"Secepatnya kamu selesaikan renovasinya, biar kalian bisa mandiri. Biar bagaimanapun, baiknya setelah kalian menikah itu, kalian hidup terpisah. Kami para orang tua, nggak boleh ikut campur lagi. Kamu, bang harus bisa mengayomi istri. Papih yakin kalian akan hidup bahagia, toh kalian sudah saling kenal dari kecil". Frans memberi nasehat pada putranya.
"Iya, jadi nggak perlu adaptasi lagi. Kalian sudah tahu karakter masing-masing". Tambah Bram.
Saka dan Febi tak menyahut, keduanya terpaku pada pikirannya masing-masing. Febi yang bertanya-tanya, kenapa Saka sedari tadi melihatnya dengan tatapan sinis?.
Sedangkan Saka dengan pertanyaanya, bagaimana kelanjutan hubungannya dengan Nada?
"Papih, Mamih sama Om, Tante nggak request minta cucu?" Celetuk Senja.
"Nggak usah buru-buru, toh Febi, masih belum kelar kuliahnya". Jawab Ayu dengan bijak.
"Tapi, kalau mereka pengen cepat-cepat punya anak bagaimana?, Senja sengaja memancing, "Tuh liat mereka cuma diem, pasti udah nggak sabar mau w*****k wik". Ledeknya.
"Harusnya kakak yang buru-buru nikah!" Balas Saka.
"Wow, pengantin baru sensi amat. Sana gih, masuk kamar. Biar ini kita-kita yang beresin". Lanjut Senja sembari tersenyum meledek. Saka mendengus kasar.
"Iya, lebih baik kalian istirahat. Nih mamih udah bawa pakaian kamu 2 setel. Buat tidur dan buat pagi. Besok kamu kan nggak kerja, bisa mesra-mesraan sampai siang". Wanda menyerahkan goodie bag berisi pakaian Saka.
"Udah sana masuk kamar, jangan lupa baca doa, aku request keponakan kembar ya, hihihi" Senja terus menggoda pasangan baru itu, wajah Febi memanas, sedangkan Saka semakin kesal dengan kejahilan sang kakak.
"Kak, kamu ini ngeledek terus! Benar yang dibilang Saka, kakak juga harus cepat-cepat nikah", omel Wanda.
"Rasain!", balas Saka. Senja menekuk wajahnya, tetapi hanya sebentar, dia kembali meledek adeknya.
"Dek, nanti pelan-pelan aja. Febi kan masih perawan. Awas jangan sampai, nanti teriakan Febi sampai kedengeran sampai sini", lanjut Senja.
Ayu menggeleng kepala melihat kelakuan Senja, dia tak aneh melihat interaksi kedua anak tetangganya itu.
Senja dan Saka sudah dianggap sebagai keponakannya sendiri. Orang tua mereka adalah kerabat pertama Ayu dan Bram kenal diperantauan.
Ayu ingat saat Febi lahir, jauh dari keluarga, Wanda dan Franslah yang membantunya. Anak mereka terutama Saka, begitu menyayangi Febi.Febi begitu manja pada abang angkatnya itu, sampai-sampai beberapa tetangga merasa risih melihat kedekatan keduanya.
Bagaimana tidak, sampai usia remaja keduanya sering mandi hujan dengan pakaian yang minim. Sudah seringkali diingatkan bahwa keduanya tak punya hubungan darah, tetapi tetap saja tak didengar. Akhirnya kejadian seperti ini terjadi, mereka harus menikah dengan cara kurang elok.
"Kak, ajak Bang Saka ke kamar. Kalian istirahat, biar kami yang beres-beres", titah Bram, Febi mengangguk, lalu menarik lengan Saka agar mengikutinya. Setelah jauh dari pandangan orangtuanya, Saka melepas tangan Febi dengan kasar.
"Bang, Abang marah sama aku?", tanya Febi setelah berada dikamar.
"Apa perlu ditanya?" Jawab Saka dengan ketus. Dia membanting tubuhnya diatas ranjang.
"Kok, jadi nyalahin aku, sih?", tanya Febi sedikit tak terima.
"Ya iyalah, coba kalau kamu nggak minta ditemenin. Kita nggak akan nikah sekarang!".
"Loh, bukannya udah sering aku minta ditemenin kayak gini?!Lagian, kalau abang nggak mau, seharusnya jangan datang!", Sungut Febi.
"Ck!Udah jangan berisik!Aku mau siap-siap tidur", Saka berdiri lalu berjalan menuju kamar mandi, dia ingin berganti pakaian.
Febi mendumel dibelakang Saka sambil melepas satu persatu kancing kebayanya. Tepat akan melepas kebayanya, Saka keluar dari kamar mandi. Saka menatap bayangan Febi dari cermin, dia hanya memakai kamisol dari balik kebayanya. Saka langsung membuang muka, tanpa sadar wajahnya memerah.
"Jangan sembarangan ganti baju!Kamu sengaja ya jebak aku biar dinikahin?" tuduh Saka tanpa perasaan.
"Maksud abang apa?" Febi menutup kembali kebayanya, berbalik menghadap suaminya.
Febi menggeleng tak percaya, Saka memiliki pikiran buruk seperti itu. Lelaki itu seperti bukan Saka yang selama ini dia kenal. Bukannya sudah biasa memakai pakaian seperti itu dihadapannya, kenapa baru sekarang lelaki itu merasa keberatan?
"Dengerin aku dan ingat aku baik-baik", Saka menatap istrinya dengan tajam, "Jangan berharap lebih dengan pernikahan ini. Aku nggak punya perasaan apa-apa sama kamu. Aku mencintai Nada dan suatu saat aku akan menikahinya".
Febi terpaku, perkataan Saka seperti sebilah pisau yang tajam menusuk dadanya.
"Pernikahan kita hanya status, kamu nggak boleh larang aku berhubungan dengan Nada. Begitu juga aku nggak akan larang kamu berhubungan dengan Bian. Oke?" Saka menepuk pelan pipi Febi, lalu merebahkan tubuhnya diranjang.
Tanpa Saka tahu, saat itu dia sudah membuat luka diawal pernikahannya.
Febi terbangun lebih dulu, matanya menatap wajah damai Saka yang tidur disampingnya. Ada sebuah guling membatasi keduanya, Febi mendesah pelan.
Aneh pikirnya.
Kenapa setelah sah menjadi suami istri Saka malah memberi batas, bukankah sudah biasa mereka tidur berpelukan. Apalagi jika hujan deras, Febi selalu ketakutan dan Saka memeluknya Sampai dia tertidur.
Tak mau berpikiran macam-macam, Febi memilih untuk segera menunaikan sholat subuh.
"Kak, Abang udah bangun belum? Ayah sama adik nungguin nih, jamaah ke masjid, teriak mira luar dari kamar. Febi menghentikan langkahnya, lalu berbalik membangunkan Saka.
"Bang, bangun!Udah ditungguin ayah jamaah di masjid". Febi menepuk pipi Saka sedikit keras. Saka yang memang sudah terbiasa bangun subuh, langsung membuka matanya.
"Kak!Abang!". Suara Ayu kembali terdengar.
"Iya bunda, abang lagi siap-siap" jawab Febi.
Saka langsung beranjak menuju kamar mandi. Tak lama kemudian Saka sudah siap dengan koko dan sarung, salah satu penampilan favorit bagi Febi. Menurutnya, ketampanan Saka bertambah berkali-kali lipat saat mengenakan pakaian muslim.
"Abang ganteng banget, aku suka deh, liatnya. Jadi pengen dihalalin", Febi mengeluarkan celetukan yang biasa dia ucapkan saat melihat Saka seperti itu.
Tak ada sahutan dari mulut Saka seperti biasanya, lelaki tampan itu hanya mendengus lalu memasang wajah dingin.
Febi menatap nanar kepergian suaminya, dia masih bingung mengapa Saka berubah. Saka tidak benar-benar menuduhnya menjebaknya, bukan? Apa lelaki itu pikir, hanya dia yang merasa terjebak? Febipun merasa hal yang sama.
"Aku harus jelasin semuanya ke abang. Aku nggak mau terus menerus dicuekin abang!", ucap Febi sambil mengepalkan tangan, kemudian beranjak menuju kamar mandi.
Selesai mandi dan sholat subuh, Febi bergegas menuju ruang tengah. Biasanya ada bunda yang sedang mengaji, sambil menunggu kedatangan ayah dari masjid.
"Kak, sini, bunda mau tanya".Ayu menghentikan tilawahnya, saat melihat putrinya keluar dari kamar.
"Ada apa bun?", tanya Febi mendekat.
"Sini, bunda mau tanya", Ayu menepuk kursi sebelahnya,"Semalam, udah itu belum?", Mata Ayu bergerak jenaka menggoda sang putri.
"Apaan, Sih, bun, nggak jelas banget, pertanyaannya", dumel Febi.
"Loh, kok gitu?Kakak, kan, udah sah sama abang, punya kewajiban buat melayani, loh,...."
"Melayani apaan, sih, bun?, Bunda nggak tahu apa, syoknya aku tiba-tiba dinikahin?Kaget aku tuh....Apalagi Ayah langsung main tampar aja". Febi mulai menangis.
Hatinya kesal dan sedih, gara-gara ulah dua lelaki yang dekat dengannya itu, salah satunya Bram, ayahnya.
Bram tiba-tiba menampar tanpa mau mendengarkan penjelasannya lebih dulu. Saka juga sama, tiba-tiba membencinya. Kedua lelaki itu, benar-benar membuat Febi kesal.
"Sttt...jangan nangis" Ayu menarik Febi ke dalam pelukannya. "Ayah bilang ke bunda kalau dia menyesal sekali sudah nampar kakak. Maafin ayah ya, nak".
"Aku....sama abang nggak ngapa-ngapain bun. Rambut aku nyangkut di sofa. Aku kan udah berapa kali bilang ke ayah, sofa udah waktunya diganti. Jadi aja rambut aku nyangkut, abang cuma mau bantu lepasin aja, karena gelap jadi abang ngedekat, gitu....."Tangis Febi semakin kencang.
Ayu hanya bisa mengusap punggung Febi tanpa berkata lagi. Ayu merasa bersalah, harusnya mereka sebagai orang tua lebih bijak dalam menghadapi masalah, jangan langsung terbawa emosi.
kalau sudah begini, anaknyalah yang paling dirugikan. Menikah tanpa ada lamaran, tidak mendapatkan hantaran yang layak, hanya disaksikan oleh segelintir orang, dan yang paling menyedihkan adalah image Febi menjadi buruk dimata tetangga.
"Assalamualaikum," ucap Bram, Saka dan Kiki bersamaan. Febi langsung mengusap air matanya.
"Loh, ada apa ini?Kok, kakak nangis?" tanya Bram pada istrinya. Ayu menggeleng pelan seraya mengecup punggung tangan Bram, lalu dikecup keningnya oleh suami.
"Kak, itu disambut dong, suaminya", tegur Bram saat melihat putrinya hanya diam.
Dengan terpaksa Febi mencium punggung tangan Saka yang hanya diam sedari tadi.
"Dibalas, dong, bang. Kecup keningnya". titah Bram dengan senyum menggoda.
Saka terlihat salah tingkah, perlahan dia menarik Febi tetapi langsung ditepis oleh Febi.
"nggak usah!kita cuma pura-pura nikah, kok".Ketus Febi sembari melangkah menuju kamar dengan kaki dihentakkan.