16. Violet dan Rencananya

1300 Words
Jika ada satu hal yang sangat ingin Damar lakukan saat ini, itu adalah pulang ke Indonesia dan berada di kamarnya. Jika ada pintu ke mana saja milik Doraemon sekarang, ia akan sangat-sangat berterima kasih pada kucing gendut berwarna biru itu. Ini semua gara-gara Mama yang dengan jahatnya mengirim foto Muti yang sedang berada di kamarnya! Tidak ada kata-kata yang Violet kirimkan dalam pesan itu. Hanya berbagai foto Muti di rumah mereka. Di dapur, ketika Muti membantu Violet membersikan ikan hasil pancingan Papa. Di halaman belakang, ketika cewek itu bermain bola bersama Ezra. Di ruang keluarga, ketika ia dan Zephyr beradu bermain game online. Atau, ketika cewek itu tertawa riang karena mendengar apa yang dikatakan Zane. Ia benar-benar cemburu pada adik-adiknya itu. Muti terlihat sangat nyaman di rumahnya. Bagaimana bisa Muti berada di sana saat ia bahkan tidak ada? Namun, satu hal yang benar-benar sangat ingin membuatnya segera pulang, adalah ketika Violet mengirimkan foto cewek itu sedang berada di kamarnya dan memakai kaus miliknya. Kausnya! Astaga, seumur hidupnya Damar tidak pernah membayangkan Muti akan memakai kausnya. Dan kaus itu adalah kaus favoritnya. Kaus usang bergambar bola basket yang terlupa masuk ke kopernya. Namun, bahkan meskipun usang, Muti terlihat begitu cantik saat memakainya. Sial, seharusnya ia tidak pergi jika tahu bahwa Violet berniat mengajak Muti menginap. Ia tahu ini semua pasti akal Violet untuk membuatnya menyesal. Violet adalah wanita cantik paling licik dan paling kejam yang pernah Damar kenal. “Damaaaar, makaaann!!” teriak Hannah dari depan kamar entah untuk yang ke berapa kalinya. “Kalau kamu nggak mau keluar juga, Bunda nggak kasih makan kamu sampai selamanya!” ancam Hannah kemudian ketika ia tetap diam. Nah, wanita terkejam kedua setelah Violet adalah Hannah Surry Widjaya. Pantas jika Bunda dan Mama sangat dekat. Damar membuka pintu kamarnya dan cemberut menatap Hannah. “Damar pengen pulang.” Hannah melotot. “Kamu pikir Tokyo-Jakarta kayak rumah kita ke rumah Muti!! Makan sekarang, nggak usah manja!” Masih dengan cemberut, Damar mengikuti Hannah ke ruang makan di mana ayah dan adiknya sudah menunggu. “Kakak lamaaaa, Elang udah lapeeerr!!” protes adiknya yang sudah duduk di kelas satu SMP itu. “Kan bisa makan duluan, nggak usah nungguin kakak.” “Nggak boleh sama Bunda. Harus makan bareng-bareng.” Sesaat, ia merasa bersalah pada ayah dan adiknya. “Maafin Kakak, yah? Kakak lagi baca komik tadi. Keasyikan.” Elang tersenyum. Sebuah senyum yang sama persis dengan miliknya meskipun mereka berbeda ayah. “Nggak apa-apa. Kan Elang punya ini.” Tangan adiknya keluar dari balik meja dan menaruh sepotong kue di atas meja. “Elang! Kamu curi cake Bunda lagi!” “Kan Bunda lagi dieeett!!” Damar tertawa. Hannah dan Elang suka sekali makan cake hingga mereka sering berebutan. Kadang ia merindukan saat-saat seperti ini. Bunda dan Elang bertengkar berebut cake lalu ayah yang memang berwibawa, akan memisahkan mereka. Namun kadang, ayahnya itu malah mengambil cake yang sedang diperebutkan, dan menghabiskannya. “Ayah nggak pegel telinga denger mereka rebutan cake tiap hari gitu?” tanya Damar sambil menyuap daging teriyakinya. Meskipun tidak sepandai Violet dalam memasak, masakan Hannah juga membuatnya rindu. “Telinga Ayah udah kebal, Nak.” Damar tertawa. Ia tidak pernah mengenal ayah kandungnya sejak lahir, tetapi pria yang ada di hadapannya ini, bersama Papa Erlangga tentu saja, telah membuatnya kenyang dengan kasih sayang seorang ayah. Ayah mencintainya sama seperti beliau mencintai Elang. Ia beruntung karena mengenal pria-pria hebat dalam hidupnya. Mulai dari Opa, Papa Erlangga, hingga ayah sambungnya ini. “Ayah jangan nambah adek lagi buat Damar deh. Bisa tuli permanen kalau nambah satu lagi yang kayak gini.” “Telaaaaattt!!” Teriak mereka bertiga bersamaan. Damar mendongak dari makan malamnya dan menatap Hannah dengan ngeri. “Bunda seriuus??” Hannah mengangguk mantap. “Delapan minggu.” Tuhaan...dia akan punya adik di usia tujuh belas tahun?? Muti pasti akan tertawa sampai berguling-guling mendengarnya. Ah, memikirkan Muti hanya membuatnya semakin ingin pulang dan melihat cewek itu tertawa. “Bunda kenapa nggak bilang Damar?” tanya Damar kemudian. “Kamu aja nggak pernah nanyain kabar Bunda. Kepala kamu kan penuh sama Muti.” Damar cemberut menatap bundanya itu. “Jadi Damar boleh pulang kan, Bun?” Hannah melotot menatapnya dengan garang. “Emang kamu pikir sekolahan itu punya kakek kamu!!” “Emang punya Opa kan. Damar bisa balik sekolah di sana lagi.” “Tapi kamu kan udah keluar dari sekolah Opa! Jangan suka seenaknya mentang-mentang keluarga kamu keluarga terhormat! Bunda nggak suka.” “Sayang,” potong Galang dengan tenang, “jangan marah-marah. Kamu lagi hamil, ingat.” “Habisnya dia ...” Damar bangkit tanpa bicara apa-apa ataupun mendengarkan sisa ocehan Bunda. Ia memang bodoh karena mengambil keputusan dengan tergesa-gesa. Seharusnya ia berpikir jernih. Seharusnya ia tidak pergi. Kini, ia tahu kenapa sebuah keputusan tidak boleh diambil saat kita sedang marah atau kesal. Ada tangan menepuk pundaknya dengan lembut. Ayah mengambil posisi duduk di sebelahnya, di teras belakang rumah. Sedang awal musim panas sekarang, jadi udara terasa begitu lembab karena hujan yang lebih sering turun sebagai pertanda datangnya musim panas. Sejujurnya, Damar sangat menyukai negara ini. Sejak kecil tinggal di Indonesia, membuatnya sangat excited saat akhirnya ia akan bisa merasakan tinggal di negara empat musim. Namun, rasa senang itu sirna sekarang hanya gara-gara melihat Muti di kamarnya. “Bunda cuma mau kamu bertanggung jawab dengan keputusan yang sudah kamu ambil.” “Iya, Damar ngerti, Yah,” jawab Damar pelan. “Namanya kita jatuh cinta, pasti maunya deket-deket terus kan? Tapi kamu tahu nggak, kalau berjauhan gini justru bikin hubungan kalian bakal lebih deket?” Damar menoleh menatap ayahnya. “Jadi jauh iya!” Ayahnya terkekeh. “Kan kalau jauhan jadi kangen. Kalau udah kangen jadi kepikiran. Kalau udah kepikiran ...” “Jadi nggak konsen belajar! Maunya pulang.” Kini Galang tertawa terbahak-bahak. “Salah rupanya Ayah ya?” Damar berdecak dan cemberut. “Ayah kan payah soal hubungan jarak jauh. Damar udah tahu jadi nggak usah sok ngasih nasihat.” Kembali tawa ayahnya terdengar. Karena tugasnya yang sering berpindah-pindah, Ayah tidak pernah mau jika Bunda tidak ikut dengan beliau. Dan Bunda selalu mengomel tiap kali Elang harus pindah sekolah lagi. “Ayah sama Bunda kan udah nikah, jadi wajar harus selalu berdekatan. Kamu sama Muti kan baru pacaran.” “Muti bukan pacar Damar!” “Oh iya, ayah salah lagi. Pacar orang dia ya?” “Ayah!!” Sama seperti anggota keluarga yang lain, ayah juga suka sekali menggodanya. Mereka semua mengatai ia bucin abadi karena tidak pernah bisa move on dari Muti ataupun berani jujur pada cewek itu. “Ayah udah urus pendaftaran sekolah kamu di sini. Tanggung jawab ya sama keputusan yang kamu buat sendiri. Anak ayah kan hebat.” Galang tersenyum dan bangkit dari duduknya. “Jangan lama-lama di luar. Hujan.” Mata Damar menatap butiran hujan yang turun semakin deras. Udara mulai terasa semakin dingin menembus kulitnya. Ia meraih ponsel dari kantong celananya dan mencari nama Muti. Ia belum menghubungi cewek itu satu kali pun semenjak liburan. Entah Mama sudah mengatakan yang sebenarnya atau belum. “Apaaaaa???” Sembur cewek itu begitu mengangkat telepon. Damar tersenyum. “Galak bener sih? Lagi dapet ya??” “Bodoo amaat!! Lo kenapa pergi nggak bilang-bilang?? Lo anggep apa gue??” Jadi Muti sudah tahu. Damar menghela napas berat saat rasa bersalah itu menyeruak ke dadanya. “Sorry, gue ...” “Takut gue minta oleh-oleh kan?? Cih, orang kaya macam apa tuh! Awas aja lo pulang, gue bejek-bejek muka lo.” “Wait! Mama bilang apa sama lo?” “Lo lagi liburan ke Jepang.” Oh, sial! Ternyata Violet memang benar-benar berniat membuat Muti marah padanya. “World, gue... gue nggak liburan. Gue pindah ke sini. Sampai lulus.” Hening. “Marmut?” Tetap hening. “World?” “Elo jahaaat!! Gue benci sama lo!!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD