"Papa bangun, Pa!" Naira mengguncang tubuh papa-nya yang sudah tak bernapas lagi. "Papa bangun! Papa tega ninggalin Nai sendirian? Papa tega lihat Nai hilang arah? Pa, bangun, Pa!" tak kunjung mendapat respon, Naira menjatuhkan tubuhnya di atas tubuh papa-nya. Tangis Naira pecah sekencang-kencangnya. Hilang sudah tujuan hidupnya. Punggung Naira bergetar hebat, menangis hingga tersedu.
Nugara yang berdiri di ambang pintu masuk hanya bisa menatap tanpa bisa menyentuh. Ia ingin sekali mendekap Naira, menenangkan tubuh rapuh itu.
"Kami sudah nenghubungi pihak ruang jenazah, mereka akan datang sepuluh menit lagi." salah seorang perawat memberitahu Nugara, dan Nugara hanya bisa menganggukkan kepalanya. Meski berat, Nugara melangkah ke dekat Naira. Kedua tangannya mencengkeram pangkal lengan Naira. Seketika Naira berjengit, mengempaskan tangan Nugara.
Naira berdiri tegak, menatap nyalang pada Nugara. "Pergi kamu dari sini! Pergi!"
Tim medis mulai menyingkir dari ruangan, membiarkan mereka berduka dalam amarah.
"Papa kamu udah nggak ada, Nai."
Air mata Naira masih berlinang, dadanya berdenyut ngilu kehilangan papa-nya. "Aku tau, dan kamu nggak usah pura-pura
peduli. Pergi dari sini."
"Saya nggak akan pernah pergi dari sini."
"Aku nggak butuh kamu!" desis Naira menatap tajam Nugara.
Nugara menggeleng, tidak lama kemudian datang blankar khusus jenazah. Naira menggeleng, mendekat kembali pada jenazah papa-nya. Memeluk jenazah papa-nya erat. "Kalian nggak boleh bawa Papa! Papa belum meninggal, Papa nggak akan pernah meninggalkan aku."
Petugas ruang jenazah melirik Nugara yang bergeming.
"Papa bangun, yuk? Papa kan sayang sama Nai, Papa udah janji nggak akan ninggalin, Nai. Papa bangun, Pa. Papa bangun," lirih Naira pilu, berharap papa-nya kembali membuka mata dan mengatakan tidak akan pergi kemana-mana.
Nugara menyeka air matanya, mendekat pada Naira kemudian memeluk Naira dari belakang. Naira berontak, tetapi tenaga lebih kuat Nugara.
"Lepas! Lepasin!"
"Silakan, Pak." Nugara menarik Naira keluar dari ruangan, memberi ruang untuk petugas agar lebih leluasa membenahi jenazah.
"PAPA! LEPAS! PAPA!" teriak Naira histeris.
Nugara semakin mengeratkan pelukannya, menghidu aroma tubuh Naira. Ia menggigit bahu Naira menyalurkan rasa sakit yang sama ia rasakan.
"Papa jangan pergi! Naira sama siapa!" suara Naira semakin memelan, sarat akan kesedihan yang mendalam. "Naira sama siapa, Pa."
"Ada saya, Nai. Kamu nggak sendirian," bisik Nugara tepat dekat telinga Naira. "Saya akan selalu ada buat kamu."
Naira menggeleng, lututnya terasa lemas. Tubuh Naira luruh, menyandarkan punggungnya lelah di d**a bidang Nugara.
"Papa." tatapan Naira kosong, menatap lurus pada kaca yang tembus pandang ke dalam ruangan. Melihat bagaimana papa-nya ditutup kain jenazah. Naira memejamkan matanya, tubuhnya kembali bergetar. Rasa pedih semakin ia rasakan, membayangkan tiada lagi papa-nya. "Nai nyesel, Pa. Nai janji bakal turutin apa yang Papa minta," cicit Naira sebelum akhirnya tak sadarkan diri dalam dekapan Nugara.
Kehidupan dunia cukup membuatnya lelah, berharap matanya tak lagi terbuka.
***
Nugara yang mengambil alih tanggung-jawab yang harusnya dilakukan oleh Naira. Sudah satu jam Naira belum kunjung sadarkan diri. Dokter mengatakan, bahwa Naira mengalami tekanan dan menyebabkan depresi. Untung saja rahim Naira kuat, hingga tak terjadi pendarahan.
Jenazah sudah diurus di rumah duka, sedangkan Naira ada di kamarnya ditemani oleh sahabatnya. Nugara tahu, semua sebab penderitaan Naira adalah papa Herman. Nugara kecewa, tetapi ia tak bisa mengulang waktu ke masa lalu.
Hari semakin sore, tinggal proses pemakaman dan Naira masih tak sadarkan diri. Nugara meminta satu perawat menjaga Naira, memberikan vitamin dan juga infus agar sedikit tenang.
Di pemakaman, Nugara menatap liang lahat yang akan di isi oleh Papa Naira. Nugara tersenyum getir, menyeka air matanya. Nugara menarik napas dalam-dalam berusaha menegarkan diri. Jenazah sudah dimasukkan ke liang lahat, papan sudah dipasang, dan perlahan liang itu tertimbun tanah.
Selamat jalan, Om. Saya berjanji akan menjaga Naira, dan meluluhkan hati Naira bagaimana pun caranya. Tenang di sana, Om.
***
"Papa, Mal." Naira memeluk Mala erat, kembali menangis. "Papa ninggalin aku, setelah tau aku hamil," cicit Naira sarat akan kesakitan. "Papa ..."
Mala menahan napas, mengusap lembut punggung sahabatnya menenangkan. "Papa udah tenang di sana, Nai. Lo yang tabah, ya?"
Naira menggeleng, mencengkeram kuat samping tubuh Mala. "Aku sama siapa?"
"Ada gue, ada bayi lo. Kita sama-sama, ya?"
Tangis Naira semakin kencang, masih merasa mimpi kehilangan papa-nya. Naira berkali-kali memejamkan mata, berharap papa-nya ada di kursi roda sembari tersenyum, kemudian mengatakan bahwa apa yang menimpa dirinya hanya mimpi buruk semata. Namun semua hanya harapan, nyatanya ia mendapati semua hanya tinggal jejak kenangan papa-nya.
Nugara berdiri di ambang pintu, melihat Naira yang sangat terpukul. Mala menatap tajam Nugara, dan Nugara hanya membalasnya dengan tatapan datar.
"Semua yang pergi, nggak akan bisa kembali walau kamu menangis darah."
Naira bergeming mendengar suara Nugara.
"Justru yang pergi akan merasa sakit melihat orang yang disayanginya bersikap menyedihkan seperti sekarang ini."
Naira menjauhkan diri dari Mala, menatap tajam Nugara. Matanya yang sembab berusaha menatap tajam Nugara, dengan amarah yang memuncak, Naira turun dari ranjang menghampiri Nugara.
"Kamu tau? Setelah aku bertemu sama kamu, kesulitan yang aku alami semakin banyak! Aku mengandung dan Papa meninggal! Mau kamu apa? Masih belum puas Papa kamu dulu ngancurin hidupku?" bentak Naira di hadapan wajah Nugara.
"Semua bukan kesialan, tapi kepastian. Kamu nggak bisa menyalahkan saya atas semua yang menimpa kamu."
Naira berdecih sinis. "Kenapa aku nggak bisa menyalahkan kamu? Kamu sengaja buat aku hamil, kan? Dan karena berita kehamilan ini, Papa meninggal. Semua berkaitan!"
"Naira!" Nugara mencengkeram pangkal lengan Naira kuat-kuat. "Aku bahkan nggak tau atas apa yang udah Papa lakukan dulu, dan nggak seharusnya kamu melibatkan aku dalam kemarahan kamu!"
Naira menatap berani Nugara. "Memang iya, kan? Semua karena kerakusan kalian!"
"Naira!"
"Pergi kamu dari sini! Aku nggak mau kesialan lain menimpaku! Aku nggak mau istri kamu datang dan mengataiku sebagai perebut suami orang. Pergi!"
Cengkeram Nugara mengendur, perlahan mundur beberapa langkah. "Aku nggak akan pergi saat kondisi kamu masih belum stabil kayak gini."
"Berjuta-juta perhatian yang kamu curahkan, nggak akan membuatku luluh. Apalagi menerima kamu kembali dalam hidupku!"