Bab 4. Kita Akan Bertemu Lagi

1034 Words
Jesslyn bergegas turun dari lantai atas. Ia tak ingin berlama-lama berbasa-basi dengan ayah maupun kakaknya. Hari ini ia harus bekerja, dan itu jauh lebih penting baginya ketimbang meladeni pembicaraan yang hanya akan berujung perdebatan. Ia tahu dirinya tak selalu bisa konsisten berlatih, jadi ia memilih mengambil pekerjaan sambilan. Restoran menjadi pilihannya—jam kerja fleksibel dan cukup memberinya waktu untuk fokus mengejar mimpinya. Dia bisa saja bekerja di perusahaan sang ayah, tapi karena sang kakak berada di sana, ia memilih menjauh. Ia tak ingin terlibat, apalagi bersaing dengan kakaknya sendiri. Bukan karena takut kalah, tapi karena ia tak tertarik dengan jalur hidup yang telah lebih dulu ditentukan orang lain. Ia sudah punya jalannya sendiri. Sesampainya di lantai bawah, ia bahkan tak melirik ke ruang kerja ayahnya. Ia tak ingin memulai percakapan yang sudah ia tahu ke mana akan bermuara. Namun suara berat ayahnya menghentikan langkahnya. "Jesslyn, datanglah ke kantor hari ini," pinta ayahnya. Jesslyn menoleh setengah enggan. "Untuk apa, Dad?" "Kita akan bertemu dengan Tuan Maxton. Kita harus bicara baik-baik dengannya, jika kau memang tidak mau menerima pertunangan itu." Wajah Jesslyn mengeras. "Untuk apa repot-repot? Hubungi saja dia dan katakan bahwa aku menolak. Dia tidak bisa memaksaku!" Jason menghela napas, berusaha bersabar. "Lebih baik kau menolaknya secara langsung. Itu lebih sopan." "Tidak," Jesslyn menggeleng tegas. "Aku tidak mau bertemu dengan pria itu." Sebuah cibiran terdengar dari arah tangga. Yolanda berdiri dengan senyum sinis. "Kau takut, ya? Kau tidak berani menatap matanya karena kau tahu kau akan kalah." "Ya," jawab Jesslyn tenang. "Aku memang takut. Aku tidak mau bertemu dengannya karena aku takut. Kalau dia bukan pria dengan reputasi seburuk itu, mungkin aku akan mempertimbangkannya. Tapi dengan latar belakangnya yang gelap, aku tidak tertarik." Jason memejamkan mata. "Jesslyn, kau belum bertemu dengannya. Jangan menilai hanya dari omongan orang. Gossip sering kali tidak benar." "Gosip takkan ada kalau tak ada sebab, Dad," balasnya tajam. "Aku tak punya waktu lagi. Aku pergi sekarang. Jika pria itu datang, katakan saja aku tidak tertarik. Dan ini… adalah terakhir kalinya kita membahas hal ini." "Dasar bodoh!" desis Yolanda. Jesslyn menatap kakaknya sejenak, lalu mengangguk pelan. "Ya. Aku memang bodoh. Tapi aku memilih kebodohan ini demi hidupku sendiri." Ia melangkah pergi, meninggalkan ayah dan kakaknya. Di dalam hatinya, ia hanya berharap pria itu, Levin Maxton, menerima penolakannya dan tak memaksakan kehendak. Tapi ia tidak tahu, penolakan itu justru membakar ambisi lelaki tersebut. *** Jason memijat pelipisnya. Ia tahu Levin pasti akan menghubunginya lagi. Dan benar saja, ponselnya bergetar. Nama yang muncul di layar membuat tangannya gemetar. Levin Maxton. "H-Halo…" suaranya nyaris tercekat. "Bagaimana kabarmu, calon ayah mertua?" suara di seberang terdengar tenang, tapi penuh tekanan. "Kenapa suaramu gemetar begitu? Kau tidak sedang sakit, kan?" Jason menelan ludah. "Ti-tidak, tentu saja tidak. Aku baik-baik saja. Tuan Maxton… ada hal penting apa yang hendak Tuan Maxton bicarakan?" "Aku menantikan kabar baik hari ini. Aku harap putrimu sudah bersedia menerima pertunangannya." Jason menarik napas panjang. "Maaf… putriku tetap menolak. Aku sudah mencoba membujuknya. Tapi dia menolak dengan tegas. Aku masih berharap kau mau mempertimbangkan putri pertamaku," mendengar ucapan ayahnya membuat Yolanda tersenyum. Semoga saja pria itu benar-benar mempertimbangkan dirinya, setidaknya bertemu dengannya satu kali. Setelah melihatnya, Levin Maxton tidak mungkin menolak. "Sekali lagi kau mempromosikan putrimu yang lain maka aku tidak akan segan." "Maaf, aku minta maaf. Aku tidak bermaksud menyinggung tapi aku sudah berusaha keras membujuk Putri keduaku. Aku tidak bisa memaksa karena dia bersikeras menolak perjodohan itu!" "Baiklah, aku ingin lihat sejauh mana dia bisa menolakku. Selanjutnya, aku ingin bertemu dengannya tapi jika kau gagal melakukan hal mudah itu, bersiap saja berakhir di jalanan!" Jason membisu. Tubuhnya kaku. "Tuan Maxton… apa maksud Anda?" Tak ada jawaban. Panggilan itu berakhir tiba-tiba. Jason menatap layar ponselnya, napasnya memburu. Dia tahu, mereka sedang menghadapi masalah besar. "Bagaimana, Dad?" Tanya Yolanda. Jason menggeleng, "Dia ingin bertemu dengan Jesslyn." "Aku ikut!" Saat Levin bertemu dengannya, pria itu pasti akan berubah pikiran. Sampai saat ini, belum ada satu pria pun yang bisa menolak pesonanya. *** Sementara itu, di sisi lain kota, Jesslyn tengah berada dalam perjalanan menuju restoran tempatnya bekerja. Di sela-sela aktivitasnya, ia juga sedang sibuk mencari sponsor untuk mengikuti kompetisi. Ia bertekad kembali ke panggung, mengejar cita-cita yang dulu sempat tergelincir. Ponselnya berdering. Nomor tak dikenal. "Siapa ini?" tanyanya tanpa basa-basi. "Aku," jawab suara berat di seberang. Dingin. Memiliki nada yang membuat bulu kuduknya meremang. Jesslyn mengerutkan dahi, siapa? Suaranya terdengar seperti laki-laki yang mengikutinya semalam. "Ka-kau?" Jangan katakan penguntit itu yang menghubunginya. Tapi, dari mana pria itu bisa tahu nomor teleponnya? "Ya. Apa kau sudah tahu siapa aku?" "Apa yang kau inginkan, penguntit?" Tak ada jawaban. Lalu terdengar suara tawa rendah, menyeramkan. "Jadi kau masih menganggapku penguntit?" Tanya Levin "Kalau bukan, bagaimana kau bisa tahu namaku dan nomor teleponku?" Levin kembali tertawa, santai dan menekan. "Apa kau tidak mau tahu kenapa aku bisa mengetahuinya?" "Tidak," potong Jesslyn tajam. "Dan aku juga tidak tertarik untuk mengenalmu." "Benarkah? Apa kau tak penasaran?" "Tidak. Maaf, Tuan. Aku tidak penasaran, dan tidak tertarik dengan penguntit sepertimu." Ada keheningan sesaat, lalu tawa Levin kembali terdengar. Tawa yang menggetarkan. Jesslyn mengepalkan tangan, kesal. "Jangan menertawaiku. Aku tidak bercanda! Jika kau masih menggangguku, aku tak segan melapor ke polisi!" Levin menjawab dengan suara yang jauh lebih tenang, namun justru lebih berbahaya. "Jesslyn… tanpa kau sadari, kau semakin membuatku tertarik. Aku ingin memilikimu. Dan percayalah, ke mana pun kau pergi, kau akan bertemu denganku. Kau tak bisa lari dariku." Jesslyn merasakan dadanya berdegup keras. Sebuah firasat buruk melintas di benaknya. "AKU. TIDAK. TERTARIK!" Serunya, berharap suara tegasnya cukup untuk menghentikan pria itu. Namun suara Levin terdengar tenang ketika berkata, "Kita akan bertemu lagi, Jesslyn." Lalu sambungan terputus. Di ruang kerja mewahnya, Levin duduk sendiri. Ia mengambil sebuah bingkai foto dari mejanya. Tatapannya menelusuri wajah seorang gadis muda di dalam foto itu. Wajah yang cantik, namun lebih dari itu, wajah itu sangat mirip dengan Jesslyn. Ia mengusap foto itu dengan jari-jari dinginnya. Gadis dalam bingkai itu adalah masa lalunya. Tapi kini, Jesslyn telah membangkitkan kembali bara yang lama padam. Sesuatu dalam dirinya kembali hidup. Keinginan untuk memiliki, untuk menguasai. "Tak ada yang bisa menolakku, Jesslyn," gumamnya. "Termasuk dirimu." Dan senyuman tipis mengembang di wajahnya yang dingin. Sebentar lagi, dia akan pergi menemui gadis itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD