Serbuk keemasan membentuk koloni di udara, berjatuhan pada sebuah buku dengan sampul cokelat tua. Halamannya terbuka, menampilkan sketsa dua orang dan sebuah jam.
Perlahan, jarum jam dalam sketsa itu bergerak mundur dengan sangat cepat dan berhenti ketika membentuk sudut sembilan puluh derajat. Dua orang di dalam sketsa bergandengan tangan dan berlari di tengah guyuran hujan.
***
"Telah ditemukan mayat seorang gadis yang diduga merupakan korban pembunuhan."
Aku memerhatikan televisi yang tengah menyiarkan sekilas info. Kilat cahaya dari kamera para pemburu berita dan juga orang-orang memenuhi tempat kejadian.
"Astaga!"
Aku kaget saat melihat wajah si korban. Dia adalah gadis dari ujung komplek yang belum lama ini menjadi bahan perbincangan banyak orang karena diduga telah hamil di luar nikah.
Mataku masih terpaku pada siaran berita ketika perut mendadak terasa seperti sedang didemo oleh ribuan cacing.
"Hei, Cacing, apa kalian tidak bisa bersabar sedikit lagi? Aku sedang menonton berita," umpatku sambil memukul perut pelan. "Ini kejadian langka, seorang Tsurayya menonton selain drama korea dan video EXO, harusnya kalian sedikit lebih pengertian."
Bukannya reda, cacing-cacing itu malah semakin semangat menyanyikan keroncong. Mereka benar-benar tidak pengertian, padahal menonton adalah salah satu caraku memberikan hadiah pada diri sendiri setelah seharian menulis dan memikirkan alur terbaik untuk kisah orang-orang di dalam proyek Reparasi Takdir.
Aku berjalan menuju dapur dan mencari mi instan. Betapa kecewa saat membuka lemari penyimpanan makanan di atas meja kompor, dan tidak ada satu pun yang tersisa di sana. Hanya ada seekor kecoa yang segera melarikan diri begitu pintu lemari terbuka.
"Oh, Tuhan, sepertinya dunia sedang bersekongkol untuk membuatku kesal. Kenapa makanan harus habis di saat seperti ini?"
Aku mengembuskan napas malas. Mengambil jaket ke kamar, mengikat rambut asal-asalan, lalu pergi keluar untuk mencari makan.
Ini sudah hampir jam sebilan, biasanya Mang Jalu akan berjualan di pangkalan dekat mini market. Aku berencana untuk makan bakso sekalian mencari persediaan makanan ke mini market yang tidak jauh dari kompleks.
Malam ini sepertinya langit sedang mempermainkanku. Sudah jauh-jauh berjalan kaki, Mang Jalu malah tidak jualan.
"Sungguh malang nasibmu, Cing," gumamku sambil melihat ke arah perut dan mengusapnya dramatis.
Tidak ingin masuk berita selanjutnya karena mati kelaparan, aku segera masuk mini market dengan pintu bergambar lebah imut lalu mengambil beberapa cup mi instan dan camilan untuk teman saat menulis. Jangan lupakan kopi, itu adalah hal terpenting. Dia selalu menjadi partner paling setia saat aku harus begadang dan menulis cerita.
Selesai berbelanja, aku berniat untuk segera pulang dan makan, tapi mendadak teringat dengan rasa nasi goreng yang pernah kumakan bersama Airin beberapa hari lalu. Aku sedikit lupa di mana membelinya, tapi kalau tidak salah, itu berada di pinggiran jalan tidak jauh dari kafe milik Gibran.
"Baiklah, mari kita berpetualang, wahai diri."
Ya, kalau pergi ke tempat-tempat yang tidak terlalu jauh, aku lebih suka berjalan kaki untuk menghemat pengeluaran. Kalau naik ojek, mungkin aku bisa sampai di sana dalam waktu tidak lebih dari lima menit, tapi untuk naik motor sesingkat itu aku harus membayar setidaknya sepuluh ribu. Tidak, itu bukan gayaku. Terlalu manja dan pemborosan.
Aku berjalan melewati gang kecil untuk memotong jalan agar lebih cepat sampai. Hari sudah semakin malam dan jalanan di gang ini terasa sepi. Hanya ada beberapa orang yang kutebak mereka sedang mabuk. Sialnya, aku harus melewati empat orang itu.
"Malam, Neng. Sendirian aja, nih. Mending ke sini gabung sama Abang. Kita bersenang-senang sampai pagi," ucap salah satu dari mereka yang berjalan mendekatiku.
Aku menghela napas berat. Sepertinya benar, langit sedang ingin bercanda dengan Tsurayya. Baiklah, aku juga bisa bercanda dengan mereka, bukan?
"Bang, sebaiknya Abang jauhkan tangan itu kalau tidak mau kuajak ke duniaku," jawabku sambil menyeringai penuh percaya diri.
"Wuih, asyik nih diajak ke dunia gadis cantik malam-malam."
Aku melepaskan ikat rambut dan membiarkannya menjuntai ke depan, lalu mengulurkan tangan ke arah pria yang mencegatku seperti akan mencekik.
"Bang, aku Kuntilanak, Bang. Hihihihiii ...."
Pria itu mundur saat aku mengambil langkah mendekat. Untuk sesaat mereka diam, seperti orang yang sedang berpikir. Mungkin mereka berusaha mencerna kalimatku.
Sebelum otak mereka bisa menyimpulkan kalau aku ini manusia, aku segera berlari secepat mungkin.
"Kejaaar!"
Benar-benar hari yang sangat sial. Sudah menahan lapar, harus dikejar-kejar orang mabuk, sekarang malah salah mengambil jalan dan lewat pemakaman.
Mereka masih terus mengejar, aku berbelok ke arah jalan yang lebih besar berharap orang-orang tadi akan menyerah ketika berada di keramaian.
Belum sampai di ujung gang, aku terjatuh dan sepatu kanan terlepas.
"Mau ke mana lagi kamu?" Keempat orang itu tertawa sambil mendekat.
Sepertinya aku terkilir, kaki kanan terasa ngilu saat bergerak. Gerimis turun dan dalam sekejap menjadi hujan lebat.
"Tolooong!" Ini usaha terakhirku, meski jalanan ini gelap dan sepi, semoga saja Tuhan masih berbaik hati padaku dan mengirimkan seorang malaikat untuk menolong.
"Lihat, bahkan langit mendukung kita untuk menghabiskan malam bersama dan saling menghangatkan."
Pria bertubuh kekar itu semakin mendekat. Aku berusaha menggapai sepatu yang terlepas, tapi sebuah tangan mengambilnya dan melemparkan ke arah si pria bertubuh kekar.
"Yaaa! Sepatuku!"
"Sial! Siapa kamu berani mengganggu kesenangan kami!"
"Bagaimana lagi, teriakan gadis ini membuat telingaku penging. Sebaiknya kalian pergi atau ...."
"Atau apa?"
Pria yang sudah melemparkan sepatu mahalku itu membantuku berdiri dan mengambil belanjaan yang jatuh di dekat kaki.
"Atau ... lari!"
Bukannya melawan, orang yang menolongku malah menggandeng tanganku dan berlari di bawah guyuran hujan yang semakin deras.
Beruntung, kami segera sampai di jalan raya dan orang-orang itu tidak lagi mengejar. Aku melepaskan tangan kekar pria yang menolongku dengan kasar.
"Lepas!"
"Hey! Aku baru saja menolongmu dan bukannya berterima kasih, kamu malah bersikap kasar begini, ada masalah hidup apa sebenarnya kamu itu?"
"Banyak. Terutama saat bertemu dengan ...."
Damn! Kata-kataku tercekat di tenggorokan saat melihat wajah orang di hadapanku. Gibran, pria yang sedang melihatku penuh tanda tanya itu adalah anak dari Nyonya Diana.
"Dengan apa? Dengan orang yang menyelamatkanmu dari preman-preman itu? Atau ... sebenarnya kamu memang lebih suka kalau mereka menangkapmu?"
Bagus, sepertinya dunia ini dipenuhi dengan orang-orang yang berbicara sebelum berpikir.
"Pertama, kamu baru saja membuatku kehilangan sebelah sepatu mahalku yang berharga. Kedua, kakiku terkilir dan kamu membuatku berlari di tengah hujan, ketiga ...."
Aku harus sedikit berteriak saat berbicara karena hujan yang sangat lebat. Sekarang, aku terpaksa berhenti menjelaskan karena Gibran tiba-tiba berjongkok dan menyentuh kaki kananku.
"Angkat," perintahnya sambil mengangkat kakiku. Aku bersandar pada tiang tempat kami berteduh di halte.
Dengan bodohnya, kakiku sudah terangkat dan menututi perkataannya sebelum otak memberikan perintah.
"Benar, kamu terkilir. Harus segera diurut agar tidak bengkak."
Aku masih belum bisa mencerna seluruh kalimatnya dan Gibran sudah berbalik.
"Naik, kafeku tidak jauh dari sini. Kita obati lukamu di sana sambil menunggu hujan reda."
***
Gibran memberiku bajunya untuk berganti, awalnya aku ingin menolak, tapi rasanya keras kepala tak akan berguna kali ini.
Bajuku basah semua, jadi mau tidak mau aku menggunakan bajunya yang kebesaran.
"Minum ini."
Gibran menyodorkan segelas kopi.
"Aku tidak bisa meminumnya sekarang."
"Kenapa? Kamu takut aku akan meracunimu?"
"Bukan, tapi ..." Aku memegang perut dan cacing kembali berdemo. "aku belum makan sejak tadi siang, kalau minum kopi sebelum makan–"
"Tunggu sebentar, aku punya roti kalau tidak salah."
Gibran pergi ke belakang sebentar dan kembali dengan dua bungkus roti keju.
"Makanlah."
"Tapi–"
"Ini tidak gratis, satunya lima belas ribu."
"Oke, sepakat."
Aku mulai makan dan Gibran mengambil kaki kananku. Dia mengompresnya dengan air hangat dengan sangat telaten.
"Aku tidak punya minyak urut, jadi hanya bisa–"
"Tidak perlu, aku bisa sendiri."
"Sebentar, siapa namamu?"
Dia melihat kaki dan wajahku bergantian. Aku bisa melihat tanda tanya besar yang terselip sempurna di mata teduh pria itu.
"Kenapa?"
"Jawab pertanyaanku dengan jawaban, bukan pertanyaan."
Aku tidak tahu kenapa dia bersikap seperti itu, seolah ingin memastikan sesuatu.
Jam menunjukkan tepat pukul sembilan, hujan di luar sana masih sangat lebat dan aku terjebak di sini dalam keadaan kaki terluka. Lengkap sudah penderitaanku hari ini.
***