Enam

1580 Words
Hutomo menangis dalam diam, memukuli dadanya yang terasa sesak setelah mendengar pembicaraan puterinya. Positif? Aborsi? Bunuh diri? Kata itu seolah terulang kembali dalam ingatannya, persis ketika ibu Naira mengatakan kalimat tersebut. "Aku nggak mungkin hidup dengan keadaan memalukan seperti ini, Tom. Kamu tau kan tempat aborsi terbagus?" 29 tahun lalu, wanita itu menangis di hadapannya dengan wajah pucat pasi ketakutan melindungi perutnya. Hutomo menyandarkan punggungnya pada sandaran ranjang. Ia memejamkan matanya yang terasa lelah dan juga terasa berat. Bagaimana bisa sejarah terulang kembali? Satu tetes air bening terlihat dari sudut matanya. Hutomi menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya. "Aku akan bertanggung-jawab, Ira. Percaya sama aku." Netra cokelat terang itu menatap terkejut, kemudian kepalanya menggeleng tak terima. "Nggak! Ini bukan anak kamu, ini jelas anak Herman. Kamu nggak perlu tanggung-jawab." Sebuah hubungan yang melibatkan banyak orang. Sebuah cinta segitiga yang banyak menguras emosi dan air mata. Hutomo, Ira, dan Herman. Persaingan ketat yang akhirnya mengorbankan sahabat wanita satu-satunya. Ira meninggal sesudah melahirkan Naira, Hati Hutomo bergetar saat melihat mata kecil mengerjap seolah menatap padanya. Dan sekarang, dirinyalah penyebab bayi mungil itu menderita. Dirinya pula yang mencambuk puteri mungil itu dengan kerasanya kehidupan. Dari satu tetes disusul tetesan yang lain. Tangis Hutomo semakin deras mengingat bagaimana dengan angkuhnya ia berkata akan menjaga dan membesarkan bayi mungil itu dengan baik. Tetapi nyatanya? Ia malah menyeret bayi mungil itu dalam pusara yang bernama derita sampai kehidupannya nyaris remuk hanya karena dirinya yang disebut papa. Hutomo merasa sesak semakin membuatnya kesulitan bernapas, Hutomo membuka matanya. Ia malu pada diri sendiri dan juga pada Ira karena sudah gagal menjaga Naira dengan baik. Pintu kamar dibuka, Naira masuk ke dalam seketika melepas gelas yang ada di genggamannya. Naira melangkah lebar mendekati papa-nya yang kelihatan sulit bernapas. "Papa kenapa? Sesak napas?" cecar Naira memegangi tangan papa-nya. Hutomo menggeleng, tersenyum sendu. "Maafin Papa, Nai." Hutomo berucap terbata. "Papa banyak nyusahin kamu." Naira menggeleng, mengecupi punggung tangan papa-nya. "Enggak, Papa nggak nyusahin sama sekali. Papa kenapa? Papa ada pikiran? Papa mikirin apa?" Tangis hutomo pecah, mengabaikan sesaknya, Hutomo menarik Naira masuk dalam dekapannya. Jemari Hutomo mencengkeram kuat kaos longgar belakang Naira. "Papa dengar semuanya, Nai. Papa dengar." Seketika tubuh Naira menegang. "Pa ..." "Semua karena Papa, kamu nggak akan melakukan itu kalau bukan demi Papa. Kenapa Tuhan nggak cabut nyawa Papa aja daripada harus menyusahkan kamu kayak gini, Nai." Naira melerai dekapan. "Papa nggak boleh bicara gitu," Naira mengusap air mata papa-nya. "Kalau Papa pergi, Nai sama siapa? Nai nggak punya siapa-siapa lagi selain Papa. Papa jangan ninggalin, Nai." Naira menangis, merasa berdosa karena menjadi penyebab sakit papa-nya. "Bukannya kamu juga mau ninggalin Papa? Kalau kamu pergi, Papa sama siapa? Nggak ada gunanya Papa hidup." "Papa!" Naira memeluk papa-nya kuat. "Nai nggak akan ngelakuin itu. Nai sayang sama Papa." Hutomo memejamkan matanya, mengusap surai hitan puteri-nya. "Jangan, Nai. Jangan lakuin itu, biarkan dia hidup," bisik Hutomo. Naira tak bisa lagi membendung tangisannya. Ia menangis sejadi-jadinya dalam dekapan papa-nya. Naira menangis hingga tersedu, melepas beban dan lelah yang bersarang dalam dirinya selama ini. "Maafin Nai udah ngecewain Papa. Maafin Nai udah ngambil jalan pintas. Nai beneran minta maaf, Pa." Hutomo membuka mata, menghunjami puncak kepala Naira dengan kecupan. Setelah itu sesak dalam d**a Hutomo menghilang, semua menjadi gelap. Hutomo tidak sadarkan diri. "PAPA!" ** Begitu papa-nya tidak sadarkan diri, Naira langsung berlari keluar rumah meminta pertolongan tetangga yang sudah biasa membantu mengangkat papa-nya saat tidak sadarkan diri. Naira menghubungi kontak sopir ambulance agar lebih cepat. Dan di sinilah dirinya sekarang. Naira menatap lekat papa-nya yang belum sadarkan diri. Rasa bersalah semakin menumpuk, Naira tidak tahu harus bagaimana menghadapi papa-nya setelah ini. Naira duduk di kursi tunggu yang disediakan di UGD, meraih jemari papa-nya yang dipasang infus. Mata Naira kembali memanas mengingat adegan dramatis tadi. Rencana ICU karena tingkat kesadaran papa-nya hanya 30℅ dari 100℅. Naira hanya bisa pasrah, berharap papa-nya segera membuka mata. "Sori, Nai. Tadi nunggu dulu gojek." Mala datang menggunakan kaos lengan panjang dengan celana tidur panjang. Mala buru-buru ke rumah sakit saat Naira menghubunginya. "Kok Papa bisa kayak gini? Telat makan apa gimana?" Naira menatap papa-nya. "Papa tau semuanya, Mal. Semua yang kita bicarain di telepon tadi." Mala mendesah kasar, mundur beberapa langkah. "Nggak jual diri," Mala memelankaj suaranya. "Nggak pengaman, nggak kehamilan. Sekarang ini lagi, lo ceroboh banget sih, Nai?" Wajah Naira terlihat muram. "Gue kira Papa udah tidur, Mal." Mala menggeleng tak habis pikir. "Terus, apa kata Papa?" "Papa minta buat jangan melakukan itu." "Itu apa? Anuan?" sungut Mala kesal. "Aborsi." Mala menghela napas panjang. "Lagian, elo. Gue udah ngasih tau, malah mau bunuh diri." "Gue harus cari rumah baru kalau begini caranya, Mal." Mala mengangguk setuju. "Besok kita mulai cari." Naira mengecupi punggung tangan papa-nya. "Nai nggak bakalan gugurin, Pa. Papa bangun, yuk? Dengerin penjelasan Nai lebih rinci lagi." Senyum yang terbit dari bibir ranum Naira hanya sebuah pelampiasan atas rasa yang bercampur-aduk dalam hatinya. *** Nugara bersedekap, tenggelam dalam lamunannya. Tanpa ia sadari mendesah gusar menatap gedung pencakar langit yang bisa ia lihat dari balkon. Tiba-tiba sebuah lengan memeluknya, hembusan napas terasa di punggung kokohnya. Nugara memejamkan matanya, mengembuskan napas berat. "Kayaknya kamu lagi mikirin hal berat." Suara halus itu membuat Nugara membuka matanya. Netra cokelat gelapnya menatap lurus ke depan. "Ada masalah apa, Sayang? Nggak mau cerita?" "Kapan kamu mau ngegugat cerai? Masih harus nunggu berapa lama lagi?" suara berat Nugara terdengar dingin. "Viyo, cukup sampai di sini, karena aku juga mesti berjuang." Tubuh Viyona menegang, meringis tertahan. "Tunggu sebentar lagi, Nu. Sampai pengawasan Papa berhenti." Viyona mendesah kasar, berpindah ke sisi Nugara, ikut menatap langit malam. "Sudah ketemu?" tanya Viyona yang diangguki oleh Nugara. Viyona menatap Nugara, tersenyum tipis. "Sejak kapan?" "Hampir dua bulan yang lalu," sahutnya singkat. "Apa masih yang dulu? Atau banyak yang berubah?" Viyona berbalik mengahadap Nugara, melipat tangan di d**a, kedua alisnya saling bertaut, sementara bibirnya mengulum senyum tipis setelah melihat ekspresi Nugara. "Masih kerasa kepala seperti dulu, tapi sekarang sedikit kuat, nggak serapuh dulu." Pernikahan sandiwara memang sengaja mereka lakukan untuk menuntaskan wasiat yang diminta oleh ayah Nugara. Nugara sangat bersahabat baik dengan Viyona, Viyona seperti tempat sampah baginya. Mendengar segala keluh-kesahnya dan segala perasaan rindu yang menggunung dalam dadanya. "Apa dia tetep cantik? Cantikan mana sama istri kamu ini?" tantang Viyona menaik-turunkan alisnya menggoda Nugara. Nugara terkekeh pelan. "Dia paling cantik, nggak bisa ada yang bisa saingin kecantikan dia." Viyona mencebik, sedetik kemudian tersenyum lebar. "Hem, kok aku ngerasa tersaingi, ya? Padahal aku istri kamu, merasa terselingkuhi ini," ucap Viyona dramatis. "Kayaknya dibuat film azab, bagus, ya? Suamiku mencintai sahabat masa lalunya, sedangkan istri cantiknya dicampakkan begitu saja. Keren nggak, sih?" Nugara memutar bola mata jengah, menoyor kepala Viyona keras. "Aku muak lihat drama kamu," celetuknya kemudian berlalu dari balkon. Viyona tersenyum miris, memegangi dadanya yang terasa sakit. Sebuah perasaan yang cukup rumit untuk dijabarkan, tapi lebih indah saat melihat Nugara seperti ini. Terlihat ada semangat hidup dari sebelumnya. Tidak masalah. Cinta tak harus memiliki. ** "Belum ada perkembangan yang signifikan, Pak Hutomo masih belum merespon dengan baik. Saya harap, Mbak bisa ikhlas kalau suatu saat Bapak Hutomo dipanggil yang Maha Kuasa." Naira tersenyum sedih, mengangguk paham. Matanya sudah memanas mendengar penjelasan dokter. "Makasih, dok." "Yang sabar ya, Mbak." Naira mengangguk patuh, menyingkir memberi jalan untuk dokter spesialis dalam yang menangani papa-nya. Hening mengisi, Naira mundur beberapa langkah, mengempaskan diri di kursi tunggu. Naira menarik napas dalam-dalam, menahan air mata yang mendesak ingin keluar. Mengapa Tuhan senang sekali menghukumnya seperti ini? Apa dulu dirinya terlalu nakal sampai Tuhan bertubi-tubi menyiksanya. Tubuh Naira bergetar hebat, merosot perlahan bersimpuh di lantai. Naira meringkuk, memeluk lututnya bergerak perlahan. Kehamilan, papa-nya, semuanya berhasil menekan dirinya sampai ke titik yang paling rendah. Ari berlari panik melihat tubuh Naira yang bergetar hebat, ia melepas jaketnya, menutupkannya pada punggung Naira. Ari ikut bersimpuh di lantai, memberanikan diri melingkarkan lengannya menyalurkan ketenangan pada Naira. "Sabar, Nai. Gue yakin Papa lo bakal cepet sadar." Naira menoleh ke sampingnya, tanpa mengatakan sepatah kata pun Naira melempar diri pada d**a bidang Ari. Naira menangis tersedu di sana, meluapkan semua kesakitan dan tekanan yang melanda dirinya. Ari terkesiap, refleks melingkarkan lengannya memeluk Naira. "Kenapa, Nai?" Bukannya menjawab, Naira malah merapatkan diri menangis di sana. Mala yang baru datang, terkejut melihat Naira ada di pelukan Ari. "Naira?!" Mala bersimpuh di dekat Naira. "Ri! Lo apain Naira sampai nangis gini?" Ari menggeleng dengan wajah yang sama cemasnya. "Gue niat mau nengokin Papa-nya, tapi pas sampai udah kayak gini aja." "Naira?" Naira merasa tubuhnya melayang, kepalanya terasa ringan, sedangkan matanya sangat berat untuk dibuka. Napas Naira tidak teratur, ia membutuhkan istirahat. Naira lelah. ** "Kayaknya emosi Naira nggak stabil deh. Dia kayak tertekan banget, elo tau penyebabnya?" Ari menoleh pada Mala yang menggenggam erat jemari Naira yang terbaring tak sadarkan diri. Mala dipukul rasa bersalah, ia menyesal sampai ke lubuk hati yang paling dalam. "Mal!" Mala mendongak, menatap Ari tajam. "Bisa jangan berisik nggak, sih? Kasihan Nai harus istirahat." "Nai sakit?" Mala berdecak. "Bisa diem nggak, sih? Kasihan Naira mesti istirahat total, mesti bedrest." Naira mengerang, memegangi kepalanya yang terasa amat berat. Mata sembab Naira mengerjap, menatap sekelilingnya. "Kenapa dibawa ke sini?" Naira lupa kejadian apa setelah dirinya dengan lancang menangisa dalam dekapan Ari. "Elo pingsan, Nai. Lo dalam keadaan depresi, kita bawa ke UGD dan dokter bilang lo mesti bedrest dua hari sampai tiga hari. Istirahat total pokoknya." "Papa?" "Nggak apa-apa, Nai. Biar gue jagain elo, ya?" Naira menghela napas panjang, ia memejamkan mata. Biar dirinya istirahat beberapa hari saja, nanti dirinya bergelut kembali dengan masalah setelah kondisi tubuhnya sedikit membaik.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD