bc

🇲🇨 Random One-Shot

book_age16+
0
FOLLOW
1K
READ
family
love after marriage
friends to lovers
mafia
heir/heiress
drama
sweet
lighthearted
like
intro-logo
Blurb

hanya kumpulan cerita panjang dan pendek ku! aku ingin memberikan pada kalian isi kreatif ku! semoga kalian tertarik dengan cerita ku 💕🦋

(kalau misalnya ada kesamaan itu kebetulan.. jangan lupa like dan comment 🦋💕)

chap-preview
Free preview
Mafia dan gadis lugu (part 1)
♛┈⛧┈ ༶ HappyReading MyLilybutterfly ༶ ┈⛧┈♛ Salju jatuh bagaikan jarum putih, menyengat kulit siapapun yang berani melangkah tanpa perlindungan. Di tengah badai, Vladimir melangkah seperti raja dingin yang baru saja meninggalkan singgasana. Sepatu boot hitamnya menghentak trotoar, mantel panjangnya berkibar seiring langkahnya, sementara sepuluh pengawal mengikuti di belakangnya bagaikan bayangan tak terpisahkan. Mereka semua menundukkan kepala, menjauh, dan menahan nafas. Nama Vladimir Volkov sudah cukup untuk membuat banyak orang menghindari tatapan mata, terlebih lagi saat melihatnya secara langsung. Namun tiba-tiba... Seseorang datang lebih dekat. Langkahnya kecil dan ringan, namun jelas tak sesuai dengan salju tebal yang mengelilinginya. Seorang gadis muda mendekati Vladimir mengenakan pakaian yang, sejujurnya, lebih cocok untuk klub malam daripada kondisi cuaca ekstrem ini. Kain tipis yang transparan itu bergetar bersama tubuhnya, namun wajahnya? Tenang. Terdapat ekspresi polos tanpa sedikitpun rasa takut. Para pengawal segera bergerak dalam sekejap sebelum gadis tersebut berhenti tepat di hadapan Vladimir. Formasi mereka semakin rapat, tubuh mereka tegang, dan tangan terletak dekat jaket yang menyimpan senjata. Tatapan mata mereka jelas berkata: “Bos, silakan beri perintah.” Namun, gadis itu hanya mengangkat selembar kertas usang. “Maaf, permisi… saya ingin bertanya.” Suaranya jernih, seolah badai salju tidak sedang terjadi. Ia menatap tepat ke mata Vladimir—sesuatu yang biasanya dihindari oleh orang yang sadar. “Di mana saya bisa menemukan alamat ini?” Vladimir berhenti. Langkahnya terhenti, dan suasana di sekelilingnya terasa lebih dingin daripada salju itu sendiri. Dia memperhatikan kertas yang ada dalam genggaman gadis tersebut… lalu menegakkan pandangannya kembali ke wajahnya yang masih polos. Bibirnya sedikit bergerak, suaranya datar dan berat, seolah mengandung ancaman yang tersembunyi dalam keheningan. “…Apakah kau benar-benar tidak tahu kepada siapa kamu bertanya?” Vladimir hanya berkedip sekali. Hanya satu kali. Para pengawalnya hampir tercekik oleh udara. "Anda petugas," kata gadis itu dengan tenang sambil mengamati pakaian yang dikenakannya. PETUGAS. Gadis ini baru saja menyebut nama Vladimir Volkov—pemimpin mafia, pemilik perusahaan terbesar di Luga, seorang pria yang bahkan ditakuti polisi. Salju seolah berhenti turun untuk menyaksikan momen ini. Vladimir sedikit menundukkan kepalanya dan memandang gadis itu dengan lebih seksama. Mata birunya yang dingin mengamati dari ujung rambut hingga sepatu tipisnya, yang bahkan tidak cocok dipakai di musim gugur. Nada suaranya menjadi lebih lembut, dingin namun ada benih rasa ingin tahu yang tersisa. “Petugas…?” Ia melangkah mendekat, membuat gadis itu terbenam dalam keteduhan mantel tebalnya. “Kau kira aku ini siapa? Penjaga parkir?” Pengawal-pengawal di belakang mulai kehilangan ketegasan mereka. Salah seorang daripada mereka menggigit bibirnya untuk menahan tawa atau mungkin kerana terlalu tegang. Gadis itu terus memandang dengan wajah tidak bersalah, seolah-olah tidak menyedari ancaman dari lelaki Rusia tersebut. "A-atau..." Vladimir menatap tajam, sedikit membungkuk agar napas dinginnya hampir menyentuh kulit gadis tersebut. "Kau pikir aku ini penjaga toko?" Matanya dipenuhi ketegasan. Bukan karena merasa marah. Bukan juga karena terasa tersinggung. Lantas, apa yang sebenarnya baru saja keluar dari mulut gadis itu? Pengawal terdekat segera menundukkan kepala secara refleks, berpura-pura memperhatikan sepatunya agar tidak terlihat ingin tertawa. “Kota Luga…” Vladimir mengulangi perlahan, seolah sedang memastikan apakah dia salah dengar. “…apakah itu sama dengan Amerika?” Gadis tersebut mengangguk percaya diri, tetap mempertahankan ekspresi wajah yang polos dan meyakinkan bahwa dia benar-benar percaya pada apa yang dia katakan. "Anda tahu kan? Dalam film-film, jika ada orang seperti Anda... biasanya mereka adalah petugas." Ia menunjuk pada mantel hitam tebal yang dikenakan Vladimir. "Begitu juga dengan kelompok di belakang." Lalu ia mengarahkan pandangannya ke sepuluh pengawal yang sekarang tampak bingung dan ingin berteriak. Vladimir mengangkat alisnya. Pernyataan itu sangat tidak masuk akal hingga untuk pertama kalinya di hari dingin ini, wajahnya menunjukkan sedikit perubahan seolah ia baru saja terkejut oleh sesuatu yang tak bisa diterimanya. Ia menunduk perlahan, wajahnya hanya beberapa inci dari gadis tersebut. "Perhatikan baik-baik," katanya dengan suara yang dalam dan tenang, tetapi terkesan… sangat berbahaya. "Kau membandingkan Luga dengan Amerika..." Sudut bibirnya sedikit terangkat, lebih mirip ancaman yang disampaikan dengan nada humor dingin daripada sebuah senyuman. “…dan aku bersama petugas patroli kota?” Gadis itu segera menjawab, seolah-olah pernyataannya adalah hal paling logis di dunia. “Iya. Soalnya… ada kemiripan vibes-nya.” Bahu salah satu penjaga bergetar menahan tawa canggung. Vladimir menutup matanya sejenak, mengambil napas dalam-dalam seperti pria yang berusaha keras untuk tidak melakukan tindakan gegabah karena kepolosan yang berlebihan. Ketika ia membuka matanya lagi, tatapannya tajam namun ada sedikit rasa tertarik yang aneh. “Gadis kecil…” suaranya terdengar pelan. “Kau nekat berjalan di tengah salju dengan pakaian seperti itu… dan masih saja berani mengatakan hal konyol di depanku.” Ia semakin mendekat, sehingga gadis itu hampir harus mengangkat kepalanya untuk melihatnya. “…Apa kamu tidak merasa takut padaku?” Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Vladimir Volkov benar-benar merasa kehilangan kata-kata. Gadis itu menatapnya dengan tajam—tanpa rasa curiga, jujur, dan sama sekali tidak menyadari bahwa ia sedang berbicara dengan orang yang menjadi sumber ketakutan bagi seluruh kota. Angin sejuk menerpa rambut gadis itu, sementara kain tipis yang dikenakannya berkibar seperti bendera yang menyerah... Namun, ia terlihat sama sekali tidak putus asa. "Untuk apa aku harus merasa takut?" ujarnya dengan tenang. “Sepertinya Anda petugas, ya... Saya sedang tersesat. Tolong bantu saya dengan alamat ini.” Ia mengulurkan kertas kusam itu sekali lagi, seolah-olah dia berbicara kepada satpam di mal, bukan seorang mafia Rusia yang senyumannya bisa membuat orang pingsan. Vladimir menatap lembaran kertas itu. Kemudian, ia memandang gadis yang ada di sampingnya. Setelah itu, mata Vladimir beralih kepada para pengawal. Para pengawal saling melihat dengan ekspresi hening yang penuh makna: Bos… kami… tidak bisa membantu… Vladimir akhirnya mengeluarkan suara yang dalam seperti gemuruh guntur di kejauhan. “Petugas…” Ia mengulang kata itu dengan nada yang semakin sulit untuk dicirikan, apakah itu kemarahan, frustrasi, atau mungkin… hiburan. Ia mengangkat tubuhnya, berdiri tegak di hadapan gadis itu. Bibirnya bergetar perlahan, suaranya terasa dingin. "Kau benar-benar tidak mengenaliku," ujarnya. Gadis itu menoleh, terlihat bingung. “Yah... saya baru saja tiba di Luga. Jadi, saya hanya bertanya tentang apa yang pertama kali saya lihat. Bukankah itu wajar?” Vladimir menahan napasnya. Kalimat itu adalah pernyataan paling tidak logis dan sekaligus paling berani yang pernah ia dengar. Tanpa memberi peringatan, ia tiba-tiba menangkap pergelangan tangan gadis itu. Meskipun tidak secara kasar, pelukannya cukup kuat untuk mencegahnya melarikan diri atau terjatuh karena suhu dingin. “Aku bukan petugas.” Tatapannya tajam, dan suaranya terdengar dalam serta berat. “Aku adalah seseorang yang... seharusnya kamu jauhi.” Ia mendekatkan wajahnya, bisikan dingin itu menyentuh kulitnya. “…Namun, kamu malah meminta alamat dariku.” Ia sedikit menjauh, menatapnya kembali dari dekat. Ia sedikit menjauh, kemudian menatapnya lagi dengan lebih dekat. "Jika aku menunjukkan alamat ini... kau yakin tidak akan merasa menyesal?" Vladimir terdiam. Salju terus berjatuhan di sekitar mereka, tetapi yang paling membeku kali ini adalah pikiran pria Rusia tersebut. “Eh… saya baru pertama kali ke sini.” Gadis itu mengucapkan sambil mengeluarkan napas yang berubah menjadi uap putih. “Jadi, mungkin Luga adalah tempat liburan yang paling tepat.” Kalimat tersebut... Disampaikan dengan sederhana, lugas, dan percaya diri—seolah ia baru saja memberikan pujian pada Disneyland, bukan kota dingin yang dipenuhi kejahatan sehingga warga setempat pun merasa takut untuk keluar di malam hari. Para pengawal di belakang nyaris menelan air liur mereka sendiri. Salah satu menutup mulutnya, sementara yang lainnya menunduk menatap tanah sambil berdoa agar bos mereka tidak marah akibat pernyataan gadis itu yang terlalu jujur dan salah. Vladimir mengamati mereka dengan seksama. Dia benar-benar memperhatikannya dalam waktu yang cukup lama. Kemudian, dengan perlahan… sudut bibirnya mulai bergerak. Itu bukanlah senyuman yang ramah—melainkan lebih mirip ekspresi seorang pria yang bingung, seolah tengah dihina, ditertawakan, atau sedang menyaksikan komedi kehidupan dalam balutan gaun tipis. “Destinasi liburan terbaik…” Ia melihat gadis itu dari atas hingga bawah, mengulangi pandangannya untuk memastikan bahwa ia benar-benar ada dan bukan sekadar ilusi akibat kondisi cuaca yang ekstrem. “Gadis kecil…” Nada Vladimir merendah, nyaris seperti geraman tak percaya. “Kau berdiri di tengah musim salju yang paling membahayakan.” Dia menunjuk ke arah pakaiannya. “Dengan menggunakan itu.” Lalu ia menunjukkan kerumunan yang menjauh karena ketakutan. “Di kota yang terkenal buruk.” Ia membungkuk sedikit, wajahnya begitu dekat sehingga napas hangatnya menghangatkan udara dingin di wajah gadis itu. “…Dan kau berani menyebutnya sebagai tempat berlibur?” Gadis itu mengangguk tegas, sama sekali tidak merasa masalahnya. “Ya, karena bangunannya indah, dan banyak orang tinggi di sini.” Ia memberikan tatapan singkat kepada Vladimir. “Termasuk Anda.” Kali ini, kedua pengawal itu terkejut. Salah satunya bahkan menepuk d**a rekannya untuk menahan tawa yang hampir keluar karena panik. Vladimir terdiam sejenak. Kemudian, ia sedikit membungkuk dan dengan tatapan mata biru tajamnya, ia mengamati gadis itu lebih mendalam—bukan hanya sekadar memperhatikan... tetapi juga mencoba memahami. “Kau…” suara Vladimir hampir tak terdengar, seperti bisikan. “…memujiku?” Gadis itu hanya mengangguk ringan. “Ya. Sangat tinggi, seperti menara.” Vladimir mengeluarkan napas perlahan, berat, seolah-olah seorang pria yang akhirnya mengakui kenyataan. "Baik," ujarnya akhirnya, suaranya yang sebelumnya tajam kini terdengar lebih tenang—bukan lembut, tetapi lebih terkontrol. "Jika memang kau baru tiba dan tersesat..." Ia kemudian menarik mantel dari punggung gadis itu, menutupinya tanpa meminta izin. “…Aku akan membawamu ke alamat ini. Sebelum kamu kedinginan atau menyebabkan masalah yang lebih besar.” Mata gadis itu terlihat terkejut. “Eh? Ternyata Anda baik, Pak Petu—” Vladimir tiba-tiba menatapnya dengan tajam. Sangat tajam. “…Satu kata lagi,” ia berbisik dengan nada serius. “Dan aku akan membawamu ke kantor petugas—dengan cara yang sudah kupilih.” Gadis itu terdiam, tidak berkata apa-apa. Vladimir pun kemudian membalikkan badannya, sambil tetap menggenggam tangannya. “Jalan.” Vladimir berhenti sejenak. Hanya dalam waktu yang singkat—tapi cukup untuk membuat sembilan pengawalnya langsung siaga, karena biasanya ketika bosnya berhenti seperti itu… seseorang akan lenyap dari peradaban. Namun kali ini, bukanlah karena ada ancaman. Melainkan karena gadis itu baru saja berbicara dengan… nada yang lembut. Tulus. Dan kepolosannya sangat jelas terasa. “Oh… boleh. Terima kasih.” Vladimir menoleh perlahan. Ia memandang tangan kecil yang masih ada di genggamannya—dingin, namun terasa hangat dengan cara tertentu. Lalu, pandangannya berpindah ke wajah gadis tersebut. Tidak ada ketakutan. Tidak ada kecurigaan. Tidak ada rasa waspada. Hanya sekedar ungkapan terima kasih yang sederhana, seolah ia tengah dibantu oleh petugas yang ramah di stasiun kereta. Pengawal tertua sampai menghela napas dalam hati: Bos sedang dilembutkan tanpa persetujuan... Vladimir hanya sedikit mengernyitkan dahi. Bukan karena marah. Lebih seperti... merasa kebingungan ketika berhadapan dengan seseorang yang tidak ada hubungannya dengan dunianya. “…Kau benar-benar tenang,” bisiknya pelan. Ia menarik mantelnya lebih dekat ke tubuh gadis itu, berusaha agar angin salju tidak langsung mengenai mereka. "Jangan menjauh dariku," ujarnya akhirnya, nada suaranya tetap terlihat dingin tetapi tidak sekejam sebelumnya. "Jika kau tergelincir atau terseret angin, aku tidak ingin harus menyelamatkanmu dua kali." Dia mulai melangkah, mengajak gadis itu berjalan di sampingnya. Sejumlah pengawal otomatis berdiri berjejer, menjaga jarak sambil tetap memperhatikan sekeliling. Suara langkah di atas salju menggema dengan irama yang teratur. Setelah beberapa saat, Vladimir melirik ke samping tanpa sepenuhnya memutar kepalanya. “…Kau tidak penasaran mengapa aku membawa begitu banyak pengawal?” Tatapannya tajam, seolah menguji. Ia ingin mengetahui sampai sejauh mana kepolosan gadis itu. Vladimir pun kembali berhenti melangkah. Badai salju mungkin saja berhenti bila ada kemauan, tetapi penghentian yang dilakukan Vladimir jauh lebih mendebarkan. Gadis itu memandangnya tanpa merasa bersalah sedikitpun. "Kamu berasal dari keluarga konglomerat." Kalimat itu diucapkan dengan begitu tenang. Para pengawal saling menatap satu sama lain dengan berbagai ekspresi: terkejut, bingung, dan sedikit merasa kasihan… pada atasan mereka sendiri. Vladimir perlahan-lahan menoleh. Tatapannya tajam, tetapi dibalik itu terdapat sesuatu yang lebih halus… seolah bertanya: apa lagi yang akan diucapkan gadis ini? “Anak konglomerat…” ♛┈⛧┈┈•༶ To Be Continue ༶•┈┈⛧┈♛

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
1.9M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
738.0K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.6M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
971.9K
bc

A Warrior's Second Chance

read
354.9K
bc

Not just, the Beta

read
346.2K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook