Bab 6. Pria Itu Ada Dimana-mana

1053 Words
Pria itu benar-benar ada di mana-mana. Jesslyn terjatuh. Gerakan kakinya yang semula ringan dan terlatih tiba-tiba kehilangan keseimbangan. Tubuhnya membentur lantai kayu ruang latihan saat matanya menangkap sosok yang tak asing, Levin, duduk tenang di bangku penonton. Matanya melotot. Apa yang dia lakukan di tempat itu? Levin, seorang diri, melambai dengan senyum santai seolah itu hal biasa. Tapi bagi Jesslyn, kehadirannya bukan hanya tidak sopan, melainkan mengerikan. Pria itu tak hanya muncul di tempat kerjanya, kini ia sampai menyusup ke dalam ruang latihan yang seharusnya terbatas bagi penari dan staf. Ini sudah melewati batas. “Jesslyn, apa kau baik-baik saja?” tanya Sofia, sahabatnya, sambil membantu menariknya berdiri. “A-aku baik-baik saja…” gumamnya, masih terengah. Tatapannya tak berpaling dari Levin. “Sejak kapan dia di sana?” Sofia mengikuti arah pandangnya. “Entahlah. Sejak kapan dia masuk? Bukankah gedung latihan ini tidak bisa dimasuki sembarang orang?” Jesslyn mengatupkan rahangnya. “Aneh, kan? Aku curiga dia menyogok seseorang untuk bisa masuk.” “Siapa yang dia sogok? Bisa saja dia menyelinap diam-diam tanpa sepengetahuan penjaga,” balas Sofia, ikut mengernyit. Jesslyn menghela napas. Pandangannya mengeras. Ini tidak bisa dibiarkan. Dia tidak akan membiarkan pria itu terus mengikutinya seperti bayangan gelap. Dia butuh konsentrasi penuh untuk kompetisi ini. Bukan rasa was-was setiap kali dia berpaling. “Mari kita lanjutkan latihan. Jangan pedulikan pria aneh itu,” ucap Sofia menenangkan. “Mungkin dia hanya iseng. Yang penting sekarang, kita harus fokus.” Jesslyn mengangguk. Walau perasaannya tidak tenang, dia berusaha mengabaikan keberadaan pria itu. Selama Levin tidak mengganggunya, dia akan berpura-pura tidak melihat. Dari bangku penonton, Levin duduk bersandar dengan santai. Pandangannya menyapu seluruh ruang latihan. Dia tampak seperti pria elegan yang menikmati pertunjukan. Tapi sorot matanya menyimpan sesuatu yang lebih rumit. Dia sudah mendengar alasan Jesslyn menolak pertunangan mereka, gadis itu ingin mengejar mimpinya menjadi penari balet profesional. Sedikit tidak masuk akal baginya Baginya balet adalah seni yang... membosankan. Tapi dia ingin tahu apa yang begitu dicintai Jesslyn hingga lebih memilih ini daripada menjadi tunangannya. Matanya menyipit saat menyadari sesuatu yang menarik. Beberapa gadis di panggung menatap Jesslyn dengan ekspresi sinis. Pandangan mereka menusuk, penuh kecemburuan. Levin mengusap dagunya pelan. Ah, jadi ini tidak hanya soal tarian. Ada persaingan. Ada ketegangan di antara para penari. Haruskah dia memperingatkan Jesslyn? Tidak. Sebuah senyum licik terukir di wajahnya. Lebih baik dia biarkan. Dia ingin tahu apakah gadis itu cukup peka untuk menyadari medan pertempuran yang sesungguhnya sedang dia injak. Latihan berakhir. Jesslyn menyeka keringatnya dan segera menghampiri Sofia. “Sofia… boleh aku menumpang mobilmu malam ini?” bisiknya pelan. Sofia menggeleng. “Aku tidak bawa mobil. Kakakku yang antar.” “Oh tidak… Jadi, apa kita bisa pulang bersama?” “Ada apa, Jesslyn? Kenapa kau terlihat gelisah?” tanya Sofia, menatap sahabatnya dengan prihatin. Jesslyn melirik cepat ke arah Levin yang masih duduk di tempat yang sama. “Aku takut dengannya… Ayo kita pergi sekarang!” katanya tergesa, menarik tangan Sofia. Mereka bergegas ke ruang ganti, tak lupa menengok ke belakang. Levin akhirnya beranjak, keluar dari aula latihan, dia akan menunggu di luar. “Kenapa dia pergi pas kita pergi?” gumam Sofia, mulai merasa aneh. “Sudah jelas… Dia penguntit, Sofia.” Sofia membelalak. “Apa dia… mengikutimu?" "Sudah pasti, kan?" "Tidak, Jesslyn. Itu berbahaya. Bagaimana jika dia mengikutimu sampai di rumah?” Jesslyn mengangguk pelan. “Aku takut. Aku harus lakukan sesuatu sebelum dia semakin berani.” “Aku akan telepon kakakku untuk jemput kita. Kau tidak perlu takut. Aku ada di sini,” ucap Sofia, menenangkan sambil menggenggam tangan Jesslyn erat. Mereka memasuki ruang ganti. Beberapa gadis lain sudah berada di sana. Begitu melihat Jesslyn dan Sofia, mereka langsung menghentikan obrolan dan melayangkan pandangan penuh penilaian. Para nona muda itu terlihat sangat percaya diri, terutama Maria Lenox, gadis kaya dengan nama besar dan pengaruh. Dengan angkuhnya, dia berdiri di depan cermin sambil menyisir rambut panjangnya yang terikat rapi. Seperti biasa. Sosoknya mencolok dan berkelas, penuh percaya diri, dan tidak pernah sendirian. "Kita akan lihat nanti siapa yang benar-benar pantas berada di atas panggung kemenangan," ucap Maria, matanya melirik tajam ke arah Jesslyn dan Sofia. "Sudah pasti dirimu, Maria. Tak mungkin juri memilih yang lain," ujar salah satu pengikut setianya, menambahkan pujian dengan cepat. Jesslyn dan Sofia saling berpandangan, memilih untuk tidak menanggapi. Mereka tahu, beradu mulut hanya akan membuang waktu dan energi. Dalam hati, Jesslyn menyadari kompetisi ini bukan hanya soal teknik dan bakat, tapi juga soal tekanan mental. "Ayo, kita pergi saja," bisik Jesslyn. Setelah mengganti pakaian, mereka berdua keluar dari ruang ganti, berusaha mengabaikan tatapan penuh ejekan dari Maria dan kawan-kawannya. Setelah keluar dari ruang ganti, malam sudah turun. Angin mulai berembus dingin. Namun sesuatu yang lebih menusuk terasa di udara, ketegangan. Levin sudah berdiri di sana. Pria itu bersandar santai pada mobil hitamnya yang mewah, mengenakan jas hitam dan senyum tipis yang membuat Jesslyn semakin tidak nyaman. "Apa sebenarnya yang kau inginkan?" Teriak Jesslyn lantang. "Hei, kenapa kau berteriak seperti itu?" Tanya Sofia, sedikit terkejut dengan apa yang sahabatnya lakukan. Levin menghampiri mereka, “Aku bisa mengantarmu pulang,” ucapnya santai. Jesslyn melangkah maju dengan berani. "Aku sudah bilang jangan mengikutiku lagi. Apa kau tidak punya pekerjaan lain selain membuntuti orang?" Nada suaranya tegas, tak ada lagi ketakutan seperti sebelumnya. Namun, Levin hanya menatapnya, tidak menjawab sepatah kata pun. Hanya senyum itu yang tetap menggantung di bibirnya. Diamnya seperti sebuah bentuk ejekan yang membuat darah Jesslyn mendidih. "Baiklah, kalau begitu." Tanpa pikir panjang, Jesslyn mengangkat kakinya dan menendang kaki Levin dengan cukup keras. Pria itu mengerang pelan, terkejut oleh reaksi tiba-tiba tersebut. "Jess, apa yang kau lakukan?!" Teriak Sofia, panik. "Ayo lari!" seru Jesslyn sambil menarik tangan Sofia. Mereka berlari menjauh dari pria itu. "Hei, tunggu!" Padahal dia hanya ingin mengantar kedua gadis itu. "Go to hell!" Teriak Jesslyn sambil menunjukkan jari tengahnya. Levin memegangi kakinya sambil tersenyum, gadis yang enerjik dan penuh semangat. Secepatnya, dia akan meminta Jason Walt untuk mempertemukan mereka lagi. Tapi kali ini akan dia lakukan secara diam-diam supaya gadis itu tidak lagi menolak untuk hadir. "Tunggu saja, Jesslyn. Saat kita bertemu dalam keadaan berbeda, aku ingin lihat bagaimana reaksimu!" Pria itu kembali tersenyum, menatap gelapnya langit malam. Tidak sia-sia mengikuti gadis itu selama beberapa hari belakangan karena dia jadi tahu apa yang sedang dilakukan oleh gadis itu. Menarik, semakin mengenalnya, semakin membuat penasaran.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD