Febi pergi seusainya mencuci piring. Meninggalkanku sendirian di rumah sempit tiga kali tujuh. Tipe 21. Tapi bukan minimalis. Bekas kawasan kumuh di sekitar jalan layang yang dulunya bau comberan. Syukur-syukur direvitalisasi.
"Besok aku datang lagi. Awas kalau merokok! Pokoknya gak boleh. Aku gak suka!"
Bibirku tersenyum treyuh. Pesan suara itu kutekan berulang-ulang. Baru kali ini aku merasakan hangatnya kasih sayang setelah lama hidup sendiri. Manis sekali. Ternyata masih ada orang tersisa yang memberiku perhatian.
Aku masih heran akan sikapnya. Masih bertanya-tanya kenapa Febi memperhatikanku di hari pertama kami bertemu.
Apa karena aku ayahnya?
Rasanya aneh. Seperti bekas robusta di rongga mulut. Asam sekali. Setelah sekian lama hidup tanpa masa depan, tiba-tiba punya anak. Sudah remaja pula. Dan gadis itu sangat cerdas seperti ibunya. Atau secerdas ayahnya saat aku masih waras.
Napasku terhela panjang saat batinku mengakuinya. Febi memang puteriku. Sekalipun masih canggung untuk bersikap sebagai ayah. Rasanya tidak adil. Bertahun-tahun dia mencariku sementara aku melupakannya. Aku telah lupa akan kemungkinan bahwa janin itu akan tumbuh besar. Sebesar dosaku pada ibunya. Sebesar dosaku pada cinta pertama dimana hatiku telah terkubur.
Sumpah mati aku rindu.
Aku merindukan dia yang ternyata telah tiada.
"Wulan, maafkan aku. Apakah kamu mengirim Febi karena tahu keadaanku? Apakah perasaan kita masih sama? Apa di sana kamu melihatku?"
Semua kenangan datang menghujam. Kulihat lagi foto lama yang Febi bawa antara aku dengan ibunya. Rasanya baru kemarin. Foto-foto itu seperti bergerak. Ada fotoku saat menggendong Wulan, fotoku saat dia menyuapiku makan, juga foto mesra saat kami ciuman pipi. Semuanya terasa segar. Suara Wulan terdengar jelas setelah Febi mengingatkannya.
"Puteri kita lebih cantik dari kamu, Wulan. Tapi suara kalian sama-sama cempreng, hahaha."
Ponselku bergetar. Tapi bukan layanan ojol. Aku sengaja libur sehari karena ada proses kremasi. Atau mungkin libur lebih lama. Di tasku pun ada uang 12 juta sisa sumbangan dari kerabat.
Telpon dari siapa?
Ponsel itu masih bergetar. Aku kira dari debt collector. Ternyata dari makhluk cantik yang lebih galak dari mereka.
"Lama banget sih gak diangkat?!!"
"Iya iya, ada apa?"
Febi diam sejenak di video call. Nampak sibuk di sebuah rumah makan. Sepertinya dia kerja di tempat itu. Febi kembali bicara setelah sesaat melayani pelanggan.
"Kamu gak merokok, kan?"
"Enggak."
"Bagus. Gitu dong nurut sama aku. Sudah makan malam?"
"Ni mau makan. Masakanmu enak."
Sejenak, gadis itu tersipu malu.
Lucu sekali.
"Goodboy. Jangan lupa makan. Pokoknya selama ada aku jangan masak mie instans lagi. Awas!"
Kuraup mukaku sendiri. Aku tertawa geli saat jariku memijit kening. Rasanya seperti mimpi. Aku belum percaya sejauh itu seseorang memperhatikanku.
"Kenapa brewokmu belum dicukur? Rambutmu juga belum dipotong."
"Kenapa kamu perhatian? Kita baru bertemu tadi."
Sekali lagi bibirnya terjeda. Febi marah-marah setelah aku menanyakannya.
"Memangnya gak boleh perhatian sama satu-satunya keluargaku, hah?!"
Bibirku terkunci. Febi terlalu pandai untuk memancing rasa haru. Kedewasaan gadis itu seperti gembok bagi mulutku. Febi memberi warna untuk hidupku yang hitam putih.
"Terima kasih, Febi. Terima kasih untuk hari ini."
Napasku terasa lega saat bibirku sedang tersenyum. Aku pikir, kehadiran Febi akan menambah beban hidupku yang sudah berat. Ternyata sebaliknya. Gadis ini sangat baik. Aku merasa tak pantas jadi ayahnya.
"Febi, aku akan berusaha jadi ayah yang kamu mau. Beri aku waktu, okay?"
Gadis itu ikut terdiam. Nada galaknya berganti isak. Matanya pun berkaca-kaca. Tapi dia terlalu gengsi untuk mau menunjukannya.
"Kamu, kamu sudah mengakui aku sebagai anakmu?"
Bagaimana tidak?
"Iya. Mau dipikir dari manapun kamu puteriku."
Desah Febi jadi berbeda saat gengsinya kembali lagi
"Tapi aku belum mau panggil kamu Daddy. Kata ibu ayahku ganteng. Sedangkan kamu berantakan! Rambutmu acak-acakan. Mukamu kusam. Badanmu bauk. Dan brewokmu gak pernah dicukur. Aku malu pamerin kamu ke teman-teman. Kamu jelek!"
Aku terbahak-bahak. Sekali lagi gadis itu seperti permen bagi lidahku. Terkadang Febi dewasa. Terkadang pula dia bersikap lebih kekanakan dari umurnya.
"Aku masih ganteng kok kalau merawat diri." Aku mulai bisa bercanda.
"Buktikan! Besok jemput aku di sekolah jam dua siang."
Apa ini permintaan pertamanya sebagai anak?
Itu permintaan mudah.
"Iya, besok aku dandan serapi mungkin."
Si galak itu tersenyum puas.
"Dan satu lagi."
"Apa? Mau meledek lagi?"
Febi terdengar ragu. Dia seperti segan untuk bisa mengutarakan.
"Bilang saja. Tumben kamu malu."
"Hmmm ... tolong jangan berniat bodoh lagi. Kamu memang ayah jelek. Tapi aku gak mau jadi yatim piatu. Tolong buang tali itu jauh-jauh ya? Please."
***
Keesokan harinya.
Mata Febi melebar. Dia menatap takjub saat aku datang menjemput. Bibirnya agak ternganga seakan tak percaya bahwa aku orang yang sama. Bukan hanya Febi, gadis SMA di sekitarnya pun ikut terheran. Mereka saling berbisik saat aku datang mendekat.
"Feb, mas-mas itu siapa? Ganteng banget, sumpah!"
"Iya nih, kek bias aku! Pacarmu ya?"
Bisikan mereka terlalu keras. Febi nampak malu saat temannya mulai mencolek. Dia pasti tak menyangka aku jadi sangat berbeda jika mau merawat diri.
"Kenalin ke kita dong, Feb."
"Apaan siii? Dia bokap gue!"
Suasana langsung senyap. Tanpa sadar, beberapa gadis menjatuhkan ponsel saking kagetnya.
"Hah?! Seriusan?!"
"Dibilangin, kok. Dia daddy gue."
"Memangnya kamu lahir waktu bokapmu masih SD, ya?"
Febi melangkah maju. Dia rangkul lenganku dan bersikap semanja mungkin. "Lama banget sih, Dad? Aku nungguin daritadi."
Aku gelagapan. Sebutan Daddy itu terlalu cepat. Tapi responku masih kalah heboh dibanding reaksi teman-teman Febi.
Mereka masih melongo.
"Feb sumpah serius lu gak bohong?"
"Tanya aja sendiri kalau gak percaya, Wek! Kan aku sudah bilang kalau aku punya bokap? Dan bokapku ganteng!"
Teman-teman Febi nyengir. Dalam hati, aku senang dia punya pergaulan normal. Aku pikir dia di-bully di sekolahnya. Ternyata tidak. Gadis-gadis itupun nampak akrab walau mereka sedikit canggung.
"Om, minta nomor hapenya dong Om."
"Apaan si kalian? Udah ih aku pulang duluan. Hus! Hus! Hus!"
***
Seminggu kemudian.
Orang bilang, bahagia itu sederhana. Kebahagiaan bisa terjadi karena keputusan kita sendiri. Bukan karena orang lain. Atau karena harta yang kita miliki. Dan sebagai mantan orang kaya, kalimat itu aku amini.
"Hahahaha! Terus, temanmu tadi bilang apa?"
"Mereka masih minta nomormu. Gak aku kasih lah."
Iya, bahagia tak harus mewah. Tidak harus dikelilingi banyak orang, atau mengharap cinta yang mustahil kita dapatkan. Bahagia itu manis. Semanis tawa Febi saat kami sedang bercanda.
"Masa mereka masih nanyain kamu jomlo apa enggak? Lucu tahu gak? Masa mereka bilang mau jadi ibu tiriku? Hahahahaha! Ngarep sumpah."
Yeah, walaupun pembicaraan kami masih menyebut 'aku' dan 'kamu'. Aku tak memaksanya untuk bersikap seperti anak. Aku juga canggung untuk bersikap selayaknya ayah. Terlalu dini untuk itu. Aku lebih nyaman untuk bersikap seperti teman.
"Cewek yang mana tuh?"
"Itu loh, Silvy. Yang rambutnya dikuncir kuda."
Bibirku senyum-senyum. Alisku naik turun saat meraba wajah sendiri. "Aku memang ganteng, kok. Dan temanmu juga cakep."
"Mau kupukul?"
"Astaga galak. Nanti dijauhi cowok loh."
Febi cemberut. Dia melanjutkan makan dengan mata masih memicing. Aku penasaran. Aku ingin tahu hari-harinya sebagai remaja.
"Kamu punya pacar?"
"Enggak."
"Kenapa?"
"Karena mereka takut kutonjok."
"Pfffttt!!" Nasiku tersembur. Febi makin kesal karena tawaku separuh meledek. Aku spontan mundur ke belakang saat dia datang mendekat.
"Ngajak berantem?"
"Enggak deh. Makasih."
Dalam hati aku senang. Walau aku masih kikuk bahwa dia adalah puteriku, aku senang Febi bisa menjaga diri. Rasanya aneh. Entah kenapa aku tak rela jika Febi punya pacar. Apalagi jika gaya pacarannya seperti aku dan ibunya dulu. Ngeri. Aku tak mau gadis itu sampai hamil di luar nikah.
"Aku jomlo karena gak mau pacaran," ucapnya masih kesal. "Aku gak seperti cowok cemen yang 17 tahun cuma bisa bucin. Cowok itu siapa, ya? Aku lupa. Kamu tahu dia siapa?"
"Karena aku terlalu sayang sama ibumu," jawabku sekenanya. Kali ini tak ada melodrama dari nadaku. Semua terasa wajar. Aku sudah rela kalau cintaku sudah berakhir. "Sejak bertemu kamu, aku bisa move on. Kamu mirip dia, Febi. Kamu secantik dia."
Febi tidak menjawab. Dia menghindari mataku karena apapun dalam benaknya.
"Tumben diem. Biasanya cerewet."
"Gak apa-apa. Tapi beneran kamu gak pernah nikah? Kamu ganteng. Yang naksir pasti banyak. Aku masih gak percaya!"
Aku kontan tertawa lagi.
"Enggak. Aku serius belum menikah."
Gadis itu langsung senyum-senyum.
"Mustahil bisa berumah tangga kalau hatiku dibawa orang. Apalagi orangnya sudah meninggal."
Napasku terhela panjang. Aku coba tersenyum tegar setelah hati melawan sesal.
"Kini aku sadar harus move on. Aku masih muda. Hidupku masih panjang. Apalagi setelah ibuku meninggal minggu kemarin. Aku tak punya beban lagi."
"Hah?"
Kulirik guci di meja dan Febi pun mengikutinya.
"Serius?"
"Iya. Seminggu lalu ibuku dikremasi. Tepat sebelum kamu datang."
Febi menaruh sendok dari makanan yang belum sempat dia habiskan. Tangannya memberi kode agar aku mau mendekat. Entah apa maunya. Tiba-tiba dia cium pipiku saat kami bersebelahan.
"Muuaaacchh! Maaf aku terlalu cerewet sampai gak tahu kamu berkabung."
Wajahku terasa panas. Terutama di bagian pipi. Sebuah pipi yang steril dari bibir wanita 17 tahun lamanya.
"Nek, ayahku memang bodoh dan jelek. Tapi Febi janji akan merawatnya. Nenek tenang ya?" ucapnya di depan guci, alihkan wajah dariku. Febi nampak takut berkontak mata saat aku memandangnya.
Perlahan, tanganku meraba pipi sendiri. Kecupan tadi terasa asing. Sensasinya aneh. Jauh berbeda dari bibir Wulan yang 17 tahun lalu sering mendarat. Aku masih bisa mengingatnya. Aku masih bisa membandingnya dengan kecupan yang baru saja aku dapatkan.
Hangat sekali. Sehangat ruang perapian di resort-resort Pegunungan Alpen. Tempat favoritku di Eropa dulu. Atau aroma Kaviar di restoran mewah Kota Venice. Kecupan itu seakan memancing sinyal listrik di jalur syarafku, memberi kesan bahwa kami memang berhubungan. Aku merasa ada bagian dari diriku di tubuh Febi.
Aku makin bengong. Sedang wajah Febi makin memerah. Dia agak gelagapan karena sampai kini aku masih mengusap pipi.
"Jang—jangan salah sangka! Gak boleh aku cium ayahku sendiri?"