Begitu mobilnya meluncur meninggalkan rumah Muti, hati Damar sudah dipenuhi oleh perasaan gelisah. Ia tidak suka saat mendapati raut wajah Tante Dina yang dingin saat melihat mereka itu. Wanita itu bahkan tidak memberi kesempatan pada Damar untuk menjelaskan. Oh, jangankan dirinya, Muti sendiri juga tidak diberikan kesempatan untuk membuka mulutnya dan menjelaskan dari mana mereka. Dan Damar benci harus meninggalkan Muti menghadapi kemarahan sang ibu sendiri, walaupun jelas gadis itu pasti sudah lebih paham tentang ibunya daripada Damar. Hanya saja, Damar berharap jika ia bisa selalu ada untuk Muti dan terus menemani gadis itu ketika ‘disidang’ kedua orang tuanya. Terutama, karena akar dari kejadian ini adalah dirinya. Bukan Muti yang punya ide untuk mengirimkan makanan kepada anak-ana

