"Mas Ardian, kebetulan nih langsung nongol?" ucap Pak Lurah bernada akrab.
Berbeda dari Pak Lurah, beberapa warga tersenyum masam. Sebagian saling berbisik tanpa berani beradu tatap. Aku tak tahu ada apa. Kupersilahkan mereka masuk dan suguhkan makanan ringan.
"Ada apa, ya? Pak Atmo?"
Beberapa orang duduk tenang di ruang tamu rumah kecilku. Mereka sedikit kaget karena ruang itu jauh berbeda dibanding rumah yang mereka tahu. Jauh lebih bersih. Lebih nyaman hingga mood kami agak mendingan.
Termasuk mood Pak Lurah.
"Wah, baru dicat nih, Mas? Lebih rapi dari rumah saya," pujinya.
Aku tersenyum ramah. Seramah warna tembok yang masih bau minyak. Aku dan Febi yang mengecatnya.
"Mas Ardian, kebetulan saya dapat laporan warga kalau Mas sering bawa masuk gadis SMA."
DEG!
Aku baru menyadarinya.
"Mohon maaf, Mas Ardian. Kita ke sini biar gak ada salah paham, hehehe."
Jujur, aku belum siap. Aku lupa sedang hidup masyarakat. Mereka pasti tahu Febi sering datang ke rumah ini. Sehabis siang sampai agak malam. Apalagi, gadis itu seringkali teriak-teriak.
"Bapak-bapak, mohon maaf saya belum sempat kasih kabar ke anda semua," jawabku sesopan mungkin. "Gadis itu namanya Febi. Dia puteri saya."
"Hah?!"
Mereka kontan melongo. Persis reaksi teman-teman Febi waktu pertama kami kenalan.
"Mas Ardian ini umur berapa sih?"
"34, Pak."
Mereka sontak saling menoleh.
"Serius 34? Lah saya kira 25. Bukannya Mas Ardian belum menikah?"
Tak kutanggapi pertanyaannya. Aku memilih menceritakan kisah paling masuk akal.
"Iya, Pak. Saya belum menikah. Tapi 17 tahun lalu saya menghamili teman sekelas," jawabku sejujur mungkin. Kutunjukan foto pada mereka sebagai bukti ucapan itu.
"Ini Mas Ardian waktu SMA?! Kok gak ada bedanya, ya?"
"Iya, tidak ada bedanya, Pak Lurah. Saya baru tahu Mas Ardian lebih tua dari saya. Rahasianya apa ya, Mas?" Mereka malah mengubah topik.
Suasana kian membaik. Ketegangan kian merenggang karena wajahku di foto itu. Mereka masih terkejut. Terlebih, saat seseorang menunjuk Wulan dan berkata, "Pak, ini kan cewek yang sering main ke sini?"
"Iya betul. Mirip sekali loh."
Senyumku melebar. "Itu foto Wulan. Ibunya Febi. Saya juga kaget begitu tahu puteri saya sama persis seperti ibunya."
"Woaaaa!"
"Febi datang di hari yang sama setelah proses kremasi ibu saya. Kira-kira dua minggu lalu. Awalnya tak percaya. Tapi dia mirip mantan yang saya hamili dulu. Waktu saya cek tanggal lahirnya, hitungannya sama persis. 100% dia puteri saya, Pak."
Para tamu antusias. Mereka melihatku seperti melihat drama sinetron. Ada api penasaran di mata mereka. Kutuangkan bensin ke api itu dengan cerita melodramatis.
"Puteri saya baik, Pak. Karena dia saya semangat. Bapak lihat ruangan ini, kan? Dia rajin bersih-bersih. Rajin masak. Perhatian banget deh pokoknya. Saya sedih ternyata dia bertahun-tahun mencari saya."
"Iya, hiks! Pak Ardian makin cerah sekarang. Ternyata karena Bapak ketemu si buah hati, hiks! Sroottt!" Pak Lurah menyeka ingus. Dia menangis haru karena mendengar ceritaku. Begitupun bapak-bapak lain. Sebagian dari mereka berkaca-kaca dan meneteskan air matanya.
Lebay sekali!
"Hiks, puteri saya juga SMA, Pak. Tapi kerjanya main hape. Joget-joget di depan hape. Gak mau bantu emaknya, hiks! Kita tukeran anak yuk Pak."
***
Masalahku dengan warga berakhir damai. Termasuk dengan Pak Lurah yang tadi kikuk menagih sewa. Uangku terkuras. Dari 12 juta uang simpanan, enam juta jadi ponsel milik Febi. Sedangkan empat juta lagi aku habiskan untuk bayar sewa kontrakan.
Aku beruntung Pak Lurah berbaik hati memberi diskon. Aku pun beruntung dikelilingi warga super toleran, yang makin ramah setelah mereka tahu bahwa Febi buah hatiku.
Yeah, meski anak dari jalur non-reguler.
Namun, hatiku masih hambar. Aku masih cemas karena sampai detik ini Febi tidak mengangkat telepon. Apalagi membalas pesan.
"Febi, kalau ada masalah please ngomong. Aku cemas seharian. Kamu gak apa-apa kan, Sayang?" Pesan suara jadi pilihan. Aku bicara semesra mungkin demi mendapat pesan balasan.
Tapi Febi tak membalasku. Ponselnya pun dia matikan.
Ada apa?
Motor melaju pelan di jalanan Jendral Sudirman. Batinku masih gelisah saat menunggu penumpang datang. Mungkin ada rapat atau entahlah. Astri pun juga enggan 'tuk membalas semua pesanku.
Tumben sekali.
Ada apalagi?
Kenapa seharian ini aku sial bertubi-tubi?
"Mbak, saya ada di depan."
Tak ada jawaban. Aku masih sabar menunggu bersama semua kegelisahaanku. Satu jam, dua jam, batinku makin gelisah. Astri mungkin masih marah karena entahlah kesalahanku. Hingga pada akhirnya, aku menyerah saat mataku menangkap Porsche yang baru datang. Mobil pribadi milik Astri. Mobil itu berhenti di sebelahku sebelum aku memutar kunci.
"Wah, lagi berantem nih sama Neng Astri? Hahahaha!" tegur pria paruh baya yang kukenali sebagai sopirnya.
"Iya nih, Pak. Mbak Astri gak mau angkat telpon."
"Mas Ardian sih, gak sat set sat set."
Aku malu. Sopir itu masih tertawa hingga seseorang datang menegur.
"Ayo, Pak. Kita berangkat," ucap Astri tanpa mau menyapaku.
"Mbak, maafkan saya kalau ada salah."
"Kamu gak salah apa-apa! Dan aku bukan Mbakmu!" ucapnya ketus, buang muka dariku.
Pak Sopir masih tertawa. Dia seakan menunda walau Astri memerintahnya. Aku pun belum beranjak. Sopir itu jadi penengah untuk pertengkaran kecil di antara kami.
"Neng, lebih baik selesaikan secara dewasa. Mas Ardian ini bukannya gak paham. Dia masih lugu."
"Lugu apanya?" Astri makin ketus.
"Serius nih langsung pulang? Tuh lihat Mas Ardian mau nangis. Dia nunggu Neng seharian, loh. Hahahaha!"
Aku malu. Terlebih saat Astri keluar mobil dan berjalan menuju arahku. Suasana makin canggung. Pak Sopir meninggalkan kami bersama tawa dan kalimat menasihati.
"Nanti beri kabar kalau sudah baikan. Kalian bukan anak kecil. Selesaikan secara dewasa."
Astri masih berdiri tanpa mau bicara banyak. Tangannya tersilang rapat dengan wajah ke arah lain. Padahal sedang sampingku. Badannya pun agak menempel seakan berkata bahwa kami tak punya waktu lagi.
"Astri," tegurku, melepas sebutan Mbak. Kubuang segala formalitas agar kami nyaman bicara. "Aku salah apa? Aku kepikiran seharian."
"Mikirin aku? Atau mikirin Febi?"
"Hah?"
Alisku terangkat. Dia menujukkan layar ponselnya dan memutar pesan suara.
Pesan terakhirku untuk Febi.
"Pakai sayang sayang, pula. Beri aku undangan kalau kalian mau menikah."
***
Wanita 28 tahun itu masih buang muka. Di restoran itu pun dia tak mau banyak bicara.
"Aku bisa jelaskan, Astri. Hubungan kami tak seperti yang kamu pikir."
Aku jadi serba salah. Aku bingung berkata apa karena wanita itu kini jadi sosok berbeda.
Seperti apakah sosok Astri?
Kalau dibandingkan semua perempuan yang pernah akrab denganku, Astri biasa-biasa. Kurang cantik kalau boleh menilai. Tapi dia cukup menawan karena uang di perawatan. Maklum lah orang kaya. Body-nya tinggi langsing walau dadanya setipis triplek. Mungkin 32 cup A.
"Apa lihat-lihat? Iya aku jelek." Dia menegur saat aku memindai dadanya.
Namun, ada pesona yang tak dimiliki perempuan lain. Pesona wanita karir. Astri punya mata tajam yang terbungkus kacamata minus. Mata tajam nan tegas. Rambut pendeknya pun menggoda mata. Potongan bob-cut. Khas cewek kantoran. Apalagi kepribadiannya. Dia adalah wanita dewasa yang selalu bersikap anggun.
Kecuali di hari ini.
Sikap anggun itu dia buang jauh-jauh.
"Kamu cemburu?"
"Enggak!"
"Huufff ..." leguhku dalam gelengan. Leguhan separuh menegur. "Kita orang dewasa, Astri. Bersikaplah dewasa."
"Terserah!"
"Apapun kesalahanku, aku terima. Apapun permintaanmu, aku turuti."
"Yakin?"
"Iya. Anggap ini kantor dan aku karyawanmu. Kamu bebas menyalahkanku. Maaf aku tak peka."
BRAK! Dia tak ragu menggebrak meja.
"Iya, Ardian! Kamu clueless! Kamu tak pernah lihat aku selama ini. Apa kamu masih buta, Ardian! Apa karena mantanmu itu? Kamu gak mau move on dan buka hati untuk aku?" Jemarinya kini mulai menuding.
Astri benar. Selama ini aku buta. Pikiranku masih tertinggal di masa SMA. Selama ini aku tak pernah melihatnya. Tapi itu dulu. Sekarang aku berbeda semenjak hidup bersama Febi. Pikiranku mulai jernih. Aku mulai buka hati untuk hidup di masa depan. Termasuk kepada Astri. Karena jujur saja, hanya dia yang saat ini aku pikirkan sebagai lelaki ke perempuan.
Aku menyukainya.
Tapi Astri masih sibuk menyalahkanku.
"Ardian, kamu sadar gak? Kamu bisa hitung gak berapa kali aku bantu kamu? Aku sering menemanimu ke rumah sakit waktu ibumu koma. Kita bahkan menginap, Ardian. Kamu masih ingat? Atau kamu sudah lupa karena si Febi itu, hah?"
"Astri, Febi itu—
"Kamu bahkan gak bertanya kenapa tukang tagih berhenti menelpon?"
Astri benar-benar kesal. Dia tak memberiku kesempatan bicara. Dia bahkan tak peduli tatapan pengunjung restoran yang tertuju ke arah kami.
"Aku sayang kamu, Ardian. Aku cinta sama kamu. Setelah semua yang aku berikan, kamu pilih wanita lain? Aku tak boleh sakit hati, hah? Dan kamu masih bertanya kenapa aku marah?"
Beberapa pengunjung saling berbisik. Sebagian dari mereka mulai merekam. Dengan mata tajam, Astri layangkan teguran sopan.
"Saya kirim pengacara ke siapapun yang berani upload."
Mereka batal membuat konten.
"Sampai mana tadi?"
Aku memang tidak peka. Tapi kini aku tahu bahwa Astri sedang cemburu. Lebih tepatnya kepada Febi. Dia jelas salah paham. Aku ingin jelaskan bahwa hubungan kami tak seperti buah pikirnya.
"Astri, Febi itu puteriku."
"Kamu sedang mabuk?"
"Apa aku terlihat bercanda?"
Mata analitiknya menelanjangi isi otakku. Dia silangkan dada setelah membaca bahwa aku berkata jujur.
"Dia puteri mantanku dulu."
"Wulan?"
Kusodorkan ponsel padanya. Ada fotoku dan seorang gadis berseragam SMA. Foto wallpaper. Febi yang menaruhnya.
"Gadis itu Febi, puteriku."
Astri masih tak yakin. Dia baru diam saat kusodorkan fotoku 17 tahun lalu bersama Wulan.
"Dan itu foto ibunya."
***
Tetes hujan menemani perjalanan kami. Astri tak banyak bicara setelah tahu semua fakta. Lengannya merengkuh erat. Kepalanyapun bersandar di punggung setelah kami resmi jadian.
Iya, kami resmi jadian. Kami terlalu tua untuk mau berlama-lama.
"Serius gak pakai jas hujan?"
"Kalau kamu pria romantis, kamu gak akan bertanya."
Memangnya hujan-hujanan romantis?
Perempuan memang aneh.
"Mas, sejak kapan kamu suka aku?"
"Sejak bisa move on. Kamu orang pertama di pikiranku."
"Benarkah?"
"Lebih lama dari itu, Astri. Sejak pertama kita kenal," ucapku memberi bumbu. "Kamu perempuan paling anggun. Rendah hati dan sederhana. Aku tak berani ekspektasi karena kamu terlalu perfect."
Separuh dari ucapan itu hanyalah kebohongan. Tapi Astri tak mempertanyakan. Naluriku berkata bahwa dia memang percaya. Skill psikologi-nya lenyap. Kecerdasannya sirna saat sedang dimabuk cinta.
Dasar perempuan.
"Kita sudah sampai."
"Jangan pulang dulu."
Motor sudah terparkir. Tapi Astri masih mau hujan-hujanan. Kami berdiri berhadapan di bawah hujan yang makin deras. Matanya menatap mataku. Lengannya pun memeluk leherku saat pinggangnya sedang kurangkul. Perempuan ini lumayan tinggi. Mungkin 175. Mata kami hampir sejajar saat dia memakai high heel.
"Temani aku dulu."
"Hujan-hujanan?"
Punggungku langsung dicubit.
"Kalau kamu pria romantis, kamu tahu yang aku mau."
Aku paham maksudnya saat Astri pejamkan mata. Bibir kamipun bersentuhan di bawah hujan dan lampu taman. Astri benar. Suasananya sangat romantis. Perasaanku makin melebur saat bibir kami telah menyatu. Seperti bakat tependam. Aku mahir untuk ini. Skillku belum berkarat walau 17 tahun tidak diasah.
"Mas, temani aku malam ini."
"Belum waktunya sejauh itu."
Penolakan itu tak dia gubris. Astri raih tanganku dan menariknya ke dalam rumah. Lekuk tubuhnya terlihat jelas di bawah nyala chandelier. Ruang tamu mewah yang luasnya dua kali lipat rumahku sekarang. Sangat tidak asing. Aku seperti kembali ke masa lalu setiap kali duduk bertamu di ruang itu.
Meski sayangnya, ruang tamu bukanlah tujuanku. Astri masih menyeretku ke sudut lain yang agak jauh. Kamarnya sendiri. Aku langsung paham maunya apa sebagai seorang perawan tua.
Iya, Astri single. Dia bukan janda, tidak pula pernah menikah. Dia hanya workaholic. Pecandu kerja yang baru sadar sudah hampir kepala tiga. Basi-basi bukan pilihan. Kami terlalu tua untuk itu. Akupun pria bujangan yang 17 tahun tanpa sentuhan. Dan tanpa banyak pertimbangan, kami resmikan hubungan ini dengan gaya metropolitan.