Jesslyn duduk di sebuah sofa berbentuk bulat dengan sebuah majalah di tangan. Dia begitu serius, membolak-balikan majalah itu. Suasana rumah begitu sunyi setelah mereka kembali. Hanya suara lembut hujan di luar jendela, menetes perlahan di kaca, menemani kesendirian Jesslyn yang sedang duduk di ruang tamu. Levin sedang sibuk, menjawab telepon dari seorang klient penting. Dia harus meninggalkan istrinya terlebih dahulu, sebelum menjelaskan siapa yang memanggilnya tadi siang. Lampu kuning redup menyorot wajah Jesslyn, lembut namun masih menyimpan bayangan rasa penasaran yang belum sepenuhnya hilang. Dia menatap lama, sosok wanita yang ada di majalah itu. Karina. “Ck, cantik begini, bagaimana mungkin tidak ada yang suka?” Gumamnya lirih. Jesslyn menyelipkan rambutnya. “Selera pria

