Ada apa ini? Mengapa badannya mendadak terasa lemas? Kantuk sering menderanya akhir-akhir ini. Naira mengerjapkan matanya, menggeleng pelan menghalau serangan kantuk.
"Nai, barang datang!" satu lembar kertas hinggap di atas meja kerjanya. Naira segera mengambil kertas tersebut, memeriksanya, lalu memindahkan data pada komputer. "Bagian order barang nggak masuk, bisa minta tolong buat catat orderan?" Ari duduk di sampingnya dengan keringat yang mengucur. Ari salah satu karyawan bagian pengecekan barang yang datang langsung dari tempat produksi. Termasuk temannya, tapi tidak terlalu dekat.
"Boleh, nanti gue pindahin ini dulu. Baru masuk ruang order."
Ari tersenyum mengangkat ibu jarinya tanda setuju. "Ini minum siapa? Boleh minta kagak?"
Naira tersenyum kemudian mengangguk. "Boleh, itu punya gue ngambil dari dapur."
Tanpa basa-basi Ari menegak air tersebut hingga tandas. Naira menggeleng melihat gerak Ari yang menurutnya terlalu
berlebihan.
Kening Ari mengerut, memperhatikan wajah Naira lekat. "Wajah lo kelihatan pucet banget. Lo sakit, Nai?"
Naira refleks memegangi wajahnya, menatap Ari tak percaya. "Pucet gimana maksudnya? Nggak pakai make-up kali, jadinya kelihatan pucet."
Kening Ari mengerut. "Bukannya lo nggak suka pakai make-up? Nggak mungkin kalau sekarang mendadak gara-gara nggak pakai make-up. Beneran wajah lo pucet banget. Lo sakit kali."
Naira menggeleng. "Gue sehat, kok. Nggak pusing sama sekali. Itu penglihatan lo aja kali yang lagi nggak bagus."
Ari berdecak, kemudian bangkit dari duduknya. "Kalau lo nggak percaya," Ari melirik Mala yang sedang berjalan menuju ruangan administrasi. "Pinjem kaca si Mala, noh. Atau minta pendapat si Mala deh."
Mala yang baru saja datang mengerutkan keningnya karena namanya dibawa-bawa. "Ada apa nih? Nama gue ditarik dalam prahara rumah tangga kalian?" tegur Mala dramatis.
Ari mengerenyit, sedangkan Naira mengedikkan kepalanya ke arah Ari. "Nggak tau tuh si Ari, bilang muka gue pucet segala. Padahal baik-baik aja, cuma lagi nggak pakai make-up doang. Heboh," lapor Naira mendelik sengit ke arah Ari.
Mala yang menggaruk kepalanya yang mendadak gatal. Ia meneliti wajah Naira yang memang terlihat sangat pucat. Kulitnya yang kuning salah terlihat putih dan bibirnya yang merah terlihat pasi. Naira sakit?
"Emang bener kata Ari, Nai. Muka lo pucet banget. Sakit, ya?"
Naira refleks berdiri, ia menjulurkan tangan meminta kaca kecil yang selalu dibawa Mala. Naira menelisik wajahnya, tubuhnya mendadak menegang. "Kok pucet banget, sih?"
Ari yang masih berdiri di sana tersenyum penuh kemenangan. "Gue bilang juga apa, Non. Wajah elo itu pucet, dibilang nggak percaya."
Naira melempar tatapannya pada Mala, kerongkongannya mendadak kering. Jantungnya seperti berhenti berdetak. Mala yang menyadari tatapan Naira segera menarik Ari, menyeretnya untuk keluar dari ruang admin.
"Naira sakit emang, Mal?"
Mala menggigit dalam bibirnya bingung. "Iya, Naira kayaknya sakit. Biar gue tanya dulu. Siapa tau lagi jadwal datang bulan dia, kadang Nai suka sakit parah kalau lagi datang bulan. Jadi, gue seret elo keluar takutnya Naira risih ada cowoknya."
"Tapi, Mal,"
"Okay, bye!"
Mala kembali masuk ke ruang admin, melangkah lebar mendekat pada Naira yang terduduk lemas di kursi kerja. "Nai, elo lagi datang bulan, kan?"
Naira mengangkat wajahnya, meringis tertahan menyerahkan gawainya yang sudah membuka aplikasi jadwal menstruasinya. Rahang Mala terasa remuk melihat keterangan bahwa Naira sudah terlambat 2 minggu.
"Oke, baru dua minggu. Belum satu bulan. Aman, ini pasti aman."
Naira menutup wajahnya menggunakan telapak tangannya. Dadanya berdebar tidak karuan, antara takut dan juga penasaran. "Gimana kalau hamil, Mal?"
Mala meringis. "Enggak akan, gue yakin nggak akan hamil. Gue kelupaan ngasih lo pil pencegah kehamilan lagi. Gue pernah telat satu bulan, bukan hamil. Cuma penebalan hormon, percaya sama gue." Mala meminta Naira percaya sedangkan dirinya ragu kalau keterlambatan Naira efek hormon.
Naira menggeleng, perasaannya tidak keruan. Naira mengusap wajahnya kasar. "Kalau gue hamil, gimana? Lo tau tempat aborsi yang aman?"
Pupil mata Mala melebar. "Gila, lo! Minta tanggung-jawab lah sama Bapaknya kalau hamil. Udah dosa zina tambah gugurin. Fix, neraka jahannam waiting you."
Naira menggeleng, tersenyum miris. "Ya nggak mungkin juga kalau gue minta tanggung-jawab, orang dia udah punya istri."
Mala menepuk keningnya. "Mampus lo, Nai!"
Naira tertawa getir, menjambak rambutnya kasar. Kalau sampai benar-benar hamil, Naira tidak tahu jalan keluar mana yang harus ia ambil nanti.
***
Benda kecil itu terlempar sembarang, tangan Naira bergetar hebat melihat dua garis merah yang begitu jelas. Napasnya memburu, debar jantungnya menggila. Naira mengatur napas berusaha menahan kepanikan yang melanda dirinya. Buru-buru Naira mengambil benda kecil itu, ia melipatnya sekecil mungkin, kemudian keluar dari kamar mandi.
"Kenapa, Nai?"
Naira terperenjat, tergesa berbalik menghadap papa-nya. "Papa belum tidur, tumben?" Naira memasang senyum simpul, mendekat ke arah papa-nya. "Papa lapar?"
Hutomo menggeleng, menggerakkan kursi roda-nya sendiri menuju meja makan. "Papa kok ngerasa akhir-akhir ini kamu banyak berubah, Nai?"
Jemari Naira saling meremas, memaksakan bibirnya untuk tetap tersenyum. "Itu perasaan Papa aja kali." Naira duduk di kursi. "Papa lapar? Mau Naira masakin sesuatu? Atau Nai seduhin s**u diabet aja gimana?"
Pola makan papa-nya memang berubah total, hanya makan buah di pagi hari dengan s**u diabetes. Siang baru makan nasi merah dengan s**u diabetes juga, dan saat sore hanya makan kentang yang sudah dikukus seperti intruksi dari ahli gizi rumah sakit.
Hutomo menggeleng, tersenyum menatap sedih putri-nya. "Papa yakin ada yang kamu sembunyikan dari Papa." Hutomo menatap lekat putrinya. "Iya, kan, Nai?"
Naira menahan napas, terpaksa ia menggeleng sembari tersenyum meyakinkan. "Enggak, Pa." Naira mengusap punggung tangan papa-nya. "Itu cuma perasaan Papa aja, Papa kan tau kalau Nai ada masalah, pasti cerita ke Papa."
Hutomo meringis, belum percaya dengan jawaban puteri-nya. "Kalau Papa bertanya, apa kamu mau menjawab dengan jujur?"
Naira diam, netra cokelat terangnya bergerak gelisah.
"Dapat uang dari mana buat bayar kontrakan? Kenapa Papa ngelihat wajah kamu nggak ada auranya setelah pulang dari rumah sakit bulan lalu?"
Tubuh Naira menegang, tanpa sadar ia menggeleng samar.
"Kamu nggak bisa jawab?"
Hutomo tahu bagaimana tingkah puteri-nya saat berbohong. Persis seperti sekarang, terlihat gelisah dan tidak bisa tenang. Padahal dari raut wajahnya berusaha terlihat tenang. "Nai udah jawab pinjam dari Mala, Pa."
Hutomo mendesah kemudian tersenyum kecewa. "Papa kecewa kamu berbohong sama Papa, Nai. Kerjaan Papa memang nyusahin kamu, jadi Papa nggak pantas tau dari mana kamu mendapatkan uang. Papa harusnya sadar, bukan malah menuntut kamu untuk menjawab pertanyaan Papa."
Hati Naira mendadak terasa ngilu melihat gurat sedih dari wajah papa-nya. Naira menghela napas panjang, berusaha mengukir sebuah senyuman sempurna. "Nai nggak pernah berpikir seperti itu, Pa." Naira bergeser, bersimpuh di depan papa-nya. "Papa bisa bantu, Nai?" Naira meraih jemari papa-nya. "Nai minta tolong, Papa jangan banyak pikiran. Kasihan
tubuh Papa, sama kasihan juga Nai."
Hutomo menahan laju air matanya, mengelus puncak kepala putri-nya dengan tangannya yang bebas dari genggaman. "Papa nggak tau apa yang terjadi sama kamu, tapi Papa bisa melihat ada beban besar yang mengganjal di hati kamu."
Naira menggigit bibir bawahnya, berusaha untuk tidak menangis. Ia mengecup punggung tangan papa-nya berkali-kali, lalu ditempelkan ke pipinya. "Papa yang paling tau tentang, Nai. Nai nggak pernah bisa berbohong dari Papa." Naira memejamkan matanya, air mata lolos begitu saja. Sekali ini saja Nai membohongi, Papa. Maafkan Nai, Pa.
**
"Positif, Mal." Naira mengembuskan napas berat, berbicara melalui headset yang menempel di telinganya. "Gue belum tau, lebih tepatnya gue nggak tau apa yang mau gue lakuin." Naira berguling gelisah di atas ranjang. "Lo tau tempat aborsi yang aman? Maksudnya yang steril sama yang ada medisnya."
Lagi, Naira mendesah menggerakkan kaki-nya gelisah. "Enggak, Mal. Gara udah ngasih duit buat aborsi kalau memang gue hamil. Lebihnya lumayan banyak buat aborsi. Lima juta cukup?"
Naira meringis mendengar teriakan dari seberang teleponnya. "Ya habis?" Naira bangkit dari berbaringnya. "Mal, ini Cianjur, kota kecil yang omongannya lebih kejam dari Ibu Kota. Kalau sampai gue hamil tanpa suami, dan anak gue lahir tanpa Ayah. Apa kata mereka nanti, Mal? Di sini nggak bisa bebas. Gue nggak mau ambil resiko."
"Eh kampret! Emang elo ena-ena nggak dipikir resikonya? Elo ngejual keperawanan sama ngebiarin patner elo nggak pakai pengaman juga udah beresiko banget. Udah kepalang ini, tanggung aja sekalian semua. Gue gigit juga nih pipi lo saking gemesnya."
Naira tersenyum miris, menyandarkan punggungnya pada sandaran ranjang. "Nggak tau deh, Mal. Lebih kasihan kalau sampai janin ini lahir jadi anak. Dunia kejam, Mal. Gue nggak mau memberikan kekejaman tanpa pelindung yang berwujud sebagai Ayah."
Terdengar helaan napas dari sebrang.
"Sumpah, gue nyesel banget menuhin keinginan elo buat jual diri. Dosa gue berkali-kali lipat tau, nggak? Dosa jadi perantara, dosa jadi saksi, sekarang ditambah lagi dosa jadi pembunuh kalau sampai gue nganter elo ke tempat aborsi."
Naira tersenyum hampa mendengar gerutuan sahabat-nya. "Biar nanti gue tanggung sapruh deh dosa-dosa elo nanti," gurau Naira mencairkan suasan.
"Bukan gitu, Nai. Janin dalam kandungan elo nggak bersalah, dia pantas hidup."
Air mata Naira tumpah begitu saja, hatinya mendadak nyeri. Jemarinya bergerak perlahan mengusap perutnya yang masih rata. "Dia nggak diinginkan, Mal."
"Kalau emang dia nggak diinginkan sama Bapak-nya, jadilah yang diinginkan sama Emak-nya. Gue tau tempat buat aborsi, tapi gue nggak sanggup nanggung dosa sebesar itu. Ya walau baru berbentuk gumpalan, tapi dia juga akan terus berkembang, Nai. Saran gue, mending elo pikirin baik-baik dulu sebelum elo nyesel buat yang kedua kali-nya."
Naira mengusap kasar pipinya. "Gue bingung, Mal," cicit Naira. Dilema yang menderanya membuat sesuatu tak kasat mata berbisik untuk mengambil jalan tengah. "Apa lebih baik gue bunuh diri aja? Gue capek," lirih Naira putus asa.
"Jangan gila, woy! Dosa lo aja belum ditobatin, dan sekarang lo mau bunuh diri? Bagus! Bukan neraka jahannam yang nunggu elo, bahkan langit dan bumi aja nggak mau nerima elo kalau sampai bunuh diri!"
Tangis Naira pecah, jalan pintas yang ia ambil berbuntut panjang, menghantui masa depan-nya sekarang. Masa depan? Bahkan Naira tidak punya masa depan. Ia semangat bertahan hidup hanya demi papa-nya. Lalu, bagaimana jadinya kalau dirinya sampai mengakhiri hidup? Bagaimana dengan papa-nya nanti?