Akan ku tepati janji

2340 Words
Trowulan, ibukota Majapahit, adalah keajaiban yang tak pernah dibayangkan Mada sebelumnya. Begitu ia melangkahkan kaki di gerbang kota, matanya membelalak melihat kemegahan yang terbentang di hadapannya. Jalanan lebar berlapis batu, dipenuhi pedagang dari berbagai daerah yang menjajakan barang dagangan eksotis, rempah-rempah, kain sutra, perhiasan emas, dan s*****a berukir indah. Bangunan dengan atap bertingkat menjulang megah, sementara patung-patung dewa dan arca menghiasi setiap sudut kota. Di antara keramaian, Mada yang kini berusia lima belas tahun terlihat sederhana dengan pakaian remaja khas Majapahit. Rambutnya hitam pekat, namun ada garis rambut putih melintang di bagian kirinya, memberikan ciri khas tersendiri. Mata coklatnya memancarkan rasa ingin tahu, dan tubuhnya yang tegap mencerminkan tahun-tahun latihan keras yang telah ia jalani. Ia berjalan di antara kerumunan dengan penuh kagum, menikmati aroma makanan yang menggoda dan suara musik gamelan yang terdengar dari sudut kota. Namun, kekagumannya membuatnya lupa satu hal penting, yaitu arah. Ia berkeliling tanpa menyadari bahwa kakinya membawanya semakin jauh dari pusat kota. g**g-g**g kecil yang awalnya tampak menarik, kini berubah menjadi lorong-lorong sempit yang gelap dan sunyi. Dinding bangunan yang mulai usang dan aroma lembab menyiratkan bahwa ini bukanlah tempat bagi seorang pemuda tersesat seperti dirinya. “Gawat … Aku tersesat!” Gumam Mada yang mulai terlihat panik. Saat ia hendak berbalik, sebuah suara lirih menarik perhatiannya. "Tolong… jangan ambil barangku…" Di sudut g**g yang remang, seorang lelaki tua dengan rambut putih yang diikat di atas kepalanya sedang terduduk. Pakaiannya serba putih, tertutup dan sederhana, tetapi bersih dan rapi. Di hadapannya, sekelompok preman mengelilinginya dengan senyum mengejek. "Kakek tua, kau seharusnya membayar 'uang perlindungan' jika ingin melintas di sini," kata salah satu preman, seorang pria bertubuh besar dengan bekas luka di pipinya. "Apa-apaan ini? Mereka mengganggu orang tua?" gumam kesal Mada. Tanpa berpikir panjang, Mada melangkah maju. "Hei! Lepaskan dia!" Para preman menoleh, menatap Mada dengan tatapan remeh. "Apa kau baru datang ke kota ini, bocah? Ini bukan urusanmu." "Kalau kalian berani mengganggu orang tua seperti ini, sepertinya aku memang harus ikut campur." Mada tersenyum miring. Namun, sebelum Mada bisa bergerak lebih jauh, sebuah sosok lain tiba-tiba menerobos masuk. Seorang pemuda berkulit gelap dengan rambut panjang hitam yang terikat ke belakang. Pakaiannya terbuka di bagian d**a, memperlihatkan otot-ototnya yang kekar. "Hah! Kalau ada yang ingin berkelahi, hitung aku juga!" kata pemuda itu dengan penuh semangat. "Siapa kau?" Mada menatapnya bingung. "Sura! Dan aku tidak butuh bantuanmu untuk menghajar mereka!" Sura malah berlari ke arah Mada dan ikut menghajar preman dengan membabi buta, hingga keduanya bertumbukan! Mada tersentak ke belakang sementara preman-preman itu tertawa. "Kau ini, hanya bisa mengamuk tak jelas! Dasar otak otot!" Mada menggerutu. "Hah! Kau yang lamban!" Sura balas membentak. "Kalian ini mau bertarung atau bertengkar?" tiba-tiba suara lain menyela. Seorang gadis berambut merah dengan jubah sederhana berdiri di atas peti kayu, matanya tajam mengamati situasi. "Jika kalian terus seperti ini, kalian akan kalah sebelum bertarung." "Dan kau siapa?" Mada mendengus. "Aku Nara! Dan aku lebih suka mengendalikan situasi daripada melompat tanpa berpikir seperti kalian." Sebelum Mada bisa menjawab, seorang pemuda lain muncul dari balik tong di sudut g**g, tubuhnya berotot tapi wajahnya tampak cemas. "Mumu..Mungkin kita harus lari saja?" "Dan kau?" Mada mengangkat alis. "Aku Tanu, Aku lebih suka tidak berkelahi, tapi aku akan melindungi Kakek ini!" jawab pemuda itu dengan senyum canggung. Saat preman-preman itu mulai bergerak maju, Nara dengan cerdik mengadu domba Mada dan Sura. "Jika kalian berdua memang kuat, buktikan! Siapa yang bisa mengalahkan lebih banyak preman, dia yang lebih hebat." Mada dan Sura tersulut. "TANTANGAN DITERIMA!" Pertarungan pun pecah! Mada dengan lincah menangkis serangan, menghantam lawannya dengan pukulan cepat. Sura bertarung dengan gaya liar, menghantam musuh dengan tinju kuatnya. Nara mengarahkan mereka, memberi tahu kapan harus menghindar dan kapan harus menyerang. Sementara itu, Tanu berdiri di depan Mahaguru, mencoba terlihat berani meskipun jelas ia ketakutan. Setelah beberapa menit, para preman babak belur dan melarikan diri. Mada dan Sura masih berdebat siapa yang menang, sementara Nara dan Tanu tertawa melihat kekonyolan mereka. Lelaki tua yang mereka selamatkan tersenyum. "Terima kasih, anak-anak muda. Kalian benar-benar menarik." "Tidak masalah, Kakek. Tapi, sebaiknya kau lebih berhati-hati." Mada menggaruk kepalanya. "Aku akan mengingat nama kalian." Kakek itu hanya tersenyum samar. Dari kejauhan, seorang pemuda berpakaian sederhana dan tertutup mengamati mereka dengan senyum kecil di wajahnya. Rambut hitamnya sedikit lebih panjang dari terakhir kali Mada melihatnya, tapi tatapan matanya masih sama hangatnya, penuh keteguhan. "Mada… Kau masih seperti dulu." Pemuda itu tersenyum. Ia berbalik, berjalan pergi sebelum Mada menyadari kehadirannya. Namun, seolah merasakan sesuatu, Mada tiba-tiba menoleh. Matanya menyapu sekeliling, tapi tak ada siapa pun di sana. Dan dengan itu, perjalanannya di Trowulan baru saja dimulai. *** Matahari mulai condong ke barat ketika Mada, Sura, Nara, dan Tanu berjalan menyusuri jalanan berbatu, mengiringi langkah seorang kakek tua yang baru saja mereka selamatkan. Meski tampak renta, ada sesuatu yang berbeda dari lelaki tua itu, tatapan matanya penuh ketenangan dan wibawa yang sulit dijelaskan. "Kakek, kemana tujuanmu?" tanya Mada, melirik ke arah lelaki itu yang berjalan dengan langkah ringan meski tubuhnya sudah menua. "Ke tempat yang sama dengan kalian, anak muda. Tempat di mana para calon Pelindung Raja ditempa." Lelaki tua itu tersenyum tipis. “Kebetulan, Aku juga mau kesana!” Jawab Mada. “Hey Aku juga mau kesana! kenapa kau ikut-ikut?” Gumam Sura “Wah kita satu tujuan ya!” Balas Nara. “Iya A..Aku juga mau kesana.” suara pelan dan malu dari Tanu terdengar. Mada dan yang lainya tidak menyangka bahwa mereka ini memiliki tujuan yang sama. Dengan sedikit canggung, mereka melanjutkan perjalanan, melewati pasar yang kini mulai sepi seiring senja yang turun. Ketika mereka tiba di depan gerbang besar berbahan kayu kokoh, Mada tertegun. Bangunan pelatihan para Pelindung Raja jauh lebih megah dari yang ia bayangkan. Dinding batu menjulang tinggi mengelilingi area pelatihan, dengan bendera Majapahit berkibar di atasnya. Beberapa prajurit berjaga dengan ekspresi tegas, memperhatikan setiap orang yang masuk. Namun, yang paling mengejutkan mereka bukanlah kemegahan tempat ini, melainkan bagaimana para penjaga yang berdiri di depan gerbang tiba-tiba menundukkan kepala dengan penuh hormat begitu melihat lelaki tua yang berjalan di depan mereka. "Selamat datang, Mahaguru," kata salah satu penjaga dengan suara penuh penghormatan. "M-Maha Guru?!" seru Tanu hampir tersedak ludahnya. Mada, Sura, dan Nara pun terperangah. Lelaki tua yang mereka kira hanya seorang pedagang renta ternyata adalah sosok yang begitu dihormati di tempat ini. "Apa… ini?" bisik Sura, berusaha memahami situasi. Maha Guru hanya tersenyum kecil dan melangkah masuk ke dalam gerbang. Mada dan yang lain hanya bisa mengikutinya, masih terkejut dengan fakta yang baru saja terungkap. Setelah melewati gerbang, mereka tiba di lapangan luas yang dipenuhi oleh ratusan pemuda dari berbagai daerah. Mereka datang dari latar belakang yang berbeda-beda, ada yang berasal dari keluarga prajurit, ada yang dari keluarga pedagang kaya yang ingin memperoleh status, dan ada pula yang berasal dari desa terpencil seperti Mada. Namun, satu hal yang jelas, kebanyakan dari mereka bergabung bukan karena kehormatan atau kesetiaan, melainkan karena tergiur oleh kemewahan hidup sebagai Pelindung Raja. Seorang pria bertubuh kekar dengan baju perang Majapahit berdiri di atas podium. Dialah kepala pelatih, yang bertanggung jawab atas pelatihan mereka. Suaranya menggema di seluruh lapangan saat ia berbicara. "Selamat datang di Pelatihan Pelindung Kerajaan! Tempat ini bukan untuk para pengecut! Kalian akan ditempa sebagai pelindung kerajaan ini dari bahaya Siluman. Jika kalian lulus kalian akan dikirim ke benteng sesuai kemampuan kalian.” “Satu, pelindung perbatasan, jumlahnya paling banyak, dan akan ditempatkan di daerah perbatasan dimana menjadi batas dari lindungan raja (Tempat para siluman di temukan.” “Dua, Pelindung ibu kota, yang berkekuatan tinggi akan hidup nyaman disini! namun harus siap dengan semua serangan yang ada.” “Tiga, Pelindung Raja. Yang terbaik diantara yang terbaik akan diberi keistimewaan untuk melindungi raja langsung.” “Jika kalian berpikir menjadi Pelindung Raja hanyalah jalan menuju kehidupan mewah, kalian salah besar!" Beberapa peserta mulai menelan ludah, menyadari bahwa ini tidak akan semudah yang mereka bayangkan. Mada tersenyum dia akan mengejar Haya dan berdiri di sampingnya untuk melindungi Raja. "Hanya mereka yang memiliki keberanian, ketahanan, dan kesetiaan yang akan bertahan!" lanjut kepala pelatih. "Ujian pertama akan dimulai sekarang! Bagi yang merasa tidak sanggup, lebih baik pergi sebelum terlambat!" Beberapa pemuda langsung mundur setelah mendengar itu, namun Mada dan teman-temannya tetap berdiri tegak. Mereka telah datang sejauh ini, dan mereka tidak akan mundur. Ujian pertama dimulai dengan uji ketahanan fisik. Para peserta harus berlari membawa beban berat dalam jarak jauh. Mada dan Sura tampak menghadapi tantangan ini dengan mudah, sementara Nara menggunakan strategi pernapasan untuk mengatur energinya. Tanu, meskipun terlihat kesulitan, tetap berjuang untuk tidak tertinggal. Seiring berjalannya waktu, satu per satu peserta mulai tumbang. Beberapa tersungkur ke tanah karena kelelahan, sementara yang lain langsung menyerah dan meninggalkan arena. Hanya setengah dari mereka yang berhasil menyelesaikan ujian pertama. Ujian berikutnya menguji ketahanan mental dan keberanian. Mereka dihadapkan pada simulasi pertempuran di mana mereka harus bertahan dalam tekanan ekstrim. Mada menghadapi tantangan ini dengan percaya diri, sementara Sura menunjukkan kekuatan luar biasa dalam bertarung. Nara menggunakan kecerdasannya untuk mengatasi tantangan, sedangkan Tanu, meskipun takut, berhasil menghindari serangan dan bertahan lebih lama dari yang diduga. Pelatihan berlangsung selama berbulan-bulan. Setiap harinya diisi dengan latihan fisik yang keras, pertarungan satu lawan satu, serta latihan taktik dan strategi. Seiring waktu, jumlah peserta terus berkurang. Hanya mereka yang benar-benar gigih yang mampu bertahan hingga tahap akhir. Di bulan terakhir, hanya sedikit yang tersisa. Mada, Sura, Nara, dan Tanu masih bertahan, membuktikan bahwa mereka memiliki apa yang diperlukan untuk menjadi seorang Pelindung Raja. *** Mada, Sura, Nara, dan Tanu masih belum percaya dengan apa yang baru saja mereka alami. Mereka berhasil melewati berbagai ujian berat, sementara sebagian besar peserta lainnya tumbang karena kelelahan atau menyerah di tengah jalan. Kini, hanya mereka berempat yang masih berdiri, napas mereka masih tersengal setelah ujian pertarungan sebelumnya. Namun, ujian terakhir baru saja dimulai. Di tengah lapangan pelatihan yang luas, Mahaguru berdiri dengan tenang. Wajahnya tetap kalem seperti biasa, dengan jubah putihnya yang berkibar tertiup angin sore. Di tangannya, ia menggenggam sebuah tongkat kayu sederhana, namun entah mengapa, Mada bisa merasakan aura yang luar biasa menguar darinya. "Ujian terakhir ini sederhana," kata Mahaguru dengan suara lembut namun berwibawa. "Siapa pun yang bisa merebut tongkat ini dariku, lulus sebagai Pelindung Raja." Mada dan teman-temannya saling bertukar pandang. Mengambil tongkat dari seorang lelaki tua? Sepertinya mudah. Namun, begitu mereka maju, mereka menyadari satu hal Perbedaan kekuatan mereka dengan Mahaguru sangatlah besar. Sura adalah yang pertama menyerang. Dengan tubuh kekarnya, ia berlari dengan kecepatan penuh, mengayunkan tinjunya ke arah Mahaguru. Tapi sebelum ia bisa menyentuh Mahaguru, tubuhnya terpental ke belakang seolah dihantam oleh kekuatan tak terlihat. "Ugh! Apa-apaan ini?!" geramnya sambil memegang perutnya yang terasa sakit. Nara mencoba strategi lain. Ia menggunakan sihir tingkat tinggi, menciptakan ilusi untuk mengaburkan penglihatan Mahaguru. Namun, tanpa sedikit pun bergerak, Mahaguru mengangkat satu jari dan dalam sekejap, sihir Nara menghilang begitu saja. "Tidak mungkin…" Nara bergumam. Tanu, yang biasanya menghindari konflik, mencoba mendekat diam-diam dari belakang. Ia berusaha meraih tongkat dengan cepat, berharap bisa mengambilnya saat Mahaguru sibuk melawan yang lain. Namun, saat jari-jarinya hampir menyentuh tongkat, ia tiba-tiba merasa seolah beban ratusan kilo menekannya ke tanah. "Aku… tidak bisa bergerak…!" Tanu berjuang, tapi tubuhnya tak mau menurut. Mada memperhatikan semuanya dengan mata tajam. Serangan langsung tak berhasil. Sihir pun tak berguna. Bahkan mencoba mencuri tongkat dari belakang juga tidak ada gunanya. Tersisa satu pilihan Menggunakan kecepatan penuh dan mengandalkan insting. Mada menutup matanya sejenak, lalu berlari. Secepat kilat, ia melompat, memutar tubuhnya di udara untuk mengelabui Mahaguru. Saat ia nyaris berhasil meraih tongkat. Braak! Dalam sekejap, Mada terpental ke belakang dan jatuh keras ke tanah. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena serangan fisik, tapi karena tekanan yang luar biasa yang ia rasakan dari Mahaguru. Mahaguru tetap berdiri di tempatnya, tersenyum tipis. "Ou.. Hanya seginikah para pasukan yang mau melindungi raja?." Mereka terus mencoba mengalahkan Mahaguru hingga tanpa disadari sudah seharian mereka melawannya. Tempat latihan sudah porak poranda akibat pertarungan mereka. Satu-persatu mulai kelelahan karena kehabisan energi fisik dan sihir. Semua tumbang dan yang tersisa hanya Mada meski dengan tubuh yang sangat kelelahan. “Aku suka tekadmu anak muda.” Puji Mahaguru. “Ini belum selesai!” Balas Mada. Mada menyerang dengan sisa-sisa tenaganya, namun Mahaguru yang tidak berkeringat setetespun dengan mudah menghindari serangan terakhir Mada. Mahaguru mengangkat tongkatnya dan memukul kepala Mada. Meski pukulannya terbilang pelan, namun entah kenapa Mada tumbang seketika. *** Malam harinya, keempat pemuda itu beristirahat di sebuah pondok kayu di dalam area pelatihan. Mereka duduk melingkar di dekat perapian, tubuh mereka masih terasa lelah setelah ujian terakhir. "Aku tidak percaya ada orang sekuat itu, Aku bahkan tidak bisa mendekatinya." kata Sura sambil meregangkan ototnya. "Dia bukan orang biasa, Kita harus mencari tahu bagaimana cara mengalahkannya." kata Nara, menatap api dengan serius. "Kau bicara seolah kita masih punya kesempatan. Aku hampir mati karena tekanan tubuhku sendiri." Tanu tertawa pelan. Mada yang sejak tadi diam, tiba-tiba tersenyum. "Ini menarik." Sura menoleh. "Apa maksudmu?" "Aku pikir aku sudah kuat. Aku pikir aku sudah mencapai batas tertinggi yang bisa aku capai." Mada berbaring, menatap langit malam yang bertabur bintang. "Tapi sekarang aku tahu... masih ada orang yang jauh lebih kuat dariku. Dan aku menyukainya." Mata Mada perlahan tertutup, dan senyuman masih tersungging di wajahnya. *** Dalam samar-samar Kegelapan. Aku mendengar suara kecil yang terdengar, seakan berasal dari kejauhan. Suara itu terdengar lembut, memanggil nama seseorang. "Dama…" “Dama? oh iya itu namaku.” Perlahan, kesadaranku mulai kembali. apa ini yang aku rasakan? sensasi dingin di kulitku, cahaya redup yang menusuk mata saat aku ingin membuka mataku. Nafasku naik turun dengan berat hingga mengembun pada kaca melengkung depannya. Aku didalam suatu alat. Dengan gerakan lambat, aku mengangkat tanganku, menyentuh kaca itu. Kapsul transparan. Beberapa layar holografik mengelilingi tabung kaca itu, memonitor kondisiku dengan angka-angka dan grafik yang tidak sepenuhnya ia mengerti. Tubuhku terasa berat, otot-ototku kaku seolah sudah terlalu lama tidak bergerak. Akhirnya, dengan dorongan kecil, aku membuka kapsul itu. Udara dingin menyambutnya saat aku duduk di pinggir kapsul, matanya masih menyesuaikan dengan cahaya redup di sekitarnya. Diam. Aku hanya duduk disana, menatap kosong ke lantai, pikiranku masih berantakan. Perlahan, aku menghembuskan napas panjang, lalu berkata pelan. "Mimpi apa itu?" ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD