"Kakak kenapa, sih, bun?Pagi-pagi, kok udah marah-marah," gerutu Bram, Ayu tak menyahut, hanya tersenyum tipis.
"Abang bujuk Febi, nggih. Biasanya dia cepat luluh ngambeknya kalau sama abang" ujar Ayu pada menantu dadakannya. Saka mengangguk singkat.
"Yang sabar ya, bang. Untung abang yang jadi suaminya, jadi sudah hafal sifat manjanya kakak". tambah Bram.Saka hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Ayah mertuanya.
Di dalam kamar Saka melihat istrinya telungkup diatas kasur, isak tangisnya terdengar cukup kencang. Saka langsung mengunci pintu kamar, tak mau ada orang lain yang mendengar perdebatan mereka.
"Kamu kenapa lagi, sih?Pagi-pagi, kok, udah ngambek," Ucap Saka sambil melepas sarung dan baju taqwanya.
Febi tak merespon, masih sibuk menangis. Saka mendesah pelan, lalu ikut terbaring disebelah istrinya.
"Kenapa tadi kamu bilang kalau kita nikah cuma pura-pura didepan ayah sama bunda?" tanya Saka tanpa menyembunyikan rasa kesalnya.
Febi merubah posisinya menjadi miring menghadap kearah Saka.
"Loh, emang benar, kan? Kita nikah mendadak, nggak saling cinta. Abang punya pacar dan semalam abang bilang jangan larang kalau abang mau mesra-mesraan sama kak Nada. Apa namanya kalau bukan nikah pura-pura?" Ujar Febi.
"Ya nggak mesti juga kamu bilang kayak gitu di depan orang tua". omel Saka.
"Sengaja kok, biar ayah tahu kalau kita nggak ada hubungan apa-apa selain hubungan adik kakak. Semalam apa abang ditampar papih?".Saka terkejut mendengar pertanyaan Febi diakhir kalimatnya.
"Nggak, kenapa?" Jawab Saka sambil menggeleng
Febi menghembus napas perlahan "Ayah nampar aku tadi malam".
lagi-lagi saka terkejut, tak menyangka ayah Febi bisa semarah itu.
"Ayah bilang, katanya aku sudah bikin dia malu," cicitnya sambil mengusap air mata. Febi mengubah posisi menjadi terlentang, sedangkan Saka merubah posisi menjadi duduk.
"Terus seenaknya aja abang nuduh aku ngejebak. Apa apaan itu!Aku juga terjebak bang," ucap Febi dengan suara lirih. Saka menatap wajah istrinya dengan perasaan sedikit bersalah.
"Bang". Febi kembali merubah posisinya, kali ini duduk berhadapan dengan Saka.
"kenapa abang nggak ceraiin aku aja?", tanya Febi polos "Biar abang bisa nikah sama kak Nada" lanjutnya.
Mata Saka sontak melotot mendengar pertanyaan Febi.
"Kamu,gila, ya, baru juga semalam kita nikah masa kita langsung cerai!" Bentaknya.
Saka tak habis pikir dengan pemikiran Febi. Betul, Saka memang ingin menikah dengan Nada,tetapi menceraikan Febi jelas tidak mungkin. Bisa-bisa lehernya digorok oleh Frans, papihnya.
"Kok, gue sih yang gila!Elo tuh, yang gila! punya istri tapi mau nikah sama cewek lain. Emang gue cewek apaan!?. Bentak Febi tak kalah kencengnya.
"Oh, jadi ini sikap elo yang sebenarnya?" desis Saka.
"Gue enggak nyangka elo sekurang ajar ini. Kenapa elo baru tunjukin sekarang setelah kita menikah, hah!?," Saka menjepit rahang Febi dengan tangannya.
Wajah marah Saka membuat Febi ketakutan. Selama Febi mengenal lelaki itu, dia tak pernah melihatnya marah. Saka adalah satu-satunya orang yang paling mengerti dirinya, sabar dan selalu memanjakannya.
"Kenapa diem?elo pikir, elo doang yang bisa bersikap kasar, gue juga bisa," ucapnya dengan mata menatap tajam tepat pada pupil mata Febi.
"Maaf bang, tadi aku...aku cuma...."cicit Febi tanpa meneruskan kalimatnya, tangisnya kembali terdengar. Saka melepas jepitan tangannya pada rahang Febi.
"Nggak usah nangis, dasar cengeng!", Saka beranjak dari kasur lalu berjalan menuju pintu kamar dan pergi begitu saja. Febi bernafas lega, meski tangisnya belum bisa dia hentikan.
Keluar dari kamar, Saka bertemu dengan Ayu yang menata meja makan. Ada Kiki disana yang membantunya mengelap sendok dan garpu.
"Mau kemana,bang?" tanya Ayu
"Mau kerumah Mamih, Bun", jawab saka.
"Mau ngapain, sarapan dulu. Lagian Mamih, Papih, Kak Senja tadi sholat subuh dimasjid besar, sekalian CFD-an. Semalam mereka ngajakin juga, tapi Bunda tolak. Bunda udah
terlanjur nyiapin nasi kuning buat sarapan kita", Jelas Ayu tanpa memperhatikan wajah menantunya yang kesal. Wanita itu menyuruh Saka memanggil istrinya.
Saka tak banyak bicara, dia kembali ke kamar untuk memanggil Febi. Wajah istrinya itu terlihat lebih segar, sepertinya dia baru saja mencuci muka untuk menghilangkan jejak tangis diwajahnya.
"Kata Bunda sarapan dulu. Awas! Jangan ngomong macam-macam!" ancam Saka, istrinya mengangguk patuh.
Febi lebih dulu keluar kamar, Saka memeriksa pesan yang baru saja masuk karena Nada hari ini mengajaknya bertemu. Saka bergegas menuju ruang makan, setelah sarapan dia ingin segera pergi menemui Nada.
Saka sarapan dengan hati gelisah, dia sibuk memikirkan bagaimana caranya agar bisa keluar dari rumah tanpa dicurigai oleh Febi dan orang tuanya.
* * *
"Bang, kita mau kemana?" tanya Febi memecah keheningan.
Saat ini Febi berada di dalam mobil Saka. Tadi tiba-tiba saja suaminya itu mengajaknya keluar.
Saka terpaksa mengajak Febi agar tidak dicurigai dan tetap bisa bertemu dengan Nada.
"Jemput Nada," jawab Saka singkat.
"Hah!Abang mau kencan?Kenapa ngajak aku?" omel Febi. Saka berdecak kesal.
"Terpaksa! Kalau elo nggak ngintil, gue nggak bisa ketemu Nada! Ayah sama Bunda pasti curiga, kalau aku pergi sendirian!" jawab Saka dengan ketus.
"Ngintil banget ya, bahasanya? Kesannya aku nggak ada kerjaan apa!"
"Lah, emang! Bukannya dari kecil hobi elo itu ngintilin gue?!" sahut Saka, sambil menarik rem tangan. Mobilnya berhenti karena lampu merah.
Febi menatap nanar ke arah Saka yang kini sibuk dengan ponselnya, mungkin sedang berbalas pesan dengan Nada.
"Kenapa baru sekarang Abang permasalahkan? Kenapa nggak dari dulu Abang bilang, kalau nggak suka , aku sering ikut Abang?" tanya Febi dalam hati.
Matanya melirik ke arah penunjuk waktu di tiang lampu merah, masih ada waktu sepuluh detik lagi. Febi membuka kaitan sabuk pengamannya, lalu bergegas keluar dari mobil.
"Selamat bersenang-senang, aku bisa pergi sendiri," ucapnya sambil menutup pintu mobil.
Saka terkejut dengan tingkah Febi yang tiba-tiba, ingin mengejar tapi lampu sudah berubah menjadi hijau.
"CK! Dasar anak manja, dikit-dikit ngambek!" teriak Saka sambil memukul setir mobil.
"Udah lah, toh dia udah gede, bisa pulang sendiri. Sekarang waktunya ketemu my Nada," ucapnya sambil tersenyum.
Saka menjemput Nada di rumahnya. Nada adalah pacar ketiganya, satu-satunya yang mau menerima Febi sebagai adik Saka. Pacar-pacarnya yang dulu seringkali cemburu pada Febi. Mereka bilang, Saka terlalu memanjakannya, padahal gadis itu tidak punya hubungan darah sama sekali dengannya.
Namun, berbeda dengan Nada. Gadis ayu berlesung pipi itu malah sangat dekat dengan Febi. Itu yang membuat Saka semakin jatuh cinta, dan hubungan mereka bertahan sampai satu tahun.
"Maaf, telat" ucap Saka sebelum mengecup kening Nada.
"Nggak, kok, santai aja. Kita mau ngapain, nih? Mau jalan atau mau dirumah aja nonton film?" tanya Nada dengan suara lembut, membuat Saka semakin sayang.
"Jalan aja, yuk, lagi suntuk, nih,"
"Oke, tunggu sebentar ya, aku ambil tas dulu,"
Nada beranjak menuju kamarnya yang terletak di depan ruang tamu. Rumah Nada sangat sederhana, lebih kecil dari rumah Febi, apalagi jika dibandingkan dengan rumah mewah Saka.
keluarganya memang keluarga sederhana, tetapi tak membuat semangat Nada meraih cita-cita padam. Nada bekerja keras untuk mendapatkan beasiswa, yang akhirnya berhasil dia dapatkan. Itulah yang membuat Saka bangga memilikinya.
"Yuk, kita berangkat sekarang," ajak Nada.
"Orang tua kamu nggak ada?" tanya Saka.
"Nggak ada, jam segini mereka masih di pasar. Mas Rusli juga ada lemburan. Tapi aku udah tinggalin pesen, kok. Kasih tahu kalau aku pergi sama kamu," jelas Nada.
"Oke, kita berangkaaat!" seru Saka dengan nada jenaka.
"Ish, kamu gemesin banget, sih!" Nada mengecup pipi Saka.
"Cuma di pipi, nih? Yang ini nggak sekalian?" goda Saka sambil menyentuh bibirnya.
"Ish, nanti malah keterusan," ucap Nada dengan wajah malu-malu.
"Gimana kalau kita nggak jadi keluar?Aku butuh di charge, nih," rayu Saka.
"Nggak, Bapak sama Ibu bisa tiba-tiba datang. Aku nggak mau kepergok,"
"Hemmm.... berarti kita cari tempat yang nggak bisa dipergoki orang, gimana?" goda Saka sambil memainkan alisnya. Nada mencubit lengan Saka.
"Yuk, berangkat. Nanti keburu siang," ucap Nada.
"Oke, Sayang. Tapi janjinya kamu kasih aku kiss? Kangen banget aku tuh ...."
"Iya, iya, ayo berangkat,"
Saka membelai lembut pipi Nada, lalu menggandengnya menuju mobil.
Saka bukanlah laki-laki yang polos yang tidak pernah bermesraan dengan pacarnya, tetapi dia tak pernah melewati batas. Jujur Saka akui, Nada adalah good kisser, yang terbaik diantara pacar-pacarnya yang dulu.
Awalnya Saka kaget karena keahlian Nada yang membuatnya ketagihan itu berbanding terbalik dengan wajahnya yang lugu. Ya . ...ya .....ya... kita memang tidak boleh memandang dari luarnya saja bukan.
"Kita mau ke mana?" tanya Nada.
"Nonton, yuk, abis itu baru makan. Apa mau makan dulu baru nonton? Bebas, sih, yang penting aku dapat jatah hari ini," sahut Saka.
"Ya ampun, kamu itu ya, Yang," ujar Nada malu-malu.
"Kita, kan, sudah lama banget nggak ketemu. Emangnya kamu nggak kangen?" rujuk Saka.
"Kangen lah! Udah jangan ngambek nanti aku kasih." Sekali lagi Nada mengecup pipi Saka. Saka tersenyum lebar, lalu mengecup punggung tangan Nada. Saka benar-benar bahagia, sampai melupakan bagaimana nasib Febi, istrinya.
Sementara itu Febi seperti anak hilang, terus jalan tanpa tahu tujuan. Dia kesal bukan main pada Saka.
Lelaki yang dianggap sebagai kakaknya itu benar-benar berubah. Sebenarnya apa maunya dia itu? Febi minta diceraikan, dia menolak dengan alasan takut dimarahi orang tuanya. Namun, kalau terus begini, dirinyalah yang merasa dirugikan.
Febi berhenti sejenak, lalu memandang sekelilingnya. Dia berjalan sudah cukup jauh ternyata, pantas kakinya mulai capek. Febi membuka ponselnya, lalu menghubungi Bian, sahabatnya.
"Assalamu"alaikum," sapa Febi.
"Wa'alaikumussalam, ya Ukhti," Jawab Bian.
"Elo ada dimana?"
"Di rumah. Kenapa? Mau ngajak jalan?"
"Iya, sekarang ya, gue udah dijalan. Gue tunggu di Mall Anggrek. Cepat ya, Yan, jangan kelamaan!" ucap Febi.
"Enggih, Ndoro," sahut Bian.