharmosasongko. Itu namamu, kan?"
Napasku terhela panjang. Perasaanku campur aduk antara kaget, malu, takut, tak percaya, dan cuilan rasa penasaran. Otakku terasa hang. Seperti software berat di ponsel jadul. Logikaku sulit bekerja karena terhimpit luapan fakta.
Jadi, selama ini aku seorang ayah?
Wulan tidak menggugurkannya?
Batinku terlalu syok untuk sanggup menerimanya.
"Apa buktinya kamu putriku?"
Gadis itu tak merespon keraguanku. Dia lebih sibuk mengamati ruang kontrakan yang kondisinya kurang terawat. Mengernyitkan dahinya. Memajukan bibirnya dan bergelagat ingin mencibir.
"Foto tadi tidak cukup?"
Aku mengangguk walau foto itu sudah jelas.
Dia tak tertarik meresponnya. "Aku gak mau memberi bukti ke seseorang yang rumahnya seperti kandang babi."
Dahiku terkernyit. Rasanya seperti bercermin. Aku mulai takut saat menyadari sikap angkuhnya agak mirip dengan sikapku dulu.
Apa dia benar-benar puteriku?
"Rumahmu berantakan banget, sumpah! Pantesan kami depresi."
"Kalau gak suka gak usah komentar," jawabku kesal.
Bukannya takut, gadis itu justru tertawa berkacak pinggang.
"Hahahaha, ada yang ngambek."
"Apa itu lucu?"
"Iya, kamu lucu kalau ngambek. Gemesin."
Sejenak, aku alihkan muka. Merasa aneh dengan sikapnya. Dia seperti perpaduan antara watakku dan watak Wulan. Aneh sekali. Gaya sarkastiknya agak mirip watakku dulu. Sedangkan keceriannya mirip betul dengan Wulan. Terlalu mirip. Sampai-sampai aku tersenyum diam-diam. Bukan senyum dibuat-buat. Atau senyum palsu seperti senyumku selama ini.
"Berapa lama tinggal di sini?"
"Dua tahun. Kenapa?"
Gadis itu silangkan tangan sambil mengangguk-angguk. Menggoda hatiku untuk mengkritiknya seperti sikapku 17 tahun lalu. Seperti candaku kepada Wulan. Meski sayangnya, logikaku berkata lain. Aku cukup sadar bahwa gadis itu bukanlah Wulan yang kukenal. Gadis di depanku adalah sosok anak dari sang ibu yang 17 tahun lalu aku tinggalkan.
Aku canggung. Aku pria normal yang masih bisa rasakan syok. Karena setahuku, hanya segelintir orang yang tahu skandal itu. Skandal hitam yang tak pernah aku lupakan. Sebuah masa saat aku dipaksa meninggalkan gadis yang kucintai, yang sedang hamil janinku sendiri. Semua karena uang. Karena prestise. Dengan mudahnya ayah memisahkan kami berbekal coretan di lembar cek.
"Bag—bagaimana kabar Wulan?" Aku beranikan diri untuk bertanya di balik kalut dan rasa takut.
Gadis itu tak langsung menjawab. Dia masih sibuk melihat rumahku bersama wajah makin mengkritik.
"Kamu belum tahu?" jawabnya singkat dengan mata agak memicing. "Dan namaku Febi. Aku punya nama. Kamu lupa nama itu dari siapa?"
DEG!
Rasa bersalah kian merasuk. Pemberian nama itu hanya aku dan Wulan yang tahu. Nama Aslinya Phoebe. Aku masih ingat memberi nama itu saat Wulan mengaku hamil. 'Cahaya Bulan' dalam bahasa Yunani. Atau 'Febi' jika nama itu di-Indonesiakan. Aku ingin calon buah hatiku sangat cemerlang seperti ibunya. Cerdas, selalu ceria, persis seperti Febi yang saat ini sudah remaja.
"Phoebe Apriliana Citra ..."
"Tuh, kamu tahu namaku."
Tidak salah lagi. Gadis ini puteriku. Tapi pikiranku masih sibuk kepada Wulan, karena puterinya menjawab pertanyaanku dengan sebuah pertanyaan.
"Aku tak tahu kabar ibumu sama sekali."
Febi diam sejenak. Dia kembali ke meja dan menatapku dengan kesalnya.
"Ibu sudah gak ada 10 tahun lalu."
DEG!
"Gak—gak ada?" Sekali lagi dia memberiku kejutan listrik. "Jangan bercanda!"
"Apa aku terlihat bercanda? Apa anak yang cari kamu bertahun-tahun ini cuma bercanda?"
Kesekian kalinya dunia ini terasa runtuh. Sekali lagi pula aku salahkan ayah yang menghalangi hubungan kami. Tapi aku tak sanggup menangis. Air mataku sudah habis. Kematian ibu sudah mengurasnya. Tak ada sisa untuk masa laluku. Aku hanya diam tanpa kata, saat gadis itu menggebrak meja saking kesalnya.
"Ibu selalu bilang kamu orang baik! Kamu perhatian! Kamu akan jadi ayah terbaik di seluruh dunia. Dan sekarang apa? Ngurus diri sendiri saja gak bisa. Apalagi ngurus aku?!"
Aku tak sanggup menjawab. Perasaanku masih campur aduk. Aku tak sanggup lagi menatap matanya karena mata itu seperti cermin ke masa lalu.
Wulan sudah meninggal?
Aku tak salah dengar, kan?
Aku bahkan belum meminta maaf ...
"Maafkan aku."
Mata Febi makin memicing. Keceriaannya lenyap berganti amarah. "Maaf untuk apa? Karena baru ingat punya anak?"
Aku gelagapan. Kalimatnya terlalu tepat. Aku terlalu sibuk dengan Wulan sampai lupa ada anakku dalam perutnya.
"Maafkan aku ..."
Febi tak peduli. Dia beranjak lagi untuk mengambil alat bersih-bersih. Tanpa meminta persetujuanku, dia membersihkan ruangan saat aku diam termenung.
Wulan, apa dia puteri kita?
Aku harus bagaimana?
Apa aku pantas jadi ayahnya?
Febi makhluk dominan. Persis ibunya. Cara memperlakukanku pun tak jauh beda dari si galak yang aku ingat. Terlalu dominan. Tak memberiku kesempatan. Termasuk sikap Febi saat dia sedang komplain.
"Kamu kok cuma diem sih? Nyebelin! Masa aku bersih-bersih sendirian?"
"Hah?"
"Hah heh hah heh! Jangan cuma diem!"
"A—aku ikut bersih-bersih?"
Wajahnya merah padam. Febi berteriak sambil memukulku dengan gagang sapu.
"Aku yang nyapu, ngepel sama cuci piring! Kamu bersihin langit-langit. Sekalian rapiin barang yang berat-berat. Sana gerak!"
Ajaibnya, aku tak punya pilihan selain menurut.
***
"Tadaaa! Perasaanmu sudah mendingan, kan?"
Karena ulah Febi, rumahku bukan lagi kandang babi.
Perasaanku kian membaik setelah ruangan menjadi bersih. Cukup lega. Mungkin benar kata Febi ruangan kotor mengundang setan. Mengundang depresi dan rendah diri. Membersihkan jiwaku dari semua benak negatif.
Aku tertegun. Bibirku tersenyum riang saat Febi mencuci piring.
"Ya ampun! Lama-lama kamu bisa mati muda. Masa isinya cuma mie instan? Jaga kesehatan dong! Ini bekas apaan nih? Kamu jadiin piring asbak? Kamu merokok? Jangan merokok! Kamu gak boleh merokok! Para perokok itu jorok!"
Senyumku makin lepas saat Febi tak melihatnya. Sejak ayah meninggal delapan tahun lalu, aku terbiasa hidup sendiri. Atau direpotkan ibu yang terjebak minuman keras. Apalagi setelah ibu mengalami gangguan jiwa. Tak ada yang manis semenjak itu. Semua terasa pahit.
Namun, sekarang berbeda. Aku bisa tersenyum tulus. Sikap Febi seperti gula untuk legamnya kopi robusta. Atau separuh potongan puzzle. Walau dia galak padaku, untuk pertama kalinya aku punya semangat hidup.
"Ibu lihat? Kebahagiaan itu tidak selalu tentang uang," ucapku pada satu-satunya benda yang masih ada di atas meja. Guci abu ibuku. "Dia bukan Wulan, Bu. Tapi punya perhatian yang sama. Ibu lihat, kan? Apa aku pantas jadi ayahnya?"
"Kyaa! Apa ini? Tumpukan celana dalam? Aku gak mau cuci!"
"Hahahaha!"
Aku menutup bibirku sendiri dengan kedua tangan. Baru sadar bisa tertawa setelah 17 tahun lamanya. Padahal baru beberapa jam lalu kami bertemu. Sekarang Febi membersihkan rumahku, juga perasaanku yang tertimbun kotoran batin.
"Ibu lihat, kan? Dia cucumu. Dia cantik seperti ibunya. Cerdas. Galak. Persis Wulan yang ibu tolak. Dia perhatian padaku, Bu. Dia berbakti padaku walau kalian sudah membuangnya."
"Ngomong itu sama orang. Bukan sama guci," kritik seseorang saat aku sedang monolog. "Aku pikir, aku akan bahagia setelah bertemu ayahku."
"Kamu tak bahagia?" ucapku berbalas tanya. "Maaf tak memenuhi harapanmu."
Bibir bawah Febi sedikit maju. Pipinya pun agak menggembung. Dia menaruh piring di atas meja, berikut hidangan yang selesai dia masak. Dua porsi. Aku agak heran karena seingatku tidak ada bahan makanan.
"Aku tadi beli bahan makanan sebelum ke sini. Seharusnya buat masak di rumah. Tapi aku gak tega lihat ayahku tiap hari cuma makan mie instans."
"Pengertian sekali, apa kamu benar-benar 17 tahun?"
Febi agak tersipu karena pujian. Dia mendadak ketus saat aku memperhatikannya.
"Sudah jangan banyak nanya! Ayo makan. Aku dah laper."
Dentingan piring seperti musik di antara kami. Sesekali kulirik Febi saat dia memamah biak. Aku masih syok. Tapi rasa canggung mulai berkurang karena tersentuh perhatiannya. Ada rasa syukur akan daging ayam yang masih panas.
"Istrimu mana?"
Aku menggeleng.
"Kenapa? Kamu gak nikah? Atau sudah cerai? Kelihatannya sih cerai. Mana ada cewek tahan sama cowok jorok?"
Aku tertawa geli. Sama sekali tidak tersinggung. Kritikan pedas itu tak sepedas sambal buatannya, atau kisah hidupku sejak Wulan aku tinggalkan.
"Aku belum pernah pacaran lagi sejak putus sama ibumu. Apalagi menikah."
"Buset sumpah bucin!" kritiknya sambil mengunyah daging ayam. "Serius kamu jomlo? Padahal kamu ganteng loh."
Senyumku makin mengembang. Seperti senyumnya saat aku menjawab iya.
"Tak ada perempuan yang bisa menggantikan ibumu."
Aku pernah bersumpah tak akan menikah karena kecewa kepada ayah. Tak sekalipun pacaran walau di kampusku banyak pilihan. Kampus luar negeri. Bonafit. Perempuan jenis apapun bisa kupilih. Apalagi, wajahku tergolong menawan untuk ukuran konglomerat.
Tapi hatiku tak pernah berubah kepada Wulan. Aku selalu berharap semoga bisa menikahinya. Terserah di usia berapa. Sekalipun harus menikah di usia renta.
Tapi sekarang?
Dia sudah meninggal.
"Kenapa? Gak enak?"
Aku menggeleng. Bibirku mulai jujur setelah kami menaruh piring.
"Walau kamu memang puteriku, aku belum siap."
"Belum siap apa? Belum siap jadi ayahku?" balasnya santai. Tak tersinggung sedikitpun. Dengan santai pula dia sebut dosa-dosaku di masa lalu. "Kamu sudah siap sejak aku belum lahir. Kalau memang belum siap, kenapa ibuku hamil? Aku gak minta dilahirin kok. Itukan keputusan kalian. Kok bilang belum siap?"
"Apa kamu benar-benar 17 tahun?"
Kali ini, pujian itu dia tanggapi dengan amarah.
"Iya! Kenapa? Gak boleh umur segitu lebih dewasa dari sikapmu?"
Waktu agak terjeda karena nadanya terdengar beda. Dia gigit bibir bawahnya sendiri saat matanya berkaca-kaca. Suara Febi mulai bergetar. Ada kesedihan di getar itu. Dia bicara padaku seakan-akan sedang mengadu.
"Kamu tahu, gak? Hiks! Daritadi aku pingin manggil kamu Daddy ... aku capek tahu dibilang anak haram ... kamu tahu, gak?"