Pagi harinya.
"Hufff, dia kemana ya? Sampai sekarang belum kasih kabar."
Mataku menatap langit-langit. Eternit mewah berhiaskan lampu LED. Kepalaku pun bersangga bantal empuk dari kain sutra dan berisikan bulu angsa. Sebuah kamar yang cukup. Hampir semewah kamarku dulu.
"Sabar. Dia anak cerdas. Pasti ada alasan kenapa dia tak mau pulang."
Jemariku membelai rambut sosok perempuan yang baru bicara. Rambut bob-cut. Khas wanita karir. Sosok wanita pemilik kamar berbantal empuk. Sekaligus pemilik hati dan masa depanku. Perempuan itu kembali bicara dengan kepala berbantal dada.
"Aku selalu percaya Mas Ardian pria baik. Mas kerja keras demi merawat ibu di rumah sakit. Mas juga mantan orang kaya yang tak asing dengan kemewahan. Penampilanmu di atas rata-rata. Lulusan luar negeri, pula. Semua perfect."
"Aku punya anak, loh."
Astri bergeliat di balik selimut. Dia cium bibirku, menaruh wajahnya di bantal yang sama, tepat di sebelah telingaku.
"Nanti kenalkan aku ke Febi. Aku siap jadi ibunya."
"Serius?"
"Memangnya kapan lagi? Orang tuaku gak ribet kok. Mereka gak keberatan pria yang kutaksir hanya driver ojol. Kami keluarga liberal. Dan aku sudah cerita banyak tentang Mas Ardian. Tenang saja."
"Termasuk soal Febi?"
"Soal itu belum. Tapi mereka sudah tahu masa lalumu. Mereka bahkan kenal almarhum ayahmu."
Iya, sesama orang kaya saling mengenal. Mungkin ayah Astri rekan bisnisnya atau entahlah. Aku tak mau banyak bertanya.
Hari ini aku tak bawa motor. Astri memintaku untuk sementara jadi sopirnya. Mobilnya pun bebas kubawa. Dia juga memintaku memakai setelan yang diam-diam dia belikan. Celana bahan dan lengan panjang bermerek. Begitupun arloji, sepatu resmi dan pena perak di saku baju. Aku tak canggung memakainya. Penghuni kantor jelas bertanya begitu kami keluar mobil.
"I love your eyes. You will never know how charming you are." Astri bahkan tak malu merangkul lenganku di kantor itu. "Tunggu aku 60 menit. Aku briefing sebentar. Setelah itu kita jalan."
Mesin mobil kembali menyala setelah Astri selesai kerja. Tapi kami tak langsung pulang. Astri memintaku mengantarnya menuju klinik kecantikan. Skincare. Tapi bukan untuk dirinya. Melainkan untukku. Sebagai mantan orang kaya, aku sangat paham laki-laki juga butuh perawatan.
"Febi pasti bangga melihatku sekarang," gumamku di depan spion.
"Sebangga itukah?"
"Bagaimana tidak? Dia kesal karena selama ini aku tak mau merawat diri. Masa aku dibilang jelek?"
Astri tertawa renyah. Dia masih menatapku seusainya dari skincare.
"Mas pria tampan. Aku masih belum percaya pria tampan ini calon suamiku. Mas ingat waktu pertama kita bertemu? Aku pikir kita seumuran."
Sebelah alisku terangkat. Pujian itu tidaklah asing. Aku juga tak tahu kenapa umurku agak menipu. Apa karena Cina peranakan? Atau karena kecantikan ibuku di atas rata-rata? Entahlah. Aku masih fokus di jalan kala Astri terus memuji.
"Dan sekarang Mas Ardian terlihat jauh lebih muda lagi. Seperti awal 20-an. Febi pasti pamer punya ayah sekeren Mas. Aku saja tadi pamer ke orang-orang kantor."
"Masa?"
"Iya. Karyawan perempuan masam semua, hahahaha! Duh, kasihan Febi."
Mataku kontan melirik. "Kenapa?"
"Karena kalau aku jadi dia, aku merasa rugi si tampan ini tidak bisa kunikahi, hahahaha!"
"Hah?"
Kalimat itu terdengar biasa. Tapi tidak di telingaku. Aku merasa ada sesuatu yang terselip dari nada pujian itu. Astri menangkapnya. Dia tertawa renyah dan berkata bahwa itu hanya bercanda.
"Bikin kaget saja."
***
"Om Ardian?!"
Seorang gadis menatap bengong. Aku hampir tak mengenalnya karena kuncir kuda dia lepaskan. Rambut tebalnya tergerai bebas. Sesekali dia belai rambut itu saat sedang bicara padaku.
"Om, ke KUA yuk!"
"Hus! Febi mana? Kok gak kelihatan?"
Sejak terakhir ke sekolahnya tiga hari lalu, belum ada kabar dari Febi. Ponselnya mati total. Atau sengaja dimatikan entah untuk alasan apa. Selama tiga hari ini aku tidak menjemputnya karena percaya dia bisa jaga diri. Febi gadis kuat, kata Astri. Selama tiga hari ini pun aku berusaha menghibur diri dengan kemewahan yang dulunya aku miliki. Sibuk pacaran saat puteriku tak bisa dihubungi. Sibuk belanja, foya-foya, bermesraan, menikmati sentuhan sebagai pria yang terlalu lama jadi bujangan.
Namun saat ini, aku mencium bau amis. Apalagi saat Silvy bergelagat sedang panik. Wajah genitnya berubah cemas. Dia menengok sekitaran sebelum bicara agak berbisik.
"Tiga hari ini dia bolos, Om. Gak ada kabar. Ibu guru juga nanyain. Kirain sama Om."
"Hah? Serius?"
"Iya, Om. Nomornya gak bisa dihubungi."
"Dia ada nomor lain?"
Gadis itu menggeleng lugu.
Tanpa sadar, jemariku memijit kening. Selama ini aku berpikir bahwa Febi sedang ada masalah dengan ayah asuhnya. Entahlah dia siapa. Logikaku berkata bahwa dia belum minta izin setiap kali main ke rumah. Namanya juga remaja.
Ayahnya sekarang siapa, ya?
Aku sudah siap berbicara dengan pria itu. Sekalipun dia adalah suami dari wanita yang kucintai. Toh, Wulan sudah meninggal. Tak ada alasan mengungkit masa lalu. Aku bahkan pinjam mobil Astri demi menunjukan pada walinya bahwa Febi akan lebih bahagia bersamaku.
Namun, melihat gelagat Silvy, aku tak sanggup sembunyikan cemas.
"Kamu tahu rumah ibunya?" tanyaku agak meragu. Sebagai sahabat karib puteriku, Silvy mungkin tahu alamatnya. Tapi gadis itu justru menggeleng dengan dua bahu terangkat.
"Aku gak tahu, Om."
"Bukannya kalian berteman sejak kelas satu?"
"Iya, Om. Hampir tiga tahun, loh. Tapi aku gak pernah main ke rumah Febi. Dia juga gak pernah jawab tiap aku tanya." Dua bahunya terangkat lagi. Si genit itu bicara jujur. "Kirain Om tahu. Kok tanya aku?"
"Hmmm ... Aku hilang kabar sejak cerai." Aku menoleh ke arah lain. "Terus, kalau ada pertemuan wali murid gimana?"
Sekali lagi bahunya terangkat.
"Aku juga gak pernah tahu, Om. Kemarin saja dia minta ibuku jadi walinya. Febi sering nginap di rumah. Ibuku tahu kalau kami sama-sama gak punya ayah. Dan tahu gak Om? Waktu aku cerita soal Om ke ibuku ..."
"Kenapa?"
Silvy julurkan lidah. "Aku disuruh cepet nikahin Om."
Telinganya langsung kujewer. Tidak sakit. Silvy juga kuanggap anak sendiri.
"Kalau diajak ngobrol orang tua itu yang bener."
"Bercanda ih, ngambekan."
Cerita Silvy sedikit banyak menenangkanku. Aku bersyukur Febi punya sahabat baik. Bestie, lah. Si genit itu perhatian pada puteriku.
Tapi bau itu masih ada. Bau amis itu semakin jelas saat Silvy bergelagat seperti sedang menyimpan gosip.
"Om, anu Om."
"Ada apa sih? Ngomong saja."
Gadis itu celingukan. Dia menarik tanganku agak jauh dari pintu gerbang.
"Sebenarnya ada gosip jelek soal Febi. Tapi aku gak percaya. Om jangan marah, ya?"
"Gosip apaan?"
"Sini, Om. Mana telinganya."
Aku bungkukkan badan. Aku menurut saja saat gadis itu raih leherku.
"Muaachhh!" Silvy langsung berlari seusainya mencium pipi. "Bye, Sayang! Nanti saja aku cerita!"
"Dasar genit!"
Bel sekolah lama berdentang. Satu persatu siswa pulang dan gerbangpun telah tertutup. Ada hambar yang kurasakan. Ada rindu akan keceriaan seorang gadis saat aku datang menjemput. Sebagai ayah dan anak, kedekatan kami memang aneh. Seperti love and hate. Febi mencintaiku sekaligus menyimpan benci. Bukan hanya dia, aku pun terganggu sekaligus rindu pada semua sikap bawelnya.
Dia kenapa, ya?
Benak itu pun harus tertunda karena Astri sudah menelpon.
"Sayang, jemput aku sekarang."
***
Keesokan harinya.
Pagi ini aku bangun di kamar yang sama. Kamar mewah 6x6. Sangat nyaman. Di kamar itu pun ada perempuan yang setiap pagi aku bangunkan. Seorang Astri. Sosok perempuan yang empat hari ini memberiku kemewahan.
Dunia seperti terbalik. Aku sampai lupa bahwa aku ayah miskin yang tak punya tanggung jawab.
"Dia ada di mana, ya?"
Ponselku belum berbunyi.
Tak ada pesan dari Febi sekeras apapun aku berharap.
"Morning, Sweetheart." Astri menyapaku di saat aku melihat ponsel. "Belum ada kabar?"
Aku menggangguk.
"Kamu yang sabar, okay? Sekarang mandi dulu. Hari ini jadwalku padat."
Astri belum sadar seberapa hambar perasaanku. Skill acting-ku semakin canggih. HRD sepertinya gagal membaca. Aku sanggup berpura-pura bahwa aku sedang bahagia. Skirt steak bintang lima? Kaviar? Tiramisu? Truffle? Lobster? Semua hambar di lidahku. Semahal apapun harganya. Setelah empat hari tanpa Febi, aku sangat rindukan masakannya sekalipun hanya gorengan tempe. Apalagi tawanya. Atau suara berisiknya setiap kali dia bicara.
Kemewahan ini tak ada rasa. Termasuk tubuh Astri yang setiap malam aku jamah.
"Jemput aku jam 11 tepat, okay? Ini kartu kreditku. Mas bawa."
"Titip sesuatu?"
Astri hanya menggeleng saat aku membuka pintu.
"Semuanya untuk Mas. Terserah mau belanja apa. Mau baju, ponsel, atau motor baru terserah. Mau beli mobil juga okay. Tenang saja. Uang bukan masalah."
Pedal gas belum terinjak. Aku duduk terdiam sambil meraba bibir sendiri. Masih bau lipstick. Bekas bibir Astri sebelum dia beranjak pergi.
"Hambar ..."
Mau dilihat darimanapun Astri sosok wanita sempurna. Dia baik, dermawan, pengertian, stratanya pun ada di puncak piramida. Ayah ibuku pasti setuju andai mereka masih hidup. Kurang apa memangnya? Tapi setelah empat hari hidup bersama, aku mulai meragukannya. Aku mulai menyadari bahwa Astri telah salah menilaiku.
Dia hanya menilaiku dengan uang?
Okay, semua orang boleh berkata bahwa uang tak menjamin kebahagiaan. Itu kalimat munafik. Terutama jika diucapkan oleh orang berdompet tipis. Aku pun butuh uang. 99 persen depresiku berasal dari tagihan hutang. Astri tahu itu. Dia sedang berpikir bahwa uangnya pasti bisa membahagiakanku.
Namun, aku juga pernah kaya. Bahkan lebih kaya dari Astri. Aku punya pandangan sendiri akan uang dan ketenangan. Kemewahan hal natural untukku. Tapi semenjak bertemu Febi, aku telah menemukannya. Aku menemukan kebahagiaan yang tak bisa dibayar tunai.
"Sudah belanja?" kata Astri saat aku datang menjemput. Wajahnya agak merengut saat menyadari tak ada bekas belanja di bangku belakang.
"Malam ini aku tidur ke rumah."
"Kontrakan?"
"Iya. Aku rindu kehidupanku."
Astri cukup pengertian. Dia tak banyak bertanya dan memilih layangkan peluk.
"Aku tahu Mas butuh waktu sendirian. Tapi ke kamarku dulu, ya? Aku juga punya kebutuhan."
***
KLIK!
"Huufff!"
Asap rokok terhembus tebal. Rokok pertamaku sejak aku bertemu Febi. Rokok itupun terasa hambar. Sehambar hatiku yang makin menyadari ruang tamu ini tak ada bedanya dari rumah Astri. Ruang tamu kontrakan kecilku. Masih ada bekas Febi di ruang itu.
Kamu ada dimana, Febi?
Pertanyaan itu terngiang lagi.
Suara hujan bergemericik di luar rumah. Tak ada lagi air menetes setelah Febi memaksaku benahi genting. Tengah malam itu, ruang tamu terasa dingin. Sedingin hatiku yang terlajur terbiasa bersama Febi.
"Tak semuanya bisa dibeli tunai."
Segala kemewahan sudah kulepas. Saat ini aku memakai kaos oblong dan celana pendek yang warnanya telah memudar. Pakaian lamaku. Baju-baju dari Astri tersimpan rapi dalam lemari. Sebagian di keranjang cucian. Aku enggan memakainya lagi.
Pakaian itu terasa berat.
Seberat suara ketukan yang tersamar di tengah hujan.
Ketukan pintu penuh ragu.
Secepat mungkin aku membukanya karena berharap dia puteriku.
"Febi?!"
Mataku terbelalak saat melihat seseorang yang selama ini aku cemaskan.
"Kamu kemana saja?!"
Gadis itu balik badan. Aku berlari agak tergesa dan memeluknya seerat mungkin.
Tetes hujan membasuh rindu dalam hatiku. Pekat malam menutupi ekspresiku saat kudekap si galak itu.
"Kamu gak apa-apa? Kamu tahu secemas apa aku empat hari ini, hah?! Kenapa gak kasih kabar, Febi?! Bilang sesuatu padaku!"
Untuk pertama kalinya aku marah pada pada gadis itu. Terlebih saat kusadari badan Febi terlihat lemah. Gemetarnyapun terasa jelas. Sejelas amarahku saat kulihat wajah cantiknya.
"Wajahmu kenapa? Lebam-lebam ini karena siapa? Bilang padaku!"
Febi tidak menjawab. Dia masih menunduk agak terisak. Bukan hanya aku, gadis itu juga memanfaatkan air hujan tuk menutupi air Matanya.
"Kamu ayah bodoh, hiks! Kamu kemana saja? Dua malam kemarin aku kesini, kamu gak ada. Kemarin malam juga gak ada. Kamu kemana saja?!"