Malam itu, rumah megah itu tampak sunyi. Lampu-lampu kristal menyinari lorong panjang, memantulkan cahaya keemasan yang dingin. Jesslyn berdiri di balkon kamar, menatap taman luas yang diterangi lampu taman. Angin malam berhembus, membawa aroma bunga mawar yang anehnya terasa menyesakkan. Pintu kamar berderit pelan. Levin masuk dengan kemeja santai, dua kancing teratas terbuka. Ia membawa dua gelas anggur, meletakkannya di meja kecil dekat ranjang. “Aku harap kau mulai merasa nyaman di sini,” katanya lembut. Jesslyn tidak menoleh. Matanya tetap menatap ke luar, ke arah kegelapan bukit yang jauh di sana. “Semua tergantung dirimu, Levin,” jawabnya datar. Levin mendekat, berhenti tepat di belakangnya. Hangat napasnya menyentuh tengkuk Jesslyn. “Aku tahu. Jangan menganggap rumah ini sebaga

