Janggal

1271 Words
James terlihat dua kali melintas di koridor ruangan khusus pada pasien gangguan jiwa yang kerap mengamuk. Entah kenapa hatinya menjadi penasaran dengan apa yang terjadi pada Melati. Ia mengintip dari kaca kecil yang ada di pintu, melihat ruangan berukuran dua kali dua meter tanpa jendela di dalamnya. Melati baru diberi obat penenang dan seluruh tubuhnya diikat dengan tali kain yang membuatnya tidak bisa bergerak. “Bagaimana menurutmu tentangnya?” Suara dokter senior Rahayu yang bertanya tiba-tiba dari belakang mengejutkan James hingga ia terhentak. “Aku belum memeriksa berkas kesehatannya lebih lanjut,” jawab James. “Yang aku tahu dia tidak gila, hanya mengalami tekanan mental karena kejadian traumatis. Aku membaca data dirinya sekilas, dia adalah wanita korban kekerasan dalam rumah tangga. Dianiaya, dan anaknya pun dibunuh oleh suaminya. Awal berita sebelumnya yang beredar, jika dia lah yang melempar bayinya sendiri. Tapi ternyata setelah diselidiki lebih lanjut justru suaminya lah yang melenyapkan anak mereka. Sungguh tragis." Rahayu mengangguk. “Ya, betul. Tapi dia berulang kali selalu mengatakan jika dirinya adalah korban pemerkosaan tiga teman suaminya.” James mengerutkan dahinya. “Dia meracau?” Rahayu menggeleng. “Kepala Melati baik-baik saja. Tidak ada benturan atau semacamnya. Dia juga sudah divisum, tapi hasilnya tidak menunjukkan adanya penodaan dan kekerasan seksual.” “Hasil visumnya bersih?” “Iya, visumnya bersih. Hanya ada tanda bekas penganiayaan saja.” James mengantupkan bibirnya. Ia tidak berkomentar lagi. “Semoga kamu bisa betah bekerja di sini James,” ujar Rahayu sembari tersenyum ramah. “Menggantikan Dokter Firman yang sudah pensiun. Maaf kemarin aku tidak datang menghadiri acara makan-makan penyambutan mu.” “Tidak apa-apa. Aku senang ditugaskan di sini, hidup sendiri, jauh dari pusat Kota membuatku lebih tenang.” Rahayu mengangkat tangan sebelah kirinya dan melihat arloji di tangannya. “Aku pulang dulu ya. Mau jalan bersama ke parkiran?” “Dok Rahayu duluan saja, aku akan menyusul. Setelah ini ada hal lain yang harus aku kerjakan.” “Baiklah,” ujar Rahayu sembari tersenyum dan kemudian membalik badan, berjalan menjauhi James. James memandangi punggung Rahayu yang perlahan menjauh. Lalu ia melangkahkan kaki menuju ke arah ruang kerjanya yang berada di sebelah barat. Sesampainya di sana, ia segera mengambil berkas data diri Melati dan memeriksanya sekali lagi. Lalu rekaman ocehan Melati tentang pemerkosaan yang terjadi padanya. Bahkan ia menyebut tiga nama, Frans, Damar dan Galih. Jantung James seraya berhenti berdegup ketika mendengar nama Galih disebut. Namun ia segera menyingkirkan pemikiran tidak berdasar jika Galih yang disebut itu adalah orang yang sama dengan Galih, adik iparnya. “Kenapa polisi tidak menyelidiki tiga nama yang telah disebutkan oleh Melati? Kasus ini memang aneh,” ujarnya pada diri sendiri. “Untung saja Firman, dokter psikiatri yang menangani kejiwaan Melati merekam semua kata yang diucapkannya ketika ditangani kali pertama. James mendengarkan hingga rekaman tersebut selesai. Lalu mengulanginya lagi. “Apa yang menimpa Melati sungguh manarik?” ujarnya lirih. Lalu kemudian membuka laptopnya dan menulis kata pencarian ‘Penganiayaan disertai pembunuhan bayi’. Melalui kata kunci tersebut di laman perambaan google, hanya dalam satu detik setelah diklik, semua informasi tentang kasus serupa muncul. Dan paling teratas adalah berita tentang Melati. Karena berita tentang Melati paling terkini dan sedang hangat-hangatnya. James mengambil kacamata anti radiasi miliknya dan kemudian lebih mendekatkan mukanya pada layar laptop. Ia mulai membaca kronologi kejadian demi kejadian menurut fakta yang didapatkan kepolisian hingga Ruben, suami Melati menjadi tersangka utama atas penganiayaan dalam rumah tangga hingga menyebabkan anak semata wayang mereka meninggal dalam kondisi mengenaskan terlempar dari jendela kamar. Setelah tiga hari kejadian, Ruben menyerahkan diri kepada kepolisian jika dirinya lah yang bertanggung jawab atas segalanya. Karena tersangka sudah mengakui perbuatannya dan fakta di TKP pun tidak memperlihatkan kejadian lainnya selain kekerasan di dalam rumah tangga, maka kasus Melati ditutup dengan Ruben sebagai tersangka utama. Sudah selesai membaca situs berita yang satu, James kembali menggulir mouse ke bawah dan mengklik. Rasanya tidak puas membaca informasi dari satu sumber berita. Ia ingin mengumpulkan banyak berita tentang Melati. Satu artikel yang membuat James penasaran. Sebuah blog dengan judul 'Melati yang Tak Harum Lagi' membuatnya ingin membaca keseluruhan artikel. Jarinya menggerakkan mouse, bergulir sedikit ke bawah. Namun saat ia sedang fokus, tiba-tiba ponselnya berdering. James segera mengeluarkan ponsel miliknya dari saku celana dan membaca layar ponsel. Tertulis nama Rumalia di layar ponselnya. James terpaksa mengalihkan fokusnya pada layar laptop dan menggeser layar ponsel, menjawab panggilan tersebut. “Halo? Ada apa?” “Astaga, kenapa ketus sekali nada bicaramu?” Terdengar di seberang sana suara seorang wanita bersungut. James menarik nafas panjang dan menghembuskan nafas perlahan. “Ada apa? Katakan saja apa yang kau mau,” tanyanya pada wanita yang masih berstatus sebagai istrinya itu. “Besok lusa aku akan ke Turki untuk pemotretan sebagai model brand ambassador kosmetik berkah. Jadi- ....” “Tumben sekali sebelum pergi kau meminta izinku?” James berbalik bertanya ketika menyela. Rumalia menggigit bibir bawahnya yang sudah terpoles lipstik warna merah. Ia berusaha mengabaikan sindiran suaminya itu. Ia tahu kabar perselingkuhannya dengan Ricard sudah terendus oleh suaminya. Namun ia masih tetap seolah tidak melakukan kesalahan sama sekali. “Ida mendadak ingin pulang kampung karena ibunya sakit. Jadi dia mendadak minta izin pulang. Tidak mungkin aku tidak mengizinkannya. Apa kata netizen jika seorang majikan tidak membiarkan baby sisternya pulang kampung untuk menengok orang tua yang sakit?” Kening James berkerut. “Jadi maksudmu kau ingin mengantarkan Tasya ke mari?” “Ya, begitulah. Tidak ada yang bisa aku percaya selain dirimu dan Ida. Tidak mungkin aku membawa Tasya ke rumahku, Papa dan Mamiku selalu sibuk. Galih juga tidak akan bisa dipercaya jika diminta mengasuh Tasya. Dan pembantu di rumah Mama juga tidak bisa diharap. Aku merasa hanya kamu yang bisa menjaga Tasya saat aku ke Turki.” “Tentu saja aku bisa,” jawab James cepat dan lugas. Ia sampai lupa dengan fokusnya sebelumnya. Atas minatnya membaca informasi atas musibah yang telah dilalui Melati. “Aku akan menjaga Tasya, kapan kamu antarkan dia ke sini?” “Besok. Kau tidak marah kan?” Rumalia tersenyum tipis. Pertanyaan basa basi yang sebetulnya ia tahu apa jawabnya. Karena tidak mungkin James marah atau pun tidak mau menjaga Tasya, walau James membencinya sekali pun. “Tidak.” “Apa kau sibuk?” tanya Rumalia sekali lagi. Berharap ada topik yang bisa mereka bicarakan hingga mengulur waktu dan mencairkan suasana kaku di antara mereka. “Tidak.” “Jadi kita bisa video call? Aku sedang mengenakan pakaian tidur kesukaanmu loh ... Lingerie warna merah yang sering kau mainkan talinya agar turun perlahan dan terlepas dari tubuhku,” ujar Rumalia bersuara sedikit dibuat manja dan menggoda. “Ini masih sore. Dan kau sudah mengenakan baju tidur?” Sudut bibir James menukik sedikit ke atas, tersenyum sinis. “Atau kau sedang menunggu pria yang akan datang ke aperteman kamu?” “James!” Suara Rumalia yang semula manja kini berubah bernada tinggi melengking nyaring. “Aku masih ingat, bagaimana kau membodohiku dan berselingkuh dengan Ricard!” “Itu hanya gosip semata. Kau tahu kan jika artis memang sering mendapatkan berita miring!” “Tapi itu bukan gosip semata, ada selembar foto yang memperlihatkan kalian masuk ke dalam hotel bersama!” “Ti-tidak begitu James. Berulang kali sudah aku jelaskan jika semua itu ....” Rumalia terbata-bata ingin membela diri. Tapi sayangnya James yang sudah batu hatinya tidak mau mendengarkan apa pun. “Besok antarkan Tasya langsung ke tempat kerjaku. Besok jadwalku jam sembilan hingga jam tiga sore,” ucapnya sembari mematikan panggilan telepon sepihak. “James? James?” Rumalia masih memanggil suaminya. Tapi suaranya sudah tidak terdengar lagi. “Siaal ... Dia masih membahas soal Ricard!! Dia masih mengingat kesalahan fatalku yang berselingkuh dengan Richard ....”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD