Dua Belas

966 Words
Nugara marah besar, menghancurkan berbagai peralatan yang ada di ruang kerjanya. "Berengsek! Bagaimana ceritanya kamu bisa kehilangan jejak Naira? Naira baru satu hari saya tinggalkan!" wajah Nugara merah padam, menatap tajam pada Heru yang menunduk dalam, tak berani bersuara. Nugara memijat keningnya bingung. "Sahabatnya. Apa dia sudah dihubungi?" Heru mengangguk. "Sudah, Pak. Tapi Mala malah balik bertanya pada saya, karena dirinya terakhir menemui Naira empat hari yang lalu. Waktu ada Bapak." Nugara memejamkan mata, rahangnya mengetat kuat saking besarnya emosi yang bersarang di dadanya. "Saya nggak mau tau, cari sampai dapat!" "Tapi, Pak-" "Dia mengandung anak saya, kondisinya juga belum stabil. Saya takut dia masih labil dan malah mengaborsi kandungannya." Masalah Nugara di Jakarta belum selesai, ditambah lagi kabar yang berhasil menyulut emosinya yang sudah ia tahan mati-matian. Keadaan Viyona juga belum pasti, semua keluarga Viyona menangguhkan tanggung-jawab atas Viyona padanya. Kemungkinan bercerai pun sangat tipis. "Pak-" Nugara mengibaskan tangannya, mengusir Heru menggunakan isyarat gerak tangannya. Heru keluar, Nugara mengempaskan diri di kursi kerjanya. Nugara memijat pangkal hidungnya, kepalanya juga mendadak terasa panas. "Berengsek!" Nugara menendang keras meja kerjanya. "Sialan!" tendangan semakin keras, membuat mejanya terguling. "Argh!" Nugara menjambak rambutnya sendiri. Rasa takut menyelimuti, Nugara takut Naira kembali menghilang seperti sebelumnya. Kesempatan untuk mendekatkan diri lagi semakin sempit, bahkan dibilang tidak ada. *** Naira memindai isi rumah kontrakannya. "Ini sih kontrakan yang udah ada isinya, Nai. Emang sempit, tapi lingkungan di sini beneran aman, deh." Naira menoleh ke arah Ari, tersenyum tipis. "Makasih ya, Ri, udah mau direpotin." Ari mengangguk, menarik kursi plastik yang ada di sana. "Elo, nih, kayak sama siapa aja, Nai. Gue senang bisa bantu," Ari tersenyum. "Eh, iya. Di seberang sana itu kontrakan gue, elo tinggal hubungin kalau ada butuh apa-apa. Di Cibalagung emang masih perkampungan, sih. Tapi juga udah ada indomart sama alfamart di sini. Toko-toko juga udah ada di sepanjang jalan pertigaan." Naira mengangguk. "Jadi, elo berangkat dari sini tiap hari?" Naira mendekati ranjang, duduk di tepi ranjang kecil. "500 ribu kebilang murah buat kontrakan yang udah ada isinya. Elo tau sendiri kalau di kota, kontrakan sejuta sebulan itu kosong banget, belum ada isinya." "Iya. Gue kadang berangkat dari sini. Kadang juga dari rumah orangtua. Tapi kalau buat ibu hamil, aman, kok. Bisa dibilang aman, karena lingkungan di sini nggak mau tau urusan orang lain. RT sama RW di sini juga pada baik, kok." Mala sudah menceritakan semuanya di telepon tadi malam, dan saat itu juga dirinya mencari tempat yang aman untuk Naira. Aman dalam segala hal tentu saja. Naira tersenyum. "Gue kok, jadi malu, ya, Ri?" Ari tertawa. "Lah, gue kira elo kagak tau malu." Naira hanya tersenyum, sedangkan dalam hatinya meringis. Ari berdiri, melirik jam tangannya. "Bentar lagi jam makan siang selesai, gue harus buru-buru pergi. Nggak apa-apa, kan?" Naira ikut berdiri, tersenyum. "Iya nggak apa-apa, kok." "Inget, kalau ada apa-apa kasih tau gue. Telepon." Naira mengangguk. "Siap!" "Udah, elo istirahat aja. Biar gue berangkat dulu." Naira kembali duduk, tanpa sadar air matanya berlinang setelah pintu ditutup. Naira menghirup udara sebanyak-banyaknya, mengurangi rasa sesak dalam dadanya. "Nai kangen sama Papa," bisik Naira lirih. "Nai beneran kangen sama Papa ... Nai takut nggak kuat menghadapi semua sendirian." Naira bergeser, berbaring di ranjang kecil tersebut, meringkuk seperti anak kecil. "Nai sendirian, Pa. Nai takut ..." Mata Naira perlahan terpejam, berharap rasa sesaknya memudar perlahan. *** Malam menjelang, Naira mengerang panjang memindai seisi kamar yang masih gelap. Naira segera bangun, turun dari ranjang, menyalakan lampu kamar. Lalu keluar, menyalakan lampu ruang tengah dan juga dapur. Senyum Naira mengembang, tangannya bergerak mengusap permukaan perutnya yang mulai membuncit. Sebuah getaran dirasakan di dalam perutnya. Naira lupa belum memeriksakan diri, mungkin besok atau lusa, ia akan meminta Mala untuk mengantarnya ke dokter spesialis kandungam. Ketukan pintu terdengar, Naira melangkah pelan. Mengintip dari balik jendela, melihat siapa yang berdiri. Naira segera membuka pintu, Mala berdiri, mengangkat tinggi barang bawaannya. "Gue pikir elo udah tidur." Mala masuk ke dalam, disusul Naira setelah menutup pintu rapat. "Tadi, Ari bilang aman. Gue belum mastiin sendiri, jadi kurang tenang. Dan sekarang, gue udah mastiin kalau lo emang di sini bagus." "Apa itu?" Naira melirik plastik yang masih dipegang Mala. Mala tertawa pelan. "Ini martabak telor, beli ini tadi pas mau ke sini. Dimakan, deh. Bayi lo juga butuh asupan." Naira bergerak cepat ke dapur, membawa wadah untuk bawaan Mala. Sedangkan Mala meringis, dengan cepat menyeka air mata yang sebentar lagi akan menetes. Seharusnya, penderitaan jamgan bertubi-tubi menghantam Naira. Seandainya bisa, Mala ingin mengambil setengah penderitaan dan kesedihan Naira. Karena Mala tau, setiap senyum yang terbit hanyalah senyum hiasan. Tawa yang menggelegar hanyalah sebuah suara yang menutupi kesedihan Naira. "Ini," Naira duduk lesehan di karpet plastik. "Gue kira, elo datang ke sini mau besok." Mala ikut duduk, mengeluarkan isi dari plastik. "Kan gue udah bilang tadi kenapa gue datang ke sini malam-malam." Naira menyuapkan potongan martabak ke mulut kecilnya. "Gue lihat ada dokter kandungan di Jalan Aria wiratanudatar, elo bisa nggak anter gue besok sore?" Mala berhenti mengunyah, diam beberapa detik, sebelum akhirnya mengangguk. "Boleh. Memang harusnya berapa minggu sekarang? Udah kelihatan buncit, ya?" Naira mengangguk. "Kalau hitungan gue, tiga bulan ada. Atau mungkin lebih. Karena waktu Papa koma, itu bisa 3 mingguan. Gue lupa periksa." "Ya udah, ayo. Tapi kalau gue ada acara, lo bisa minta antar Ari. Dia juga pasti mau kok anter lo berobat." Naira diam beberapa saat, sebelum akhirnya mengembuskan napas berat. "Nggak enak, Mal, repotin Ari terus." Mala mencebik. "Leh, elo nggak enak repotin Ari, tapi kok, enak-enak aja repotin gue?" Naira tertawa, menepuk bahu Mala dari depan. "Iya gue enak-enak aja karena emang elo-nya mau gue repotin," jawab Naira menyengir lebar. Mala menoyor kepala Naira pelan, menggeleng tak habis pikir. Ada baiknya ia menceritakan tentang Nugara yang mencarinya nanti setelah kondisi Naira sedikit stabil dan juga kuat. Mala tidak mau sampai Naira kembali tertekan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD