bab 3

1364 Words
Bulan dan nana sibuk mengemasi kue bolu, rencana nya mereka akan mengantarkan nya kepada tetangga terdekat sebagai salam perkenalan. "Na udah belum" tanya bulan. "Bentar dikit lagi" kata nana masih membungkus kue bolu. "Udah yuk" ajak nana. "Ehh tunggu dulu" kata bulan menahan nana. "Apaan". "Biar gak kelamaan, gimana kalo kita pisah aja gue arah kiri lo arah kanan". "Boleh deh". Bulan dan nana berpisah di depan teras rumah nya. Bulan berjalan kearah sisi kiri rumah nya dengan menenteng tote bag berisi kue bolu sedangkan nana ke arah sebelah kanan juga menenteng tote bag. "Assalamualaikum" ucap bulan. "Assalamualaikum". "Duh mana ya yang punya rumah, ada dirumah gak ya" gumam bulan. "Assalamualaikum". "Assalamualaikum" ucap bulan mengeraskan suaranya. "Waalaikum salam" akhir nya ada juga yang menjawab salam bulan dari dalam rumah. "Iya ada apa mbak" kata ibu ibu setengah baya memakai daster dengan hijab rumahan nya. "Ini bu ada sedikit kue bolu" bulan menyerah kan tote bag. "Nama saya bulan, saya tinggal dirumah sebelah bu". "Ohhh mbak yang tinggal dirumah sebelah, makasih ya" ibu itu pun menerima tote bag yang di berikan bulan. "Kalo ibu biasa di panggil bu rahman, soal nya suami saya namanya rahman hehe" sambung ibu itu. "Oh iya salam kenal ya bu rahman". "Iya sama sama, makasih ya mbak bulan, semoga betah tinggal disini". "Iya bu, kalo begitu saya pamit dulu ya bu mau anter ini" kata bulan mengangkan tote bag nya menunjukan pada bu rahman. "Iya iya neng makasih ya" kata bu rahman tersenyum ramah. Bulan pun membalas nya tersenyum juga. Kemudian bulan melanjutkan menyapa tetangga baru nya di komplek perumahan ini, setelah berbincang bincang dengan beberapa tetangga, sampai lah bulan di rumah langit dan fadil. "Assalamualaikum" ucap bulan. Tapi tak ada yang menjawab. Bulan pun mendekati pintu berniat mengetuk, tapi tangan nya menggantung saat mendengar suara aneh dari dalam. "Emmm shhh ahhh". Karena penasaran bulan pun menempel kan cuping telinga nya ke daun pintu. Shhhh ahhhh huhh. Plok plok plok Shhh hahh "Dari tadi udah gue kocok kok gak keluar juga". "Shhh hah pelan pelan kali". "Apa gue kasih air aja ya". "Shhh jangan nanti rasa nya gak enak". Bulan pun mengernyitkan kening nya mendengar suara suara aneh yang keluar dari mulut 2 pria dalam rumah itu. "Penghuni rumah ini setau aku kan cuma bang langit dan bang fadil, apa jangan jangan mereka hah". bulan menutup mulut nya syok, mata nya pun membola. Seketika ingatan nya melayang saat baru pindah di sini 2 hari yang lalu, bulan mendengar ucapan fadil bahwa langit sering grepe grepe dia. Bulan pun langsung bergidik bulu roma nya pun langsung berdiri. "Ihhh takutt" bulan pun berjalan cepat meninggal kan rumah langit. "Hosss hosss hmm hos hos" bulan ngos ngosan berlari seperti dikejar hantu saja. Bulan pun duduk lesehan di teras rumah nya dengan menyelonjorkan kaki. "Emm huffttt" bulan menhirup oksigen rakus dan mengeluarkan nya cepat. "Ngapa lo lan" kata nana berjalan kearah bulan. "Gak papa". "Loh itu kok masih ada satu tote bag nya? Rumah siapa yamg belum?" Tanya nana. "Ini tinggal rumah bang langit" ujar bulan. "Loh kenapa gak sekalian dianter sih" nana mengerutkan keningnya heran. "Barusan gue dari sana". "Ya trus kenapa gak sekalian di kasih, bikin kerjaan aja" kata nana heran masih mengerutkan keningnya malah semakin dalam. "Tadi udah mau gue kasih tapi gue malah mendengar suara yang aneh". "Suara apa sih udah sana anterin, kan gak enak kalo yang lain dikasih dia nggak, padahal kan rumah nya deket". "Hihh gak mau ah gue" tolak bulan. "Lo ngapa sih gak kek biasanya" heran nana dengan tingkah bulan. "Lo mau tau gak suara aneh yang gue denger tadi". "Emang suara apaan, kuntilanak atau apa?. Nana langsung merinding membayangkannya. "Tadi gue dengar suara kayak gini nih, shhh ahhhh uhmmm ahhh" kata bulan memperaktekan suara mendesah dengan diresapi. "Ihh emang suara apaan tuh" tanya nana polos. "Ishhh itu suara orang mendesah oneng" kata bulan menonyor kepala nana. "Masa sih, kan dirumah itu isinya cowo semua" kata nana tak percaya. "Lah Emang iya, makanya gue takut soal nya mereka indehoy cowo sama cowo". "Ihhh sok tau lo bulan jangan sembarangan ngomong jatuh nya fitnah" "Emang iya kok, tadi gue denger gini suara laki laki bilang begini dari tadi udah gue kocok kok gak keluar" kata bulan menirukan suara yang ada dirumah fadil, "trus di jawab sama laki laki satunya begini shhh pelan pelan, begitu" kata bulan memperaga kan apa yang di dengar. Sedangkan nana masih dengan wajah bego nya planga plongo, "masa sih" kata nana. "Iya suer tekewer kewer, kalo lo gak percaya mari kita buktikan" kata bulan langsung menarik tangan nana. Mereka pun berjalan menuju rumah langit dengan nana yang diseret oleh bulan. "Stttt lo jangan berisik biar kedengeran" bisik bulan memperingati nana. Nana pun mengangguk saja. Setelah sampai di depan pintu, bulan memberi kode pada nana agar menempel kan kuping nya ke daun pintu, nana pun menurut, akhirnya mereka berdua pun menguping. "Shhh shhhh huhhh ahhh" begitu suara dari dalam. "Kan apa gue bilang" bisik bulan pada nana. "Belum tentu juga" kata nana masih positif thinking. "Ishhh udah jelas juga lo denger sendiri masih gak percaya" sebal bulan. "Ya kan cuma dengar gak lihat". "Emang lo mau lihat?" Tanya bulan melotot. Nana pun mengangguk. "Iya, kan biar jelas sejelas jelasnya". Bulan pun bergidik membayangkan adegan w*****k antara laki laki dengan laki laki. "Ishhh jijik banget" kata bulan menonyor kepala nana, nana yang tak sigap pun tak bisa menyeimbangkan diri dannnnnn. Gubrak. Bulan menepuk keningnya melihat nana yang malah jatuh. Tak lama pintu rumah langit terbuka. Ceklek. Keluar lah langit dengan wajah merah padam seperti menahan sesuatu. Keyra melihat bentukan langit pun sontak saja pikiran nya traveling memikirkan yang tidak tidak. "Loh dek bulan dan nana ada apa" tanya langit. Bulan pun menggelengkan kepala nya. "Ini bang tadi kami mau antar bolu, tapi gak sengaja denger suara uhh ahhh begitu" ceplos nana panjang lebar. Bulan langsung tepuk jidat dan melihat nana, "bego lo" gerak bibir bulan tak bersuara. Ketahuan sudah bahwa mereka sedang menguping, ingin rasa nya bulan pindah kebikini bottom saja kalau begini. Sedangkan nana tak paham dan memasang wajah oon nya. mungkin bisa maklum lah otak nana kurang setengah inci jadi lemot. "Ohh itu tadi kami lagi makan bakso mercon pedes banget jadi huh ahh" kata langit. Bulan pun langsung cengo mendadak blank, jadi dia dari tadi gue salah paham. Aissshhhh. "Ayok masuk, kamu nana sampai kapan kamu ngelesot disitu" tanya langit. Nana pun langsung berdiri, "hehe" cengir nana. "Ayok masuk sini" ajak langit. "nggak usah bang kami cuma mau antarin kue bolu aja" kata bulan. "mampir dulu bentar, ayok masuk" kata langit masuk duluan kedalam rumah. Bulan dan nana mengikuti dari belakang. Saat didalam rumah nampak lah fadil yang duduk dibawah dengan botol saos ditangannya. Plok plok plok Bunyi botol saos yang di balik dan di pukul bagian atas nya. Sontak hal itu membuat bulan malu dan pipinya merona, 'astaga rupanya bunyi botol saos toh, bukan suara ena ena' gumam bulan dalam hati. "Belum bisa juga dil" kata langit menghampiri mangkok baksonya yang tinggal sedikit. "Belom nih, lo sih main ngecrot aja saos nya jadi gue gak kebagian kan" grutu fadil. "Elah, gak usah pake saos aja deh keburu dingin tuh bakso lo" tunjuk langit pada mangkok bakso fadil yang masih utuh. Akhir nya fadil pun meletak kan botol saos nya. "Ehh ada neng bulan sama neng nana, sini neng makan bakso, tapi pesen sendiri ya" kata fadil. "Gak deh bang, kami cuma mau antar kue bolu" kata bulan meletak kan tote bag ke meja itu. "Kami langsung pamit ya bang" kata bulan buru buru, sudah malu sekali dia atas piktor alias pikiran kotor nya, huh minta di cuci tuh pake so putih so bersih pake soklin pemutih. "Loh kok buru buru dek" cegat langit, pasal nya ia ingin berlama lama dengan calon ayank. "Gak papa bang, kami pulang ya, assalamualaikum". "Makasih ya dek, waalaikum salam". Bulan pun menyeret nana keluar rumah itu. Nana langsung menyikut lengan bulan. "Tuh kan lan lo salah, makanya jangan keburu nethink" kata nana saat di perjalanan pulang. "Ya gimana gak nethink kalo kalimat mereka tadi ambigu". "Tapi kan--". "Udah deh na jangan dibahas" ketus bulan sudah kepalang malu. Mereka berdua pulang kerumah dengan membawa malu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD