"Saya turut berduka ya, Mas Ardian. Saya kaget waktu tahu Ibu meninggal."
"Hahahaha, iya Mbak. Maaf seminggu ini saya libur."
Tangan Astri merangkul perutku. Rangkulan satu tangan karena posisinya duduk menyamping. Perempuan 28 tahun itu selalu melakukannya dan aku pun sudah biasa.
Namun, hari ini terasa lain. Aku baru sadar bahwa rangkulan itu lebih erat dari penumpang kebanyakan. Apalagi di jalan mulus. Dia sering sandarkan kepala saat kami sedang bicara.
Melepas helm pula.
Aku segan menegurnyaa.
"Cuma seminggu kok Mas. Gak apa-apa. Mas Ardian gak perlu kembalikan. Aku tahu Mas lagi berkabung."
"Serius, Mbak?"
"Kapan aku gak serius sama Mas? Kita dua tahun, loh. Sudah lama. 730 hari sejak aku jatuh hati. Dan Mas masih pasif."
"Hah?"
"Duh, keceplosan."
Aku bahkan baru sadar kata-katanya tidaklah wajar.
Astri penumpang istimewa. Lebih tepatnya pelanggan tetap. Aku selalu antar jemput di tempat kerja tidak jauh dari rumahnya. Dia wanita karir. Manajer HRD di sebuah perusahaan bonafit. Keluarganya pun keluarga kaya. Punya mobil sendiri yang cukup mewah. Semewah rumahnya di daerah Cempaka Putih. Sering kali pula aku disewa sebagai sopirnya dengan bayaran terlampau tinggi. Lebih mirip santunan daripada kesepakatan. Dia sangat tahu seberat apa aku terhimpit.
"Mas, nyetirnya jangan cepat-cepat, dong. Pelan-pelan saja."
Namun, di balik kemewahan itu, Astri lebih suka naik motor. Lebih suka dibonceng, katanya. Pembayaranpun dipatok bulanan dengan angka di atas tarif. Lagi-lagi mirip donasi. Selama ini hidupku terbantu karena Astri royal padaku. Dermawan sekali. Bukan hanya upah, dia juga sering mentraktirku di tempat-tempat berbau resto.
Seperti sekarang.
Walau berujung penolakan.
"Tumben Mas menolak? Biasanya perutnya bunyi."
"Hmmm ... Ada janji sama klien lain, Mbak." Aku berbohong. Aku tak mungkin bilang ada gadis remaja sedang menunggu kepulanganku.
"Benarkah? Kalau begitu take away, ya? Saya pesankan buat Mas juga."
"Saya sudah makan siang, tadi. Mbak Astri bungkus satu saja, ya? Daripada gak kemakan."
Aku berusaha bersikap biasa. Tapi lama-lama mata Astri agak memicing. Dia seperti membaca ada sesuatu yang tersembunyi dari sikapku. Napasnya terhela panjang saat menunya harus take away. Alias dibungkus.
"Iya gak apa-apa, Deh. Lain kali saja kita makan berdua."
"Iya, Mbak. Maaf banget saya masih kenyang."
Aku tak bohong kalau sudah makan siang. Nanti malampun sudah ada masakan sejak Febi sering berkunjung. Aku tak mau gadis itu marah. Aku tak mau meninggalkannya terlalu lama setelah menjemput dari sekolah.
"Mas kok gelisah banget gitu? Biasanya Mas Ardian tenang walau ada pesanan. Pasti penting banget ya penumpangnya?" Di perjalanan, Astri masih bertanya. Nadanya terdengar lain. Lebih mirip interogasi daripada basa-basi.
"Iya, Mbak. Sudah agak telat, nih."
Astri terdiam lama. Rangkulannya makin erat saat bertanya, "dia cewek?"
Aku mengangguk pelan. Entah kenapa aku ragu menjawabnya. Apalagi saat Astri rapatkan badan dan bertanya agak berbisik.
"Apa cewek itu juga dipanggil Mbak? Atau Mas panggil namanya saja?"
Kenapa dia tanyakan itu?
"Aku panggil namanya saja, Mbak. Memangnya kenapa?"
Lengan Astri agak mengendor dari perutku. Dia langsung jaga jarak. Aku merasa makin tak nyaman karena kami terus terdiam. Tak ada obrolan sedikitpun. Tak ada cerita tentang aktivitasnya di kantor seperti biasa, tidak pula menanyakan keadaanku.
Rasa canggung mulai merasuk. Aku tak berani menatapnya saat motorku telah terparkir di halaman rumah mewah yang lebih mirip sebuah mansion. Jangankan mengajak mampir seperti biasa. Astri langsung pergi setelah dia melepas helm.
"Mbak kok kelihatan marah? Ada apa ya? Saya bikin salah?"
Astri menoleh. Dia tersenyum ramah yang entah kenapa memberiku keringat dingin.
Kenapa perempuan ini?
"Seharusnya saya yang tanya kenapa, Mas Ardian. Apa dia seistimewa itu? Dia punya apa sih sampai Mas mau merawat diri? Sampai Mas bisa cerah seperti sekarang?"
Aku celingukan macam i***t. Astri masih menatapku seperti hakim sedang menatap penjahat kelamin. Aku tak mengerti. Aku makin bingung saat Astri bergelagat mau menangis.
"Ma—maafkan aku, Mbak!"
"Gak apa-apa kok, Mas. Gak apa-apa aku dipanggil 'Mbak' seumur hidup. Mas Ardian tenang saja."
***
Aku masih serba salah. Aku masih lesu di depan kontrakan seusainya mengantar Astri. Ada sinyal bahwa aku berbuat salah. Entah kesalahan apa. Aku tak paham sikap perempuan.
"Kamu telaaaaaatttt! Jadi cowok gak tepat waktu! Aku sendirian di sini!" Celakanya lagi, aku menghadapi sosok lain yang lebih galak.
"Sabar, tadi melayani penumpang. Dia langganan."
"Pasti cewek, ya?" Febi silangkan tangan ke dadanya sendiri. Masih berseragam. Dia buang muka dariku saat membantuku melepas jaket.
Bukan hanya Astri, Febi pun jadi lain. Dia seperti gadis sedang posesif. Febi mulai mempertanyakan aku pergi dengan siapa dan sejenisnya. Mirip ibunya dulu waktu kami masih pacaran.
"Cuma telat 30 menit. Sabar dikit kenapa sih?"
"Tapi kamu telat! Biar cuma satu detik tetap telat!"
Kuacak-acak rambut tebalnya. Lebih tebal dari Wulan. Febi nampak menggemaskan setelah aku tak lagi canggung. Seminggu waktu yang pendek. Tapi cukup panjang bagi mataku tuk melihatnya sebagai sosok paling penting.
Iya, aku mengakuinya sebagai puteriku.
"Sana mandi! Badanmu bauk!"
Delapan hari ini aku punya rutinitas sama. Menjemput Febi dari sekolah, digoda teman-temannya, dan bercanda akrab setelah kami ada di rumah. Acara masakpun masih sama. Masakannya selalu enak. Lebih enak dari resto. Aku tak perlu makan di luar karena di rumah lebih spesial.
"Jangan ngambek terus. Aku punya kejutan."
"Apaan?"
Kuserahkan tas kecil berlogo Apel. Sebuah pabrikan ponsel mewah. Mata Febi langsung melebar begitu dia buka isinya.
"Woaaa! Apel!"
Inilah yang menggangguku selama ini. Ponsel Febi terlewat jadul. Lebih jadul dari milikku. Apalagi dibanding ponsel milik teman-temannya. Aku tak tahu apa sikap ini sudah benar sebagai ayah. Aku tak mau Febi malu. Apalagi sampai dikucilkan hanya karena masalah prestise. Aku ingin memberinya kemewahan kecil, sekalipun tak semewah hidupku dulu.
"Suka? Ambil saja."
Febi mengamati ponsel itu dengan wajah separuh gengsi.
"Apaan sih?! Lagi gak punya duit juga. Ngapain beli ginian? Ponselku masih bisa dipakai."
"Cih, gak jago acting. Mana ada orang marah senyum-senyum?"
Febi gembungkan pipi bersama dahi agak tertekuk. Bibirnya pun agak maju karena tak sanggup balas meledek. Kucubit dua pipi itu. Kugerakkan sudut bibirnya agar dia mau tersenyum.
"Kamu cewek. Aku malu kalau HP-mu masih jelek. Nanti aku kumpulin duit lagi. Besok-besok kita shopping, okay? Biar ada yang kamu pamerin ke temen-temen."
Dia masih juga berlagak gengsi.
"Yaelaa," kataku makin mencibir. Kudekatkan wajahku padanya dan berkata, "kapan nih, mau panggil aku Daddy? Masa di sekolah doang?"
"Apaaan siiii?!"
Tahu seperti apa perasaanku sekarang? Lebih hangat dari masakan yang kami santap. Padahal tadi siang sudah makan. Tapi sore ini aku makan lagi seakan-akan tak pernah kenyang. Masakan Febi luar biasa. Begitupun perhatiannya. Aku jadi iri pada siapapun yang suatu saat nanti sangat beruntung jadi suaminya.
"Ngapain lihat-lihat?" tegurnya masih galak.
"Jangan pacaran dulu, ya? Aku belum siap punya menantu."
Dengan seenaknya dia balas cubit hidungku.
"Mana mungkin aku tega ninggalin bokap sebego kamu? Lagian cowok sekarang cemen-cemen. Anak mama semua. Kena masalah dikit mewek."
"Pffftt ... terus, seleramu cowok macam apa?"
Sejenak, pipi Febi memerah. Dia menatapku lama karena entahlah apa benaknya. Gadis itu agak panik saat pipinya kucubit lagi.
"Cie malu-malu. Pasti lagi naksir cowok ya?"
Febi makin kesal karena cubitan di pipinya aku ayunkan seperti mainan.
"Enggak! Kalaupun aku naksir cowok, cowok itu bukan cowok sejenis kamu!"
"Kenapa? Aku ganteng kok."
"Karena kamu cemen!"
Dia tak pernah gagal memancing tawa dari bibirku. Sikapnya menggemaskan. Apalagi saat dia mau berhenti jadi dewasa dan memilih untuk jadi diri sendiri. Perasaanku semakin hangat. Aku bersedia melakukan apapun hanya demi seutas senyum. Meski sayangnya, senyum itu selalu memudar setiap kali mau pamitan.
Begitupun senyumku.
"Aku antar pulang, ya?"
Seperti biasa, dia memberi gelengan.
Aku pernah bertanya dia dimana dan sedang tinggal dengan siapa. Aku juga penasaran dengan sosok pria yang saat ini jadi suami dari ibunya. Tapi Febi memilih diam. Dia memberi kesan seakan itu topik sensitif.
Hufff ... aku ayah kandungnya. Lambat laun aku cemas pada puteriku. Dia pun harus tahu bahwa ada yang tak lengkap dari hangatnya hubungan kami, kalau topik itu selalu saja dia hindari.
"Febi, aku antar ya? Setidaknya, aku mau izin sama walimu."
Febi masih menggeleng lagi.
"Kamu bilang aku satu-satunya, keluargamu, kan? Kamu juga satu-satunya, Febi. Apa kamu tak mau tinggal bersamaku? Kamu mau kan kita sarapan bersama setiap pagi?"
Febi masih membatu di samping pintu. Matanya berkaca-kaca lagi. Tapi bukan karena terharu. Dia terlalu gengsi untuk menangis. Seperti biasanya, gadis itu pergi setelah memberi ciuman pipi.
"Muuaachh! Aku pulang dulu."
"Iya, hubungi aku kalau ada apa-apa."
Perasaanku makin tertekan. Tapi kusimpan rasa cemas itu di saat kami lambaian tangan.
Ada apa?
Apa yang dia rahasiakan?
***
Hari selanjutnya, kami bertemu seperti biasa. Memasak, bercanda, menjemputnya dari sekolah, dan melihatnya pulang tanpa berucap sepatah katapun. Ada ganjalan di hatiku. Ada endapan yang makin lama makin memadat. Setelah dua minggu kami lalui lingkaran itu, untuk pertama kalinya kami punya fase berbeda.
"Apa? Febi sudah pulang?"
"Iya, Om. Dia juga gak bilang-bilang kita. Tahu-tahu dia pulang."
Aku gelisah.
Dan kegelisahan itu bisa ditangkap teman kelasnya.
"Dia sering gitu, Om. Kadang-kadang menyendiri. Gak mau ngomong sama kita. Kan kita jadi gak tahu dia kenapa. Kok Om juga gak tahu sih?"
Napasku terhela panjang. "Mungkin ada masalah sama ibunya." Kuberi alasan paling masuk akal.
"Istri Om?"
Aku menggeleng.
"Mantan?"
Kali ini aku mengangguk. Dan anggukan itu disambut senyum anak-anak di bawah umur.
"Serius Om sudah cerai? Berarti Om single, dong?"
"Iya. Memangnya kenapa?"
Aku tahu teman-teman Febi agak genit. Mereka gemar menggodaku. Terutama si kuncir kuda yang baru saja bertukar nomor. Febi pasti marah kalau sampai dia tahu. Tapi aku tak punya pilihan karena nomornya sama sekali tidak bisa aku hubungi.
Ada apa dengannya?
"Silvy, nanti hubungi Om kalau ketemu dia ya? Nomornya susah dihubungi kalau dia sama ibunya." Aku berbohong sekali lagi.
"Iya, Om Ardian Sayang. Serahkan padaku. Aku gak akan bilang Febi kalau punya nomor om. Ya ampun, senengnya dapat gebetan ganteng."
Astaga, baca novel apa gadis-gadis sekarang?
Bibirku masih tersenyum saat tangan melambai pelan. Menutupi kegelisahaan akan kabar dari si galak. Aku jadi tak fokus. Terlalu sulit berkonsentrasi. Hingga saat tiba kampung, aku baru sadar beberapa orang sedang menunggu di sekitar rumah.
Warga sekitar.
Termasuk sosok Lurah sekaligus pemilik kontrakan.
Ada apa?