Aku terbangun dalam kegelapan. Suara dengungan halus bergema di telingaku, seolah-olah dunia ini bernafas dengan ritme yang aneh. Mataku masih menyesuaikan dengan cahaya redup yang berasal dari layar-layar holografik di sekelilingku. Aku masih di sini, di dalam CryoCore, kapsul yang diklaim sebagai teknologi penyelamat umat manusia.
IEpC menyebutnya Pembangkit Listrik Tenaga Radiasi. Kedengarannya megah, seperti solusi bagi dunia yang hancur pasca perang. Nyatanya, kapsul ini lebih dari sekadar pembangkit listrik. Ia adalah penjara tanpa jeruji bagi orang-orang sepertiku. Bagi mereka yang tubuhnya menyerap radiasi dalam jumlah besar. Aku tidak tahu seberapa lama aku tertidur di dalamnya kali ini. Seminggu? Sebulan? Entahlah. Jika itu hanya sebuah pembangkit, mimpi apa yang selalu aku lihat ketika aku di dalam CryoCore?
Tanganku gemetar saat aku mengangkatnya. Tubuhku terasa kaku, otot-ototku seperti es yang baru saja mencair. Aku menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan, melihat embun yang terbentuk di kaca kapsul yang mulai terbuka. Udara dingin langsung menyentuh kulitku. Dingin. Hampa. Seperti dunia di luar sana.
Aku duduk di tepi kapsul, menatap ruangan steril berwarna putih perak di sekelilingku. Deretan kapsul lain berjajar rapi, masing-masing dengan penghuni di dalamnya yang tertutup, hanya terlihat angka-angka statistik di layar holografik di samping mereka. Berapa lama mereka akan tetap tertidur? Apakah mereka benar-benar manusia, atau hanya sumber daya bagi perusahaan ini?
Aku menekan tombol kecil di pergelangan tanganku. Armor Guardian-ku mulai aktif, menyesuaikan suhu tubuhku dan menekan dampak radiasi yang mungkin masih melekat di kulitku. Warna biru terang menyala samar di sepanjang garis suit ini, membungkus tubuhku dengan lapisan pelindung yang terasa lebih seperti borgol daripada pakaian.
Aku adalah pengaman. Aku adalah tentara. Aku adalah aset IEpC.
Setidaknya, begitulah mereka ingin aku percaya.
***
Monitor holografik di sudut ruangan menyala, menampilkan rangkaian teks dan suara dingin AI yang membaca laporan misi hari ini. Namun, pikiranku melayang ke masa lalu, ke hari ketika dunia yang dulu aku kenal berubah selamanya.
Perang Dunia III. Begitulah mereka menyebutnya.
Aku masih bocah saat misil pertama meluncur. Aku ingat berita di layar-layar kota yang berteriak tentang krisis global, perebutan energi, dan saling serang tanpa peringatan. Negara-negara ASEAN, yang selama ini berdiri sendiri-sendiri, akhirnya runtuh dan bergabung menjadi Neosantara. Sebuah negara baru yang lahir dari kehancuran dan kebutuhan bertahan hidup.
Namun, Neosantara bukanlah kebangkitan. Itu hanya bentuk lain dari keterpurukan.
Mereka yang selamat dari ledakan nuklir pertama masih harus berjuang menghadapi radiasi, kelaparan, dan keputusasaan. Kota-kota besar berubah menjadi kuburan massal, jalanan dipenuhi bayangan manusia yang kehilangan arah. Langit tidak lagi biru, melainkan kelabu, seperti asap yang tak pernah hilang.
Mereka bilang dunia akan membaik. Tapi yang datang justru IEpC.
***
IEpC muncul di saat dunia sudah menyerah. Seperti dewa dari langit, mereka menawarkan solusi energi baru yang dapat membangkitkan kembali kota-kota mati. Mereka membangun benteng kota yang disebut JKTera yang dulu disebut Jakarta, Sebuah Kota yang dikelilingi tembok tinggi, tempat dimana mereka yang beruntung bisa hidup dengan aman, jauh dari kehancuran di luar sana. Mereka memberikan listrik, air, makanan sintetis, segalanya.
Tapi harga dari semua itu? Kepatuhan mutlak.
Aku masih ingat ketika seorang insinyur di proyek pembangkit tenaga nuklir, dibawa pergi karena mempertanyakan teknologi mereka. Dan aku yang menyeret mereka dari tangisan anak dan istrinya. Dengan muka ku yang dingin, Aku menjadi seolah pencabut nyawa bagi orang yang memberontak.
Sekarang aku adalah bagian dari Black Sentinel, satuan keamanan elit yang ditugaskan untuk menjaga kota ini dari dua ancaman utama: Siluman dan Pemberontak.
Siluman, bukan makhluk mistis seperti di cerita lama, melainkan hewan dan manusia yang telah bermutasi akibat paparan radiasi berlebihan. Mereka kehilangan akal sehat, menjadi predator ganas yang memburu apa pun yang hidup.
Dan Pemberontak, orang-orang yang tidak mau tunduk pada IEpC. Mereka yang masih percaya bahwa ada dunia di luar kendali perusahaan ini. Mereka yang mencoba melawan sistem yang sudah mengikat kami semua.
Dan aku? Aku berada di antara keduanya.
***
Aku menarik nafas panjang dan berdiri. Monitor holografik menampilkan misi hari ini:
“Zona Perbatasan Sektor-7: Aktivitas Siluman meningkat. Investigasi dan eliminasi.”
Aku meraih helmku dan memasangnya. Lampu biru di visor menyala, memindai data di sekitarku. Aku melangkah keluar dari ruangan, meninggalkan CryoCore dan semua rahasianya di belakang.
Hari ini, aku kembali menjadi s*****a. Tapi di dalam kepalaku, pertanyaan terus berputar.
Apakah aku benar-benar hanya alat?
***
Aku memasang helmku, memastikan segel pelindung di leher terpasang dengan sempurna. Data statistik tubuhku muncul di layar visor, semua parameter dalam kondisi optimal. Armor Guardian yang aku gunakan ini bukan hanya pelindung, tapi juga alat pemantau.
"Kapten, tim sudah siap." Suara rekanku, Vren, terdengar di saluran komunikasi.
Aku berbalik dan melihat mereka, lima orang dengan armor berwarna hitam keperakan, dilengkapi persenjataan canggih. Unit Sentinel-09, pasukan kecil yang ditugaskan dalam misi ini.
"Tujuan kita Sektor-6, koordinat sudah dikunci. Siluman mulai mengacau di sana. Tidak ada yang keluar hidup-hidup kecuali kita," kataku dingin.
Kami masuk ke dalam transportasi lapis baja. Mesin bertenaga plasma menyala pelan, dan dalam hitungan detik, kendaraan melesat menembus jalanan kota menuju perbatasan.
Guncangan di dalam kendaraan membawaku kembali ke hari itu, hari ketika dunia runtuh.
Aku ingat bagaimana aku berdiri di tengah reruntuhan, tubuh penuh luka, sesak napas karena asap radioaktif. Aku ingat suara ledakan nuklir yang membakar langit, cahaya menyilaukan yang menghapus semua yang kukenal.
Helikopter penyelamat IEpC datang tepat sebelum aku kehilangan kesadaran. Mereka menjanjikan kehidupan baru, makanan, tempat tinggal, perlindungan. Tapi janji itu hanyalah awal dari neraka yang lebih panjang.
Bertahun-tahun aku hidup dalam laboratorium dingin, tubuhku diteliti, darahku diambil setiap hari. Aku bukan manusia bagi mereka, aku hanyalah bahan percobaan, sebuah objek untuk mengembangkan teknologi mereka.
Kini aku adalah s*****a mereka, seorang prajurit tanpa hak untuk bertanya.
***
"Kapten, kita sudah tiba!" Suara Vren membawaku kembali ke kenyataan.
Kami keluar dari kendaraan dengan sigap. Sektor-6 adalah reruntuhan kota lama, gelap, sunyi, dengan bau kematian menyelimuti udara. Radar di pergelangan tanganku bergetar, tanda keberadaan Siluman.
Dari kegelapan, suara geraman memenuhi udara. Lalu mereka muncul. Siluman Singa, makhluk besar dengan tubuh mengerikan, kulitnya meleleh oleh radiasi, giginya berlapis lapisan logam yang mencakar aspal.
"Formasi bertahan!" Aku berteriak.
Tembakan energi menghujani langit malam. Aku menghunus pedang plasma, menebas makhluk pertama yang melompat ke arahku. Darah hitam dan radiasi membakar tanah di bawahnya.
Namun, bukan singa itu yang membuat dadaku bergetar. Dari reruntuhan, Siluman Manusia muncul.
Dulu, mereka adalah manusia biasa. Sekarang mereka hanyalah makhluk buas yang kehilangan kesadaran. Mata mereka masih terlihat manusiawi, seolah ada jiwa yang tersisa di dalamnya. Aku mengangkat senjataku, siap menembak. Tapi tanganku bergetar.
"Mereka bukan manusia lagi, Kapten!" Suara Vren memaksaku bertindak.
Dengan satu tembakan ke kepala, Siluman itu tumbang. Aku tidak pernah merasa lebih kosong dari ini.
Setelah pertarungan usai, kami mengumpulkan “Core” bola energi kecil yang terbentuk dari tubuh Siluman yang telah mati. Masing-masing penuh dengan radiasi, bercahaya redup dalam tabung penyimpanan.
"Kenapa IEpC selalu meminta Core ini?" gumamku pelan.
Tidak ada yang menjawab. Aku tahu tak ada yang peduli. Kami hanya prajurit, bukan ilmuwan. Tapi perasaan tak nyaman itu tetap ada.
***
Dalam perjalanan kembali, kendaraan kami melewati Sektor-7, daerah termiskin di dalam Dome City. Kami tidak disambut sebagai pahlawan. Makanan busuk, tomat, dan batu kecil dilempar ke kendaraan kami. Warga Sektor-7 berteriak, menyumpahi kami.
"Pembunuh!"
"Anjing IEpC!"
"Berapa banyak lagi yang akan kalian bunuh demi mereka?!"
Aku menatap mereka dari balik kaca kendaraan. Mereka adalah orang-orang yang kehilangan segalanya, yang hidup dalam kegelapan sementara kami menjaga cahaya palsu di pusat kota. Aku tidak berkata apa-apa. Aku hanya diam.
Setelah laporan misi selesai, aku kembali ke markas. Di sini, aku tidak dianggap sebagai manusia, melainkan aset. Aku berjalan melewati Asylum, tempat orang-orang yang terpapar radiasi tinggi dikumpulkan.
Mereka memanggil kami “Voidborn”, orang-orang yang sudah terkontaminasi dunia luar. Beberapa dari mereka berbicara denganku, mencoba membangun percakapan. Aku berbasa-basi, mencoba terlihat normal. Tapi aku tahu, pada akhirnya, aku akan kembali ke CryoCore.
Dan benar saja, jam tanganku berbunyi.
"Waktunya istirahat," suara AI berbicara dari layar holografik.
Aku berjalan menuju ruangan CryoCore, tempat di mana aku selalu dikembalikan. Aku masuk ke dalam kapsul, merasakan cairan dingin mulai menyelimuti tubuhku. Kelopak mataku terasa berat.
Dunia mulai menghilang.
Lalu aku melihat sesuatu.
Bukan kota ini, bukan kehancuran ini.
Aku melihat Mada.
Aku melihat Nara, Sura, dan Tanu.
Mereka sedang duduk di sebuah pondok, berbicara dengan tenang, seperti sahabat lama.
Dan aku, sekali lagi, tersedot ke dalam bayangan masa lalu yang tak kumengerti.
***