DARREL bersandar di ranjang dengan pandangan kosong. Pikirannya tenggelam dalam lamunan. Sebelumnya ia paling anti menghiraukan pandangan orang tentangnya, lantaran selama ini hanya berbagi pujian serta hal positif yang ia terima. Selama kuliah, pria itu memang sering mencetak banyak prestasi, lalu menjadi model, hingga tergabung dalam perusahaan ayahnya pun banjir decak kagum. Namun, saat ini, begitu dia dinyatakan sebagai Chief Executive Officer dari perusahaan ayah mertuanya, mendadak ia memperhatikan semua pendapat orang-orang tentangnya. Dan yang paling menganggu pikirannya adalah kata-kata pedas mereka. "Darrel? Kau masih di sana, 'kan?" Disha berdiri dari duduknya, berjalan melewati sofa dengan tangan meraba-raba. "Darrel?" "Ah, iya, Sweetie." Darrel membuyarkan lamunannya, ber

