Bab 22. Memilih Pasrah

1013 Words

Makan malam itu berlangsung seperti medan perang tanpa suara. Lilin-lilin di meja hanya memantulkan bayangan wajah dingin Jesslyn yang menunduk, sama sekali tidak menyentuh hidangan di depannya. Sendok-garpu hanya beradu sekali, sisanya sunyi. Levin duduk di seberang, memperhatikannya tanpa henti. Wajahnya tenang, tapi sorot matanya menajam, seolah ingin menembus benteng yang Jesslyn bangun di sekeliling dirinya. “Apa hanya itu yang kau lakukan? Menatapku tanpa bicara?” Jesslyn akhirnya membuka suara, nadanya sinis. Levin tidak menjawab. Hanya menyeruput anggurnya perlahan. Diamnya justru membuat Jesslyn semakin panas. Ia meletakkan sendok dengan kasar, suara dentumannya menggema di ruangan. “Aku sudah muak, Levin. Kau pikir aku bisa betah di sini? Kau pikir aku akan berubah jadi istri

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD