Bab 23. Hanya Ingin Kebebasan

1038 Words

Pagi itu, aroma harum roti panggang dan kopi memenuhi ruang makan vila. Cahaya matahari menembus tirai besar, menerangi meja yang sudah tertata rapi dengan sarapan sederhana. Levin masih mengenakan kemeja putih dengan lengan tergulung, berdiri di dapur. Tangannya lincah mengaduk telur orak-arik di wajan. Pemandangan itu kontras sekali dengan sosok pria dingin yang begitu menekan Jesslyn. Jesslyn baru bangun. Dia duduk diam di sisi ranjang. Aroma makanan menyelinap masuk melalui celah pintu yang sedikit terbuka. Perutnya berbunyi, sekarang dia ingat, semalam dia hanya makan sedikit. Dengan perlahan, Jesslyn menurunkan kakinya, menginjak lantai yang dingin. Dia bosan berasa di tempat itu, dia harus bernegosiasi dengan Levin agar membawanya kembali. Dia tidak mau waktunya dihabiskan den

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD