Naira memejamkan mata, mengabaikan kehadiran Nugara di kamarnya. Dalam hati Naira mencari cara agar bisa terlepas dari Nugara. Mala berjanji akan membantu kabur dari Nugara. Naira merasa tidak ada baiknya menuruti ucapan
Nugara.
"Kamu nggak tidur, aku tau itu." Nugara berdiri, bersilang kaki, sedangkan tangannya melipat di d**a. "Ada yang harus aku jelasin sama kamu. Bersangkutan Mama dan Papa kamu, Nai."
Naira masih bertahan memejamkan matanya.
"Kamu bukan anak kandung Papa Hutomo, melainkan anak kandung Papa Herman."
Seketika Naira membuka mata, menoleh, menatap Nugara tajam. "Kamu emang nggak waras, Gara. Tapi jangan tambah gila dengan kabar ini," kecam Naira menolak percaya.
Nugara tersenyum miring. "Aku tau semua."
Naira bangkit, mengerang sesaat karena pening melandanya. "Kamu pikir aku percaya?"
Nugara menggeleng. "Enggak. Aku tau kamu nggak akan percaya."
Naira menatap tajam Nugara. "Terus? Apa gunanya kamu memberitahu omong kosong itu?"
Nugara tersenyum tipis, berusaha mengikis jarak antara dirinya dengan Naira. "Kalau aku bilang, Papa kamu sempat sadar sebelum meninggal, apa kamu akan percaya?"
"Nggak! Nggak akan pernah percaya! Jangan pernah berharap!" Nugara semakin mengikis jarak antara mereka, membuat Naira mundur beberapa langkah hingga kaki belakangnya terhenti di tepi ranjang.
Tiba-tiba gawai Nugara berdering, Nugara mundur beberapa langkah, merogoh saku kemejanya menjawab telepon.
"Apa?! Kecelakaan? Bagaimana bisa?" hening beberapa detik. "Oke, saya ke Jakarta sekarang." sambungan telepon dimatikan. Nugara melirik Naira yang bergeming menatap ke arahnya. "Istriku kecelakaan, aku harus ke Jakarta, besok atau lusa aku ke Cianjur lagi."
Naira tersenyum mengejek. "Terserah. Bagus-bagus jangan datang lagi."
Nugara menghela napas lelah. "Begini, Nai. Bayi yang kamu kandung itu darah dagingku, kebetulan aku sama istriku belum dikaruniai seorang anak. Kalau memang kemungkinan untuk bisa memiliki nggak ada, setidaknya nanti biarkan istriku mengurus bayi itu nanti."
Tiba-tiba d**a Naira berdesir perih membayangkan setelah melahirkan, anaknya akan diambil begitu saja.
"Kamu tau, Gara? Kamu menjebak aku secara nggak sengaja. Mengikat aku sama bayangan kamu," tunjuk Naira pada kandungannya. "Satu lagi, daripada bayi ini diambil sama kamu, lebih baik aku aborsi. Karena nggak ada ibu yang rela anaknya diurus wanita lain."
Nugara terdiam, menatap Naira dengan tatapan yang sulit diartikan. Nugara menyelipkan sebuah senyuman penuh makna, berlalu dari kamar Naira tanpa sepatah kata pun. Naira duduk lemas di tepi tempat tidur, mengusap wajahnya kasar. Naira menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya. Tuhan Maha Adil, bukan? Lalu, dimana keadilan
Tuhan saat dirinya membutuhkan?
Suara pintu ditutup lainnya terdengar, Naira menyeka air matanya, meraih gawainya menghubungi Mala. Tidak lama kemudian, nada sambung terputus. Naira melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 11 malam. Tak kunjung menyerah, Naira terus menghubungi Mala, sampai akhirnya telepon yang entah ke berapa kalinya dijawab.
"Mal, bisa tolong jemput gue di kontrakan? Gue beneran harus pergi sekarang," cicit Naira.
Di seberang sana, Mala tengah mengerjapkan mata, menahan pening akibat mendadak bangun. "Harus jam segini banget? Nggak baik buat kesehatan janin lo, Nai."
Naira menggeleng, menunggu besok tidak mungkin. Lebih cepat lebih baik. "Harus malam ini, Mal. Gue nginep dulu deh di kosan lo. Istri Nugara kecelakaan. Ada celah buat gue pergi."
Mala bergumam. "Ya udah. Lo siap-siap. Dua puluh menitan lagi gue sampai. Soalnya, gue mau cuci muka sama gosok gigi dulu biar segeran. Siapin barang yang emang harus lo bawa, Nai."
Naira tersenyum lega. "Oke. Cepetan, ya?"
"Iya bawel!"
Menutup sambungan telepon, Naira segera berdiri, membuka lemari, menyiapkan pakaian yang akan ia bawa dan beberapa keperluan lainnya. Naira mendesah panjang, seandainya ia bisa memutar waktu beberapa bulan ke belakang, ia akan mengurungkan niatnya menjual diri. Mungkin sampai detik ini papa-nya masih bersamanya dan ia tidak akan pernah bertemu dengan Nugara. Hampir satu minggu selepas kepergian papa-nya, Nugara selalu ada di rumahnya. Dan
Naira tidak suka itu.
***
"Gue harus pindah dari kontrakan itu, apa gue pindah ngekos di sini aja, ya?" Naira memakan mie indomie ayam bawang yang dimasakan Mala untuknya.
Mala mengangkat bahu tak tahu, kemudian berbaring di karpet bulu bergambar kartun legend, hello kity. "Jangan! Kalau lo di sini, Heru bakal tau keberadaan lo. Salah gue sih, pakai nawarin elo ke si Heru. Eh taunya yang nyanggut laki nggak waras. Kasian banget sih lo."
Naira tersenyum tipis. "Udah takdirnya kali."
Mata Mala memicing. "Elo udah berubah pikiran, kan, buat aborsi?"
Naira mengembuskan napas berat, menjauhkan mangkuk mie-nya. "Gue dijebak Nugara, Mal. Dia sengaja hamilin gue, dan dia bilang yang nggak-nggak tentang asal-usul gue. Gila kan, ya?"
"Elo rapuh banget kalau berurusan tentang bokap lo sama si Jurig Nugara itu."
Naira tersenyum getir, kemudian berdiri, melangkah menuju kasur, lalu membaringkan badannya lelah. "Gue juga nggak ngerti. Mereka berkaitan erat sampai membuat gue amat emosional."
Mala mengangguk-anggukkan kepalanya paham. "Si Juriga baik nggak, sih? Dari gelagatanya dia kek bukan orang jahat, Nai."
Naira mengangkat bahu tak tahu, perlahan mulai memejamkan mata. "Gue nggak tau. Banyak yang berubah selama 10 tahun ini, nggak ada yang tetap." hening beberapa saat. "Besok tolong datengin Ibu kontrakan, ya? Ambil sisa uang kontrakan, lumayan bisa buat panjer kontrakan yang lebih kecil. Satu kamar juga cukup kalau sekarang."
"Mau pindah ke mana, Nai?"
Naira membuka mata, menatap langit-langit kamar Mala. "Ke mana aja, asal Nugara nggak hadir dalam hidup gue lagi."
"Kalau itu gue setuju." Mala menopangkan kepalanya di atasa tangannya, menatap Naira. "Sori, ya? Semua gara-gara gue. Kalau tau ribet begini, mending gue tawarin ke om-om deh. Nggak akan berbuntut panjang."
"Gue juga mau berhenti dari gudang, Mal. Kerja serabutan juga cukup buat biayain hidup gue. Untuk bekal sampai melahirkan ada, mungkin setelah melahirkan baru fokus cari kerja."
Mala tersenyum miris. "Gue ngerasa kek perusak hidup orang tau nggak, Nai?"
Naira menggeleng, masih menatap lurus ke atas. "Bukan salah lo, tapi salah gue yang kalap. Udahlah, nggak usah dibahas. Sekarang, yang perlu dipikirin itu, gimana caranya supaya bisa dapat kontrakan terjangkau, tapi ya nggak terlalu jauh juga dari kota-nya."
Mala berdecak. "Gampang kalau itu mah."
Naira memejamkan mata lagi. "Ya udah, gue tidur." akhir-akhir ini, Naira jarang sekali tidur, hanya keresahan dan kesedihan yang membelenggunya. Sekarang, Naira bertekad akan lebih semangat membuka kisah baru. Bersama anaknya.