Langit malam tampak kelam, seolah menahan badai yang enggan turun. Awan menggantung berat di atas jalanan kota yang masih ramai oleh gemerlap lampu dan suara mesin mobil yang lalu lalang. Di seberang gedung pesta yang baru saja usai, sebuah mobil hitam berhenti di pinggir trotoar. Dari balik kaca gelapnya, Levin duduk diam, menatap ke luar dengan pandangan tajam. Asistennya, Ruel, berada di kursi kemudi, tangannya menggenggam erat setir, menunggu aba-aba. Satu mobil lain terparkir di belakang mereka. Di dalamnya, beberapa anak buah Levin bersiaga, mata mereka terfokus pada pintu keluar gedung pesta yang penuh dengan tamu-tamu bergaun mewah. Tak ada percakapan. Hanya ketegangan yang mengisi udara. Lalu, setelah beberapa menit menunggu, sosok yang mereka cari akhirnya muncul. Maria Len

