"Saat mengambil tanggung jawab atas hidup orang lain, maka saat itu juga kita harus merelakan kehidupan kita sendiri."
***
Gibran masih menatapku penuh tanda tanya, ada harapan yang terlihat dari kedua bola mata itu. Aku bisa merasakannya, seperti sesuatu yang tidak terlalu asing, tapi entah apa.
"Tsurayya. Itu namaku. Tsurayya Parawansa, kamu bisa mengingat nama itu untuk bertanggung jawab atas perbuatanmu."
"Tanggung jawab?" Dia melepaskan kakiku dan berdiri sambil berkacak pinggang. Wajahnya terlihat kesal sekarang.
"Iya, memangnya apa lagi? Kamu sudah membuang sepatuku yang berharga. Apa kamu tahu berapa harga sepatu itu? 1.329.250. Aku harus keliling mall di kota ini saat malam pergantian tahun, demi mendapat diskon 70%."
"Heh!" Gibran mendekat satu langkah dan menoyor keningku kasar. "Apa sepatumu itu lebih berharga dari nyawa dan kehormatanmu? Kalau aku tidak datang tadi–"
"Aku yakin orang lain akan datang." Aku memotong kalimatnya dengan penuh percaya diri. "Takdirku adalah diselamatkan, jika bukan kamu maka aku yakin orang itu pasti tidak semenyebalkan dirimu."
Aku menyuapkan potongan roti terakhir dan meminum air putih yang sudah disediakan oleh Gibran. Pria itu mengusap wajah kasar dan terlihat sangat frustrasi.
"Setelah semua yang aku lakukan buat membantumu, bahkan membawamu kemari, dan memberimu makan, kamu masih saja–"
"Pak, seperti yang tadi Bapak bilang, roti yang kumakan tidak gratis jadi aku akan membayarnya. Ganti rugi sepatuku dan potong tiga puluh ribu untuk roti. Ah, ya, jangan lupa ini." Aku mengangkat cangkir kopi yang isinya masih utuh. "Meski aku tidak meminumnya, tapi aku akan berbaik hati membayar ini karena Bapak sudah menolong saya. Kita impas setelah Bapak membayar ganti rugi. Deal?"
Aku mengulurkan tangan dan menunggunya untuk menyatakan kesepakatan.
"Sebentar." Gibran mengeluarkan ponsel dari saku. "Berapa harga sepatumu?" tanyanya sambil mengutak-atik layar ponsel. "Ah, 1.329.250, benar?"
"Yups!"
"Kamu membelinya dengan diskon 70%, benar?"
"Yaaa ... benar." Aku mulai bertanya-tanya tentang apa yang sedang dia lakukan.
"Okke, berarti harga sebelah sepatumu adalah ini, iya, kan?"
Gibran menunjukkan layar ponsel dengan angka 199.387,5.
"Yak!"
Aku berdiri dengan gerakan sangat cepat karena kesal, sialnya kaki yang terkilir membuatku kesulitan menjaga keseimbangan tubuh dan berakhir dengan menuburuk Gibran. Aku terjatuh tepat di atas tubuh pria menyebalkan itu.
Petir menggelegar di luar sana membuatku kaget dan refleks menyembunyikan wajah di d**a Gibran.
"Hei, gadis m***m, apa yang kamu lakukan? Apa kamu sedang berusaha menggodaku, sekarang?"
Suara itu terdengar samar di telinga. Air mataku merembes di wajah tanpa bisa dikendalikan. Petir tidak pernah gagal melemparkan ingatanku ke masa lalu, hari yang membuatku menangis setiap kali kenangan itu muncul.
Hari itu, belasan tahun lalu. Malam sudah larut dan hujan turun lebat. Perutku terasa sakit karena belum makan sejak siang. Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi pada mama, perempuan itu marah-marah, membanting semua barang yang ada di dekatnya dan nenyeretku keluar dari kamar.
Aku yang sedang belajar, tidak bisa melawan sedikit pun. Mama menarik rambutku yang dikuncir ekor kuda dan melemparkanku ke halaman.
"Mamaaa, ada apa? Kenapa Mama marah lagi?"
"Kamu yang kenapa? Kenapa kamu masih hidup? Seharusnya aku membunuhmu sejak lahir agar hidupku tidak sial seperti ini! Dasar, Bocah Sialan!"
Mama menutup pintu dengan kasar, mengunciku di luar. Aku berusaha memelas dan memohon agar mama membukakan pintu, tapi tetap saja, pintu itu terkunci rapat sampai langit menjadi benderang. Aku hanya bisa memeluk lutut di depan pintu, sambil menutup telinga setiap kali petir menggelegar.
"Heh! Kamu–" Gibran mendorong pundakku kasar.
"Maaf, aku tidak bermaksud...."
"Sebentar, kamu ... kamu menangis?"
Aku bangkit dan kembali ke tempat duduk sambil menghapus air mata, tepat saat ponselku berdering. Fotoku dan Airin tertera di layar.
"Ha‐hallo?"
Suaraku sedikit terbata karena masih belum bisa mengendalikan diri. Kenangan itu benar-benar membuatku sesak.
''Ayy, kamu di mana? Aku datang ke rumahmu karena mama dan papa pergi lagi, tapi kamu malah tidak ada."
"Rin, maaf, aku sedang di luar. Sebentar lagi aku pulang."
''Di luar? Wah, apa kamu sedang berkencan? Ini kejadian langka. Seorang Tsurayya keluar malam sampai jam segini di saat hujan? Woaaah.''
Aku melirik ke arah Gibran. Kencan? Dengan orang menyebalkan seperti dia? Ya, Tuhan, jauhkan takdir semacam itu dari garis hidupku.
"Sudahlah, omonganmu terlalu melantur."
Aku segera mengakhiri panggilan dan bersiap untuk pulang. Hujan di luar sana sudah sedikit reda. Jarak antara kafe ini dan rumahku tidak terlalu jauh, tapi sepertinya aku harus terpaksa memesan taksi online karena kaki yang sakit dan hujan yang tidak bersahabat. Sungguh, kesialan yang paripurna hari ini.
"Terima kasih atas pertolongannya, aku mau–"
Gibran mengacungkan tangan dan membuatku berhenti bicara saat ponselnya berdering.
"Hallo, iya, Ma. Gibran sudah menutup kafe lebih cepat, tapi tiba-tiba ada sesuatu yang harus dikerjakan."
Kalau dilihat dari raut wajah pria itu, sepertinya dia terlihat cemas dan tidak tenang.
"Iya, Ma, iya. Mama jangan khawatir, Gibran pasti akan mencari Ellin. Mama jangan khawatir, ya."
Dia mengakhiri panggilan setelah berpamitan.
"Tsu ... Tsura...."
"Tsurayya."
"Iya, itu maksudku." Gibran menggaruk alis sebelah kanan. "Aku akan pergi karena ada urusan, apa kamu bisa pulang sendiri?"
Aku hanya mengangguk. Suasana hati saat ini terlalu tidak bersahabat untuk berbicara panjang lebar.
"Rumahku tidak jauh, aku akan naik taksi untuk pulang."
Gibran melihat ke arah jam dinding yang dipasang dekat pintu masuk.
"Sudah larut malam, akan berbahaya kalau kamu pulang sendirian dalam keadaan seperti ini. Baiklah, aku akan mengantarmu dulu."
"Tidak perlu, aku bisa sendiri."
Aku berdiri dan bersiap untuk pulang, tapi sepertinya kakiku sedang manja. Hampir saja terjatuh lagi kalau Gibran tidak menangkap tanganku.
"Sudahlah, tidak perlu keras kepala. Anggap saja aku sedang membayar sebelah sepatumu."
Pada akhirnya aku hanya bisa menurut. Lagi pula ini sudah hampir tengah malam. Suasana hati juga sedang kacau karena teringat kenangan buruk itu lagi setelah sekian lama.
***
Airin melongo dengan sangat tidak elegan saat membukakan pintu dan menemukanku berada di punggung Gibran.
"Ayy, omaigat! Kamu kenapa?"
Gadis itu heboh sendiri dan membereskan sofa di ruang tamu yang ada kaos kaki bekas kupakai tadi siang.
"Jangan lebay. Aku hanya terkilir."
"Ya sudah, aku harus segera pergi. Masalah yang tadi itu, aku pasti akan bertanggung jawab. Kamu tidak perlu khawatir."
Aku hanya mengangguk sebagai jawaban, kemudian berterima kasih sekali lagi sebelum dia benar-benar pergi.
"Ayy, tunggu sebentar, ap-apa maksudnya? Tanggung jawab? Apa yang kalian lakukan?"
Mata Airin semakin melebar ketika tangannya menyentuh baju yang kukenakan.
"Tidak mungkin. Kalian tidak melakukan hal yang tidak-tidak, kan? Kenapa kamu memakai baju seperti ini? Di mana bajumu?"
Aku mengambil snack yang menggelembung di antara belanjaan dan memukulkannya ke kepala Airin.
"Bersihkan isi kepalamu. Aku bukan kamu."
Airin mengaduh sambil mengusap kepala.
"Apa bedanya? Aku dan kamu sama-sama perempuan dan Gibran adalah pria yang sangat memesona. Lagian, dia sendiri yang bilang akan bertanggung jawab. Memangnya apa lagi yang bisa kupikirkan setelah melihatmu pulang bersama seorang pria tengah malam di hari hujan dengan pakaianmu yang seperti ini? Hah!"
"Orang normal tidak akan berpikir sekotor dirimu."
"Kamu yang tidak normal."
"Yak!"
"Kenapa? Mau marah? Wanita normal mana pun pasti akan dengan mudah menyerahkan diri ke dalam pelukan Gibran, tapi kamu malah bersikap seperti ini. Kamu yang tidak normal."
"Sudahlah, kamu boleh mempercayai apa pun yang ingin kamu percaya. Aku harus menulis, tolong bantu aku ke ruang kerja."
Aku mengulurkan tangan dan memintanya untuk membantuku berdiri, tapi Airin malah bersedekap.
"Apa lagi?"
"Ini sudah malam, Ayya. Tubuhmu juga butuh istirahat, kenapa harus memaksakan diri untuk menulis saat kamu sendiri sedang sakit? Apa di kepalamu hanya ada proyek, proyek, dan proyek?"
Aku tersenyum kecil. Benar-benar senyum karena di balik sikap kasar dan omongan pedas Airin, dia punya kepedulian yang luar biasa untukku. Aku bersyukur, di antara jutaan manusia di atas bumi, Tuhan mengirimkan Airin sebagai salah satu berkah di dalam hidupku.
"Rin, seorang pengawal akan mempertaruhkan nyawanya sendiri untuk melindungi orang yang dia kawal. Seorang dokter akan mengabaikan rasa sakitnya sendiri saat harus mengobati pasien, kamu pikir karena apa?"
"Karena itu memang sudah pekerjaan mereka, tapi kamu bukan dokter ataupun pengawal," jawabnya kesal.
"Bukan karena itu adalah pekerjaan mereka, tapi karena tanggung jawab. Saat mengambil tanggung jawab atas hidup orang lain, maka saat itu juga kita harus merelakan kehidupan kita sendiri."
"Ayy, tapi ini sudah jam–"
Airin menghentikan kalimatnya saat melihat jam yang melingkar di tangan kiri.
"Sebentar, ini jam dua belas lebih lima menit, artinya saat Gibran datang tadi itu jam Cinderella, iya, 'kan? Omaigat!"
Airin berjingkrak-jingkrak sambil mengipas wajahnya dengan kedua tangan.
"Ya, ampun! Ayy, apa mungkin aku jodohnya Gibran?"
Aku ikut melihat jam dan pertanyaan yang sama juga muncul di benak. Mungkinkah?
"Bisa iya bisa tidak. Sudahlah, aku harus menulis."
Aku meninggalkan Airin yang masih sibuk dengan pikirannya sendiri.
***
Aku memainkan pena di tangan, berusaha menuliskan sesuatu, tapi sejak tadi tidak ada bayangan yang benar-benar terlihat nyata. Biasanya setiap menuliskan takdir seseorang, aku bisa melihat semua kejadian yang harus kutuliskan saat memegang pena ini, seperti sebuah film tiga dimensi, tapi kali ini tidak.
Aku mengetuk-ngetukkan pena di kepala, memejamkan mata dan mencoba mencari sesuatu yang harus kutulis.
Tidak ada yang bisa kulihat, kecuali hanya potongan-potongan kejadian yang terasa aneh.
Aku melihat ada sebuah tangan yang berlumuran darah, dan seorang gadis tergeletak di tempat gelap.
"Allahu Akbar!" Aku tersentak ketika melihat seolah ada benda tajam yang dihujamkan tepat ke arah leher.
"Apa itu tadi? Kenapa aku melihat hal aneh seperti itu bukannya tentang Gibran dan jodohnya?"