Bab 1
Terbangun Kembali
Keheningan masih menyelimuti, kegelapan masih dirasakan, seolah terhanyut dalam sebuah realita palsu.
“Siapa ini? siapa yang memanggilku?” Rasanya berat untuk membuka mata setelah semua kejadian itu.
Di bawah rindang pohon besar yang menaungi padang rumput luas, seorang anak lelaki tertidur dengan tangan bersilang di d**a. Angin sepoi-sepoi menyapu wajahnya yang masih polos, sesekali menggoyangkan helai-helai rambut hitamnya. Ia terlihat begitu nyaman, seakan-akan dunia di sekelilingnya tak lebih dari mimpi indah yang tak ingin ia akhiri.
"Mada... Mada! Bangun!"
Suara lembut itu datang dari kejauhan, membelah keheningan sore yang syahdu. Mada mengernyit, enggan membuka matanya. Namun, suara itu kembali memanggilnya, kali ini lebih dekat. Sebuah sentuhan lembut mengguncang pundaknya.
"Mada, ayo latihan lagi. Kau bilang kita harus berlatih lebih keras hari ini!"
Mada menghela napas panjang sebelum akhirnya membuka mata. Sosok Haya, seorang anak lelaki seusianya dengan wajah bersih dan mata bulat penuh semangat, berdiri di hadapannya. Pipinya sedikit memerah akibat berlari di bawah terik matahari. Pakaiannya yang rapi menunjukkan statusnya sebagai anak bangsawan, tetapi ada sesuatu dalam sorot matanya yang selalu membuat Mada merasa nyaman.
"Kau terlalu serius, Haya," Mada meregangkan tubuhnya dan duduk, menguap lebar.
"Istirahat sebentar tidak akan membuat kita kalah dalam latihan."
"Tapi tadi kau yang bersikeras," sahut Haya, merajuk.
"Ayo, Mada, hanya satu kali lagi! Aku ingin melihat bagaimana kau mengkombinasikan pedang dan sihirmu."
Mada tersenyum kecil. Ia berdiri, menepuk-nepuk debu dari pakaiannya, lalu mengambil pedang kayunya yang tergeletak di samping.
"Baiklah. Tapi setelah ini, kita harus makan. Aku mulai lapar."
Haya mengangguk penuh semangat. Mereka berdua mengambil posisi, siap berlatih kembali.
Sejak kecil, Mada sudah memiliki bakat luar biasa. Tak hanya mahir menggunakan pedang, ia juga memiliki kekuatan sihir yang jarang dimiliki anak seusianya. Bahkan, ia sering mengkombinasikan keduanya dengan mudah, membuatnya jauh lebih unggul dibanding anak-anak lain. Namun, Mada jarang menunjukkan semua kemampuannya. Ia tahu bahwa jika ia terlalu menonjol, ia akan menarik perhatian yang tidak diinginkannya.
"Hati-hati, Haya!" Mada memperingatkan sebelum mengayunkan pedangnya. Haya, meski lebih lemah dan tidak secepat Mada, tetap mencoba yang terbaik untuk mengimbangi temannya.
Dalam sekejap, Mada mengaktifkan sedikit kekuatan sihirnya. Udara di sekitar mereka bergetar ketika pedangnya mulai bersinar samar. Dengan gerakan lincah, ia menyerang, namun dengan sengaja menahan kekuatannya agar tidak melukai Haya.
"Kau luar biasa, Mada! Aku ingin sekuat dirimu!" seru Haya sambil terengah-engah setelah mereka selesai bertarung.
Mada tertawa kecil. "Kau sudah jauh lebih baik dibandingkan pertama kali kita bertemu."
Mereka duduk di rerumputan, menikmati angin sore yang berhembus lembut. "Kau ingat pertama kali kita bertemu, Haya?" tanya Mada.
"Tentu saja. Saat itu aku menangis seperti anak kecil yang kehilangan mainan," Haya terkekeh malu.
***
Saat itu, tiga tahun yang lalu, Mada berusia tujuh tahun. Ia adalah anak yang penuh energi dan mudah bosan. Latihan bersama ayahnya dan murid-murid sang ayah sering membuatnya jengah karena ia harus menahan diri agar tidak terlalu unggul. Ia tak ingin mereka tahu betapa kuat dirinya sebenarnya.
Suatu hari, ia memutuskan untuk kabur dari latihan dan berjalan-jalan di pasar. Hiruk-pikuk suara pedagang, aroma makanan yang menggoda, serta berbagai barang dagangan yang unik membuatnya merasa bebas, jauh dari aturan dan latihan yang membosankan.
Di tengah keramaian, ia menabrak seorang anak lelaki yang tampak kebingungan dan menangis. Anak itu mengenakan pakaian yang jauh lebih mewah dibanding anak-anak lain di pasar.
"Hei, kenapa kau menangis?" tanya Mada, menatap anak itu dengan rasa ingin tahu.
"Keris... aku kehilangan kerisku!" anak itu tersedu-sedu.
Mada mendengus.
"Hanya karena itu?” Tanya Mada
“Itu pusaka keluargaku.”
“Tenang, Aku bisa menemukannya untukmu."
Dengan mudah, Mada melacak anak-anak berandalan yang telah mencuri keris itu. Beberapa gerakan cepat, sedikit trik, dan dalam hitungan menit, ia berhasil mendapatkan kembali keris tersebut.
"Ini milikmu," katanya sambil menyerahkan keris itu.
"Terima kasih! Bagaimana bisa kamu menemukannya secepat ini?!" Tanya anak itu ke Heranan.
“Aku lahir disini, ini wilayahku… aku tau siapa saja berandalan di pasar ini.”
“Sekali lagi terimakasih, Aku Haya!” anak itu memperkenalkan diri dan menjulurkan tangan kanannya.
“Aku Mada!” anak nakal itu membalas sambil menyambut tangan lelaki yang lembut itu.
Namun, kebebasan Mada tak bertahan lama. Ayahnya menemukannya di pasar, wajahnya penuh amarah. Tanpa banyak bicara, sang ayah memberi Mada satu pukulan kecil di kepala sebagai bentuk hukuman.
"Berapa kali aku harus memberitahumu untuk tidak kabur dari latihan?!" geramnya.
Ayah Mada membuat suasana menjadi canggung, Haya tertawa karena sosok Mada yang luar biasa menjadi tak seberapa dibanding Ayahnya. Tiba-tiba, suara gemuruh beberapa pasukan datang. Dua ekor kuda menarik sebuah kereta yang mewah, berhiaskan ukiran naga dan motif ukir emas. Dari dalamnya, seorang lelaki gagah turun. Ia mengenakan dodot panjang berwarna merah tua dengan benang emas yang membentuk pola awan dan burung garuda. Di kepalanya bertengger mahkota kecil khas bangsawan Majapahit, dan di pinggangnya terselip sebilah keris berlapis emas.
Seseorang dengan pakaian bangsawan mendekati mereka. Mata Ayah Mada membelalak sebelum dengan cepat ia berlutut di jalan berbatu yang kotor. Mada mengedarkan pandangan, menyadari bahwa mereka berada di pinggir pasar, tempat anak-anak berandalan sering berkumpul. Beberapa di antara mereka berjongkok di sudut, menonton dengan rasa ingin tahu.
Mada mengerutkan kening. Kenapa ayahnya berlutut seperti itu? Ia tak pernah melihat ayahnya merendahkan diri kepada siapapun. Namun kini, lelaki yang selalu ia hormati itu tampak kecil di hadapan bangsawan tersebut. Mada ingin bertanya, tapi tatapan tajam ayahnya menyuruhnya untuk diam. "Ampun, Tuan. Anak saya terlalu nakal. Saya akan segera membawanya kembali."
Mada, yang masih dalam posisi berdiri, melipat tangannya dan menatap sang bangsawan dengan ekspresi songong. Ayahnya meliriknya tajam, memberi isyarat agar ia ikut berlutut, namun Mada enggan.
Namun, sebelum situasi semakin canggung, Haya berbicara.
"Ayah, Mada menolongku! Dia menemukan kembali kerisku yang dicuri orang."
Sang bangsawan mengangkat alisnya dan tersenyum tipis.
"Benarkah?" Ia menatap Mada, lalu mengangguk pelan.
"Terima kasih, anak muda. Kau telah membantu anakku. Apa imbalan yang engkau inginkan.” Tanya seorang lelaki gagah dengan pakaian khas bangsawan kerajaan Majapahit.
“Tidak perlu tuanku, kami rakyat jelata tak pantas menerima apapun.” Jawab Ayah Mada yang masih membungkukan badanya.
Mada kebingungan, karena Ayahnya yang dihormati oleh semua orang di wilayah ini, berlutut seperti itu. Namun Ayah Haya menepuk pundak Ayah Mada dan berkata.
“Angkat kepalamu, aku ingin anakmu meminta hadiah atas bantuannya. Nak, apa yang kamu inginkan?” Tanya Ayah Haya kepada Mada.
Mada berpikir sejenak dan melihat sorot mata Haya. Seolah tau apa yang dia inginkan, Mada tersenyum dan mengatakan.
“Kalau begitu, aku ingin bisa bermain bersama Haya setiap hari.”
Ayah Haya tersenyum dan mengangguk kecil.Sejak hari itu, Haya selalu berada di sisinya, mengaguminya, dan menjadi sahabat terbaiknya.
Haya tersenyum setelah mengingat kembali kenangan itu.
"Aku tidak akan melupakan hari itu, Mada. Sejak saat itu, aku tahu kau adalah orang yang luar biasa."
Mada menghela napas, menatap langit yang mulai berwarna jingga.
"Aku hanya melakukan apa yang perlu dilakukan."
Mereka berdua terdiam, menikmati ketenangan sore setelah latihan yang melelahkan. Angin membelai wajah mereka dengan lembut, seakan menyelimuti mereka dalam kedamaian yang sementara.
Senja mulai menyelimuti desa, mengubah langit menjadi jingga kemerahan. Mada dan Haya masih duduk di rerumputan, menikmati udara sore yang menyejukkan setelah latihan mereka yang melelahkan. Namun, ketenangan itu tiba-tiba buyar ketika suara bel desa menggema di seluruh penjuru.
"Teng teng teng…"
Haya menegakkan tubuhnya, menoleh ke arah suara yang berasal dari menara jaga. Mada dan Haya membeku sejenak. Angin berhembus lebih dingin dari biasanya. Para burung yang tadinya berkicau di pepohonan tiba-tiba terdiam. Keheningan aneh menyelimuti, seolah desa sedang menahan napas.
"Itu pertanda bahaya. Tapi kenapa sekarang?" Mada mengernyit.
Bel desa hanya dibunyikan jika ada ancaman besar. Mada dan Haya saling berpandangan sebelum bergegas berdiri. Mereka tahu apa artinya ini—ada siluman yang mendekati desa.
"Kita harus kembali!" seru Haya.
Tanpa menunggu lama, mereka berlari menuju desa. Lokasi taman tempat mereka bermain berada di dekat perbatasan hutan terlarang, tempat para siluman bersemayam. Sudah dari lama negri ini dihantui oleh sosok Siluman. Makhluk buas yang terlahir dari makhluk yang mati. Hutan itu di luar perlindungan raja, sehingga selalu dijaga ketat oleh pasukan pelindung yang dipimpin langsung oleh ayah Mada untuk melindungi desa dari serangan makhluk-makhluk berbahaya. Namun, Mada dan Haya selalu dilarang ikut serta dalam patroli, meskipun kemampuan mereka tak kalah dari para prajurit dewasa.
Ketika mereka keluar dari taman, seorang anak kecil berlari ke arah mereka dari dalam hutan. Bajunya compang-camping, wajahnya kotor, dan nafasnya tersengal-sengal seolah baru saja berlari jauh.
"Tolong...!" suara anak itu gemetar, air mata mengalir di pipinya.
Mada segera meraih bahu anak itu, mencoba menenangkannya.
"Apa yang terjadi? Kenapa kau datang dari hutan?"
"Ayahku... dia masih di dalam hutan! Siluman datang! Aku lari, tapi Ayah tertinggal!" Anak itu tersedu-sedu.
"Mada, kita harus memberitahukan ini kepada pasukan patroli."Haya menegang.
Namun, Mada merasakan sesuatu yang aneh. Seharusnya ada prajurit patroli yang menjaga perbatasan, tetapi kenapa anak ini bisa keluar dari hutan sendirian tanpa ada yang melindunginya? Hatinya berdegup kencang, firasat buruk menjalari pikirannya.
"Tidak ada waktu! Jika kita menunggu prajurit, ayah anak ini mungkin sudah mati!" Mada bergegas mengambil keputusan.
"Mada, jangan! Itu terlalu berbahaya!" Haya mencoba menghentikannya, tapi Mada sudah berlari menerobos gerbang desa dan masuk ke dalam hutan.
Haya menggigit bibir, lalu menoleh ke anak kecil itu.
"Pegang tanganku erat! Kita harus menyusulnya!"
Tanpa banyak pilihan, Haya membawa anak itu dan berlari mengikuti Mada.
***
Begitu memasuki hutan, udara terasa lebih dingin dan lembab. Cahaya matahari yang sudah semakin redup tertutup oleh rimbunnya pepohonan, menciptakan bayangan yang bergerak-gerak seolah mengawasi mereka. Mada berlari semakin dalam, mengikuti nalurinya.
Saat tiba di tengah hutan, pemandangan yang mengerikan tersaji di hadapan mereka.
Setengah dari tim patroli desa telah tumbang. Beberapa prajurit tergeletak tak sadarkan diri, sementara sisanya masih berjuang menghadapi makhluk mengerikan di hadapan mereka—seekor siluman kerbau raksasa dengan tanduk hitam pekat dan mata merah menyala. Nafasnya berat, menghembuskan udara busuk yang membuat bulu kuduk meremang.
Di tengah kekacauan itu, seorang pria tua dengan pakaian sederhana berjongkok ketakutan di dekat pohon. Anak kecil itu langsung berteriak,
"AYAH!"
Anak itu berlari ke arah pria tua tersebut, namun siluman kerbau melihatnya. Monster itu mengangkat cakarnya yang besar, siap menerkam.
"Tidak!"
Haya melesat ke depan, menghunus pedangnya. Dengan satu tebasan cepat, ia menangkis serangan siluman itu, membuat monster itu sedikit mundur.
Mada tidak tinggal diam. Dengan kecepatan luar biasa, ia melompat ke udara, menghunuskan pedangnya yang telah dipenuhi energi sihir ke arah kepala siluman. Saat pedangnya menebas leher siluman, Mada bisa merasakan getaran energi sihir yang mengalir dari ujung jari hingga ke pedangnya. Teriakan siluman itu menggema, membuat d**a Mada berdegup kencang. Ini pertama kalinya ia benar-benar merasakan sensasi pertarungan yang sesungguhnya. Siluman itu mengeluarkan raungan kesakitan sebelum akhirnya tubuh raksasanya roboh ke tanah.
Hening.
Para prajurit yang tersisa menatap Mada dengan takjub. Seorang anak kecil baru saja mengalahkan siluman yang bahkan menyulitkan prajurit dewasa.
"Kau baik-baik saja?" Haya berlari menghampiri Mada.
Mada mengangguk, menatap tubuh siluman yang kini tak bernyawa. "Kita harus membawa prajurit yang terluka kembali ke desa."
Setelah siluman dikalahkan, Mada melirik ke belakang. Dia menyadari sosok misterius yang mengawasi mereka dari kejauhan, namun saat Mada melirik makhluk itu menghilang. Mada mengira ini hanya bayangannya saja, setelah itu mereka segera membantu para prajurit dan pria tua itu kembali ke desa.
***
Berita tentang keberanian Mada dan Haya segera menyebar ke seluruh desa, bahkan mencapai telinga Ayah Haya di ibu kota. Beberapa hari kemudian, Mada mendapat kabar yang tidak ingin ia dengar. Haya akan dibawa kembali ke ibu kota.
"Demi keselamatan Haya, Ayahnya memutuskan untuk membawanya ke tempat yang lebih aman," ujar Ayah Haya menyampaikan maksudnya.
"Jadi, kau benar-benar akan pergi?" Mada menatap Haya dengan berat hati.
"Sepertinya begitu. Tapi aku tak ingin ini menjadi perpisahan selamanya." Haya menunduk, lalu mengangkat wajahnya dengan senyum getir.
Mada mengepalkan tangannya. "Aku juga tidak ingin berpisah."
Ayah Haya datang menghampiri mereka. "Mada, kau telah menunjukkan keberanian dan kekuatan yang luar biasa. Jika kau ingin bertemu dengan Haya lagi, bergabunglah dengan pasukan pelindung Raja."
Mada menatap Ayah Haya dengan penuh tekad. Ia tahu, ini bukan akhir dari segalanya. Ini hanyalah awal dari perjalanan yang lebih besar.
"Aku akan menjadi prajurit terbaik," kata Mada, suaranya penuh keyakinan. "Dan aku akan menemuimu lagi di ibu kota. Itu janjiku."
Haya tersenyum, lalu mengulurkan tangannya. Mada menyambut uluran itu, menggenggamnya erat.
Saat kereta Haya mulai menjauh, Mada tetap berdiri di tempatnya. Angin membawa suara roda kereta yang semakin lama semakin sayup. Hatinya terasa kosong. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasakan kesepian yang sebenarnya. Hari itu, di bawah langit senja yang mulai gelap, dua sahabat harus berpisah. Namun, Mada telah menetapkan tujuan barunya.
***
Disisi lain, Tiga Raja dengan pakaian serba hitam melakukan Pertemuan. Pertemuan itu dipicu oleh laporan salah satu bawahannya mengenai dua orang anak yang bisa membunuh Siluman dengan mudah. Anak itu tak lain dan tak bukan adalah Mada dan Haya.
“Jadi benar adanya anak yang diramalkan orang itu?” Ucap salah satu raja dengan penutup muka berwarna hitam itu.
“Iya, salah satu bawahanku yang melihat sendiri.” Sahut raja lain dengan penutup kepala hitam.
“Jadi benar ramalan itu bahwa akan ada dua anak yang bisa mengalahkan siluman yang kita buat. jika mereka seperti itu, percuma saja Teror yang kita lakukan untuk menggulingkan Majapahit.” Raja terakhir menggerutu.
“Tenang, Ini sesuai ramalan nya! sekarang kita tinggal menunggu kedatangan nya.” Raja pertama menenangkan ketegangan itu.
Benar saja, beberapa saat setelah itu, Sebuah lingkaran energi hitam misterius memutar di antara mereka bertiga. Keluar sosok misterius yang diluar nalar manusia. Sosok itu mengulurkan tangan dengan membawa tiga botol ramuan hitam. Tanpa berucap apapun sosok itu menghilang meski berada ditengah tiga raja itu. Tanpa pikir panjang mereka meminum ramuan itu dan bereaksi seketika. Mereka kesakitan dan berguling di tanah hingga pingsan. Dan Raja yang memakai penutup kepala hitam merupakan orang terakhir yang masih bertahan. Di penghujung kesadarannya, dia mengucapkan.
“Tunggu, aku akan merebutmu majapahit!”
***