Restoran siang itu penuh sesak. Hiruk-pikuk tawa para tamu bercampur dengan aroma sedap dari dapur yang tak pernah berhenti bekerja. Di antara keramaian itu, Jesslyn sibuk mondar-mandir, mengantarkan pesanan dengan langkah cepat namun tetap anggun.
Dia menikmati pekerjaannya. Tak perlu berpikir keras, hanya perlu bergerak dan melayani. Sesekali tersenyum, membalas sapaan para pelanggan. Hidup seperti ini, menurutnya, cukup menyenangkan.
Namun, hari itu berbeda.
“Jesslyn,” panggil salah satu rekan kerjanya. “Kau diminta ke ruangan privat nomor lima. Ada tamu eksklusif yang hanya ingin dilayani olehmu.”
“Nomor lima?” dahi Jesslyn berkerut. “Sejak kapan restoran ini berubah jadi klub malam? Bisa pilih pelayan seenaknya begitu?”
“Entahlah. Tapi manajer bilang, kita harus mematuhinya karena tamu itu hanya ingin dilayani olehmu saja. Pergilah. Jangan membuat tamu itu menunggu terlalu lama dan jangan membuatnya marah!"
Jesslyn menghela napas, menyambar buku menu. “Aku ingin lihat, siapa tamu sombong itu yang menganggap restoran ini seperti klub malam sehingga dia bisa bertindak dengan sesuka hati.”
Dia menaiki anak tangga menuju lantai atas, berhenti di depan pintu dengan angka 5 terpasang rapi. Ia mengetuk pelan, dan nyaris segera pintu itu terbuka.
Langkah Jesslyn terhenti saat melihat pria yang duduk di dalam. Duduk menyilangkan kaki, bersandar santai, pria itu tersenyum tipis ke arahnya. Namun bukan senyum itu yang membuat Jesslyn terpaku, melainkan kenyataan bahwa pria itu adalah penguntit yang membayangi dirinya semalam.
"Kau lagi!" Ucap Jesslyn kesal.
"Kenapa? Terkejut melihatku?" suara pria itu tenang namun penuh tantangan.
"Tidak," jawab Jesslyn cepat. "Penguntit tetaplah penguntit." Ia melangkah masuk, berusaha menjaga sikap profesional. Dia sedang bekerja, dan tak ingin kehilangan pekerjaannya hanya karena laki-laki aneh ini.
"Tidak menyangka seorang penguntit bisa berada di ruang privat dan memanggil pelayan restoran layaknya pelayan bar. Cepat katakan apa yang kau inginkan!" Jesslyn bersikap sinis dan meletakkan buku menu di atas meja.
Levin mengangkat alis sambil tersenyum. “Setidaknya aku bukan penguntit miskin. Tenang saja, aku tidak akan berhutang di restoran ini.”
“Bagus,” sindir Jesslyn. “Karena pekerjaan sebagai pencuci piring sudah diisi orang lain.”
Levin tertawa kecil. Semakin mengenalnya, semakin menarik gadis ini. Sinis, tajam, dan tidak mudah ditaklukkan. Sesuatu yang membuatnya semakin ingin mendekat. Selama Jesslyn belum mengetahui siapa dirinya, sepertinya dia dapat bermain-main dengan gadis itu sebentar.
“Cepat pesan,” kata Jesslyn. “Aku tidak punya waktu untuk omong kosong.”
“Nona, aku sudah bicara dengan manajermu,” ucap Levin santai. “Hari ini kau hanya akan melayaniku.”
Jesslyn membelalak. “Kurang ajar! Aku bukan wanita panggilan!”
"Tidak ada yang menganggapmu seperti itu di sini. Apa kau merasa dirimu sedang menjadi wanita panggilan sekarang?"
Wajah Jesslyn memerah. Bukan karena malu, melainkan amarah yang ditahan. Ia berpaling, menyambar buku menu yang tadi ia letakkan lalu menyodorkannya ke depan muka Levin.
"Pesan saja, lalu biarkan aku pergi!"
"Aku ingin kau yang memesankan makanannya!"
"Apa?" Kedua mata terbelalak, emosi semakin membakar d**a.
"Rekomendasikan makanan enak di restoran ini. Jangan mengecewakan dan jangan asal-asalan, aku bisa membuat reputasi restoran ini buruk jika kau melakukannya!"
Jesslyn menatapnya tajam, siapa sebenarnya laki-laki itu? Dia seperti memiliki kekuasaan, tapi apakah seorang pria yang memiliki kekuasaan memiliki hobi buruk seperti itu?
"Kenapa hanya diam saja? Apa kau tidak mau melakukannya atau aku harus memanggil manajermu?"
"Tidak perlu mengancam!" Jesslyn mulai melihat menu. Lebih baik dia segera menyelesaikan pekerjaan itu agar lebih cepat keluar dari ruangan itu.
Terus terang dia tidak suka berlama-lama dengan penguntit itu. Jesslyn mulai sibuk menulis beberapa menu yang mungkin saja akan disukai oleh pria aneh itu.
"Pesankan juga makanan yang kau suka," ujar Levin, tatapannya tak lepas darinya. Jesslyn melirik bingung, tapi tetap menulis beberapa menu.
Levin memperhatikannya diam-diam. Gerak tubuhnya, tatapannya, semuanya mengingatkannya pada seseorang dari masa lalu. Wanita yang dia cintai dengan tulus tapi harus berakhir di tangannya.
Wajah itu... sangat mirip, meski tinggi badan dan postur tubuh berbeda. Padahal mereka berdua tidak memiliki hubungan apapun karena mereka datang dari keluarga yang berbeda.
"Sudah selesai. Tunggulah beberapa menit, makananmu akan segera diantar!" Jesslyn memutar langkah, sudah saatnya pergi dari ruangan itu dan menjauh dari penguntit aneh itu.
Namun saat ia hendak pergi, suara Levin menghentikannya.
“Kau mau ke mana?” Pria itu mencondongkan tubuhnya, meletakkan tangan di lutut, serius.
"Apa kau pikir aku bisa menyulap makanan di udara? Aku harus serahkan ini ke chef," jawab Jesslyn sinis.
Levin menoleh pada anak buahnya. “Ambil menu itu. Biar mereka yang urus. Kau... duduklah. Di sini.”
Jesslyn mengerutkan kening. “Apa maksudmu?”
“Aku hanya ingin kau duduk menemaniku makan. Kau bisa duduk jauh, aku tidak akan menyentuhmu. Setelah itu, kau boleh pergi.”
Jesslyn menatap tajam, curiga. Tapi pria itu terlihat tenang, tidak terlihat seperti akan berbuat macam-macam. Akhirnya, dengan enggan, dia menyerahkan daftar menu pada salah satu anak buah Levin dan duduk di kursi seberang, dengan jarak cukup jauh.
“Apa sebenarnya tujuanmu? Kenapa mengikutiku terus dan menggangguku?” Tanya Jesslyn datar, meski nada suaranya dingin.
"Penuh kecurigaan dan kewaspadaan, aku suka," Levin mengambil minuman, Jesslyn bergerak mundur secara refleks, “Apa kau tidak bisa menebaknya?”
"Aku bulan peramal. Mana mungkin aku bisa mengetahui apa yang kau inginkan sedangkan kau tidak mengatakannya?"
“Cobalah tebak. Kenapa aku bisa tertarik padamu?”
Jesslyn menyipitkan mata, masih mencurigainya. "Apa seseorang memintamu melakukan hal ini untuk mencelakai aku?" Tanyanya curiga. Bisa saja ada seorang pesaing yang membayar pria itu untuk mencelakai dirinya supaya dia tidak bisa ikut kompetisi.
Levin tertawa pendek. “Tidak. Aku mengikutimu atas inisiatif sendiri.”
“Kenapa?”
"Kau akan tahu nanti!" Levin menatapnya dengan senyum misterius. Jika dia mengatakannya bahwa dialah laki-laki yang ditolak oleh Jesslyn, maka permainan itu tidak akan menyenangkan.
Jesslyn memalingkan wajah, dongkol. Wajah pria itu memang tampan, nyaris seperti aktor drama romantis. Tapi menyebalkan. Kalau bisa, dia ingin mencabut garpu dan melemparkannya ke wajah pria itu.
“Setelah ini,” katanya tajam, “Jangan pernah muncul lagi di hadapanku. Kalau kau masih mengikutiku, aku tidak akan segan!”
“Ancamanmu… benar-benar menarik, Jesslyn.” Ucap Levin, sambil tersenyum lebar.
Jesslyn menggertakkan gigi. Dia berdoa semoga hari buruk ini segera berakhir.
Dia pun berharap, tidak bertemu dengan pria gila itu lagi di kemudian hari tapi sayangnya pria itu akan mengikuti kemanapun dia pergi sampai dia mendapatkan Jesslyn.