87. Rencana Tinggallah Rencana

1502 Words

Pagi itu, kondisi rumah jauh lebih heboh daripada biasanya. Tidak hanya suara satu orang, tetapi juga banyak wanita-wanita lain yang Muti dengar ketika ia membuka pintu kamarnya dengan setengah mengantuk. Obrolan dan tawa para wanita itu bahkan sampai ke lantai dua tempat kamarnya dan kedua saudaranya berada. Bintang dan Langit juga sedang melongokkan kepala di pintu kamar mereka masing-masing dengan mata menyipit karena masih mengantuk. “Apa rumah kita sedang diserang makhluk dari planet wanita? Kenapa aku mendengar banyak sekali suara wanita di bawah?” tanya Langit dengan suara serak. “Sejak kapan ada peraturan boleh bertamu dan berisik di rumah orang di pagi buta seperti ini?” lanjut Bintang dengan sama paraunya. Langit melihat jam tangannya dan bergumam, “ini sudah jam enam tiga pu

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD