Perbuatan kejam

1065 Words
“Jangan berteriak!” seru Frans panik. “Warga akan datang dan menghakimi kita, Frans,” timpal Damar sangat ketakutan. “Mangkanya dorong pintunya agar terbuka!” Tiga pria yang setengah mabuk itu segera mendorong pintu secara bersama-sama. Tidak mungkin mereka kalah terhadap satu orang wanita saja. Dalam hitungan kedua, ketika tiga pria kompak mengerahkan tenaganya. Pintu kamar pun terbuka. “Braaak!” Melati tersungkur. Ia ketakutan. Jatuh di atas lantai namun segera beranjak berdiri. Di kepalanya langsung teringat akan Kekey yang saat ini sudah terbangun dan menangis. Melati berlari ke arah Kekey dan mendekapnya. Ia langsung menuju ke arah jendela kamar. Satu kakinya sudah berada di luar jendela saat tangan kekar Damar menarik kembali tubuh Melati dengan kasar. “Kalian mau apa!” seru Melati histeris. “Mau apa? Kami sudah membelimu untuk malam ini!” Melati terkesiap. Netranya yang sudah banjir air mata langsung menatap Damar, Galih dan Frans. “Omong kosong! Aku bukan barang dagangan!” “Diam! Yang pasti malam ini kami ingin sensasi bersama istri orang dan aku ingin tahu bagaimana cara permainan kamu untuk memuaskan pelanggan.” Melati semakin tidak mengerti. Ia yakin Frans, Damar dan Galih memang sedang terpengaruh alkohol dan narkoba. “Cepat pergi dari rumahku!” serunya dengan nada tinggi. Suasana gaduh mulai memuncak. Ditambah suara tangisan si bayi Kekey yang masih berusia delapan bulan tidak bisa diam karena ikut ketakutan merasakan apa yang dirasakan bundanya. Melati mendekap erat Kekey. Dengan sebelah tangannya ia melawan Damar, Galih dan juga Frans agar menyingkir. Ia akan benar-benar melompati jendela kamar. Tapi tangan kekar Galih menjambak rambutnya. Kepala Melati sangat terasa sakit hingga ia mengandahkan muka. Leher jenjang Melati pun terekspos, membuat Frans yang sejak tadi sudah berhasrat tidak bisa menahan. Suara tangisan Kekey dinilai mengganggu dan membahayakan. “Diamkan anakmu itu!” tukasnya dengan sepasang mata mendelik mengancam. “Anakku yang akan menolong ibunya. Para warga akan datang ke mari.” Kalimat Melati yang membuat Frans semakin takut. Suara tangisan Kekey memang mengganggu dan membahayakan mereka. Jika bayi terus-terusan menangis seperti itu kemungkinan beberapa warga yang melintas dan terdekat akan berdatangan. “Bayimu ini sungguh menganggu!” seru Frans sembari memaksa merebut Kekey dari pelukan Melati. Melati berteriak. Ia tidak akan membiarkan putri semata wayangnya disentuh oleh manusia laknat seperti Frans ini. Tapi mulut Melati yang berteriak ini langsung dibekap oleh Damar. Tangan kanan dan kiri Melati ditarik paksa oleh Galih. Dan Frans segera mengambil Kekey dari dekapannya. Melati menangis. Ia berteriak dengan suara yang tak terdengar. Kekey masih menangis ketakutan. Bayi malang itu kebingungan mencerna apa yang terjadi ditambah melihat tiga pria asing berada di dalam kamar. Manik polos Kekey menatap Melati. Tangan mungil itu bergerak menggapai-gapai ibundanya. Suara tangisan bayi membuat Frans menjadi buntu dan tidak bisa berpikir logis. Karena takut warga berdatangan. Ia segera membekap Kekey dengan telapak tangannya yang lebar hingga hidung mungil bayi itu tertutup. Iris mata Melati membulat. Ia takut Frans akan melakukan hal buruk kepada bayinya. Dan benar saja .... Bagai waktu yang bergerak lambat, Melati bisa melihat betapa kejamnya Frans memegangi kepala Kekey dengan kedua tangannya dan memutar kepala mungil itu. Di tangan pria bengis itu, sekali putar bayi tak bersalah itu langsung tidak bersuara. Lehernya patah dan mati. Terlihat jelas leher Kekey tidak tegak lagi. Melati histeris dan meronta. Namun ia tidak kuat melawan tenaga dua pria yang memeganginya. Dadanya terasa sakit dan perih seperti ditusuk pisau belati. “Kekey!” jeritnya walau suaranya tertahan telapak tangan Damar yang menutupi mulut. Setelah memutar kepala Kekey dan lehernya tak lagi tegap. Frans melempar tubuh Kekey ke luar jendela. “Tidaaaak!” jerit Melati. Pandangan langsung terlihat gelap. Lutut Melati lemas. Kepalanya sakit. Nafasnya terasa sesak. “Apa yang kamu lakukan Frans!” Damar tidak setuju dengan adanya pembunuhan. Apa lagi terhadap bayi tak bersalah. “Bayi itu berisik!” Damar menggelengkan kepalanya. “Sudahlah, kita lakukan saja apa yang ingin kita nikmati,” ujar Galih menyela. Saat Melati syok. Frans, Damar, dan Galih segera membaringkannya di atas kasur. Lalu memperkosanya bergilir. Melati merasakan tubuhnya disentuh dan dinodai. Tapi ia tidak bisa melawan karena seluruh tubuhnya terasa lemas saat melihat bayinya dibunuh dan dilempar ke luar jendela. Sepasang matanya memicing. Ia mengamati dengan jelas setiap inchi wajah-wajah b******n biadap yang telah menghancurkan keluarganya di malam ini. Ia pasti akan menuntut balas atas semua kejahatan mereka malam ini! *** Indera penciuman Melati menghirup aroma pewangi lantai khas rumah sakit. Perlahan tapi pasti ia membuka kelopak matanya. Pandangannya masih berkunang-kunang dan tidak jelas. Berharap apa yang dilaluinya adalah sebuah mimpi buruk. Juga berharap Ruben suaminya ada di sisinya sembari menggendong Kekey. “Syukurlah ... Akhirnya kamu sadar,” kata seorang suster yang kebetulan sedang mengganti botol infus milik Melati. Bola mata Melati bergerak pelan ke arah suster dengan kacamata persegi empat itu. “Sus ... saya ada di rumah sakit? Mana Kekey, anak saya?” tanyanya dengan suara parau. Suster yang mengenakan seragam setelan berwarna putih tulang dengan papan nama terpasang di depan dadanya, bertulis Mutia itu seketika berwajah sayu prihatin dan tersenyum pahit. “Bisa panggilkan suami saya, Sus? Kenapa saya ada di rumah sakit ya? Saya kenapa? Semalam saya sangat bermimpi buruk.” Suster Mutia menghela nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. “Tunggu sebentar ya Bu ... Saya akan segera kembali bersama dokter,” ujarnya. Lalu tidak lama kemudian seperti janjinya, Mutia datang kembali ke ruang perawatan bersama Dokter Rahayu. “Dok, sepertinya karena trauma pasien mengalam hilang ingatan,” katanya sembari berjalan beriringan. Kedua alis Dokter Rahayu berkerut. “Maksudmu, pasien sepertinya mengalami Amnesia Disosiatif (Hilang ingatan sesaat karena trauma)?” “Sepertinya begitu. Pasien mencari suami dan anaknya!” “Kita akan periksa lebih lanjut dan dalami lagi,” kata Dokter Rahayu sembari melangkah masuk ke dalam ruangan. Senyuman ramah langsung terhias di wajah cantik paruh bayanya. “Selamat sore, Melati ... Tidur panjangmu nyenyak?” tanyanya sembari mendekat. Melati tidak langsung menjawab. Tatapannya menerawang lurus. Dokter Rahayu mengusap kepala Melati dan menaruh Termometer berbentuk tembakan ke kening. Ia mengecek suhu tubuh Melati. Setelah terlihat suhu tubuh Melati yang menunjukkan 37,2 derajat Celcius, Mutia yang berdiri di samping Dokter segera mencatatnya di buku besar. Tidak ketinggalan tensi darah Melati pun diperiksa. Dokter Rahayu tidak menemukan kendala kesehatan fisik yang serius, selain mental Melati yang mengalami trauma. “Dok ... di mana suami dan anakku? Aku ingin bertemu mereka ....” Dokter Rahayu dan Suster Mutia menatap Melati tanpa kata.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD