Nugara keluar dari ruangan, memberi isyarat pada Mala agar mengikutinya. Mala memutar bola mata malas, tapi tetap mengekori lelaki arogan itu.
Sampai di luar, Nugara merogoh saku jasnya kemudian memberikam amplop cokelat. “Ini.”
Kening Mala mengerut, melirik amplop dan lelaki arogan tersebut bergantian. “Apa ini?”
Nugara menatap datar Mala. “Ini bekal untuk Naira selama dia bedrest total. Kondisinya nggak memungkinkan buat masuk kerja juga, kan?”
Mala mengangguk. “Memang, tapi saya bisa kok membantu Naira. Kalau sampai Nai tau dari mana uang ini, dia bakal marah besar sama saya.”
Sebelah alis Nugara naik, kemudian tersenyum miring. Meraih tangan Mala, lalu menyimpan amplop itu di atas tangan Mala. “Usahakan agar Nai tidak tau.”
“Anda begitu perhatian pada Naira, tapi Anda menyakitinya. Apa maksudnya itu? Apa Anda hanya ingin mempermainkannya?” Mala sedikit muak dengan tingkah Bos ini. Sungguh, Mala menyesal mengapa dirinya memberitahu Heru tentang Naira dan malah membuat semua menjadi rumit terhubung langsung dengan lelaki kampret ini.
“Kamu tidak perlu tau, yang penting laporkan apa pun yang berkaitan dengan Naira dan Papa-nya. Ah iya, di mana ruang ICU-nya?”
Mala menatap sengit Nugara. “Anda sudah punya istri, dan Nai sahabat saya. Tentu saja saya perlu tau dan wajib tau!”
Nugara melirik jam di tangannya, menghela napas lelah dan tanpa dosa Nugara berlalu dari hadapan Mala begitu saja. Mala ternganga, menatap punggung Nugara. Mala berdecak, mencengkeram kuat amplop yang ia genggam.
**
Nugara melangkah pelan seolah hanya dirinya saja yang berjalan di sepanjang koridor. Netra cokelat gelapnya menatap lurus ke depan dengan benak yang terasa lelah.
“Maksud Papa apa?” Nugara menjelang dewasa itu menatap pria yang sudah 18 tahun menjadi papa-nya.
“Papa nggak bisa jadiin Naira pewaris tunggal Papa, Nu. Papa sengaja buat bangkrut perusahaan Om Hutomo bukan karena dendam atau apa, Papa cuma mau Hutomo menyerahkan Naira sama Papa.”
Saat itu Nugara nyaris frustrasi mencari keberadaan Naira yang seolah hilang ditelan bumi. Nugara tahu kebenaran bahwa dirinya hanya anak tiri, karena orangtua kandung Nugara sudah lama tiada. Papa-nya meninggal saat Nugara masih dalam kandungan, sedangkan mama-nya meninggal satu bulan setelah melahirkan dirinya.
Papa Herman yang menghandle semua, menggantikan figur seorang ayah dan juga suami untuk mama-nya waktu itu. Nugara tahu karena papa Herman yang menceritakan semua saat dirinya mendesak alasan atas bangkrutnya perusahaan papa Naira.
Terkejut, tentu saja. Tapi semua sudah terlanjur terjadi. Nugara ingat dari cerita papa Herman, saat papa-nya meninggal, bahkan papa Herman rela meninggalkan wanita yang sudah memilihnya dan sedang mengandung buah cinta mereka, karena rasa tanggung-jawab sebagai saudara satu-satunya, walau pun hanya kakak sepupu.
Nugara tidak sepeser pun menggunakan kekayaan milik papa Herman, ia meneruskan usaha papa kandungnya sembari menjaga perusahaan atas namanya. Namun milik Naira.
Bertahun-tahun Nugara menyusuri setiap wilayah mencari keberadaan Naira, tetapi hasilnya selalu nihil. Dulu, Nugara tidak punya kuasa saat papa Herman masih hidup. Namun setelah beliau meninggal 3 bulan lalu, Nugara baru bisa berbuat banyak. Nahasnya, pertemuan mereka dalam sutuasi yang tidak mengenakan.
Sekarang, setelah sekian lama tidak bertemu banyak yang berubah dengan dirinya dan juga Naira. Sedih? Tentu saja. Nugara bingung harus memulai dari mana, citranya terlanjur buruk di mata Naira.
Sesampainya di gedung baru, Nugara mendekati meja perawat. “Kamar 5 ICU atas nama Hutomo sebelah mana?”
Perawat itu memeriksa komputer, kemudian menatap Nugara. “Bapak lurus, lalu belok kanan. Paling ujung kamar 5.”
Nugara mengangguk paham. “Apa saya bisa besuk?”
Perawat tersebut melirik jam tangannya. “Jam besuk siang ini sudah lewat, Pak. Bapak baru bisa besuk lagi nanti pukul 4 sore.”
Tidak ada senyuman yang ditampilkan, Nugara hanya memasang raut wajah datar, mengucapkan terima kasih sebelum akhirnya berlalu dari sana.
Sampai di pelataran parkir, Nugara sudah disambut dengan beberapa orang yang menggunakan pakaian formal. “Kontrakan yang Bapak inginkan sudah saya dapatkan, lokasinya tidak jauh dari jalan raya sesuai permintaan Bapak.”
Nugara mengangguk, melirik jam tangannya. “Kasih tau saya tempat makan yang baik di sini.” Nugara masuk ke mobil, ia mengemudikan mobilnya mengikuti mobil sedan hitam di depannya meninggalkan rumah sakit.
Pikirannya berkelana, mencaritahu masihkah sama makanan kesukaan Naira? Atau malah sebaliknya? Makanan apa yang bisa membuat Naira kembali berisi seperti dulu? Melihat Naira sekarang membuatnya meringis sakit. Nugara mengusap wajahnya frustrasi, jemarinya mencengkeram kuat setir mobil.
Naira hamil, dirinya masih berstatuskan suami orang. Naira tiba-tiba berubah seolah membencinya, tanpa mau mendengar penjelasannya. Nugara merasaka kepalanya akan meledak saat ini juga.
**
Tidak ada semangat, cekungan hitam itu terlihat jelas di bawah mata bulat bersihnya. Bibirnya membentuk garis lurus, menandakan tidak ada bahagia baginya. Naira tak hentinya mengecupi punggung tangan papa-nya. Kecupan terakhir, bibir Naira menempel lamat menyalurkan semua perasaan yang menggumpal di dadanya.
“Papa mau sampai kapan tidur terus?” netra cokelat terangnya mulai membasah. “Naira sendirian di sini, Pa,” berbisik lirih. “Nggak ada penguat Nai di sini. Papa bangun, ya?” suara Naira nyaris tak terdengar, meluapkan gelisah dan kesedihannya yang amat dalam. Naira berharap, selesai rawat inap, papa-nya akan sadar. Namun sayang, papa-nya masih betah memejamkan mata.
Di luar ruangan, Nugara memperhatikan Naira yang terlihat seperti sedang meratapi nasibnya. Nugara memejamkan mata sesaat, mengembuskan napas sekuat mungkin menghalau sesak yang terasa amat menyiksanya. Netra yang selalu menatap tajam itu meredup, merasakin sakit yang tak kasat mata. Dari mana ia harus memulai? Bagaimana ia meyakinkan Naira? Mengapa emosinya menjadi pasang-surut setiap berhadapan dengan Naira?
Ingatan Nugara ditarik ke belakang, sebuah senyum manis kembali membayangi benaknya.
“Kamu janji nggak bakalan ninggalin aku?” suara manja itu tak pernah berhasil ia usir.
“Iya. Aku janji. Kamu pergi, aku ikut pergi. Kamu sakit, aku ikut sakit. Kamu menangis, aku marah.”
Sebuah kenangan manis yang selalu berhasil menyakiti lubuk hatinya. Tanpa terasa, cairan bening keluar dari netra tajam itu. Betapa sakit ia rasakan, dirinya sendiri yang mengundang air mata itu. Dirinya gagal menarik penderitaan yang sudah terlanjur betah menempeli gadisnya.
Di dalam ruangan, Naira tak pernah bisa menahan bendungan air matanya. Naira amat rapuh, bahkan pecahan kaca pun kalah rapuh dari Naira. Hatinya selalu berdenyut sakit, melihat orang satu-satunya tujuan hidup malah berbaring memejamkan mata seakan alam bawah sadar begitu indah daripada permintaan maafnya.
“Papa minta Nai mertahanin janin ini, kan? Nai turutin, Pa. Nai bakal pertahanin dia, Nai bakal jadi ibu yang baik. Nai nggak akan meninggalkan janin ini seperti Mama. Nai janji, Pa. Papa bangun dulu, ini cucu Papa, kan?”
Naira mengusap pipinya kasar, tersenyum pahit ia menempelkan punggung tangan papa-nya di pipi. “Ayo bangun, Pa ... Nai janji nggak akan nakal lagi. Nai, nggak akan buat Papa kayak gini lagi.” Naira menangis tertahan, seluruh tubuhnya bergetar hebat. Dirinya memang t***l, sangat t***l.
Mala menghentikan langkahnya, keningnya mengerut heran melihat pria yang berdiri membelakanginya. Tergesa Mala mendekat, seketika napasnya terhenti saat melihat siapa yang berdiri.
“Ngapain Anda di sini?”
Nugara menoleh, netra yang awalnya terlihat sendu itu berubah menajam. Nugara menempelkan jari telunjuk pada bibirnya sendiri, memberi isyarat agar wanita pemilik suara cempreng itu tidak bersuara lagi.
“Bisa tolong bawa Naira keluar dari ruangan itu? Nggak baik buat ibu hamil terlalu lama di rumah sakit.”
Bibir Mala mencibir, bersedekap enggan. “Apa peduli Anda, heh?”
Tatapan Nugara semakin menajam. “Saya Ayah dari janin itu, sudah pasti saya peduli dengan kondisi anak saya.”
“Ngapain kamu di sini?” Nugara menoleh, menatap wanita yang baru saja keluar dari pintu ruangan. “Lo nggak kerja, Mal?” Naira menatap pada Mala penuh selidik.
Mala tersenyum kikuk. “Jam istirahat, tengok dulu ke sini. Kan lo bilang, lagi ada di rumah sakit.”
Naira lupa kalau dirinya mengambil cuti satu minggu, dan sisanya tinggal dua hari lagi. Naira mendelik pada Nugara yang mematung, menatapnya tak berkedip. “Anterin gue pulang, Mal. Badan gue kerasa sakit semua,” keluh Naira mengabaikan keberadaan Nugara. Naira melangkah ke arah Mala, melewati Nugara begitu saja.
“Nai,” Mala melirik Nugara. “Itu sahabat lo, kan?”
Naira diam beberapa saat, sebelum akhirnya menjawab, “Gue belum beneran bisa berdamai dengan masa lalu, Mal.” Naira masih lelah bila harus bergelut dengan kenangan indah dan juga keburukan pria itu.
“Bukan belum, tapi memang kamu nggak mau berdamai dengan masa lalu. Menyeret orang yang nggak tau apa masalahnya, tanpa mau mendengar pembelaan diri dari orang itu.”
Naira mendengus, meraih tangan Mala, lalu mengajaknya untuk berlalu dari sana. Nugara tidak salah, hanya dirinya saja terjebak dalam pusar yang tidak tahu di maja ujungnya. Banyak yang berubah, dan Naira enggan mendalami perubahan itu. Masa lalu dan masa sekarang sangat jauh berbeda, Naira tidak mau bila harus terjebak untuk kesekian kalinya.
**
Nugara masuk ke ruangan, menatap miris pria paruh baya yang masih tak sadarkan diri. Nugara mengembuskan napas berat, sebelum akhirnya mendaratkan bokongnya di kursi.
“Om,” suara berat Nugara bergetar. “Maafin, Gara, Om.” Nugara menatap lekat pria yang dulu sering menitipkan puteri kesayangan beliau padanya. “Gara baru menemukan kalian.” Nugara menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya. “Dan jalan yang menemukan Gara sama Nai kurang baik, Om. Nai benci banget sama Gara ya, Om?”
Nugara tersenyum miris, mendongak tak membiarkan air matanya lolos. Lalu, kembali menatap pria yang masih tak sadarkan diri itu. “Om bangun, ya? Kasihan Naira, dia sedih banget, Om.”
Mata yang awalnya tertutup itu, perlahan mulai terbuka, mengerjap pelan. Sontak Nugara berdiri, hendak memanggil perawat. Tapi gelengan kepala yang sangat pelan itu menghentikan niatnya. “Om,” Nugara membungkuk. “Gara panggilkan perawat dulu, ya?”
Hutomo menggeleng, menarik sebuah sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman. Ternyata, Tuhan mendengarkan permintaannya. Nugara sudah tahu keberadaan mereka, tidak ada alasan lagi untuk dirinya bertahan menemani puterinya. Ada pria yang akan selalu menjaga puterinya. Hutomo lega tidak akan merepotkan lagi puterinya.