Kenyataan pahit

1601 Words
“Dok ... di mana suami dan anakku? Aku ingin bertemu mereka ....” Dokter Rahayu dan Suster Mutia menatap Melati tanpa kata. “Bisa tolong panggilkan suamiku?” tanya Melati sekali lagi. “Aku ingin bertemu dengan suami dan anakku ....” Dokter Rahayu mengatupkan bibirnya sebelum menjawab. Ia harus berbohong sementara demi kondisi mental Melati yang belum stabil. “Ya, kami akan memanggil suami anda dan memintanya untuk membawa serta anak kalian ke mari.” Melati tersenyum. “Terima kasih Dok ... Aku tidak bisa bayangkan, putriku itu bisa atau tidak jauh dari bundanya. Kekey masih sangat kecil aku tinggal.” Suster Mutia melirik ke arah Dokter Rahayu. Mereka saling bertatapan. Sama-sama wanita, mereka pun bisa lebih merasakan apa yang dirasakan oleh Melati. “Tolong segera suruh suamiku ke mari ya ... Aku juga tidak tahu apa yang terjadi padaku hingga ada di rumah sakit. Apa aku mengalami kecelakaan dok?” Dokter Rahayu tidak menjawab. Ia hanya tersenyum getir. “Kamu istirahat dulu ya. Nanti kami akan kembali lagi. Seorang suster akan menemanimu setelah ini.” “Terima kasih Dok ....” Dokter Rahayu dan Suster Muti segera keluar ruang perawatan setelah melihat keadaan Melati. “Kita akan diskusikan keadaan Melati dengan para dokter lain dan juga polri.” “Baik Dok ....” “Panggil salah satu anak magang untuk menemani Melati di ruangannya. Dan jangan beritahu dia jika anaknya sudah meninggal dan suaminya dipenjara karena kekerasan dalam rumah tangga yang dialaminya.” “Baik, Dok ....” “Perlahan kita akan memberitahunya.” *** Setelah beberapa minggu mendapatkan perawatan di rumah sakit. Melati baru tahu jika dia telah tersadar dari pingsan selama lima hari. Ia pun mendesak dokter dan suster memberitahukan di mana bayinya? Kenapa anak dan suaminya tidak segera datang mengunjunginya? Melati mulai mengamuk. Ia pun ditenangkan. Dan Dokter Rahayu terpaksa memberitahukan apa yang telah terjadi. Secara lembut dan perlahan ia menceritakan tentang malam tragis yang telah dilalui Melati. Raut muka Melati langsung berubah datar, tanpa ekspresi. Setelah beberapa menit hanya diam membisu. Melati pun kini berteriak histeris. “Tidaaaak!” Sekelebat ingatan atas kematian Kekey kini terlintas di benaknya. Bayangan Frans, Damar, dan Galih yang memperkosanya seraya kembali menikam panas api neraka di relung hatinya. Dokter Rahayu mengusap lembut punggung Melati. Ia memeluk Melati. “Kamu tidak sendirian Melati. Banyak orang yang akan mendukungmu. Termasuk saya dan juga ... Asal kamu menceritakan apa yang sebetulnya terjadi padamu.” “Mana suamiku, Dok ...?” Melati langsung teringat Ruben. “Di mana suamiku? Beberapa minggu aku di rumah sakit. Dia tidak sekali pun menjengukku. Apa dia marah padaku karena tidak bisa menjaga anak kami? Atau Ruben jijik padaku?” “Jijik?” Kedua alis Dokter Rahayu bertaut. “Kenapa dia harus jijik padamu?” Melati langsung kembali menangis histeris. Ia menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Sentuhan tangan-tangan kotor dan usapan lidah menjijikan itu kini terasa kembali di kulitnya. “Ada apa Melati?” tanya Dokter Rahayu lirih. Seketika ia langsung merasa ada yang aneh di sini. Manik matanya mengamati sekujur tubuh Melati yang masih terhiasi luka memar dan lebam. Harusnya Melati benci kepada suaminya yang telah memukuli dan juga memprovokasinya hingga melempar bayinya ke luar jendela dan jatuh ke halaman. Itulah yang digambarkan oleh penyidik yang menangani kasus Melati. Bahkan polisi pun meminta pihak rumah sakit segera memberikan hasil kesehatan Melati. Jika sudah dinyatakan sehat, maka Melati akan segera diinterogasi juga diadili karena telah melempar putrinya yang masih bayi hingga tewas. “Kenapa suamimu harus jijik padamu?” tanya Dokter Rahayu sekali lagi. Suara isakan tangis Melati masih terdengar memilukan. Sepasang telapak tangannya segera diturunkan ke bawah. Ia menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. “Aku sudah dinodai Dokter. Makanya suamiku jijik padaku.” Dokter Rahayu terperangah mendengarnya. “Apa? Kamu diperkosa?” Melati menganggukkan kepalanya. “Tidak mungkin ....” “Apanya yang tidak mungkin Dok? Aku yang mengalaminya ....” Dokter Rahayu tidak langsung menjawab. Ia diam. Memikirkan apa yang terjadi dengan Melati. Kasus yang dialami Melati sudah menemui titik terang. Ruben, suaminya sendiri telah mengakui melakukan pemukulan dan penganiayaan terhadap Melati. Sebelumnya mereka bertengkar hebat karena Ruben pulang terlambat. Melati menuduh suaminya berselingkuh dan kemudian melampiaskan kekesalannya dengan melempar bayi mereka ke luar jendela. Karena tindakan tersebut. Ruben langsung naik pitam dan memukuli Melati hingga tidak sadarkan diri. Dan jika Melati memang diperkosa, harusnya hasil visum saat pertama kali Melati datang ke rumah sakit menjelaskan jika adanya pemerkosaan. Tapi laporan dari visum tersebut bersih. “Ada apa Dok? Kenapa diam saja? Aku ingat, jika aku diperkosa. Tiga orang teman suamiku yang baru dikenalnya datang ke rumahku di malam itu. Dan salah satunya ... telah membunuh anakku,” jelas Melati sekali lagi sembari menangis lebih histeris dari pada sebelumnya. “Aku bisa mengatakan apa yang kamu katakan ini tidak mungkin terjadi, karena laporan hasil visum saat kamu pertama kali dilarikan ke rumah sakit tidak ada tanda-tanda pemerkosaan ....” Sepasang manik mata Melati membulat. Ia tidak percaya. “Hasil visum? Saat kejadian aku pingsan dan sadar di rumah sakit setelah beberapa hari setelahnya.” “Ya, pihak rumah sakit segera memvisum walau kamu pingsan.Karena polisi membutuhkannya. Dan hasil dari visum hanya menunjukkan tentang penganiayaan yang kamu terima. Juga suamimu Ruben telah mengaku jika dia yang telah memukulimu. Dia juga bersaksi jika kamu telah melempar bayimu sendiri karena pelampiasan kesal padanya.” Sepasang mata Melati berkaca-kaca. Ia menggeleng pelan. “Tidak ... itu tidak benar. Bagaimana bisa aku membunuh anakku sendiri?” tanyanya sembari menangis. Dokter Rahayu menghela nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Ia kembali mengusap lembut bahu Melati yang menegang. “Aku tahu, apa yang kamu lakukan seperti kehilafan. Tenang saja, aku tidak menghakimi. Aku di sini sebagai temanmu. Kamu bisa menceritakan yang sebetulnya terjadi.” Melati menatap lekat manik mata Dokter Rahayu. Wanita paruh baya itu memiliki aura yang membuat orang lain tenang dan nyaman. “Aku tidak berbohong Dokter ... Aku tidak membunuh bayiku. Salah satu pria yang memperkosaku telah membunuh bayiku!” serunya dengan nada tinggi. “Iya, iya, aku percaya. Tenanglah ....” Melati beranjak berdiri sembari menggelengkan kepalanya. “Tidak. Anda tidak mengerti. Anda tidak percaya padaku!” Suara Melati yang kencang dan melengking itu membuat tiga orang tenaga medis yang berada di sekitar segera menghampiri. Mereka takut Melati akan menyakiti Dokter Rahayu. “Tenanglah Mel ... Kita akan membahas ini. Kamu bisa memberitahu aku siapa tiga pria yang telah menodaimu itu ....” “Tapi dari sorot mata anda ... Anda tidak percaya padaku Dok ...,” jawab Melati dengan air mata berlinang. Ia melempar gelas berbahan kaca yang ada di atas meja yang tak jauh dari mereka duduk. “Praaang!” Gelas terlempar dan pecah. Melati segera memungut kepingan kaca tersebut dan mengarahkannya ke arah pergelangan tangannya. “Jangan Mel ... kita bisa membahasnya setelah ini. Kamu adalah pasienku. Aku percaya padamu,” bujuk Dokter Rahayu dengan suara lembut namun air mukanya tampak tegang. Melati menggelengkan kepalanya. “Tidak ada yang percaya padaku. Bahkan suamiku tidak datang menjenguk karena jijik padaku. Anakku mati. Apa yang tersisa padaku?” Air mata menetes membasahi wajah Melati yang berkulit pucat. Tangan kanannya yang sudah memegangi pecahan kaca bersiap untuk menyayat pergelangan tangan di sebelah kiri. “Kenapa diam saja?! Cepat hentikan!” jerit Dokter Rahayu pada tiga perawat yang sejak tadi hanya menonton dengan wajah takut. Melati segera mengarahkan kepingan kaca tersebut menyayat nadinya. Jarak antara tiga perawat yang sejak tadi hanya menonton terlampau jauh untuk memegangi Melati agar tidak bunuh diri. Dokter Rahayu segera berlari menghampiri Melati. Tapi sepertinya ia pun tidak sempat menghadang niat buruk Melati untuk mengiris nadinya. Tapi tangan kekar memegangi lengan kanan Melati. Menahan tangan tersebut untuk menyayat pergelangan tangan kirinya. Dokter Rahayu menghela nafas lega melihat Dokter James memegangi Melati. Sekali hentak, pecahan kaca yang dipegang Melati langsung terlepas. Manik mata Melati menatap tangan kekar yang memegangi lengannya. Bayangan saat Frans, Damar dan Galih yang memegangi tangan dan tubuhnya langsung teringat jelas. Ingatannya tersebut membuatnya kembali berteriak histeris dan meronta sekuat tenaga. Kedua tangannya pun memukuli d**a bidang James. “Aaaaaa!” “Ambilkan suntikan obat penenang!” seru Dokter Rahayu. Tiga perawat yang berada di dekatnya seketika langsung kocar kacir segera mengambil serum obat penenang dan spul suntiknya. “Aaa! Jangan sentuh aku!” seru Melati pada James. Ia terus berusaha memukuli James. Dokter Rahayu sudah mendapatkan obat penenang dan segera menyuntikkannya di lengan Melati. Dalam beberapa detik Melati langsung lemas dan tidak sadarkan diri. James yang ada di dekat Melati segera mendekap, dan memberikannya pada dua suster dan dua perawat untuk segera dibaringkan di ruang bangsal nomer 14. James memandangi Melati yang kini sudah tak sadarkan diri duduk dan didorong di kursi roda. “Wanita itu ... Pasien anda Dok?” Dokter Rahayu mengangguk. “Apa yang terjadi padanya? Kenapa dia mengamuk?” “Sebetulnya kasusnya sudah menemukan titik terang. Polisi sudah mengumumkan siapa tersangkanya. Tapi entah kenapa hati kecilku mengatakan jika ada yang aneh dengan kasus yang menimpa Melati.” Bibir James sedikit ternganga. “Oh ... jadi wanita itu terlibat kasus kriminal?” tanyanya dengan raut muka menghakimi. “Apa dia adalah wanita yang telah melempar bayinya sendiri karena bertengkar dengan suaminya itu?” Dokter Rahayu mengangguk. “Iya. Tapi aku yakin, pasienku yang satu ini tidak melakukan kejahatan." “Sedangkan aku ... kebalikannya. Aku merasa dia memang melempar bayinya. Dan sikapnya barusan karena takut mendapatkan hukuman dari pihak berwajib. Jadi dia mengarang cerita,” sahut James sembari tersenyum sinis. “Kamu adalah dokter Psikiatri. James ... Kalau begitu, tolong tangani pasienku itu. Kamu pasti tahu mana yang benar dan yang salah. Mana yang bicara jujur atau bohong.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD