Meja makan itu terasa sunyi, seakan setiap helaan napas pun terdengar begitu berat. Jesslyn duduk dengan wajah pucat, matanya sembab dan membengkak. Dia sudah terlalu lama menangis hingga suaranya pun nyaris habis. Levin, yang duduk di hadapannya, berusaha menahan gejolak yang mendidih di dadanya. Kedua tangannya mengepal di atas meja, urat-uratnya menonjol menahan amarah. Baginya, tak ada yang lebih menyakitkan selain melihat istrinya meratapi pria lain. Jesslyn bukan wanita pertama dalam hidupnya tapi dialah wanita pertama yang berhasil memporak-porandakan hatinya dengan membuatnya cemburu seperti itu. Sewaktu dia bersama dengan Olivia, hubungan mereka berjalan dengan manis. Karena mereka berdua saling mencintai. Dia tidak pernah mendengar Olivia memuji pria lain apalagi sampai menang

