9. Pacar Posesif

1677 Words
Damar langsung tersedak kuah bakso super pedas yang sedang ia santap saat membaca pesan dari Muti itu. Tangannya otomatis terulur meraih gelas es jeruk milik Bagas yang masih penuh. “Wooyy!! Es guee, Braaayyy!!” Protes sang pemilik es jeruk yang tidak digubris oleh Damar. Ia terbatuk-batuk karena sengatan rasa pedas itu menjalar ke hidungnya. Oh, sialan, Muti! Cewek itu tidak akan pernah tahu efek apa yang ditimbulkan atas pesan yang ia kirimkan untuk Damar. Melihat Muti pagi ini membuat Damar kesal sekaligus kasihan. Muti terbiasa hidup sebagai 'si biasa-biasa saja' meskipun justru kenyataannya gadis itu tidak pernah biasa-biasa saja. Setidaknya bagi Damar. Muti selalu menganggap dirinya hanyalah sosok pelengkap tak terlihat di sekolah maupun di rumahnya sendiri. Padahal, tanpa gadis itu sadari, semua orang di sekolah mengenalnya. Jika kamu bertanya pada tukang kebun di sekolah, yang mana Muti, orang itu pasti bisa menjelaskan secara detail seperti apa itu sosok Muti. Namun, tentu saja gadis itu tidak menyadarinya karena Muti terlalu fokus pada hal yang ia anggap sebagai kekurangan. Muti memang tidak secantik cewek-cewek populer lainnya. Gadis itu biasa. Sangat biasa dengan rambut pendek yang dari tahun ke tahun tidak pernah berganti model. Akan tetapi, keceriaan dan kebaikan hati cewek itu telah membekas di hati semua orang yang mengenalnya. Termasuk Damar. Mengenal cewek itu sejak masih kecil, membuat Damar hapal orang seperti apa Muti. Gadis itu tidak pernah suka menjadi pusat perhatian. Muti selalu 'bermain aman' untuk bertindak biasa saja. Dan Damar tahu betul itu semua. Kecuali satu. Ia tidak pernah tahu jika Muti takut gelap, sampai Violet menceritakan itu kemarin karena Muti menolak diajak ke bioskop. Bagaimana ia bisa tidak tahu tentang itu setelah bertahun-tahun persahabatan mereka? Ketika pagi ini Muti memohon agar bisa pulang dengannya, Damar sungguh ingin berkata ia mau pulang dengan cewek itu. Namun, Damar tahu hal itu hanya akan membuat Muti semakin menjadi bahan omongan cewek-cewek lain di sekolah. Terutama cewek-cewek yang menyukai Nero. Ide meminta tolong Violet itu tentu saja datang tiba-tiba ketika ia melihat-lihat ponselnya, siapa orang yang bisa dimintai tolong. Keluarganya tahu dengan baik siapa Muti, dan mereka, terutama Violet, sangat menyukainya. Violet seperti menemukan anak perempuan lagi setelah Ola pergi kuliah ke luar negeri beberapa waktu lalu. Dan karena anak perempuan adalah 'barang langka' di keluarga Widjaya, maka sudah jelas Violet tidak akan pernah menolak apapun itu yang berhubungan dengan Muti. “Bray, warnet yuk! Udah lama nggak ML nih,” ajak Bagas setelah ia memesan dua gelas es jeruk baru. “Belajaar, woy! Udah mau ulangan.” Bagas mencibir. “Ulangan juga masih seminggu lagi. Sejak kapan lo kerajinan?” Damar tersenyum dan menghabiskan esnya. “Gue mau pulang.” Bagaimana ia bisa ke warnet main Mobile Legend sementara Muti kemungkinan besar ada di rumahnya? Ia tidak tahu ke mana Violet akan membawa cewek itu pergi. , Damar tahu bagaimana mamanya itu. Violet bukan wanita yang suka pergi ke mall atau ke salon di waktu senggang. Kecuali kemarin, saat bersama Muti dan itu karena memang Violet ingin mengerjai Muti. Jika tidak sedang di sekolah, Violet akan lebih memilih di rumah. Memasak atau berkebun bersama Oma. Violet adalah wanita yang tidak neko-neko dan sederhana. Mungkin itu yang membuat Papa Erlangga tidak bisa berpaling. “Udah, ah, gue cabut!” katanya seraya meninggalkan uang dua puluh lima ribu di meja. Seharusnya Violet dan Muti sudah sampai di rumah. Ia memang sengaja menunggu untuk pulang lebih lama hanya agar Nero tidak curiga. Mama di rumah? Pesan itu dikirimkannya dalam perjalanannya ke tempat parkir motor. Ia harus memastikan Violet benar-benar membawa Muti ke rumah mereka. Baru nyampe. Mama mau ajarin Muti bikin cupcakes, kamu nggak boleh ganggu. Ke sekolah aja sana nemenin Papa kamu. Oh, jangan harap! Erlangga pasti akan mengoceh panjang lebar karena ia telah membuat Violet pergi dari sekolah lebih dulu. Erlangga tidak pernah suka bekerja tanpa ada istrinya di sekolah. Sejak kecil, Damar sudah dekat dengan pasangan itu. Bukannya ia tidak dekat dengan orang tua kandungnya, bukan itu. Ia dekat dengan Bunda juga Ayah sambungnya. Namun, karena ayahnya adalah seorang pegawai negeri, ayah sering berpindah-pindah tugas. Dan ia jarang mau ikut tinggal bersama mereka di daerah atau negara lain. Karena itulah ia lebih sering tinggal di rumah Erlangga sejak kecil. Kenyataan bahwa Erlangga dan Violet tidak pernah membedakannya dengan anak kandung mereka, justru semakin membuat Damar menyayangi mereka. Ia dekat dengan semua saudara sepupunya apalagi Ola. Dan memang, kepergian Ola untuk kuliah di luar negeri telah membuat rumah sedikit lebih sepi dari biasanya. Violet seolah kehilangan 'teman bermain.' Suara tawa bahagia terdengar saat Damar memasuki rumah. Ia tersenyum. Damar selalu suka melihat Muti tertawa. Sudut-sudut bibir gadis itu seolah tertarik membelah wajahnya jika ia tertawa. Tidak banyak cowok yang menyadari pesona yang dimiliki seorang Mutiara Dunia dan ia bersyukur untuk itu. Ia tidak akan rela jika ada orang lain yang menyadarinya. Selain Nero tentu saja. Ketika tahu cowok itu ‘menembak’ Muti, ia benar-benar ingin menguliti Nero. “Katanya Mama mau ke Dokter? Sejak kapan dokter pindah ke dapur?” “Waalaikumsalam, anak Mama yang ganteng.” Damar terkekeh dan mendekati Violet untuk mencium tangan wanita itu. “Assalamualaikum, Mama.” Violet tersenyum. “Waalaikumsalam. Nah gitu kan bener.” Damar menoleh pada Muti dan mendapati cewek itu tersenyum lebar padanya. Sial! Muti tidak pernah tahu efek apa yang ditimbulkan senyum itu pada Damar. “Zane, Zephyr, sama Ezra di mana, Ma?” tanyanya untuk menghilangkan kegugupannya. Sebelum ini, ia selalu bisa mengontrol dirinya dengan baik. Akan tetapi, chat Muti tadi siang telah merontokkkan sedikit topeng itu. Ia bahkan berharap tulisan I Owe You itu berganti huruf lain. “Di rumah Opa. Opa mau nanam pohon mangga katanya.” Setelah pensiun, Opa memang lebih sering berkebun di rumah. Atau, Opa dan Oma akan pergi berlibur di rumah Tante Hanum di Swiss. Di usia senjanya, Opa dan Oma tidak ingin lagi dibebani masalah sekolah, karena itulah, Erlangga sekarang selalu sibuk luar biasa di sekolah. Biasanya, Damar pasti akan langsung menyusul adik-adiknya itu ke rumah Opa. Umurnya dan Zane yang tidak berbeda jauh, lebih membuat mereka seperti seorang teman bermain. Pun dengan Zephyr dan Ezra. Meskipun masih dibilang anak-anak, Damar nyaman bermain dengan mereka seperti ia bermain dengan teman sekolahnya. Namun, kali ini ia tidak ingin ke sana. Ia ingin di rumah melihat Muti memasak bersama Mama. “Emang lo bisa bikin kue, Mut? Ntar yang ada garam lo kira gula.” Muti melotot dan bersiap melemparkan entah apa itu, tetapi Damar sudah lebih dulu menyingkir dari pintu dapur. “Bikin yang enak yaaa, Marmuuuutt!!” Teriaknya sebelum ia ke kamar untuk berganti pakaian. Rasanya menyenangkan bisa melihat Muti di rumah seperti ini. Waktunya bersama Muti di sekolah sekarang-sekarang ini tentu akan sangat berkurang setelah cewek itu menjadi pacar Nero. Hanya ketika di luar jam sekolah, ia bisa 'memiliki' Muti seperti dulu. Seperti saat belum ada cowok itu. Damar segera berganti pakaian dan bersiap untuk turun. Ia tidak akan menyia-nyiakan keberadaan Muti di rumah ini dengan berdiam diri di kamar dan tidak menggangu cewek itu. Iya, dia memang konyol. Merasa bahagia hanya dengan mengganggu Muti dan melihat cewek itu marah-marah atau cemberut. Namun anehnya, ketika ia mulai menuruni tangga, tawa bahagia yang tadi terdengar, kini tidak ada. Damar mengerutkan kening. Tidak mungkin Mama dan Muti saling diam. Violet adalah salah satu wanita paling berisik yang pernah ada. Dan Muti, jelas cewek itu tidak punya satu sel pendiam pun di tubuhnya. Jawaban akan kesunyian itu terungkap saat ia mencapai anak tangga paling bawah dan melihat Nero berdiri di depan pembatas ruang tamu dan ruang keluarga. Berhadapan dengan Muti dan Violet. “Ngapain lo ke sini?” tanya Damar sambil bergegas mendekat. Nero menoleh padanya dan menatap Damar dengan mata menyipit. “Jadi ini rumah kamu? Kamu yang menyuruh Mutiara berbohong kan? Dan wanita ini, mama kamu? Kalian semua sengaja bohongin aku?” “Gue nanya ngapain lo ke sini??” Damar berdiri di depan Muti hingga cewek itu ada di belakang punggungnya. “Muti, masuk!” perintahnya tegas tanpa berpaling dari Nero. “Kamu berani main perintah sama pacarku?” Nero maju satu langkah dengan mata melotot. “Ma, bawa Muti masuk!” perintahnya lagi tanpa berpaling. Ketika ia mendengar langkah kaki Violet dan Muti yang menjauh, Damar kembali mendekat pada Nero hingga kini mereka hanya berjarak beberapa inci. “Kita bicara di luar.” “Nggak mau! Aku mau bawa Muti pulang!” Damar menarik lengan Nero dan menyeret cowok itu keluar meskipun Nero mengeluarkan berbagai macam kata tidak pantas. “Lepaskan aku! Aku mau bawa Muti pulang!” Teriak Nero saat mereka mencapai halaman. Ia menyentak lengannya yang ada dalam genggaman Damar. “Lo emang siapa?” Tanya Damar dengan tenang. “Aku pacarnya!” Nero melotot padanya. Damar tersenyum sinis. “Lo baru sehari jadi cowoknya. Sehari. Jangan kira lo bisa seenaknya sama Muti.” “Mau kamu apa sih?? Mau nantang? Memangnya kamu apanya Muti, hah?” Jika tidak sedang di rumah, Damar pasti meladeni Nero untuk berduel. Akan tetapi, ia kini berada di rumah. Rumah tidak boleh untuk berkelahi karena rumah adalah awal di mana cinta berasal. Itu pesan Erlangga yang akan selalu ia ingat. “Mending lo pulang sekarang.” “Enggak!” Nero semakin melotot padanya. “Aku nggak akan pulang tanpa Muti!” Damar menghela napas dan berkacak pinggang dengan lelah. “Sebenarnya masalah lo apa sih, Ner? Lo tuh ngekang Muti tahu nggak? Lo baru jadi cowoknya satu hari. Satu hari!!” ulangnya lagi dengan kesal. “Bukan urusan kamu! Dia pacarku! Dan kamu nggak boleh deketin dia lagi.” Sial, Damar benar-benar ingin memukul cowok ini. Tangannya sudah benar-benar gatal dan siap melayang meninju hidung Nero. Ia hampir saja benar-benar kehilangan kesabaran, tetapi tangan mungil itu meraih lengannya. Damar menoleh dan melihat Muti tersenyum padanya. “Gue pulang ya. Bantuin Mama lo gih! Belom selesai tuh bikin kuenya.” “World ...” “Udah! Gue pulang. Daaah, Damdaaam!!” Muti melambai dan meraih tangan Nero untuk menjauh pergi. Ketika Muti menoleh lagi dan melambai padanya, Damar tahu jika itu bukan senyum Muti yang biasanya. Muti tidak bahagia. Ia tahu itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD