"Naira dirawat di rumah sakit, Pak. Berdasarkan info dari Mala, Naira kelelahan sedang hamil pula." Heru menunduk hormat tak berani menatap atasannya.
Nugara berdeham, mengalihkan pandangannya dari laptop. "Hamil?" keningnya mengerut sesaat sebelum ekspresinya berubah menjadi datar. "Dia ada melakukan pekerjaan itu lagi setelah dengan saya?"
Heru mengangkat kepala, menggeleng pelan. "Berdasarkan info dari Mala, Naira hanya melakukan itu pertama dan terakhir kalinya dengan Bapak."
Tidak lama kemudian pintu ruangan terbuka, Viyona tersenyum manis pada Nugara. "Melalukan apa? Dan siapa yang sedang dibicarakan?"
Nugara melirik Heru, memberi kode agar Heru keluar dari ruangannya. Heru mengangguk kemudian berpamitan sebelum akhirnya keluar. Viyona menyembunyikan senyum getirnya, ia memutari meja sebelum akhirnya duduk di kursi yang berhadapan dengan Nugara.
"Melakukan apa, Nu? Kamu bercinta sama dia?"
Nugara menatap kembali layar di depannya. "Ada keperluan apa? Biasanya kamu nggak suka datang ke kantor kalau sedang jam kerja."
Viyona mengangkat bahu tak acuh. "Kok aku ngerasain sakit ya, Nu? Di sini," ucapnya sembari menyentuh d**a kirinya. "Rasanya perih, Nu."
Nugara tersenyum tipis, sangat tipis nyaris tak terlihat. "Obati. Cari laki-laki yang bisa menjadi obat untuk rasa sakit itu." Nugara tahu ada rasa lebih yang muncul dari Viyona, tetapi Nugara tetap abai karena hati dan cintanya sudah terkunci pada Naira. Perasaannya tak lekang oleh waktu, tak pernah usang dimakan tahun.
Viyona menahan napas, kemudian terkekeh pelan menyembunyikan rasa sakit yang semakin parah. "Tentu. Aku bisa dapetin obat itu." Bohong. Viyona sudah terlanjur jatuh cinta pada sosok dingin Nugara.
Nugara mengangguk-anggukkan kepalanya. "Sore ini aku harus ke Cianjur, ada urusan mendadak."
Viyona diam beberapa saat.
"Aku nggak janji pulang cepat, karena banyak yang harus diurus di sana."
Viyona meringis akan statusnya sebagai seorang istri. Dia ada, terlihat, nyata, tapi tak pernah bisa menggoyahkan sedikit saja hati seorang Nugara. Bahkan, untuk cemburu pun ia tak diperkenankan.
**
Malam menjelang, Naira masih bedreast total di rumah sakit. Mala yang membantunya bolak-balik rumah sakit hanya untuk memastikan dirinya baik-baik saja. Bahkan kondisi papa-nya, Mala yang memberi kabar.
Naira memejamkan mata setelah mendapatkan posisi yang nyaman untuk tidur. Baru saja dirinya masuk ke alam mimpi, terdengar derap sepatu masuk ke ruangan yang disekat menjadi empat bagian itu.
Nugara menatap lembut wanita yang sudah membuatnya putus arah. Nugara menjulurkan tangannya hendak mengusap puncak kepala Naira, tetapi urung saat mendengar derap langkah lain menyusul masuk.
"Loh, eh?" kening Mala mengerenyit melihat pria berbadan tinggi besar berdiri di sisi ranjang Naira. Tatapannya begitu tajam, Mala menelan pertanyaannya lagi mundur beberapa langkah.
Nugara menempelkan jari telunjuk di bibir tebalnya, memberikan lirikan perintah agar Mala keluar dari ruangan. Mala ingin protes, tetapi tidak jadi saat netra cokelat gelap itu menatapnya sangat tajam.
Naira yang mendengar suara gaduh perlahan membuka mata, mengerjap pelan karena matanya masih terasa berat. Pertama yang ia lihat dinding kamar ruang inap, Naira menghela napas panjang, kembali memejamkan mata. Mala belum datang dan Naira bosan.
"Masih belum stabil?"
Naira berdeham, mengabaikan suara halusinasinya.
"Saya dengar kamu hamil, anak siapa?"
Pertanyaan itu sontak membuat Naira membuka mata lebar, menoleh ke sisinya. Naira menahan napas melihat siapa yang berdiri, menjulang tinggi bersedekap menatapnya datar.
"Nyenyak tidurnya, Nona?" ejek Nugara menyembunyikan degup jantung yang menggila.
Naira seketika bangun, mengerang panjang karena kepalanya mendadak terasa pening. "Kenapa kamu bisa ada di sini?" cicitnya nyaris tak terdengar bila saja Nugara tidak memiliki pendengaran yang tajam.
"Suka-suka saya, orang kaya bebas," cetusnya dengan nada songong.
Naira refleks mendengus, mendelik tak suka. "Kalau begitu, orang kaya yang terhormat, tolong pergi dari ruangan ini. Nggak cocok karena kamu orang kaya, di sini pengap," Naira membalas ucapan Nugara dengan sarkas.
Nugara menyeringai. "Kamu hamil? Anak siapa? Anak saya atau anak patner kamu yang lain?" ucapan lancang Nugara membuat Naira susah payah mengontrol emosinya.
"Kenapa kamu nggak pergi dari sini? Kenapa kamu repot-repot berdiri di ruangan sempit ini cuma buat hina saya?"
Sebelah alis Nugara naik, tersenyum miring. "Siapa bilang saya datang ke sini cuma buat hina kamu? Saya datang ke sini buat meminta jawaban atas penolakan kamu tempo lalu."
Jemari Naira mengepal kuat hingga buku jari-nya memutih, Naira berusaha mengukir sebuah senyuman. Padahal hatinya sudah teriris mendengar kalimat merendahkan yang keluar dari mulut jahannam Nugara.
"Saya punya penawaran bagus buat kamu," Nugara membungkuk mendekatkan bibirnya pada telinga Naira. "Jadi simpanan saya dan kamu bakal aman. Kehidupan Om Hutomo bakalan terjamin, kalau perlu kita cari donor ginjal. Masalah biaya, biar saya yang ambil alih. Asal," Nugara sengaja menggantungkan kalimatnya.
Naira menahan napas, memejamkan mata rapat-rapat.
"Asal kamu kembali seperti dulu, bermanja-ria pada saya, dan selalu bergantung pada saya. Saya nggak suka lihat kamu sekuat ini, Nai. Saya merindukan kamu yang lemah lembut seperti dulu." Nugara menjilat daun telinga Naira, kemudian menggigit ujung telinganya gemas.
Tangan Naira yang terkepal kuat naik ke udara, melayang begitu ringan menghantam pipi Nugara. Naira bergerak menjauh saat Nugara kembali berdiri tegak.
"Aku nggak akan seperti itu lagi, apalagi setelah tau siapa penyebab kehancuran bisnis Papa," desis Naira yang mengundang kerutan di kening Nugara. "Iya! Kamu nggak terima aku pergi gitu aja, iya, kan? Seharusnya kamu intropeksi diri, apa penyebab aku nggak pernah mau melibatkan kamu lagi!" Naira membalas sengit tatapan tajam Nugara.
"Hidup itu pilihan, meninggalkan atau ditinggalkan. Dan aku milih meninggalkan, karena persahabatan kita juga udah nggak sehat. Kamu puas? Kamu bisa pergi sekarang dari sini."
Nugara bergeming, rahangnya mengetat kuat. "Kamu memilih egois? Membiarkan Papa kamu kesakitan dengan ginjalnya? Membiarkan komplikasi dan kesulitan ekonomi menekannya?"
Naira menggeleng, tersenyum kecut. "Papa pernah bilang, lebih baik hidup melarat daripada menerima bantuan dari orang jahat kayak kamu!"
Nugara duduk di tepi ranjang rawat Naira, sedang Naira semakin berinsut menjauh dari jangkaun Nugara. "Kamu lupa kalau kita bersahabat baik banget dulu, Nai?" tatapan tajam itu meredup, berubah menatap penuh rindu pada Naira.
Naira menggeleng. "Aku nggak pernah lupa, tapi alangkah baiknya kamu yang lupa. Kamu sudah punya istri, kan? Bahagia sama istri kamu. Jangan pernah ganggu aku lagi."
Naira tidak mau sesuatu yang tidak beres dalam dirinya tumbuh dan berbuah harapan. Naira tidak ingin terjebak lagi. Tidak ada kesalahan terulang. Tidak boleh ada.