Kebahagiaan masih terpancar jelas di wajah Jesslyn. Sejak pagi, senyum itu tak juga pudar, seolah dunia sedang bersekongkol untuk memanjakannya. Bahkan Sofia, sahabat baiknya, sampai terheran-heran melihat perubahan itu. Ia menatap Jesslyn lama, alisnya terangkat. “Ada apa denganmu? Sejak tadi kau tak berhenti tersenyum. Apa ada hal membahagiakan yang terjadi hari ini? Atau jangan-jangan... kepalamu terbentur pagi ini?” Jesslyn pura-pura cemberut. “Enak saja. Kepalaku baik-baik saja, tahu.” Ia membuang wajahnya ke samping, menahan tawa kecil. Sofia ikut tersenyum. “Baiklah, kalau begitu. Sekarang katakan, kenapa kau begitu bahagia? Pasti ada alasannya, kan?” Jesslyn menarik napas dalam, lalu matanya berkilat. “Kau tahu? Levin akhirnya mengizinkanku mengikuti kompetisi balet di Jepang

